
Ezra Syhareza
Aku sangat senang saat mereka bertiga tepatnya Almaira akhirnya menerima ajakan bunda untuk menginap di kediaman kakek buyutku. Disinilah kami sekarang, mengantarkan bunda pulang ke kediaman Harley terlebih dahulu lalu selanjutnya kami akan menghabiskan sore dengan jalan-jalan.
"Bunda turun ya, kalian bersenang-senanglah" ucap Bunda Aisyah sebelum dia turun dari mobil. Kulihat ketiganya menganggukkan kepala.
"Jaga mereka, jaga sikapmu jangan sampai berlebihan, ingat pesan bunda" bunda berbisik padaku. Aku hanya tersenyum mendengar bisikan bunda.
Aku jadi ingat pembicaranku dengan bunda saat kami menunggu Almaira dan kedua sahabatnya menyiapkan kebutuhan mereka untuk menginap.
"Za, bunda tahu kamu suka sama Alma" Deg, aku sedikit terkejut bunda bicara langsung seperti itu.
"Bunda juga suka kalau kamu bisa bersama gadis seperti Alma" kulihat bunda tersenyum bahagia, itu berarti bunda tulus dengan ucapannya.
"Tapi ingat Alma masih kelas 10 belum waktunya untuk diajak serius" seketika ucapan bunda mengingatkanku lagu milik Chrisye. Engkau masih anak sekolah, satu SMA
Belum tepat waktu 'tuk begitu-begini
Anak sekolah datang kembali
Dua atau tiga tahun lagi
Aku mengangguk mengerti maksud ucapan bunda.
"Alma juga belum mau memikirkan tentang perasaannya, jadi bunda harap kamu bisa mengerti dia. Sayangi dia seperti Rendra menyayanginya, setelah kamu yakin baru kamu bisa bicara padanya hal yang serius" aku kembali mengangguk mengerti, bunda menyayangi Almaira, karena itu dia tidak ingin aku merusak gadis itu. Sebentar, apa itu artinya bunda merestuiku, tapi diminta menunggu waktu yang tepat untuk bersamanya.
"Kalian mau jalan-jalan kemana?" tentu saja aku yang bertanya pada mereka setelah aku sadar kembali.
"Terserah kakak saja, kami tidak tahu harus kemana" Rangga yang menjawab. Sementara dua gadis yang duduk dibelakang hanya mengangguk setuju dengan ucapan Rangga.
"Baiklah" jawabku. Lalu aku melajukan kendaraanku membawa mereka ke alun-alun kota Amsterdam.
__ADS_1
Kami berkeliling selama satu jam. Selama satu jam juga aku menggenggam tangannya. Awalnya Almaira menolakku tapi setelah kukatakan "Jangan lepaskan, biar kamu tidak hilang" dia akhirnya pasrah. Sudah dua kali dia pasra dengan apa yang aku lakukan. Apakah dia bisa merasakan yang aku rasakan sebenarnya? atau dia juga punya perasaan padaku. Entahlah, tapi aku sangat ingin mengetahuinya.
Kulihat Rangga sibuk dengan live di instagramnya, aku jadi penasaran mengapa dia tidak seantusias Rangga dan Elisya.
Kamu tidak mau live juga?" akhirnya aku bertanya setelah dia tersenyum di kamera smart phone milik Rangga.
Dia menggeleng "Aku bukan orang yang suka seperti itu kak, lagian juga teman-teman yang lihat punya Rangga temanan juga sama aku" jawab Almaira apa adanya.
Tapi entah mengapa aku jadi ingin live di Instagram, yang jarang sekali aku lakukan. karena jujur aku juga tidak begitu suka. Dia terkejut begitu kamera ponselku telah menyala dan mengarah pada kami, pada tangannya yang kugenggam, serta kemesraan kami saat aku menyelipkan rambut dibelakang telinganya.
Banyak komentar yang masuk menanyakan siapa dia tapi kuabaikan saja, tidak perlu orang tahu siapa dia saat ini.
Dari alun-alun aku mengajak mereka berjalan dipinggir kanal, sahabatnya sibuk live dan juga berfoto bersama. Aku ikut mengabadikan moment ini dikamera ponselku.
"Kak foto aku yang diponsel kakak dihapus saja" aku menatap Almaira dengan heran. Kenapa? pikirku.
"Aku takut nanti pacar Kak Eza marah" ucapnya. Akh ternyata dia mengira aku masih punya pacar. Aku katakan kalau tidak akan ada yang marah.
Benarkah?" tanyanya, dia tidak percaya. Dia sangat menggemaskan dengan ekspresi seperti itu, aku mengacak-acak rambutnya.
Almaira melihat sekeliling, sepertinya dia mencari sesuatu. Ternyata dia mencari kedua sahabatnya saat aku tanya. Dia berdiri menghadap kanal, aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Tidak hanya itu aku juga meletakkan daguku di bahunya. Dia hanya diam saja, aku tahu dia tidak nyaman dengan pelakuanku seperti ini. Dan aku sangat yakin ini adalah pertama kalinya dia merasakan pelukan sayang dari pria lain selain kedua kakaknya.
"Mereka sedang berkeliling pakai sepeda" jawabku sambi berbisik ditelinganya. Dia menegang, entah dari mana aku mendapat keberanian untuk mengecup pipinya. Aku merasa bersalah tapi aku juga tidak ingin dia marah karena itu aku semakin mengeratkan pelukanku.
"Alma juga mau naik sepeda kak" pintanya. Aku yakin permintaannya adalah cara halus agar aku melepaskan pelukannku.
Aku mengikuti keinginannya untuk bersepeda, sebelum sampai di penyewaan sepeda aku menghentikan langkahku.
"Alma maaf. Kakak tidak bermaksud merendahkanmu, tadi itu kecupan sayang seorang kakak pada adiknya" dia hanya diam, aku tidak tahu arti dari diamnya dan kami sedikit canggung.
"Ayo kita sewa sepeda" aku kembali menarik tangannya berjalan ketempat penyewaan sepeda untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
Aku memilih sepeda gandeng untuk kami gunakan berkeliling mengkayuh bersamaan. Aku sangat menikmati moment kebersamaan ini. Setelah puas, kami kembali ketempat dimana tadi kami menyewa sepeda. Ternya Elisya dan Rangga sudah menunggu kami disana.
Alma mencari masjid karena langit mulai jingga, tapi aku mengajak mereka pulang. Untungnya mereka tidak kecewa dengan keputusanku, bukan aku tidak mau lebih lama lagi berjalan-jalan bersama mereka. Tapi bunda sudah menghubungiku untuk segera kembali.
Aku duduk diruang keluarga sambil menikmati tayangan televisi bersama Rangga. Dari sini aku bisa melihat Almaira dan Elisya keluar dari kamar tamu dan langsung menuju meja makan dimana bunda sudah berada disana. Aku berdiri dan mengikuti mereka, dari jauh aku bisa melihat Almaira membantu bunda menyiapkan makan malam. Sepertinya dia terbiasa dengan kegiatan ini, berbeda dengan Elisya yang hanya duduk tanpa ada niatan untuk ikut membantu.
"Dua gadis yang berbeda" batinku.
Bunda melihat kearahku dan tersenyum. Almaira yang melihat bunda tersenyum akhirnya ikut melihat kearahku. Malu ketahuan memandanginya dari jauh, lebih baik aku pura-pura sedang jalan kearah mereka.
"Sudah siap bun" tanyaku basa basi.
"Panggil Rangga" ucap bunda.
Aku baru mau berbalik tapi Elisya langsung berdiri dan memintaku duduk. "Biar El aja yang manggil Rangga, kak" ucapnya. Mungkin gadis itu malu tidak melakukan apa-apa dari tadi.
Aku mengangguk setuju dan mendudukan pantatku dikursi, dimana Almaira berdiri.
"Duduk sini" ucap ku sambil menepuk kursi kosong disebelahku.
Bunda tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pada ku. Aku mebalas senyum bunda pernuh arti. "Bunda biarkan putramu berbahagia hari ini" itulah kira-kira arti senyumku pada bunda.
Seakan menggerti bunda membiarkannku melakukannya.
"Kak Eza mau makan apa?" suara lembut Almaira menawariku makanan. Apa dia akan mengambilkannya untukku? sama seperti yang dia lakukan pada bunda?
Tidak ingin membuang kesempatan, aku menunjuk makanan yang aku inginkan. Benar saja dia mrnggambilkan untukku seperti tadi dia mengambilkan bunda.
Dia juga bertanya pada Rangga dan Elisya, tapi keduanya nenolak dan memilih mengambil sendiri.
Almaira, aku semakin mengagumimu. Aku tidak salah jatuh cinta padamu, bahkan semakin aku mengenalmu, aku semakin jatuh cinta. Aku jatuh cinta berulang kali, berulang kali pada orang yang sama. Bukan hanya parasmu yang cantik, tapi kamu juga memiliki hati yang sangat baik.
__ADS_1
...Bila Aku Jatuh Cinta...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...