BILA AKU JATUH CINTA

BILA AKU JATUH CINTA
37. Kecewa


__ADS_3

"Fian" pria itu ikut tersenyum membalas senyum Almaira, dia senang teman tempatnya berbagi cerita masih mengingatnya.


"Apa kabar?" tanya Fian, dia sangat ingin berdiri dan mendekati Almaira, rasanya ingin mengulang kisahnya yang sering berbagi cerita dengan siswi yang terkenal dengan kebaikan dan kepintarannya di sekolah seperti dulu.


Almaira termasuk teman perempuan yang cukup dekat dengannya, tapi tidak bisa dia ganggu hatinya seperti teman-teman wanitanya yang lain, banyak hal yang dia ceritakan dan dia bagi pada gadis itu. Almaira sosok yang selalu ada dan bisa memberikan saran saat dia memiliki masalah, serta selalu ada di saat dia bahagia. Karena itu juga Fian merasakan sesuatu yang berbeda pada Almaira, sayangnya dia tidak bisa melangkah lebih jauh karena dia tahu Almaira terikat janji dan sumpah bersama dua sahabatnya.


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana?" tanya balik Almaira.


"Seperti yang kamu lihat" jawab Fian dengan senyum lebar.


Namun senyum itu hilang saat melihat pria yang disamping Almaira menggenggam erat tangan gadis itu.


"Alma, Reza. ini Tante Resti teman mama, dan ini Om Pram suaminya" ucap Mama Rahma memperkenalkan tamunya.


"Fian ini putra mereka" Mama Rahma menjelaskan.


"Res, ini Almaira putri saya yang tadi ditanyakan, dan ini Nak Reza calonya Alma" Almaira menyalami kedua orang tua Fian diikuti Ezra.


Keduanya tiba dihadapan Fian, Almaira segera mengenalkan langsung Ezra pada Fian.


"Fian kenalkan ini Kak Ezra" ucap Almaira. Fian mengulurkan tanganya.


"Ezra, calon suami Alma" ucap Ezra sambil menerima uluran tangan Fian.


Fian menatap Almaira, wajah gadis itu telihat bahagia. Tidak disangka Almaira gadis yang dia kagumi sejak sekolah menengah pertama, sudah memilih teman hidupnya.


Sebenarnya orang tuanya mengajaknya berkunjung ke kediaman Papa Dhani adalah untuk meminta Almaira menjadi calon istrinya. Awalnya dia menolak mamanya untuk dijodohkan dengan anak teman mamanya, tapi dia terus dipaksa dan diancam. Dia mengalah dan ikut untuk berkenalan lebih dulu.


"Harus hari ini ma?" tanya Fian.


"Iya, dia sekarang sedang pulang ke Palembang. Harus sekarang, biar kamu kenal dulu. Nanti malam dia sudah balik ke Jakarta, tidak ada waktu lagi" jawab Resti, mama Fian.


Disinilah dia berada saat ini, di kediaman Papa Dhani. Awalnya dia tidak percaya kalau gadis yang akan dikenalkan mamanya adalah Almaira, tapi tidak ada lagi anak perempuan dirumah ini selain Almaira. Karena sejak dulu dia memang suka dengan Almaira, dia jadi bersemagat dan menyimak percakapan orang tuanya dengan orang tua Almaira.


Sayangnya dia harus kembali kecewa saat melihat sudah ada laki-laki yang dipilih oleh Almaira, laki-laki yang menurutnya memang pantas mendampingi Almaira dari pada dirinya.


"Kamu kenal Fian dimana Al?" tanya Papa Dhani.


Belum sempat menjawab pertanyaan Papa Dhani, terdengar suara mengucap salam dari luar.


"Assalamualikum" Elisya, Rangga dan Ayu terlihat berdiri didepan pintu. Merekalah yang mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam" semua menjawab bersamaan.


"Fian" Elisya yang mengenali Fian langsung menyapa. Diikuti Rangga yang juga mengenal Fian.

__ADS_1


"Jadi kalian bertiga sudah kenal Fian?" tanya Papa Dhani.


"Iya, kami teman sekolah waktu SMP pa" Elisya yang menjawab.


"Al, kami mau ngajak kamu sama Kak Reza makan martabak HAR" Rangga memberi tahu tujuannya datang ke kediaman Papa Dhani.


"Kebetulan, kita memang mau kesana" jawab Ezra.


"Ayo sekarang aja" Rendy yang tiba-tiba ada disana menyahuti.


"Kak ikut" lanjutnya sambil menyengir menunjukkan giginya yang tersusun rapi saat semua menatap padanya.


"Kami pamit pa, ma, om, tante, Fian" ucap Almaira diikuti yang lain.


"Fian, ayo ikut. Sudah lama kita tidak ngobrol" ajak Elisya yang langsung menarik tangan Fian. Almaira hanya tersenyum, dia tahu Elisya sejak dulu mengagumi Fian, yang dinobatkan cowok paling popular disekolah mereka.


"Selamat sore, bertemu lagi dengan saya, Rangga" Rangga membuka siaran langsung yang dia lakukan di akun Tiga Serangkai.


"Seperti biasa bersama saya ada Elisya" Rangga mengarahkan kameranya pada Elisya. Gadis itu melambaikan tangan dengan senyumnya yang lebar.


"Dan Almaira" Rangga beralih pada Almaira yang juga melambaikan tangan.


"Hari ini acara kita pulang kampung dan kangen dengan kuliner pavorite kita bertiga" Rangga menyorotkan kameranya tepat didepan pintu masuk yang bertuliskan nama tempat dimana mereka berada saat ini.


"Kalian sudah tahukan dimana kita berada" Rangga menyorotkan kamera kewajahnya.


"Kalian pasti tahukan siapa dia" ucap Rangga. Lalu dia berpindah pada Rendy dan Ayu.


"Nah kalau ini, kalian juga sudah tahukan siapa dia? ya ini kakak kita bertiga. Sekedar info, dia single sekarang" Rangga tertawa saat mendapati tatapan tajam Rendy.


"Yang ada disebelahnya, itu adik saya, kalau ini tidak boleh ada yang ganggu" tegas Rangga. Sementara Ayu yang tidak biasa seperti ini hanya diam dan menunduk.


"Satu lagi yang bersama kita kali ini, cowok paling popular disekolah kami waktu SMP. Kalian teman-teman SMP kita bertiga, pasti kenal dengan teman kita satu ini" Rangga mengarahkan kameranya pada Fian. Pria itu hanya tersenyum.


Pesan masuk dari Nayla [jangan lupa pesanan mbak]


"Siap Mbak Nay" Almaira yang menjawab sambil mengacungkan jempolnya, karena Rangga kini mengarahkan kamera padanya dan Ezra.


"Makanannya udah siap untuk disantap. Yang mau, ayo langsung aja ke lokasi" Rangga menyorotkan kamera pada makanannya.


"Ok, karena saya mau makan kita tutup dulu ya" Rangga mematikan kameranya. Seperti biasa akan banyak komentar yang masuk, tapi itu tidak akan mengganggu ketiganya untuk menikmati makanan mereka.


Semua menikmati makanan mereka, sesekali Ezra membersihkan sisa makanan yang ada dimulut Almaira. Kegiatan tersebut tidak lepas dari perhatian Fian dan beberapa pengunjung yang lain. Noah salah satunya, dan Ezralah orang yang mengenali pria itu pertama kali.


"Ai, ada Noah" bisik Ezra pada Almaira.

__ADS_1


Almaira mencoba melihat apa yang ditunjukkan Ezra dengan matanya. Wajah Almaira menegang, bukan Noah penyebabnya. Tapi siapa yang makan bersama Noah, itulah yang menjadi perhatiannya.


"Kak, yang bersama Noah itu papa Elisya" Almaira balik berbisik pada Ezra. Lalu dia mengetikan pesan pada Rangga.


Almaira [Doel, ada Papa Ahmad disini, dia sedang makan dengan Noah]


Rangga yang langsung membaca pesan Almaira mencoba mencari keberadaan dua orang yang dimaksud sahabatnya.


Rangga [Mereka ada hubungan apa Al?]


Almaira menaikan bahunya saat Rangga melihat kearahnya.


Almaira [ Menurut Kak Eza, wajah mereka mirip. Mungkinkah?]


Almaira kini berbisik pada Rendy yang juga duduk disebelahnya. Rendy sama seperti Rangga langsung mencari keberadaan dua orang yang disebutkan adiknya.


Rangga [Bisa jadi Al, Papa Ahmad duduk disamping perempuan paruh baya yang mungkin ibunya Noah]


Almaira [Menurut Kak Eza sama Kak Rendy, kasih tau Elisya kalau ada papanya Doel. Mereka terakhir bertemu waktu kita makan bersama]


Rangga melihat Almaira, dia merasa tidak yakin dengan keputusannya untuk memberi tahu Elisya. Tapi dia juga penasaran ada hubungan apa antara papa temannya itu dan Noah. Seperti yang Ezra katakan, dia juga melihat kesamaan itu diwajah keduanya.


"El" Rangga menyenggol tangan Elisya yang sedang berbincang dengan Fian.


Elisya mengalihkan pandangannya pada Rangga. Sahabatnya itu memberi petunjuk agar dia mengikuti arah pandang mata Rangga. Dia menemukan sosok yang sering dia rindukan.


Elisya langsung berdiri dan menghampiri papanya. Gadis itu langsung memeluk pria paruh baya tersebut dengan erat.


"Papa El kangen" ucapnya.


Papa Ahmad yang tidak tahu jika putrinya pulang ke Palembang cukup terkejut dengan kehadiran Elisya, terlebih lagi dia sedang bersama Noah. Elisya yang tidak pernah tahu kalau dia memiliki kakak pasti akan terkejut.


"El" sapa Noah pada Elisya.


"Lho, papa kok bisa sama Kak Noah?" Elisya baru menyadari kalau yang makan bersama papanya adalah Noah.


"Tante siapa?" tanya Elisya pada ibunya Noah.


"Eli. Akan papa jelaskan tapi tidak disini" jawab Papa Ahmad.


"Kita bisa bicarakan di rumahmu" ajak Papa Ahmad. Elisya menggelengkan kepalanya.


"El harus kembali ke Jakarta malam ini pa. Tapi El kecewa untuk kedua kalinya" air mata yang ditahan Elisya sejak tadi akhirnya mengaliri wajahnya.


Dia bisa menerima kenyataan saat papanya bercerai dengan mamanya karena laki-laki itu berselingkuh. Walau kecewa, dia tidak bisa menolak kalau laki-laki itu papanya. Sekarang dia kembali menemukan papanya bersama wanita lain selain selingkuhannya. Berapa banyak lagi wanita yang ada dihidup papanya? Berapa kali lagi dia akan mendapatkan kekecewaan yang diberikan papanya.

__ADS_1


...Bila Aku Jatuh Cinta...


...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...


__ADS_2