
Elisya POV
"El, kakak tidak tahu apa artinya ini tapi kakak tidak suka kamu dekat dengan Noah" aku sedikit terkejut dengan ucapan Kak Rendra. Kenapa tidak suka? Cemburukah?
Aku tadi siang memang cukup akrab dengan Noah, ternyata dia orang yang enak diajak bicara. Entah kenapa Almaira tidak suka dengannya. Apa karena Noah dekat dengan Diandra mantan Kak Reza? Tapi Kak Noah sudah menjelaskan kalau mereka tidak ada hubungan apa-apa, semua kedekatan yang mereka lakukan didepan publik hanya untuk meningkatkan rating sinetron yang sedang mereka bintangi.
Entah bagaimana awalnya, jarakku dan Kak Rendra sangat dekat, bahkan kening kami sudah saling menempel, apa yang Kak Rendra lakukan? Jangan tanyakan detak jantungku saat ini, iramanya sudah tak beraturan.
Tiba-tiba Kak Rendra menjauhkan kepalanya tapi dia tetap memelukku erat seperti biasa.
"Maafkan kakak El, bukan hak kakak untuk melarangmu" ucapnya merasa bersalah.
Kenapa dia merasa bersalah seperti itu? aku malah senang dia perhatian seperti ini padaku. Andai kau tahu perasaanku kak.
"El, kakak tidak tahu perasaan apa ini"
Deg apa maksud Kak Rendra? Apa dia juga? aku tidak tahu harus sedih atau bahagia. Bagaimana aku harus bersikap? Aku memang jatuh cinta padanya tapi mengapa aku jadi gugup seperti ini.
"El akan menunggu sampai kakak yakin dengan persaan kakak" hanya itu yang aku ucapkan. "Oh bodohnya El" aku mengerutu didalam hati, mengapa menjawab seperti itu? Itu sama saja kamu mengakui perasaanmu. Dia kembali memelukku erat.
"Terima kasih El" Kak Rendra berterima kasih dengan jawabanku. Apa itu berarti benar dia juga memikiki perasaan padaku? Aku hanya bisa mengangguk untuk menjawab ucapan terima kasihnya.
Kak Rendra keluar dari kamar setelah aku katakan aku akan membersihkan diri. Kak Rendra tidak menutup pintuku dengan rapat jadi dengan terpaksa aku melangkahkan kakiku untuk menutup pintu itu dengan sempurna.
Aku dengar Kak Rendra berbicara denga seseorang, Almakah? Ku coba untuk melihat tanpa membuka pintu dengan lebar. Saat ku tahu Kak Rendra bicara dengan Mbak Raisa aku menutup kembali pintu kamarku, tapi ada rasa penasaran ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Akhirnya aku tidak menjadi menutup pintu dengan rapat sehingga bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Sesekali menguping pembicaraan orang tidak masalahkan?
"Kak, selama kita pacaran kamu tidak pernah masuk kekamarku. Tapi yang kulihat" Apa? aku sungguh tidak percaya dengan yang diucapkan Mbak Raisa. Pacaran? Selama ini mereka berdua menjalin hubungan tapi aku tidak tahu? Bodoh kamu El.
"Eli adikku Sa" benarkah aku hanya adik bagimu kak? Lalu mengapa tadi kamu memberi kesan seakan kamu juga memiliki perasaan padaku. Bahkan kamu tidak suka saat aku dekat dengan Kak Noah, kamu cemburu padanyakan kak. Percaya diri sekali kamu El, ingat hanya adik El. A-D-I-K.
Aku melihat Alma keluar dari kamarnya, apa Alma juga mendengar ucapan Mbak Raisa.
"Alma apa kamu juga baru tahu kalau mereka menjalin hubungan?" sayangnya aku hanya bisa bertanya dibalik pintu ini sambil kembali mendengarkan percakapan mereka.
"Kamu baru selesai mandi Al?" Kak Rendra mendekati Alma.
"Kamu mencari kakak untuk membantu mengeringkan rambut? Mana Reza?" tanya Kak Rendra lagi.
"Al mau minta tolong Kak Rendy, karena Al kira kakak sudah pulang"
__ADS_1
"Kakak menginap malam ini" jawab Kak Rendra.
"Kakak tidur dikamar Al aja, temani Kak Eza. Saat Al mandi dia tertidur, Al tidak tega membangunkannya"
Kak Reza tidur dikamar Alma? Sepertinya Kak Rendra menyetujui yang diucapkan Alma.
"Al bisa tidur dengan El"
"El sedang mandi" Kak Rendra memberi tahu Alma.
Mendengar perkataan Kak Rendra aku bergegas untuk segera kekamar mandi. "Lupakan El, seolah-olah kamu tidak tahu kalau Kak Rendra menjalin hubungan dengan Mbak Raisa" aku mencoba menghibur diriku sendiri.
Kak Noah? tiba-tiba aku ingat dia. Kak Rendra kamu tidak suka aku dekat dengan Kak Noah kan? Aku tidak pernah berjanji untuk menjauhi pria itu, jadi jangan larang aku dekat dengannya.
"El"
Deg. Kenapa Kak Rendra ada disini?
"Kamu belum mandi?"
"Belum kak, tadi oma telepon" maaf kak, aku terpaksa bohong.
Aku memang mencintaimu kak, tapi aku tidak ingin merusak kebahagianmu kalau kamu memang mencintai Mbak Raisa.
"Tadinya kakak mau menutup pintu kamarmu yang tidak tertutup rapat, tapi ternyata kamu belum jadi mandi" aku lupa kalau pintu kamarku tadi tidak jadi kututup rapat.
Kak Rendra mendekatiku dan tiba-tiba dia mengusap wajahku. Apa ini? Kenapa aku menangis? Sesakit inikah saat tahu kamu mencintai orang lain kak? Bahkan aku tidak sadar mengalirkan air asin ini dipipiku.
"Ada apa? Kenapa menangis? Oma bicara apa?" aku diam membisu sesat, tidak bisa menjawab semua pertanyaannya.
Tidakkah kau tahu kak? Aku menangis karenamu, karena aku tahu kenyataan tentang hubunganmu dan Mbak Raisa. Kenapa semakin sesak rasanya saat ada Kak Rendra, bukanya tadi aku baik-baik saja?
Kak Rendra merengkuh tubuhku dalam dekapannya, bukan diam aku semakin terisak. Kak andai saja pelukan ini ada rasa cinta darimu sungguh aku akan sangat bahagia kak.
"Jangan nangis sayang, ceritakan pada kakak. Kakak akan membantumu" aku hanya bisa memeluknya erat rasanya tidak ingin melepaskannya, juga tidak rela melepaskannya untuk wanita lain. Kak, kamu memang menyayangiku tapi tidak mencitaiku. Apa aku salah jatuh cinta padamu? Bila aku jatuh cinta.
"El mau mandi kak" ucapku setelah tangisku reda. Kak Rendra mengurai pelukannya.
"Kenapa menangis El?" ternyata dia belum lupa dengan pertanyaannya.
__ADS_1
"Hanya kangen sama oma" jawabku dan sekali lagi aku berbohong. Tidak, aku tidak berbohong aku memang kangen oma. Andai ada oma, tentu aku akan lari kedalam pelukannya menceritakan apa yang aku rasakan saat ini. Cinta bertepuk sebelah tangan.
"Kamu mau pulang ke Palembang?" aku menggelengkan kepala.
"Besok kita bisa naik pesawat pagi lalu kembali lagi dengan pesawat malam" tawar Kak Rendra. Sepertinya ini ide yang cukup menarik. Tidak, tidak, tidak. Aku kembali menggelengkan kepalaku.
"Ya sudah kalau tidak mau. Sana mandi yang bersih, biar tambah cantik" godanya. Aku mencebikkan bibirku, dia terkekeh.
"Kakak mau menemui Alma sebentar di kamar Rendy. Nanti kakak kembali lagi, malam ini kakak menginap disini. Mau kakak temani malam ini?"
"Eh?" aku terkejut dengan tawarannya. Apa maksud pertanyaanmu kak? apa kamu mau menemani ku tidur malam ini. Tidak kak, tidak. Sudah jelas kekasihmu cemburu dengan kamu masuk kekamarku seperti ini. Bagaimana kalau dia sampai tahu kamu menemaniku tidur?
"Kamu mau kakak temani malam ini, anggap saja lakak ini oma" dia kembali terkekeh.
"Tidak usah kak, El ingin sendiri malam ini" walau aku sangat ingin ditemanimu kak lanjutku dalam hati.
"Baiklah" Kak Rendra melepaskan pelukannya, dan...
Cup. Kak Rendra tiba-tiba mengecup bibirku.
Deg, jantungku kembali berdetak tak berirama. "Kenapa kakak melakukan ini padaku kak?" tapi aku haya bisa bertanya dalam hati dengan degup jantung yang tak berirama
"Selamat tidur, selamat istirahat El" apa maksudmu dengan mencium bibirku kak? kening, rambut, pucuk kepala bahkan pipi kamu sudah sering melakuknnya. Tapi bibir? ini pertama kalinya kak.
"El" Kak Rendra menarikku dari pikiranku sendiri.
"Iya kak, selamat malam" balasku. Dia tersenyum sangat manis. Mengapa kamu terlihat lebih tampan malam ini kak? Sayangnya hatimu bukan untukku.
"El mau mandi kak" ucapku. Aku tidak bisa berada lebih lama lagi berdua dengan Kak Rendra. Debar jantung ini sangat mengangguku akibat kecupannya dibibirku. Aku berlari begitu saja kekamar mandi meninggalkan Kak Rendra.
"El, kakak mau menemui Alma di kamar Rendy. Kunci pintu kamarnya dulu sebelum kamu mandi" aku bisa mendengar pintu kamarku yang ditutup kak Rendra setelah dia berpamitan.
Aku keluar dari kamar mandi dan segera mengunci pintu. Benar seperti yang dikatakan Kak Rendra aku harus mengunci kamarku lebih dulu sebelum mandi.
Bibir ini... akhhh.
...Bila Aku Jatuh Cinta...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...
__ADS_1