
"Dave, ada yang ingin aku bicarakan" ucap Ezra saat dia melihat Dave yang akan pamit pulang.
Dave menatap wajah Ezra yang serius, bertanya-tanya apa kira-kira yang ingin dibicarakan sepupunya ini. Masalah dia yang memiliki rasa pada Almaira sudah mereka bicarakan berdua, tidak ada masalah lagi tentang itu. Masalah perusahaankah? Pikir Dave.
"Kita kekamarku" ajak Ezra.
Acara tujuh bulanan sudah selesai, Almaira kembali sibuk membantu keluarga besar Ayah Dimas dan Bunda Aisyah. Kesempatan inilah Ezra ambil untuk bicara dengan Dave.
"Ada apa?" Dave langsung bertanya begitu mereka masuk ke kamar Ezra.
Dave berhenti begitu menatap figura yang membingkai foto kemesraan Ezra dan Almaira. Wajahnyanya mengukir senyum, entah senyum kebahagiaan yang dia rasakan karena orang yang dia cintai berada pada pria yang tepat atau senyum kepahitan karena bukan dia pria yang berada diposisi itu.
"Lihat ini" Ezra menyerahkan smartphone miliknya membuat Dave memalingkan pandangan dari pigura tersebut.
Dave mengambil benda pipih itu dengan heran. Karena ingin segera tahu maksud Ezra, Dave menekan tombol play pada video yang sudah disiapkan Ezra. Dave mengeryitkan keningnya, sesekali dia menggaruk-garuk kepalanya lalu menggelengkannya sambil kembali menyerahkan benda pipih itu pada pemiliknya.
"Itu kejadian beberapa minggu yang lalu" ucap Dave.
"Bukan itu masalahnya" jawab Ezra. Dave menatap sepupunya.
"Sampai sekarang aku belum bisa menemukan siapa yang mengirimkan ini. Menurut Rendra ini nomor milik Raisa, tapi saat di telusuri ternyata ponsel milik Raisa hilang satu bulan yang lalu" jelas Ezra pada Dave.
"Yang penting masalah kita sudah selesai Za, lo tahu gue nggak akan ganggu Al lagi" jawab Dave.
"Apa lo nggak percaya sama gue sampai lo mempermasalahkan video ini?" lanjut Dave sambil menatap Ezra tajam.
"Bukan itu juga masalahnya Dave" Ezra menghela nafas kasar, Dave salah faham mengapa dia memperlihatkan video tersebut.
"Yang menjadi pikiran gue, mengapa video itu dikirim kenomor gue? Untuk apa?"
Dave diam sambil mencerna ucapan Ezra, apa yang ditanyakan sepupunya itu benar. Mengapa orang tersebut mengirimkannya pada Ezra? Apa yang diinginkan sipengirim tersebut? Bahkan sipengirim video itu sampai mengikuti kemana dia pergi.
"Sepertinya sipengirim ini ingin membuat gue benci sama lo Dave" Ezra menjawab pertanyaannya sendiri setelah melihat Dave hanya diam.
"Entah apa yang dia inginkan, yang jelas dia ingin sekali keluarga kita bermasalah" lanjut Ezra.
"Lawan bisnis kita?" tanya Dave yang mulai mengerti maksud Ezra.
"Mungkin saja. Tapi kalau itu benar, lo pasti sudah dipanggil Kak Heru. Tidak mungkin dia tidak tahu tindakan musuh pada kita"
__ADS_1
"Iya, lo benar Za. Lalu?"
"Menurut gue dia orang yang bermasalah sama lo, karena ada nama Almaira dalam pembicaraan kalian akhirnya orang itu mengirimkannya pada gue. Tujuannya biar gue ribut sama lo dan nama baik keluarga kita yang selalu menjujung keharmonisan dalam keluarga akan rusak"
Dave mengusap wajahnya dengan kasar, dia pikir dengan terbang ke Jerman akan menyelesaikan semua masalahnya disini. Kalau seperti ini dia tidak bisa ke Jerman sebelum menyelesaikan masalah ini. Dia harus mencari tahu siapa yang mengusik hidupnya dan siapa orang yang bermasalah dengannya?
"Jadi lo ngertikan kenapa gue lihatin video ini sama lo?" Dave menjawab pertanyaan Ezra dengan anggukan.
"Iya gue ngerti, gue harus menyelesaikan masalah ini sebelum ke Jerman"
Dave tampak berpikir, siapa yang bermasalah dengannya. Violakah? Tapi wanita itu yang sedang bicara denganya jadi sudah pasti bukan dia. Lalu satu nama lagi yang terlintas dalam ingatan Dave yaitu mantan tunanganya dan itu berarti Cecilia sudah tahu tentang hubungannya dan Viola. Dave mengusap wajahnya dengan kasar.
"Satu nama yang gue bisa sebut hanya Cecilia, Za"
Ezra memalingkan wajahnya untuk melihat Dave. Dia menyatukan kedua alisnya, mungkinkah Cecilia yang melakukan ini semua? Dia memang tidak menyelidiki wanita itu karena tidak berpikir untuk mencurigainya, tapi bisa saja wanita itu sakit hati dan berniat mencari kelemahan Dave.
"Kalau benar dia, berarti dia sudah tahu tentang gue dan Viola, Za. Gue yakin dia sedang menyusun rencana lain selain membuat kita bertengkar" Dave mencoba mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.
"Kita bisa cari tahu tentang apa saja kesibukannya setelah rapat keluarga kita waktu lalu Dave. Kau tahukan harus menghubungi siapa?" Dave mengangguk mengerti. Tentu saja dia tahu siapa yang akan dia hubungi untuk membantu dalam hal mencari informasi tentang seseorang.
"Thanks Za, lo uda percaya sama gue" ucap Dave tulus setelah mereka diam sesaat.
"Damn" Dave melempar bantal pada Ezra yang dengan sigap ditangkap pria itu sambil menertawakan sepupunya.
Sejak kecil mereka sudah diajarkan untuk menjaga keutuhan keluarga, saling menghormati, saling menyayangi, serta saling terbuka. Setiap ada masalah mereka dididik dan dibiasakan untuk bicara baik-baik dari hati ke hati, karena itulah keluarga besar ini tidak pernah terdengar ada masalah.
"Apa Alma tahu Za?" tiba-tiba Dave merasa malu sendiri kalau sampai gadis itu tahu perasaannya.
"Tentu saja dia tahu, bahkan dia yang pertama kali melihat video itu" jawab Ezra.
"Video itu dikirim saat handphone gue lagi dipegang Al" jelas Ezra saat melihat sepupunya yang heran mengapa bisa Almaira yang melihat pertama kali.
"Bahkan dia sampai sakit takut kita berdua bertengkar"
Dave menyatukan alisnya tampak berpikir. Begitu halus perasaan Almaira yang tidak ingin orang kain bermasalah karena dirinya.
"Maafin gue Za"
"Tidak perlu minta maaf, itu bukan salah lo. Saran gue, lo bersikap seperti biasanya saja pada Alma. Tadi gue lihat ada kesedihan yang Alma rasakan saat lo seperti jaga jarak dengannya"
__ADS_1
"Gue hanya ingin jaga perasaan lo Za" ucap Dave agar Ezra mengerti mengapa dia menjaga jarak dengan Almaira.
"Maksud lo biar gue nggak cemburu?" tanya Ezra. Dave mengangguk membenarkan. Sementara Ezra terkekeh melihat Dave.
"Gue percaya sama lo dave, gue juga percaya sama Alma. Bersikaplah seperti biasa, gue nggak ngelarang lo buat sayang sama Alma dan gue juga nggak mau Alma kehilangan perhatian dan kasih sayang dari lo Dave. Bagaimanapun kalian punya hubungan baik dan sangat dekat sebagai saudara"
Dave diam membenarkan apa yang disampaikan Ezra. Dia tidak perlu menjauh dan menjaga jarak dengan Almaira, itu akan.lebih baik dan tidak saling menyakiti.
"Bi"
Ezra dan Dave sama-sama mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara yang memanggil Ezra, siapa lagi kalu bukan gadis kecil mereka yang sedang mereka bicarakan.
"Masuk sayang"
Almaira berjalan mendekati Ezra dan Dave, dia tersenyum pada keduanya yang juga tersenyum padanya.
"Bi, Al pamit pulang" ucap Almaira sambil meraih tangan Ezra untuk disalimi olehnya.
"Kok pulangnya sekarang Ai?" tanya Ezra sambil merengkuh pinggang Almaira.
"Bimbi masih kangen sayang" sambung Ezra sambil menatap mesrah wajah kekasinya. Dave yang melihatnya hanya bisa diam sambil merutuki Ezra yang sepertinya sengaja memanas-manasinya.
"Al mau istirahat Bi, sudah dari pagi disini" jelas Almaira.
"Bimbi nggak maukan Al sakit lagi" ancam Almaira yang langsung dijawab gelelengan kepala oleh Ezra.
"Baiklah sayang ku, pulang dan langsung istirahat. Jangan sampai sakit"
Ezra memeluk kekasihnya dengan erat sambil mengecupi pucuk kepala Almaira, lalu dia berpindah pada kening setelah merenggangkan pelukannya.
"Kak Dave, Al pulang" pamit Almaira pada Dave yang juga menyalimi tangan pria itu.
"Iya Al, sampai kosan langsung istirahat" Dave menasehatinya sambil mengacak-acak rambut Almaira seperti biasanya.
"Kak Dave" teriak Almaira seperti biasa kalau pria itu merusak tatanan rambutnya.
Almaira tersenyum bahagia, Dave sudah kembali seperti Dave yang dia kenal selama ini. Mereka tetap bisa saling menyayangi, asal mereka tahu batasan kasih sayang seperti apa yang mereka bagi.
...Bila Aku Jatuh Cinta...
__ADS_1
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...