BILA AKU JATUH CINTA

BILA AKU JATUH CINTA
28. Perasaan Rendra


__ADS_3

Rendra POV


Hari ini sejak pagi aku ikut mendampingi ketiga adikku, siapa lagi kalau bukan trio Al, El dan Doel bersama Reza. Sahabatku itu tidak akan melewati waktu libur seperti ini tanpa bersama adik kesayanganku. Biarkan saja selama masih dalam batas kewajaran, aku percaya Reza tulus mencintai Almaira dan dia tidak akan merusak adik kesayanganku.


Sebagai kakak aku cukup senang bila memang Almaira berjodoh dengan Reza, aku dan Rendy kenal Reza sejak kami kanak-kanak. Dia sering berkunjung ke Palembang bersama kakek dan neneknya yang akan memeriksa perusahaan yang dipimpin Papa Dhani, karena itulah disaat kakeknya harus menghadiri rapat dan sebagainya diperusahaan, Reza dan neneknya akan jalan-jalan yang selalu ditemani oleh Mama Rahma juga aku dan Rendy.


Reza pria yang baik, setia kawan dan jujur itu yang paling aku suka kejujurannya. Dia bukan orang yang mudah jatuh cinta sama seperti aku dan Rendy.


Hari ini aku dan Reza membantu Alma, Eli dan Rangga memilih kerjaan mana yang bisa mereka terima. Aku dan Reza mempunyai pemikiran sama, kami akan mengijinkan ketiganya menerima mengiklankan produk yang tidak sembarangan.


Ternyata hari ini photoshoot tidak hanya di studio Jevan, tapi mereka juga akan syuting iklan di sebuah hotel. Karena Alma sudah dibantu Reza, aku akhirnya membantu Eli untuk membereskan barang-barangnya.


"Terima kasih kak, kakak selalu jadi yang terbaik" ucap Eli. Aku hanya membalasnya dengan senyum.


Entahlah sejak tahu gadis kecil ini memiliki perasaan padaku aku merasa sesuatu yang berbeda dalam hatiku. Terkadang aku juga ingin memberikan kasih sayang yang lebih dari seorang kakak tapi juga terkadang hatiku menolak karena dia adikku sama seperti Alma.


"Ayo" aku mengajak Eli untuk kemobil sambil membawa tas perlengkapannya.


Elisya merangkul lenganku, hal ini sudah biasa dia lakukan sejak dulu, sejak dia masih kanak-kanak. Aku bersikap biasa agar dia tidak merasa curiga kalau aku sudah tahu tentang perasaannya.


Kami sudah sampai di hotel bintang lima dimana syutingnya akan dilakukan di rooftop. Tempat yang memang sangat cantik untuk syuting atau sekedar berselfie ria.


"Kak ayo kita foto dulu" ajak Alma dan Eli. Disamping mereka sudah ada Rangga dan Ezra.


Aku mendekati mereka dan langsung berdiri diantar Alma dan Eli dengan tanganku merangkul keduanya. Beberapa foto yang diambil Jevan lalu dia ikut bergabung besama kami. Tidak lama kami berswafoto membuat kenang-kenangan di tempat ini karena sutradara yang bernama Bram tersebut mendekati kami.


Syuting dimulai setelah Diandra mantan Reza yang datangnya sangat terlambat, sungguh tidak profesional rutukku.


"Za, bagaimana hubunganmu dengan Diandra?" pertanyaanku mengalir begitu saja saat kami menyaksikan syuting yang berjalan.


"Sejak berakhir aku sudah tidak kontak apapun lagi dengannya, baru hari ini kami bertemu lagi" jawab Reza.


"Bro, aku perhatikan saat Noah dan Elisyah bersanding seperti itu terlihat wajah mereka sangat mirip" ucap Ezra yang membuat aku memperhatikan wajah keduanya. Memang benar apa yang dilatakan Reza, bahkan wajah Noah sangat mirip dengan wajah Papanya Elisya hanya mata dan bentuk bibirnya yang berbeda.


"Kata orang biasanya kalau mirip begitu jodoh" lanjut Reza kata-katanya.


Entah mengapa aku merasa tidak suka dengan perkataan Reza yang mengatakan kalau mereka berjodoh. Ada apa dengan perasaanku saat ini.


"Tapi Noah gue perhatiin matanya selalu mencuri pandang pada Alma" ucapku. Sejak mulai syuting aku memperhatikan Noah sering tidak fokus saat memandang Alma karena itu dia sering membuat kesalahan.


"Bukannya dia memiliki hubungan dengan Diandra?" jawab Reza dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Setahuku tidak, Noah sendiri yang cerita" Reza membalikkan badan menatapku. Lalu aku ceritakan kalau Alma, Eli dan Rangga pernah diajak makan malam dan bertemu Noah lalu mereka ngobrol di cafe the art milik sahabatku ini.


"Saat itu Eli yang bertanya pada Noah dan dia bilang kalau mereka hanya rekan kerja" jelasku pada Reza.


Tampak muka Reza tidak senang dengan berita ini. Aku menepuk bahunya.


"Jangan takut, Alma sangat mencintaimu dia tidak akan mendua" lalu aku ceritakan pada Reza bagaimana Rangga dan Alma harus berbohong agar segera pulang karena Alma yang tidak suka dengan kehadiran Noah.


Syuting berakhir aku kembali membantu Eli membereskan barang-barangnya, Alma tidak perotes karena dia sudah dibantu Reza. Kadang-kadang aku berpikir ini sangat aneh. Sudahlah, Eli juga adikku dan dia sendiri.


Ini sudah hampir tengah hari, perutku sudah cukup berisik minta diisi. Ternyata pihak perusahaan yang produknya dibintangi Alma menyediakan makan siang untuk semuanya, ahh syukurlah tidak perlu mencari makan diluar.


Sepanjang makan siang Eli terlihat akrab dengam Noah, jujur aku tidak suka melihatnya tapi aku harus bersikap biasa saja. Alma sepertinya tahu ketidak nyamanku melihat keakraban Eli dan Noah.


"Ada apa kak?" bisiknya.


"Tidak apa-apa" jawabku yang juga sambil berbisik.


Elisya apa sebenarnya yang dia lakukan, apa dia sengaja membuat aku cemburu? Cemburu! tidak-tidak aku tidak cemburu aku hanya tidak suka melihatnya. Apa bedanya tidak suka dan cemburu Rendra? ahhh menyebalkan, mengapa aku seperti ini.


Jevan merangkul bahuku, membuat aku memalingkan wajah menatapnya.


"Apa yang sedang lo pikirin sampe gue tanya berkali-kali lo kagak denger" aku menggelengkan kepala tidak mungkin aku memberitahu apa yang aku pikirkan.


"Kenapa?" kutanya pada Eli saat dia menatapku.


"Kakak kenapa?" bukan menjawab dia balik bertanya.


"Kakak kenapa? memangnya ada apa?" tanyaku lagi.


"Kakak seperti tidak konsentrasi selama kita makan" aku hanya tersenyum.


"Kakak ngantuk tadi, makanya tidak konsentrasi antara sadar dan tidak sadar" jawabku berbohong.


"Kalau begitu, biar kak Ezra atau Rangga saja yang menyetir" aku mengangguk menyetujui.


Aku duduk dibelakang bersandar pada pundak Alma, aku ternyata benar-benar mengantuk. Wajar saja aku pulang dari rumah sakit sudah jam sembilan dan baru bisa sampai dikosan Alma jam setengah sebelas, tidur jam dua belas malam lalu jam empat pagi aku sudah bangun.


Aku merasakan seseorang mengelus kepalaku, saat kubuka mata ternyata Eli sedang membangunkanku, dia berdiri dipintu mobil yang sudah terbuka.


"Kak kita sudah sampai, kakak nyenyak sekali tidurnya"

__ADS_1


"Maaf sayang" ucapku tanpa sadar memanggilnya sayang. wajahnya merona, sebahagia itukah El kalau aku panggil kamu sayang?


"Ayo kak kita turun" Alma yang masih duduk disampingku menepuk pahaku.


"Al dan El harus siap-siap ganti pakaian dan merias wajah" lanjutnya.


Aku turun mengikuti mereka yang masuk ke gedung olah raga, yang ternyata tempat ini sudah disulap seperti tempat pesta yang mewah. Aku baru ingat, kali ini mereka mempromosikan beberapa pelaminan yang disewakan keluarga Gevin.


"Apa kabar bro?" sapa Gevin begitu melihat aku masuk. Kami bersalaman dan adu tos ala persahabatan kami.


"Kabar baik" tapi hatiku sedang tidak baik sambungku dalam hati.


Cukup lama mengambil foto disini, karena Alma, Eli dan Rangga harus berganti pakaian setiap berganti tema. Aku dan Reza hanya jadi penonton sambil sesekali membantu Alma, Eli dan Rangga.


Menjelang magrib mereka baru selesai photoshoot, aku langsung mengajak mereka ke mushola yang ada di gedung ini lalu mencari tempat untuk makan malam, biar sampai tempat kos kami bisa langsung istirahat.


Tepat jam delapan malam kami sampai di tempat kos. Reza membantu Alma membawa barang-barangnya kekamar, aku juga mebantu Eli membawakan barang-barangnya kekamar.


"El" panggilku saat kami sudah dikamar Eli.


"Iya kak"


Aku menutup pintu kamarnya lalu berjalan mendekatinya. Kupegang kedua bahunya.


"El, kakak tidak tahu apa artinya ini tapi kakak tidak suka kamu dekat dengan Noah" ucapku.


Entah kenapa aku sangat ingin memberitahunya. Eli menengadahkan wajahnya menatapku, aku tidak tahu arti tatapannya tapi dia tersenyum padaku. Tanpa aku sadari aku sudah menyatukan keningku dan keningnya, tanganku sudah beralih memeluk pinggangnya dan tangan Eli mengalung di leherku.


"El" panggilku lagi dan entah dorongan dari mana aku ingin sekali mencium bibirnya. Ini salah, tidak! aku tidak bisa melakukannya. Aku segera menarik wajahku menjauh dan memeluknya erat seperti biasanya.


"Maafkan kakak El, bukan hak kakak untuk melarangmu" ucapku merasa bersalah.


"Tidak apa-apa kak, itu berarti kakak benar-benar menyayangi El dan menjaga El" aku merengangkan pelukanku dan menarik dagu Eli agar melihatku.


"El, kakak tidak tahu perasaan apa ini" ucap ku, sungguh aku tidak yakin dengan perasaanku. Dia tersenyum.


"El akan menunggu sampai kakak yakin dengan persaan kakak" jawabnya. Aku kembali memeluknya erat.


"Terima kasih El" Eli hanya mengangguk menjawab ucapanku. Apakah aku mencintai Elisya? Bila aku jatuh cinta?


...Bila Aku Jatuh Cinta...

__ADS_1


...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...


__ADS_2