BILA AKU JATUH CINTA

BILA AKU JATUH CINTA
75. Pelukan Rendra


__ADS_3

"El, bangun"


Rendra terpaksa membangunkan Elisya yang tidur di kamar Almaira, dia hanya berdiri di pintu sambil memanggil. Tidak ada pergerakan sedikitpun dari Elisya memberikan tanda kalau gadis itu mendengar panggilannya.


"El" panggil Rendra lagi sambil berjalan kesisi tempat tidur.


Ada jejak bekas air mata diwajah Elisya, Rendra dapat melihatnya dengan jelas. Diusapnya pipi halus milik Elisya dengan jarinya membuat yang punya wajah terganggu.


"Kamu menagis El. Ada apa?" tanya Rendra.


"Oh" Elisya segera membersikan sisa air matanya.


"El tadi mimpi menangis mungkin karena itu jadi beneran keluar air matanya" jawab Elisya yang sudah pasti berbohong.


"Ayo bangun, tidak baik tidur diwaktu seperti ini" perintah Rendra pada gadis yang sempat mengganggu pikirannya.


Elisya mengikuti perintah Rendra, ada sedikit aneh menurutnya. Mengapa Rendra yang membangunkan dirinya? Baru saja Elisya akan bicara, Rendra sudah mengeluarkan suaranya.


"Apa yang kamu mimpikan" tanya Rendra sambil menatap lekat wajah Elisya.


"Lupa" jawab Elisya asal.


"Dimana Al, kak?" tanya Elisya, pertanyaan yang tadi tidak jadi dia ucapkan.


"Pergi bersama Reza dan Rangga"


"El, kakak ingin bicara sama kamu. Kakak tunggu di bawah ya" ucap Rendra memberi tahu tujuannya membangunkan Elisya sambil mengacak-acak rambut gadis itu.


Rendra ingin mengikuti saran Almaira dan Selena untuk memberitahu Elisya tentang perasaan Rendra terhadap Anindya.


Rendra berjalan hendak keluar kamar, belum sampai dipintu kamar dia membalikkan tubuhnya. Elisya yang tahu Rendra kembali melihatnya menjawab.


"El mau mandi dulu" jawab Elisya yang mendapat anggukan kepala dari Rendra.


Elisya menghampiri Rendra yang duduk diteras depan sambil menikmati secagkir kopi. Sudah bisa dia tebak apa yang akan dibicarakan kakak sahabatnya itu padanya.


"Kakak mau bicara apa?" tanya Elisya.


Rendra tersenyum pada Elisya yang sudah terlihat lebih segar begitu gadis itu bertanya sambil ikut duduk disampingnya.


"Bagaimana kabarmu El? Kamu baik-baik saja?" bukan menjawab pertanyaan Elisya, Rendra balik bertanya.


"Eli baik-baik saja" jawab Elisya.


"Tapi yang kakak lihat tidak seperti itu" Rendra menelisik pada Elisya.


Benar seperti yang Gevin katakan padanya siang tadi, kalau Elisya sedang tidak baik-baik saja. Rendra berpikir mungkin ini waktu yang tidak tepat untuk memberitahu tentang perasaannya pada Anindya. Rendra takut Elisya semakin tidak baik-baik saja, tapi dia punya cara tersendiri untuk membuat Elisya menjadi lebih baik.


"Memangnya kakak lihat Eli seperti apa?" tanya Elisya.

__ADS_1


"Seperti bukan Elisya yang kakak kenal, atau kakak yang sudah tidak mengenal Eli yang sekarang" jawab Rendra.


"Manusia bisa berubah" balas Elisya.


"Tidak selalu perubahan itu membawa kebaikan. Lebih baik seperti biasanya tapi bisa memberikan kebahagiaan dari pada berubah tapi hilang kebahagiaan"


Rendra diam sesaat setelah bicara seperti itu, dia melirik ke arah Elisya yang tampak melamun. Entah apa yang dipikirkan gadis itu, Rendra merasa itu berhubungan dengan dirinya. Apakah Elisya sebenarnya tidak ingin melepaskannya? Itu yang dipkirkan Rendra.


"Kakak ingin bicara sesuatu tapi kakak minta kejujuran dari kamu"


"Kejujuran" Elisya membeo.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rendra lagi dan meminta jawaban yang jujur dari Elisya.


Beberapa saat Rendra menunggu, Elisya tetap diam tidak memberikan jawaban. Hanya saja tubuh Elisya terlihat berguncang. Rendra menarik Elisya masuk kedalam pelukannya, peristiwa ini sama seperti kejadian beberapa tahun yang lalu dimana Elisya merasa ditinggal sendiri ketika orang tuanya bercerai.


"Menangis dan katakan apa yang ingin kamu katakan" ucap Rendra sambil memeluk erat Elisya.


Elisya menangis dipelukan Rendra, dia mengeluarkan semua sesak yang ada didadanya. Rendra selalu jadi tempat ternyaman untuknya bersandar mengeluarkan kesedihannya walau tanpa kata yang terucap. Begitulah Elisya, hanya dengan menangis dipelukan Rendra sambil bermain dengan pikirannya sendiri bisa membuatnya merasa lega dan kembali bisa berpikir jernih.


Cukup lama Elisya menagis dalam pelukan Rendra sampai pakaian yang dikenakan dokter muda itu ikut basah. Tanpa disadari keduanya, dari dalam mobil ada Noah dan Andra yang sedang memperhatikan mereka.


Rendra merenggangkan pelukannya setelah tangis Elisya mulai tidak terdengar. Elisya mengusap sendiri sisa air matanya.


"Terima kasih kak" ucap Elisya tulus.


"Apa sudah lebih baik?" tanya Rendra sambil mengacak-acak rambut Elisya.


"El terjebak dengan kesepian yang El ciptakan sendiri" lanjut Elisya ucapanya.


"El, kita mungkin tidak bisa bersama. Kita sudah sama-sama mencoba dan kita sama-sana tahu rasanya. Kita bahkan tidak bisa saling terbuka dan lebih banyak rasa canggung yang terjadi diantara kita"


"Tapi El, walau kita tidak bisa bersama, kamu tetap bisa mencari kakak seperti biasanya untuk melepaskan semua beban yang kamu rasakan. Kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu sendiri"


"El tahu kakak akan selalu ada untuk El" ucap Elisya lalu suasana sepi sesaat


"Apa yang ingin kakak bicarakan?" tanya Elisya.


Belum sempat Rendra menjawab, mereka melihat Noah dan Andra yang berjalan kearah mereka. Tidak hanya Andra dan Noah tapi juga ada Rangga, Ezra dan Almaira. Terdengar suara Ezra sedang bicara dengan Noah dan Andra.


"Besok lusa kami mau ada acara di Lembang. Kalau kalian ada waktu bisa bergabung" Ezra menawarkan Noah dan Andra untuk ikut bersama mereka ke Lembang.


"Acara apa? Sepertinya jadwal saya kosong tiga hari kedepan" Andra yang menjawab.


"Kumpul-kumpul biasa" Almaira yang menjawab.


Almaira tidak ingin Ezra memberitahu kalau itu acara ulang tahun untuknya. Ezra tersenyum, dia mengerti maksud kekasihnya.


"Kalau kakak bisa ikut pasti akan lebih seru. Semakin ramai semakin meriah" ucap Rangga menimpali.

__ADS_1


"Kita konvoi kalau mau. Tapi jalan sendiri juga tidak apa-apa, nanti aku kirim lokasinya" sahut Ezra.


"Kamu ikut El?" tanya Andra begitu mereka sudah sampai diteras.


"Tentu ikut tidak mungkin Eli melewatkan acara yang hampir setiap tahun kami adakan" Rangga yang menjawab membuat Almaira menggelengkan kepala.


Sepertinya Rangga yang sangat bersemagat untuk pergi ke Lembang, tentu saja karena dia akan bertemu Lola, pikir Almaira sambil tersenyum sendiri.


"Kamu semangat sekali Ga" goda Rendra yang juga tahu apa yang membuat Rangga semangat.


"Iya dong, kan mau ketemu calon pacar" Selena yang baru keluar dari dalam rumah menjawab pertanyaan Rendra.


Semua tertawa mendengar ucapan Selena termasuk Noah dan Andra yang tidak tahu siapa calon pacarnya Rangga.


Sebenarnya Selena sejak tadi ingin bergabung dengan Rendra yang duduk di teras, tapi dia melihat Elisya yang sedang menangis dalam pelukan Rendra membuatnya menggurungkan niatnya dan memperhatikan mereka dari balik jendela.


"Assalamualaikum" Ayu yang baru datang memberi salam.


Mereka yang ada disana menjawab salam Ayu hampir bersamaan. Melihat Ayu yang datang terlukis senyum diwajah Noah. Sejak acara keluarga besar mereka waktu itu, membuat Ayu dan Noah dekat. Noah bahkan beberapa kali mengajak Ayu keluar, menghabiskan waktu berdua walau hanya sekedar menemaninya makan.


Ayu datang karena tadi pagi mendapat pesan dari Selena untuk mampir ke kediaman Rendy sebelum pulang ke apartemen.


"Cek lupa ngabarin Ayu kalau sudah ada Rangga disini" ucap Selena begitu melihat Ayu.


"Memangnya mau apa Ayu disuruh kesini cek?" Rangga yang bertanya.


"Untuk bawa pulang yang tadi kamu habiskan" jawab Selena membuat Rangga menyengir kuda sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang Selena yakin tidak gatal.


"Kakak mau jemput El?" tanya Elisya pada Noah.


"Iya, hari ini Papa pulang" jawab Noah.


"Ya sudah El ambil tas El dulu dikamar Al" ucap Elisya lalu meninggalkan mereka yang ada diteras.


Almaira ikut masuk menyusul Elisya, sementara yang lain melanjutkan obrolan mereka diteras. Rendy yang baru pulang kerja memberi salam pada mereka.


"Lagi rame nih, kenapa tidak didalam" sapa Rendy pada semuanya.


"Disini lebih Enak kak" jawab Rangga.


Rangga tidak salah, teras depan kediaman yang disewa Rendra cukup luas, satu set kursi jati dia tempatkan diteras ditambah kesegaran dari aneka tanaman hias milik Selena memenuhi tiap sudut teras dan halaman, menambah asri suasana sekelilingnya. Membuat siapa saja yang duduk disini terasa nyaman. Rendy sengaja menjadikan terasnya menjadi tempat menerima tamu yang tidak begitu mereka kenal.


"Ayo kak, El sudah siap" ajak Elisya pada Noah. Wajahnya sudah tampak berseri, tidak ada lagi guratan kesedihan. Noah mengangguk menyetujui lalu pamit pada semuanya diikuti Elisya dan Andra.


"Terima kasih kak" ucap Elisya begitu berada dihadapan Rendra. Pria itu meletakkan kedua telapak tangannya diwajah Elisya.


"Jangan sedih lagi hemm" bisik Rendra.


Elisya mengangguk, Rendra mengecup pucuk kepala Elisya sebelum melepas gadis itu pergi. Ada perasaan tidak nyaman yang dirasakan Andra, tapi dia bisa apa? Elisya dan Rendra sudah dekat sejak gadis itu masih kanak-kanak.

__ADS_1


...Bila Aku Jatuh Cinta...


...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...


__ADS_2