
Besok hari pertunangan Almaira dan Ezra yang akan dilaksanakan di kediaman Papa Dhani, bukan pesta mewah yang mereka adakan tapi pesta sederhana yang hanya dihadiri keluarga besar dari Ezra dan Almaira.
Almaira ditemani Elisya sedang berada dikamarnya, mereka baru saja masuk setelah diusir tidak boleh membantu urusan dapur oleh kerabat dan tetangga. Karena besok adalah hari besar untuk Almaira, jadi dia diminta untuk bersantai saja dikamar. Kini mereka membicarakan Rangga yang akhir-akhir ini sangat dekat dengan Anindya. Tapi percakapan mereka terjeda karena satu pesan yang masuk di handphone milik Almaira.
08xxxxxxxxxx [Berani lo lanjutin pertunangan lo sama Ezra jangan harap lo masih bisa lihat dia besok]
"Ini pesan ancaman cek" ucap Elisya begitu dia ikut membaca pesan yang diterima sahabatnya.
"Tidak bisa dibiarkan" lanjut Elisya.
Almaira menscreenshot pesan tersebut lalu mengirimkannya pada Ezra, Rendra, Rendy dan Rangga. Suasana seketika hening karena keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Almaira dan Elisya dikejutkan oleh suara notifikasi dari handphone milik Elisya.
08xxxxxxxxxx [Jauhi Rendra, lo nggak pantes buat dia]
"Kenapa kita jadi diteror begini sih?" keluh Elisya lalu menyerahkan benda pipih yang ditangannya pada Almaira.
"Kirim ke Al pesannya" jawab Almaira.
Elisya melakukan apa yang diminta oleh Almaira dia mengscreenshot pesan tersebut lalu mengirimkannya pada Almaira yang meneruskan pesan tersebut pada empat pria yang bisa dia percaya.
Handphone Almaira berbunyi, Ezra menghubunginya melalui Video call yang langsung diterima oleh Almaira.
"Jangan takut Ai, orang itu tidak akan menyakiti kalian. Tenang saja" ucap Ezra dari seberang sana.
Ezra sudah tiba di Palembang pagi tadi bersama Ayah Dimas dan Bunda Aisyah. Mereka saat ini sedang berada di kamar hotel yang pernah ditempati Almaira dan Ezra dimana tempat ini adalah sebagai saksi pertama kali mereka menyatakan isi hati sepuluh bulan yang lalu.
"Al tidak takut Bi, hanya tidak suka dengan urusan seperti ini" jawab Almaira jujur.
Hidupnya selalu damai selama ini, tidak suka dengan namanya pertengkaran. Bila disekolah ada yang sengaja mencari masalah dengannya maka Ranggalah yang akan maju menyelesaikan semuanya. Berbeda dengan Elisya yang akan langsung berhadapan dengan orang yang mencari masalah dengannya.
"Iya sayang, Bimbi tahu. Jadi serahkan semua pada calon imammu ini. ok" Ezra menaik turunkan kedua alisnya. Almaira tersenyum sambil mengangguk mengiyakan.
"I love you" lanjut Ezra ucapannya sambil memberikan kecupan.
"I love you too" balas Almaira dan lagsung mematikan video callnya dengan Ezra.
Rangga melajukan kendaraannya menuju hotel Harley dimana Ezra berada dan meminta pemuda itu menemuinya. Mereka sekarang ada di cafe yang ada dibagian depan hotel, tidak hanya Rangga tapi juga ada Rendra dan Rendy. Ancaman untuk Almaira dan Elisya tidak bisa diabaikan. Apa yang Ezra katakan pada Almaira sebelumnya hanya untuk membuat gadis yang dicintainya itu tenang dan tidak khawatir.
"Sory gue telat" Dave yang menyapa mereka.
"Belum mulai kok kak" Rangga yang menjawab sapaan Dave.
"Ok, ini orang yang berbeda. Bukan Soraya" ucap Dave begitu dia duduk dan langsung membahas apa yang membuat mereka berkumpul.
"Lo yakin?" tanya Ezra ragu.
"Gue yakin. Ini pemain baru"
__ADS_1
Semua diam mendengar jawaban Dave. Pemain Baru? Itu berati ada orang baru yang ingin bermain-main dengan Ezra ataupun Rendra.
"Yang jelas musuh kalian sama" ucap Dave lagi.
"Rangga curiga dengan Nyai" ucap Rangga tiba-tiba.
"Maksudmu?" tanya Rendra.
"Aku juga berpikir seperti itu" Rendy yang bicara.
"Kita pernah menyakitinya waktu terakhir kalian ke Palembang dan ingat sejak hari itu papa memutuskan hubungan kerabat dengan Nyai. Bahkan besok papa dan mama tidak mengundang Nyai di acara pertunangan Al dan Ezra" jelas Rendy apa yang dia tahu.
"Jadi sekarang kita harus mengawasi mereka" Ezra memberi komentar.
Baru saja semua akan menjawab, tiba-tiba handphone Ezra, Rendra, Rendy dan Rangga berbunyi hampir bersamaan. Keempatnya segera mengakat panggilan tersebut.
"Alma" keempatnya menyebut nama yang sama begitu mereka menutup panggilan.
Tanpa aba-aba keempatnya segera keluar dari cafe tanpa menghiraukan Dave yang bertanya ada apa dengan Alma? Hanya dia yang ada disana yang tidak mengerti apa yang terjadi sampai dia pun akhirnya menerima panggilan dari orang kepercayaannya.
Dave segera menyusul empat orang yang sudah lebih dulu meninggalkannya. Mendengar nama Almaira yang disayangi mereka dalam bahaya tentu saja semuanya langsung bergerak cepat. Dari jauh beberpa pasang mata memperhatikan mereka sambil tersenym penuh arti.
"Ternyata kita tidak perlu repot-repot bergerak, sudah ada yang melakukan tugas kita" ucap orang itu puas.
"Jangan senang dulu, kita harus tetap menjalankan misi yang lain. Ezra dan Dave target kita sekarang, buat mereka terpecah dengan masalah ini" jawab temannya yang terlihat lebih tenang.
"Kita manfaatkan Soraya, biar Ezra kecewa denga Dave" usul temanya yang terlihat lugu tapi diam-diam mengahnyutkan.
"Kalau tu cewek belum koit, kita jalankan rencana kita. Hubungi Soraya sekarang" perintah sang pemimpin pada temanya yang sedari tadi hanya diam.
Sementara itu di rumah sakit Almaira sudah mendapat pertolongan, dia sudah sadarkan diri dan melihat wajah-wajah yang mencemaskannya.
Almaira keluar dari kamarnya diikuti Elisya. Mereka menuju ruang makan, karena tujuan Almaira keluar adalah ingin membuat minuman dingin. Saat tiba di meja makan dia melihat satu teko es jeruk kesukaannya sudah tersedia. Tanpa bertanya Almaira menumpahkan es jeruk tersebut ke gelasnya dan Elisya, dia berpikir minuman memang selalu disediakan keluarganya saat banyak sanak keluarga dan tetangga yang sedang membantu membuat kue dan masakan dikediamanya seperti saat ini.
"Minum El biar segar" Almaira memberikan es jeruk pada Elisya.
Elisya tidak langsung meminum es jeruk tersebut karena dia sedang berbalas pesan dengan mamanya. Berbeda dengan Almaira yang memang sudah haus sejak tadi langsung meminum es jeruk tersebut. Tapi baru satu teguk dia menghentikan aktifitasnya dan merasakan sakit ditenggorankan. Almaira tidak melanjutkan minum es jeruk tersebut, dia diam dan memperhatikan Elisya sambil menepuk dadanya yang mulai sakit.
"El" panggil Almaira membuat Elisya meliha kearah sahabatnya yang menahan sakit.
"Cek" Elisya tidak bisa melanjutkan ucapannya begitu mulut Almaira mengeluarkan busa dan tidak sadarkan diri.
"Tolong..... tolong..... Cek Al pingsan...." Elisya berteriak sambil menanggis.
Danu keluar dari kamarnya begitu mendengar Elisya berteriak, begitu juga orang-orang yang sedang membantu di dapur. Mereka meninggalkan pekerjaan mereka dan segera datang kearah suara Elisya yang berteriak.
Danu langsung menggendong Almaira masuk kedalam kendaraan milik Papa Dhani diikuti Elisya, Mama Rahma dan Papa Dhani yang tidak mengerti apa-apa.
__ADS_1
Seseorang tersenyum senang melihatnya dari jauh, walau dari kedua targetnya hanya satu yang meminum es jeruk buatanya.
"Al kenapa ma?" tanya Almaira pada Mama Rahma begitu dia sadar.
"Minum dulu, kamu pasti haus" jawab Mama Rahma lalu membantu Almaira untuk membasahi tenggorokannya.
Dokter memberitahu Mama Rahma dan Papa Dhani bahwa putri mereka Almaira keracunan.
"Untung saja nona Almaira hanya minum sedikit" ucap dokter tersebut. Karena itu nyawa Almaira masih bisa diselamatkan.
Ezra sampai dirumah sakit bersama Rendra, Rendy dan Rangga juga Dave yang terlambat. Belum masuk ke IGD mereka di cegat Selena.
"Kak Rendy" panggil Selena.
"Apa itu?" Rendy bertanya pada Selena melihat beberapa berkas yang dibawa kekasihnya itu.
"Ini surat untuk megambil hasil lab agar tahu jenis racun apa yang dberikan pada Alma. Dia diracun" jelas Selena pada semuanya.
"Sekarang Al bagaimana?" Tanya Ezra.
"Dia masih didalam bersama Mama" jawab Selena.
"Papa Dhani dan Danu melaporkan kejadian ini ke kantor polisi" lanjut Selena saat kelima pria itu akan masuk ke UGD.
"Kalian tidak bisa masuk bersamaan kedalam" Selena mengingatkan kelimanya.
Saat mereka sedang berbincang Mama Rahma keluar menemui mereka yang masih menentukan siapa yang akan masuk lebih dahulu.
"Al sudah boleh pulang" Ucap Mama Rahma.
"Rendy kamu dan Selena mama tugaskan menunggu hasil lab dan lagsung berikan pada papa di kantor polisi" Rendy menyetujui tugas yang diberikan oleh mamanya.
"Rendra kamu urus administrasi biar Al segera pulang"
"Biar Eza ma" sahut Ezra dan langsung berjalan menuju bagian administrasi diikuti Dave.
"Za, ini orang dalam" ucap Dave. Ezra mengangguk.
"Seperti yang dikatakan Rangga. Segera hubungi orang-orang kita"
Dave segera menghubungi orang-orang kepercayannya untuk mengawasi orang-orang yang dicurigai Ezra.
"Empat sekawan itu ada di Palembang dan tadi mendengar apa yang kita bicarakan" Dave memberi tahu setelah menutup panggilannya.
"Aku lihat mereka tadi, karena itu sengaja menyebut nama Soraya" jawab Ezra.
Tidak perlu diberitahu Dave sudah tahu apa yang dimaksud Ezra. Semua keturunan keluarga Harley sudah dibekali untuk menghadapi musuh seperti ini dan cara-cara yang bisa mereka lakukan untuk menjatuhkan lawan.
__ADS_1
...Bila Aku Jatuh Cinta...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...