
"Habis ini kita kemana?" tanya Rendra begitu dia menghabiskan lemon tea yang dipesankan oleh Almaira.
"Memang kalian masih mau jalan?" Ezra balik bertanya dan melakukan hal yang sama seperti Rendra menghabiskan minumannya.
"Kami mau ke panti rencananya. Rangga sudah lama tidak bertemu Ayu" jawab Almaira.
"Sekarang saja kalau begitu, habis magrib kita sudah bisa pulang" ajak Rendra.
Semua setuju dengan saran Rendra, setelah bertemu Ayu sebentar lalu mereka segera pulang dan istirahat. Apalagi besok Almaira, Elisya dan Rangga punya pekerjaan yang padat.
Tanpa komando merekapun menuju parkiran untuk segera meluncur kepanti. Rendra bersama Elisya menggunkan kendraan milik Rendra, sedangkan Rangga ikut bersama Ezra dan Almaira. Dia sengaja memberi waktu untuk Rendra dan Elisya bicara berdua. Sementara kendaraan Rangga sudah dibawa oleh Vito sejak tadi, asisiten Ezra itu memilih untuk pulang terlebih dulu bertemu anak istrinya dari pada ikut nongkrong bersama bosnya.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengikuti kemana mereka pergi. Tapi Ranngga yang memegang kemudi akhirnya menyadari setelah memperhatikan lewat spion.
"Kak sepertinya kita diikuti"
"Biarkan saja, itu sepertinya Soraya" jawab Ezra begitu dia melihat kendaraan yang mengikuti mereka.
"Sepertinya dia masih penasaran Bi ingin mengajakmu kencan" Almaira menggoda Ezra.
"Kamu mengijinkan Ai?" Ezra balik menggoda Almaira.
"Silakan saja" Ezra terkejut dengan jawaban Almaira.
"Tapi setelahnya jangan harap bisa bertemu Al lagi" lanjut Almaira.
Rangga terkekeh mendengar lanjutan ucapan Almaira, bisa dia bayangkan bagaimana kacaunya Ezra kalau sampai pria itu tidak bisa bertemu Almaira lagi. Ezra membalikkan badannya kekursi penumpang bagian belakang dan mendapati Almaira yang menahan tawa.
"Nakal" ucap Ezra sambil menarik hidung Almaira dengan gemas.
Sementara itu suasana berbeda di mobil yang dikendarai Rendra, Elisya yang biasanya banyak bicara kali ini memilih untuk mengunci rapat mulutnya. Rendra yang merasakan ada yang berbeda dengan Elisya merasa tidak nyaman, sungguh Rendra merasa ada yang hilang bila Elisya seperti ini.
Bukan tanpa sebab Elisya diam seperti itu, dia hanya ingin menjadi Elisya yang berbeda, Elisya yang terlihat lebih dewasa agar Rendra tidak selalu menilainya seperti anak kecil lagi.
"El kok diem aja? Kamu sakit" tanya Rendra sambil meletakkan tangannya di dahi Elisya.
"El baik-baik aja kak" jawab Elisya sambil menyingkirkan tangan Rendra.
Saat Elisya akan melepaskan tangannya dari Rendra, pria itu menahannya lalu menggenggam tangan adik kecilnya. Ada perasaan senang yang Elisya rasakan tapi dia tidak ingin berbesar hati. Rendra sering bersikap romantis tapi setelahnya bersikap biasa seakan tidak ada apa-apa diantara mereka.
Elisya memalingkan wajahnya menghadap jendela, dia tidak ingin Rendra melihat wajahnya yang berharap banyak pada hubungan ini. Tanpa dia sadari Rendra sudah menepikan kendaraan mereka. Elisya baru menyadarinya saat Rendra menarik dagunya agar dia melihat kearah pria itu.
__ADS_1
"Ada apa El? Kamu marah sama kakak?" tanya Rendra beruntun. Elisya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa hanya diam? Tidak seperti biasanya" Rendra mendesah membalikan badanya menghadap kedepan kemudi.
"Hal yang paling kakak suka dari kamu setelah lama tidak bertemu adalah mendengar cerita-ceritamu El"
"Suara dan caramu bicara selalu hadir dalam ingatan kakak, itu juga yang membuat kakak selalu rindu berada didekatmu"
"Ceritamu membuat kakak terhibur El, membantu kakak melepaskan semua lelah setelah bekerja"
Rendra menyalakan mesin mobilnya lalu kembali meluncur kejalan raya menuju panti asuhan dimana Ayu berada.
"Kita kehilangan jejak Kak Rendra" ucap Almaira setelah menyadari mereka jauh tertinggal dari Rendra.
"Kamu bawanya terlalu pelan Doel" sindir Almaira.
"Biarkan saja mereka menghilang, aku sengaja ikut kalian biar mereka bisa bicara berdua. Dua-duanya sama-sama angkuh" jawab Rangga.
"Maksudmu apa Doel?" tanya Almaira tidak mengerti.
"Ya udah sama-sama suka, udah di kasih lampu hijau sama Papa Ahmad buat jadiaan tapi tetap aja jalan ditempat. Kak Rendra masih kekeh dengan pendiriannya, Elisya tetap menahan tidak ingin memulai. Kapan jadiannya coba" kesal Rangga mengungkapkan apa yang dia pikirkan tentang Rendra dan Elisya.
"Lo sendiri Ga?" tanya Ezra tiba-tiba.
"Kenapa dengan aku kak?" tanya Rangga yang pura-pura tidak mengerti maksud Ezra.
"Lo sendiri kapan mau punya pasangan? Nggak mungkinkan lo selamanya hanya sama Alma dan Eli terus-terusan"
Rangga tersenyum mendengar ucapan yang berupa masukan dari Ezra untuknya. Kekasih sahabatnya itu benar, sama seperti yang pernah Almaira katakan.
"Lo harus segera punya pasangan juga" lanjut Ezra ucapannya.
"Ya ini juga lagi usaha kak" jawab Rangga dengan santai.
"Lo nemuin Ayu hari ini mau ngajak dia jadian ya?"
Ezra sedikit kepo tentang perasaan Rangga, dia melihat kearah Almaira tapi kekasihnya itu hanya mengangkat bahunya tanda tidak mengerti.
"Ngomongnya gimana ya kak?" pertanyaa Rangga membuat Almaira membulatkan matanya.
"Kamu serius Doel?" Rangga tersenyum menjawab pertanyaan Almaira.
__ADS_1
"Ini baru cowok namanya Ga" puji Ezra pada Rangga.
"Kalau Bimbi?" tanya Almaira untuk mengingatkan Ezra saat mreka jadian.
"Kalau Bimbi nggak pakai ucapan Ai, tapi langsung dengan sikap dan perbuatan. Rangga aja bisa langsung tahu. Iya nggak Ga?"
"Apa aku seperti yang Kak Reza lakukan saja ya? Tidak perlu bicara tapi melalui sikap dan perbuatan" sahut Rangga dengan pertanyaan.
"Kalau kamu harus bicara Doel, karena selama ini Ayu sudah terbiasa menerima bantuan kamu sebagai ucapan terima kasihmu" Almaira yang menjawab pertanyaan Rangga.
"Iya Alma benar Ga, kamu harus nyatain perasaan kamu padanya" Ezra meyakinkan Rangga.
"Jangan sampai lepas lagi kali ini Doel. Cukup kemarin saja lewat" tambah Almaira ucapannya.
"Kemaren sama siapa?" tanya Ezra yang memang tidak tahu apa-apa tentang perasaan Rangga pada Lola.
Baik Rangga maupun Almaira sama-sama tidak mau menjawab pertanyaan Ezra. Terlebih lagi saat ini mereka sudah berada di halaman panti asuhan milik keluarga Harley ini.
Rangga memarkirkan kendaraan milik Ezra dengan sempurna, lalu dia segera membuka pintu mobil dan keluar. Langkah Rangga terhenti sesaat saat dia menyadari mobil yang dari tadi mengikuti mereka berada diseberang sana.
Sementara itu didalam mobil Almaira yang akan keluar ditahan Ezra karena ingin tahu siapa orang yang disukai Rangga sebelumnya.
"Tanya Rangga aja Bi, Al udah janji nggak boleh bilang sama siapa-siapa" jelas Almaira membuat Ezra mendesah dan membiarkan keksihnya membuka pintu.
Ezra dan Almaira yang sudah keluar dari mobil memperhatikan arah pandang Rangga.
"Sudah biarkan saja, biar dia tahu siapa dan bagaimana kita. Bukankah bagus kita ke panti dari pada ke pub atau tempat hiburan malam lainnya" ucap Ezra begitu dia tahu Soraya mengikutinya sampai ke panti.
"Kakak benar" jawab Rangga lalu melangkahkan kakinya keteras depan rumah panti ini.
Ezra merangkul Almaira mengikuti Rangga. Tampak ada beberapa anak-anak yang usianya sudah belasan diteras depan, mereka sedang bernyanyi bersama dengan salah satu diantara mereka ada yang bermain gitar.
Kedatangan mereka tentu saja disambut dengan baik, terlebih lagi Rangga yang sering membelikan mereka makanan yang enak-enak seperti saat ini.
"Mbak Ayu dan Ibu Sri dimana?" tanya Rangga pada mereka.
"Di halaman belakang kak, mereka sedang ngobrol disana sambil menjaga adik-adik yang main" jawab salah satu anak panti.
Rangga melangkahkan kakinya menuju halaman belakang, diikuti Ezra dan Almaira. Disaat bersamaan Rendra dan Elisya baru saja tiba dan terlihat turun dari mobil.
...Bila Aku Jatuh Cinta...
__ADS_1
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...