
Ezra baru saja selesai rapat begitu bunda Aisyah menghubunginya dan memberitahu jika saat ini Almaira sedang dalam perjalanan kerumah sakit.
Tidak ingin ketinggalan moment yang sudah dia nanti-nantikan, Ezra segera pergi ke rumah sakit untuk menemani istrinya. Meminjam motor milik salah satu karyawannya, Ezra berharap kendaraan roda dua ini mampu membawanya untuk lebih cepat tiba di rumah sakit dan mampu menembus kemacetan kota Jakarta di jam-jam sibuk seperti saat ini.
"Bi" panggil Almaira begitu melihat Ezra masuk ke ruang persalinan.
Orang yang ditunggu-tunggu Almaira akhirnya datang untuk menemaninya. Ezra menepati janji yang dia ucapkan pada sang istri jika dia akan menemani Almaira yang akan melahirkan.
"Sakit Bi." ucap Almaira.
"Tahan ya Ai, kamu kuat, kamu pasti bisa." ucap Ezra memberi semangat.
"Mbak Mer, apa Al operasi saja?" tanya Ezra pada Mery yang baru masuk untuk memeriksa Almaira.
"Kenapa operasi kalau bisa lahir normal."
"Al kesakitan, Mbak Mer." jawab Ezra.
Mery tersenyum mendengar penjelasan Ezra, sudah biasa baginya melihat suami yang tidak tega melihat istrinya kesakitan saat melahirkan.
"Bi..." panggil Almaira lagi.
"Sabar ya Ai." ucap Ezra lagi sambil mengusap rambut Almaira.
"Bukaan lengkap Al, kamu siap ya. Dengarkan aba-aba dari Mbak Mer." ucap Mery memberi tahu. Almaira mengangguk setuju.
"Tarik nafas yang panjang Al, hembuskan sambil dorong yang kuat." ucap Mery.
Almaira mengikuti perkataan Mery, dia menarik nafas panjang lalu mengghembuskannnya sambil mendorong putranya untuk keluar.
"Aakh." teriak Almaira.
"Bagus Al, kepalanya sudah terlihat. Sekali lagi." ucap Mery.
"Akhh...."
Suara tangis bayi memenuhi ruang persalinan di rumah sakit milik keluarga Harley. Mery yang membantu persalinan Almaira mengucap syukur karena persalinannya berjalan normal dan lancar.
"Terimakasih sayang." ucap Ezra mengecup kening istrinya.
"Terimakasih membuat hidupku sempurna." lanjut Ezra mengusap kepala Almaira sambil merapikan rambut istrinya.
"Selamat Za, kamu sudah menjadi seorang ayah. Jangan manja lagi." ucap Mery setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Mery menyerahkan bayi mungil itu pada Ezra untuk dikumandangkan adzan di telinganya. Almaira terharu melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Putra kecilnya terlihat sangat tenang mendengar suara ayahnya.
"Selamat ya Al, putramu tampan sekali." ucap Mery sambil meletakkan bayi mungil itu diatas tubuh Almaira.
"Tampan seperti papi nya ya, Ai." sahut Ezra.
"Siapa bilang, putramu jauh lebih tampan dari pada papi nya." Mery yang menjawab membuat Almaira terkekeh.
"Terima kasih Mbak Mer." ucap Almaira tanpa berpaling memandang putranya yang saat ini sedang berusaha mencari sumber kehidupannya.
__ADS_1
Ezra keluar dari ruang persalinan. Sudah ada bunda Aisyah dan mama Rahma yang menunggunya sejak tadi.
"Bagaimana Za?" tanya bunda Aisyah penasaran.
"Eza sudah jadi ayah, Bun." jawab Ezra.
"Selamat sayang." bunda Aisyah lsngsung memeluk dan menciumi wajah putranya.
"Keadaan Alma bagaimana?" tanya mama Rahma.
"Baik Ma, Al masih di periksa mbak Mery untuk mendapatkan perawatan pasca melahirkan." jelas Ezra.
"Syukur alhamdulillah." ucap mama Rahma mendengar putrinya baik-baik saja.
"Diluar sudah banyak wartawan yang ingin tahu berita tentang Al." ucap ayah Dimas memberi tahu Ezra begitu dia tiba.
"Ayah sampai kesulitan untuk masuk, karena di tahan oleh mereka yang ingin minta keterangan." keluh ayah Dimas.
"Ayah bicara apa sama mereka?" bunda Aisyah yang bertanya.
"Seperti biasa, nanti kita temui mereka jika sudah selesai." jawab ayah Dimas.
"Biar Jevan saja yang mengurusnya nanti. Dia manager Al, biar dia yang menghadapi awak media." jawab Ezra.
Ezra tidak mau dipusingkan oleh para awak media yang ingin tahu tentang keluarga kecilnya. Dia hanya ingin fokus mengurus istri dan putranya saja.
"Cucu Ayah laki-laki apa perempuan, Za." tanya ayah Dimas lagi.
"Jagoan Yah, calon pemimpin Harley." jawab Ezra.
"Kamu sudah punya nama untuk putramu, Za?"
"Alza Arkarna. Bagaimana menurut Ayah?" jawab dan tanya Ezra.
"Nama yang bagus, Ayah suka nama itu."
"Bunda juga suka, nama yang bagus." sahut bunda Aisyah.
"Menurut Mama bagaiamana?" tanya Ezra meminta pendapat ibu mertuanya.
"Mama terserah kamu dan Alma saja, Za. Kalian orang tuanya." jawab mama Rahma.
"Kalau semua sudah sepakat kita kasih nama Alza Arkarna Harley."
"Tanyakan dulu sama papa kamu Za." ingatkan bunda Aisyah agar Ezra memberi tahu papa Dhani terlebih dulu.
"Papa setuju saja." jawab papa Dhani yang juga baru tiba. Begitu diberi kabar putrinya akan melahirkan, papa Dhani segera terbang ke Jakarta. Meskipun ini cucu keduanya tapi ini putra pertama putri satu-satunya.
"Pak, Bu. Nyonya Almaira akan kita pindahkan ke kamar rawat inap." ucap seorang perawat memberi tahu.
"Cucu saya bagaimana?" tanya bunda Aisyah.
"Ini cucu Bunda yang tampan." jawab Mery sambil menggendong Arkarna.
__ADS_1
"Tadi sudah di periksa dokter anak, semuanya baik ." ucap Mery memberi tahu.
"Ayo kita bawa ke kamar." ajak mama Rahma sambil mengambil alih cucunya dari tangan Mery.
Almaira dipindahkan ke kamar rawat inap setelah Mery memeriksanya dan menyatakan kondisi istri dari Ezra itu baik-baik saja. Sekarang mereka berkumpul di kamar rawat inap yang cukup besar, yang memang disiapkan ayah Dimas untuk keluarga Harley yang melahirkan karena mereka memiliki keluarga besar.
Suasana kamar rawat inap Almaira dan putranya ramai dikunjungi keluarga, kerabat dan para sahabat. Satu persatu mereka datang bercengkrama dan mengucapkan selamat pada Almaira dan Ezra.
"Za, Ayah tadi sempat bertemu Galih Andromega. Istrinya juga akan melahirkan disini." ucap ayah Dimas memberitahu.
"Maksud Ayah apa?" tanya Ezra curiga.
"Ayah dan Andro berteman baik saat SMA begitu juga dengan Riadi mertua Galih. Maksud Ayah, jika istrinya melahirkan seorang putri, Ayah ingin...."
"Arkarna masih kecil Yah, Ayah sudah mau main jodohin aja." potong Ezra penjelasan ayah Dimas.
"Apa kamu lupa, bukankah kamu juga di jodohkan dengan Almaira saat istrimu itu baru di lahirkan."
Ezra diam, tidak bisa menyangga perkataan ayah Dimas karena itu adalah kebenarannya.
"Tapi Ayah harus meminta persetujuan papa." pinta Ezra, karena putranya bukan hanya cucu dari ayah Dimas saja, tapi juga cucu papa Dhani.
Sementara itu di lobby rumah sakit, Jevan ditemani Rangga dan Rendra menemui para awak media yang sejak siang menunggu klarifikasi dan penjelasan dari keluarga Harley dan juga manager Almaira.
"Selamat malam teman-teman sekalian, saya sebagai manager Almaira akan menyampaikan berita baik pada kalian semua yang tentunya sudah menantikan berita ini sejak siang hari." sapa Jevan pada awak media yang sudah menunggu.
"Seperti yang sudah rekan media ketahui, bahwa hari ini tepatnya siang tadi Almaira yang berada dibawah naungan Jevan management telah melakukan proses persalinan."
"Bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya salah satu wartawan yang tidak sabar yang juga disahuti oleh awak media yang lain yang juga mengajukan pertanyaan.
"Sabar... teman-teman sekalian." ucap Rangga agar mereka bersabar, karena Jevan belum selesai bicara.
Setelah suasana kembali kondusif barulah Jevan kembali berbicara. "Baiklah saya lanjutkan." ucapnya.
"Telah lahir seorang bayi laki-laki dari pasangan Ezra Syhareza Harley dan Almaira Rahmadhani siang tadi dengan proses persalinan secara normal."
"Di beri nama siapa Kak Jevan?" tanya salah satu wartawan.
"Namanya Alza Arkarna." Rendra yang menjawab.
"Keadaannya bagaimana?"
"Bisa minta fotonya Kak?"
"Alhamdulillah, Almaira dan putranya dalam keadaan baik dan sehat." kembali Rendra yang menjawab.
"Untuk foto, maaf kami belum memilikinya." jawab Jevan.
"Begitu saja ya teman-teman semuanya. Terima kasih sudah menunggu disini sejak siang." tutup Jevan wawancara mereka.
"Kak satu lagi Kak." pinta satu wartawan. "Apa benar putra Almaira dan Ezra di jodohkan dengan putri Galih dari Andromega?"
"Maaf saya tidak tahu masalah itu, nanti tanyakan saja pada pihak keluarga." jawab Jevan sambil berlalu menyusul Rangga dan Rendra yang sudah meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
...Bila Aku Jatuh Cinta...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...