BILA AKU JATUH CINTA

BILA AKU JATUH CINTA
49. Belajar Membuka Hati


__ADS_3

"Kita lagsung pulang ya kak?" ucap Almaira begitu Ezra sudah berhasil membawanya kabur dari kerumunan wartawan dan masuk kedalam kendaraan milik kekasihnya.


Ezra sudah mempersiapkan segalanya, sejak kemarin dia sudah meminta tolong asistennya untuk mempersiapkan beberapa pengawal untuk Almaira dan Elisya. Benar saja, tanpa bantuan pengawal yang disiapkannya mereka sulit untuk lolos dari para pemburu berita.


"Bukannya kakak udah bilang kalau mau ngajak kamu kesuatu tempat Ai"


Almaira hanya diam, sementara Ezra tetap fokus pada kemudinya. Melihat Almaira yang hanya diam, Ezra melirik sebentar kearah kekasihnya. Tiba-tiba Ezra menepikan kendaraannya, begitu melihat wajah Almaira tampak pucat. Segera tangan kirinya memegang kening Almaira, dia bisa merasakan kalau kening itu lebih panas dari biasanya.


"Kamu mulai panas lagi Al" ucapnya dan mendapat anggukan dari Almaira.


Ezra merasa bersalah karena tidak peka terhadap keinginan Almaira yang mengajakya segera pulang.


"Maaf, harusnya kakak menanyakan kenapa kamu mengajak pulang bukannya memaksakan kehendak"


"Tidak apa-apa kak"


"Lain kali jangan hanya diam Al" Ezra menatap lembut pada Almaira. Gadis itu hanya mengangguk mengiyakan.


"Kita langsung kedokter saja" putus Ezra dan segera bersiap untuk melajukan kendaraannya kembali. Tapi keputusannya dicegah Almaira.


"Kakakku dokter kak" ucap Almaira mengingatkan Ezra.


"Iya sayang, kakak lupa" Ezra segera meraih smartphonenya yang dia letakkan di dashboard.


"Kakak hubungi Rendra dulu terus kita pulang ke kosan" ucap Reza sambil menunggu panggilannya terhubung dengan Rendra. Tangan satunya lagi megusap sayang kepala Almaira, menyuruh Almaira untuk tidur.


Sementara itu di tempat lain, Rendra baru saja masuk kedalam kendarannya bersama Elisya. Dia ingin membawa sahabat adiknya ini untuk bicara berdua. Belum sempat dia menyalakan mesin kendaraannya tiba-tiba suara smartphonenya bergetar.


Segera dia melihat nama yang tertera dilayar, berharap kalau panggilan itu bukan panggilan yang penting dan dia bisa mengabaikannya. Yang penting saat ini adalah bicara dengan Elisya dan menjelaskan semuanya.


"Reza" gumamnya sedikit terkejut.


Calon adik iparnya itu sudah lebih dulu membawa Almaira adiknya kabur dari kerumunan para pemburu berita. Ada apa dia menghubunginya disaat yang tidak tepat. Tidak ingin banyak menduga-duga Rendra mengangkat pangilan itu.


"Halo Za, ada apa bro?" jawabnya begitu dia mengeser lambang hijau.


"Alma mulai panas lagi Ndra, aku bawa dia kembali kekosan. Dia tidak mau dibawa kedokter lain selain kakaknya" jawab Ezra dari seberang sana.


"Baiklah aku juga akan kekosan mengantar Elisya pulang" jawab Rendra.


"Bukannya kakak ingin bawa Eli kesuatu tempat? Kenapa pulang kekosan?" tanya Elisya begitu Rendra menutup teleponnya.


"Tadinya begitu, tapi sekarang kakak antar kamu pulang ya" jawab Rendra yang membuat Elisya kecewa.

__ADS_1


Gadis itu tidak dapat menutupi kekecewaannya, dia berharap banyak Rendra akan menjelaskan semuanya, mengapa sampai papanya menyebutkan Rendra sebagai calon suaminya.


"Tadi Reza yang telpon, Alma mulai panas lagi badanya" Rendra memberitahu Elisya setelah melihat raut kekecewaan diwajah gadis yang beberapa minggu ini membuatnya gelisah.


"Kalau begitu kakak harus segera memeriksanya. Dia pasti memaksakan diri untuk menghadiri konferensi pers ku kak" jawab Elisya menanggapi penjelasan Rendra.


Walau dia kecewa, kesehatan sahabatnya saat ini jauh lebih penting dari segalanya.


Rangga merasa sendiri, kedua sahabatnya tidak bisa selalu bersamanya setiap saat seperti dulu mulai sekarang. Baru semalam Almaira mengatakan padanya dan hari ini dia merasakannya. Benar kata Almaira kalau dia harus belajar membuka hati dan belajar untuk menyembuhkan traumanya.


Dulu dia masih kecil, tidak bisa berbuat banyak untuk menyembuhkan traumanya. Tapi kini dia sudah dewasa walau baru jadi mahasiswa tingkat pertama, tapi dia bisa mencoba setidaknya hanya sekedar berciuman dengan lawan jenis.


Rangga tidak ingin pulang kekosan, karena dia pikir kedua shabatnya pasti sibuk dengan pasangan masing-masing sehingga tidak mungkin langsung pulang kekosan.


"Setidaknya mereka akan pulang setelah makan malam" gumamnya.


Rangga membawa kendaraanya sampai didepan panti, Ayu yang menjadi pilihan untuk menemani sepinya. Setidaknya malam ini ada teman yang menemaninya makan malam, sudah terbiasa dia akan makan malam bersama kedua sahabatnya semenjak mereka di Jakarta.


"Nak Rangga silakan masuk" ibu panti yang membukan pintu untuknya.


"Saya numpang sholat bu, terus pinjam Ayu. Saya ingin membawanya ketoko buku menemani saya, sekalian membeli kebutuhan sekolah Ayu dan anak-anak panti yang lain" Rangga memberitahu maksud dan tujuannya.


Tentu saja ibu panti tidak akan menolak permintaan Rangga, terlebih lagi Rangga sudah tercatat sebagai ayah asuh untuk Ayu walau usianya masih muda. Dia bahkan sangat bersyukur, kalau Rangga juga perhatian dengan anak-anak panti yang lain selain Ayu.


Setelah mendapatkan yang dia cari, dia dan Ayu menuju kasir. Cukup banyak belanjaan yang mereka bawa dua kantong yang mereka pegang masing-masing penuh dengan buku dan alat tulis.


"Rangga ngeborong nih" sapa seseorang yang mengenali Rangga.


Rangga mengalihkan pandangannya pada sumber suara. Dia tersenyum begitu tahu siapa yang memangggilnya.


"Hai Nin?" sapa Rangga begitu tahu yang menyapanya adalah Anindya.


"Kamu cari buku ini juga?" tunjuk Anin pada buku yang dipegang Rangga. Pemuda itu mengangguk.


"Yang lain beli apa? Sampe penuh gitu" gadis itu menunjuk tas bening yang dibawa Rangga.


"Oh ini, perlengkapan untuk anak-anak panti" jawab Rangga jujur.


"Bukan hanya ini tapi ini juga" tunjuk Rangga pada tas yang dipegang Ayu.


Anindya melihat kearah tangan Rangga, dia cukup terkejut ternyata Rangga tidak sendiri melainkan bersama seorang gadis.


Tapi setelah mengenali siapa gadis itu Anindya tersenyum pada Ayu. Dia mengikuti siaran langsung saat Rangga memperkenalkan Ayu sebagai adiknya.

__ADS_1


"Oh, kamu sama adik kamu Ga" Rangga mengangguk membenarkan.


Anindya mengulurkan tangannya mengajak Ayu berkenalan. Ayu sadar selama ini Rangga memang menganggapnya sebagai adik, dia tidak heran kalau teman Rangga mengenalnya seperti itu. Ayu menerima uluran tangan Anindya, keduanya sama-sama menyebutkan nama dan saling tersenyum.


"Habis ini kalian mau kepanti?" tanya Anindya sambil memberikan bukunya pada petugas kasir.


"Iya, tapi mau makan dulu" jawab Rangga.


"Mbak gabung sama ini sekalian" Rangga memberitahu petugas kasir untuk menghitung belanjaan buku Anindya bersamaan miliknya.


"Nggak usah Ga" tolak Anindya, walau sebenarnya dia sangat bersyukur.


Dia memang mahsiswi kedokteran, tapi bukan berarti keluarganya orang berada. Dia diterima di fakultas kedokteran dengan program beasiswa yang dia dapatkan. Dia bersyukur, sayangnya anak-anak kedokteran hampir semuanya orang berada, jadi dia sedikit sungkan untuk bergabung dengan teman-temannya yang lain.


Berbeda dengan Rangga yang walaupun orang berada dan terkenal tapi tidak malu berteman dengannya sejak mereka satu kelompok saat ospek, karena itu juga dia tidak sungkan menyapa Rangga terlebih dulu.


"Aku boleh ikut ke panti?" tanya Anindya membuat Rangga sedikit terkejut.


"Aku disini kos sendirian, kalau aku pernah kepanti setidaknya saat aku kesepian aku bisa main kesana" jelas Anindya maksud dan tujuannya.


"Tapi kita makan dulu" jawab Rangga langsung berjalan keluar karena dia sudah selesai membayar belanjaan mereka.


Ayu dan Anindya megekor Rangga yang terus berjalan menuju parkiran. Belum sempat masuk beberpa anak remaja yang mengenali Rangga mendekat dan minta berfoto bersama.


Rangga tidak keberatan, dia tidak ingin dibilang sombong. Sementara Ayu dan Anindya bediri tidak jauh dari Rangga sambil memperhatikan pria itu.


"Resiko jalan sama orang terkenal" keluh Anindya.


Ayu terkekeh, ini bukan pengalaman pertamanya. Dia sudah beberapa kali pergi jalan bersama Rangga juga pernah bersama Almaira dan Elisya, suasan akan semakin ramai bila ketiganya sedang bersama.


"Ini baru Kak Rangga mbak. Kalau ada Cek Al dan Yuk Eli lebih ramai lagi" terang Ayu pada Anindya.


"Apa yang kamu lakukan kalau menemui situasi seperti itu?"


"Kadang aku diam melihat dari jauh seperti ini. Tapi kadang Kak Rangga mengajakku bergabung bersamanya" jawab Ayu mengingat pengalamannya beberapa kali bersama Rangga.


Anindya mengangguk mengerti, sambil membayangkan kalau dia berjalan bersama Rangga dan kedua sahabatnya seperti Ayu. Dia akan melipir menjauh, pasti dia hanya akan jadi lalat penganggu dengan penampilannya seperti ini.


Berbeda dengan Ayu, gadis itu walau terlihat sederhana tapi pakaiannya berkelas. Anindya tidak tahu saja, kalau semua itu Rangga, Almaira dan Elisya yang membelikan untuk Ayu.


...Bila Aku Jatuh Cinta...


...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...

__ADS_1


__ADS_2