BILA AKU JATUH CINTA

BILA AKU JATUH CINTA
39. Mereka Saling Mencintai


__ADS_3

Elisya dan Noah akhirnya menerima keputusan Papa Ahmad kalau mereka harus melakukan klarifikasi tentang berita-berita yang beredar saat ini yang hampir semua menyudutkan Elisya.


"Papa mohon Noah, adikmu selama ini sudah banyak menanggung kesalahan papa, dia bahkan tidak bisa mendapatkan kasih sayang yang utuh dari papa dan mamanya karena perceraian kami dan memilih hidup bersama omanya dan keluarga Almaira"


"Berita-berita ini akan membuatnya semakin terpuruk dan papa tidak ingin dia kembali kemasa buruknya lagi"


"Adikmu tidak salah, dia hanya korban kejahatan papamu ini"


"Kalian sedarah, katakan itu pada publik"


Begitu Papa Ahmad selesai bicara, Elisya dan yang lain dipersilakan masuk oleh pelayan restoran. Melihat itu Papa Ahmad langsung berdiri dan memeluk putrinya.


"Maafkan papa" ucap Papa Ahmad pada Elisya begitu melihat wajah putrinya yang pucat dan sedih.


Papa Ahmad beralih memeluk Almaira, Rangga dan Rendra. Sementara dengan Ezra, Papa Ahmad hanya berjabat tangan. Dia merasa hubungannya dengan Ezra belum sedekat dirinya dengan Rangga dan Rendra.


Sekarang Papa Ahmad berhadapan dengan Mama Rosa mantan istri dan mantan mertuanya.


"Maafkan Kakak, dik" ucap Papa Ahmad pada Mama Rosa. Mama Rosa hanya membalas dengan anggukan.


"Maafkan saya ma" ucap Papa Ahmad beralih pada Oma Elisya sambil mencium punggung tangan wanita yang sudah banyak mengalah dan bersabar padanya.


Ibu Noah ikut berdiri menyambut Elisya dan yang lainnya. Dipeluknya Elisya, putri suaminya itu. Ada perasaan bersalah wanita paruh baya itu pada Elisya. Karena keegoisan dirinya, Elisya tidak pernah mengenal Noah sebagai kakaknya.


Keputusan sudah diambil, mereka akan melakukan klarifikasi dengan mengundang semua media, baik televisi, radio, surat kabar dan juga media online. Besok sore di studio Jevan, setelah Noah menyelesaikan syuting dan Elisya selesai dengan tugas kampusnya.


Almaira dan Ezra sudah dalam perjalanan, mereka akan mengantarkan Rendra kembali ke rumah sakit sebelum pulang ke tempat kos Almaira. Sementara Elisya pulang bersama Rangga ditemani mama dan omanya yang akan menginap malam ini ditempat kos Elisya.


"Ai kita turun dulu, kakak masih ada perlu dengan direktur rumah sakit ini" Ezra mengajak Almaira ikut bersamanya dan Rendra.


Dari pada dia menunggu sendiri akhirnya Almaira mengikuti Ezra dan Rendra. Banyak yang memperhatikan kehadiran ketiganya, tentu saja mereka yang mengenali siapa Almaira langsung mendekat dan minta foto bersama. Termasuk para petugas rumah sakit dan perawat.


"Jadi Mbak Alma ini adiknya dokter Rendra?" tanya salah satu dokter yang bertugas bersama Rendra, begitu mereka sudah terbebas dari penggemar Almaira.


Almaira memilih menunggu Ezra di ruangan Rendra bersama dokter-dokter yang lain, dia dikenalkan sang kakak pada dokter dan perawat yang bertugas. Almaira yang ramah membuatnya mudah berbaur dengan mereka. Tidak sedikit yang memuji kerendahan hati Almaira.


"Jadi ini yang bikin heboh rumah sakit, sampai-sampai semua berkumpul disini dan meninggalkan tugas kalian"


Seorang wanita cantik tiba-tiba masuk dan menegur mereka dengan tatapan tidak suka pada Almaira.


"Tugas kami sudah selesai, dan ini memang jam istirahat dok" jawab salah satu pria yang memakai jas putih sama seperti Rendra.


"Dokter Arno, saya hanya mengingatkan kalian, jangan sampai dokter kepala memberikan surat peringatan karena kelalaian kalian" balas dokter wanita itu.

__ADS_1


"Hanya karena ingin berkenalan dengan model seperti ini" lanjutnya.


Wanita itu memandang sengit pada Almaira, tatapannya seakan ingin mehabisi model cantik itu. Almaira yang merasa tidak punya masalah dengan wanita itu tidak mau ambil pusing, melihat sikap Almaira dokter wanita itu tidak terima.


"Hei kamu, ada kepentingan apa kamu disini? Duduk bersama dokter-dokter pria, mau merayu mereka atau menjajakan diri pada mereka" wanita itu menunjukkan jari telunjuknya pada Almaira.


Rendra tidak terima adik kesayangannya dituduh yang tidak-tidak, dia mendekati Almaira dan dokter wanita itu.


"Kenalkan ini adik saya Almaira. Saya yang membawanya kesini karena ada keperluan. Jangan suka menuduh orang sembarangan jika tidak kenal siapa mereka" kali ini Rendra yang menatap sengit pada dokter wanita itu.


"Benar, kami sedang istirahat dan berkumpul disini seperti biasa, kenapa anda menuduh adik dokter Rendra seperti itu" sahut dokter pria yang lain.


"Anda keterlaluan dokter Rika, anda mempermalukan profesi seorang dokter dengan bicara seperti itu. Kami pria baik-baik dan sudah punya keluarga" sahut dokter pria yang lain, yang usianya jauh lebih tua dari mereka.


"Ada apa ini?" suara dokter kepala yang juga direktur dirumah sakit ini bertanya pada mereka.


"Tidak ada apa-apa dokter, hanya ada sedikit salah paham" dokter Arno yang menjawab.


"Ai" suara Ezra yang memanggil Almaira mengalihkan pandangan semua orang kepadanya.


"Kakak sudah selsesai?" tanya Almaira yang tahu kalau panggilan itu untuknya. Ezra mengangguk membenarkan dengan senyum yang tidak dia berikan pada semua orang.


"Ayo pulang" ajak Ezra pada Almaira.


Menanggapi itu Almaira hanya tersenyum, walau dia tidak suka dengan apa yang diungkapkan oleh dokter kepala tersebut.


"Al pamit kak" ucap Almaira pada Rendra sambil mencium punggung tangan kakaknya. Rendra mengecup kening Almaira, dia tahu adiknya tidak nyaman dengan ucapan dokter kepala.


Almaira mendekat pada Ezra, laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk menyambut sang kekasih. Almaira meraih uluran tangan itu yang langsung di genggam erat oleh Ezra.


"Kami saling mencintai walau kami dijodohkan" Ezra tersenyum lalu membawa pergi Almaira dari tempat itu setelah dia menganggukan kepala pada semua yang ada disana.


"Dokter Rendra maaf kalau saya salah bicara" ucap dokter kepala yang merasa ucapan Ezra itu tertuju padanya.


"Tidak apa-apa dok, hanya saja adik saya tidak suka kalau hubungan mereka dikatakan karena perjodohan" Rendra mencoba menjelaskan maksud ucapan Ezra.


"Mereka saling mencintai bukan karena dijodohkan" lanjutnya.


Sementara itu dimobil Ezra masih mendapati wajah Almaira yang tidak suka dengan ucapan dokter kepala.


"Ai udah, jangan ngambek lagi. Kamu tambah cantik kalau lagi ngambek" goda Ezra agar kekasihnya kembali ceria.


"Kenapa banyak orang yang tahu perjodohan kita kak? Sementara Al sendiri tidak tahu apa-apa"

__ADS_1


Hal itu yang sebenarnya membuat Almaira tidak suka bila orang mengungkapkan tentang perjodohannya dengan Ezra.


"Tidak semua orang tahu ai. Dokter kepala itu dokter senior, dia bekerja di rumah sakit sejak muda dan berhubungan baik dengan kakek Wira. Karena itu dia tahu tentang perjodohan kita" Ezra mencoba menjelaskan.


"Ai bagaimana kalau kita bertunangan?" Ezra sudah menyalakan mesin kendraanya, tapi dia belum melajukanya. Sengaja menunggu jawaban Almaira


"Apa tidak terlalu cepat kak?"


Ezra memalingkan wajahnya pada Almaira, menatap lekat wajah cantik kekasih hatinya.


"Apa kamu masih ragu ai?" Ezra meraih tangan Almaira dan menyatukan jari-jari mereka. Almaira menggeleng.


"Sudah hampir empat tahun ai" Ezra mencium tangan Almaira yang masih bertautan dengan tangannya.


"Tanpa kita sadari sudah selama itu hati kita terpaut"


Almaira mencoba menghitung apa yang diucapkan Ezra, dia menghitung dimulai dari pernikahan Nayla, satu tahun kemudian mereka bertemu di Belanda, lalu dua tahun menyimpan rasa yang sama dengan hubungan jarak jauh dan hampir tujuh bulan mereka resmi menyatakan perasaan masing-masing.


"Bagaimana ai?" Ezra kembali bertanya, karena Almaira masih saja diam membisu.


"Terserah kakak saja"


"Kakak tidak mau jawaban terserah, kakak tidak mau kamu terpaksa melakukannya ai"


"Baiklah, Al setuju" senyum mengembang diwajah Ezra mendengar jawaban Almaira.


"Terima kasih sayang" Ezra mengecup bibir Alamira sekilas dengan wajah yang terus mengembangkan senyum.


"Jalan kak, kita pulang" perintah Almaira karena Ezra tidak melajukan kendaraannya.


"Baik tuan putri" Ezra kembali mengecup bibir kekasihnya.


"Kak, kita diparkiran" protes Almaira.


"Kita didalam mobil ai, tidak ada yang bisa melihatnya. Bahkan kita bisa melakukan lebih dari itu" Ezra malah menggoda Almaira.


Almaira memalingkan wajahnya karena tidak suka dengan ucapan Ezra. Melihat itu Ezra malah tertawa sambil menarik dagu Almaira agar kembali melihat padanya.


"Kakak akan segera bicara dengan ayah dan bunda, juga sama papa dan mama" Almaira mengangguk menyetujui ucapan kekasihnya.


Ezra mengacak rambut Almaira dengan gemas lalu melajukan kendaraannya.


...Bila Aku Jatuh Cinta...

__ADS_1


...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...


__ADS_2