
Almaira POV
Kak Eza membantu membawakan tasku yang berisi keperluan syuting dan photoshoot sampai ke kamar, sementara Kak Rendra membantu El.
"Letakkan saja disana kak, nanti biar Al bereskan" ucapku memberi tahu Kak Eza. Dia mengangguk dan melakukan apa yang aku katakan.
"Al mau mandi kak. Sebaiknya kakak pulang dan istirahat. Kakak pasti lelah seharian ini menemani Al" aku merasa tidak enak membuatnya lelah seperti ini, harusnya kami menikmati waktu berdua untuk berbagi cerita indah bukan menemaniku bekerja.
"Kamu mengusir kakak Al?" aku menggeleng. "Bukan begitu maksud Al" Kak Eza meletakkan telunjuknya dibibir ku meminta aku untuk diam.
"Kamu mandi saja, kakak akan istirahat sebentar disini" aku mengangguk dan membiarkan keinginannya.
Belum sempat aku meninggalkanya dia merengkuh tubuhku.
"Peluk dulu" ucapnya. Aku hanya mengangguk menyetujuinya.
Aku memeluknya dengan erat begitupun Kak Eza, sungguh bahagia bila selalu bisa seperti ini. Kak Eza merengangkan pelukannya begitu jugan aku. Kami saling tatap dan tersenyum. Ini begitu indah, aku bisa menatapmu dengan jarak dekat seperti ini dan merasakan kasih sayang darimu kak, pria yang aku kagumi sejak pertama bertemu.
Kak Eza mencium bibirku dengan cepat, akhh dia selalu saja membuat detak jantungku berirama sangat cepat.
"Katanya mau mandi" menyebalkan, setelah mencuri cium dia mengusirku.
Aku membalikan badan tanpa mengucapkan apa-apa, masuk ke kamar mandi dan menguncinya. Jatungku masih berdetak dengan cepat, Kak Eza sangat pintar membuatku bergetar seperti ini.
Aku menyalakan shower dan menguyur seluruh tubuhku dengan air hangat, rasa penat yang kurasakan satu hari ini berangsur hilang ikut mengalir bersama kucuran air.
Aku mengambil jubah mandiku dan membukus rambutku dengan handuk. Aku selalu ingat kedua kakaku bila seperti ini, mereka sering berebut siapa yang mengeringkan pakai handuk dan siapa yang mengeringkan pakai hair dryer.
Akh iya Kak Rendra, aku jadi ingat sikap Kak Rendra tadi siang. Ada yang aneh dengan kakakku satu itu sejak siang, seperti ada yang dipikirkannya tapi saat ku tanya ada apa? dia tidak menjawab.
Apa mungkin kakakku cemburu melihat kedekatan El dan Noah, mungkin saja Kak Rendra sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama dengan El. Aku jadi teringat saat Kak Eza memberitahuku sambil berbisik ketika kami makan bersama tadi siang.
"Sayang coba kamu perhatikan, mata kekasihmu ini yang salah atau memang benar. Kakak melihat kemiripan di wajah Elisya dan Noah"
Mendengar itu aku langsung memperhatikan wajah keduanya. Selama ini aku tidak begitu memperhatikannya, tapi apa yang dikatakan Kak Eza ternyata benar. Wajah keduanya hampir serupa tapi tak sama.
"Mungkin hanya kebetulan saja kak" jawabku. Kak Eza mengangguk. Namun setelah kuingat-ingat lagi wajah Noah memang tidak asing bagiku, bukan karena sering melihatnya sebagai model ataupun aktor di film dan sinetron tapi lebih ke.... Akhh iya mirip Papa Ahmad Rahmadi, papa Elisya.
Saat aku keluar kamar mandi kulihat Kak Eza sudah tertidur pulas di kasurku, aku mengambil pakain tidurku dan kembali kekamar mandi untuk memakainya. Walau Kak Eza dalam posisi tidur, tetap saja aku tidak bisa sembarangan berganti pakaian. Merepotkan memang, tapi ini untuk kebaikan.
Kunaikam selimut menutupi Kak Eza sampai ke bahunya, kubiarkan saja dia tertidur. Kasihan kalau membangunkannya, dia terlihat sangat kelelahan.
Aku meninggalkan Kak Eza yang terlelap untuk menemui Kak Rendy, sejak pagi aku belum bertemu dengan kakakku itu. Saat aku membuka pintu kulihat Kak Rendra sedang menegur Mbak Raisa.
"Bagaimana kabarmu Sa?" tanya Kak Rendy. Ternyata walaupun berpisah Kak Rendy tetap perhatian dengan Mbak Raisa, tidak apa-apa ini lebih baik dari pada bermusuhan.
"Tidak terlalu baik" jawaban Mbak Raisa membuat Kak Rendra meminta maaf.
"Kak, selama kita pacaran kamu tidak pernah masuk kekamarku. Tapi yang kulihat..." Mbak Raisa tidak melanjutkan ucapannya.
"Eli adikku Sa" tegas Kak Rendra.
__ADS_1
Apakah selama ini Kak Raisa cemburu dengan El? apa mereka ribut sebelumnya karena itu? Aku tidak bisa terus menduga seperti ini, akan kuntanyakan nanti pada Kak Rendra. Aku keluar dari kamar dan Kak Rendra melihatku.
"Kamu baru selesai mandi Al?" Kak Rendra mendekatiku. Aku mengangguk.
Kak Rendra melihat alat yang ku bawa lalu mengambilnya.
"Kamu mencari kakak untuk membantu mengeringkan rambut?" tanya Kak Rendra.
"Al mau minta tolong Kak Rendy, karena Al kira kakak sudah pulang" jawab ku.
"Kakak menginap malam ini" jawab Kak Rendra. Aku menyetujuinya, kasihan kalau dia harus kembali ke kontrakannya.
"Kakak tidur dikamar Al aja, temani Kak Eza. Saat Al mandi dia tertidur, Al tidak tega membangunkannya" Kak Rendra menyetujuinya.
"Al bisa tidur dengan El"
"El sedang mandi" Kak Rendra memberi tahu.
"Al mau menemui KaK Rendy dulu" jelasku. Lalu merebut kembali alat pengering rambut yang dipegang Kak Rendra.
Aku melambaikan tangan pada Mbak Raisa dan saat akan melambaikan tangan pada Kak Rendra dia menarik dan memelukku.
"Kakak belum memelukmu hari ini" aku membiarkan Kak Rendra melakukannya, aku tahu ada yang ingin dia bicarakan bila seperti ini.
"Kakak kekamar Kak Rendy aja, nanti kita bicara disana" bisikku. Kak Rendra mengangguk dan mengacak-acak Rambutku.
Aku berlalu sambil melambaikan tangan pada Kak Rendra dan Mbak Raisa. Terlihat wanita itu masih sangat terluka karena putus dari Kak Rendra, tapi sakit sekarang akan lebih baik dari nanti.
Aku sedang bertanya-tanya
Tentang perasaan kita
Benarkah kita saling mencinta
Atau hanya pernah saling cinta
Bukankah kamu juga merasa
Dingin mulai menjalari percakapan kita
Pertanyaan kamu sedang apa
Terkesan hanya sebuah formalitas saja
Ku dengar Kak Rendy ikut bernyanyi, dia sangat serius dan tidak menyadari kehadiranku.
Coba tanyakan lagi pada hatimu
Apakah sebaiknya kita putus atau terus
Kita sedang mempertahankan hubungan
__ADS_1
Atau hanya sekedar menunda perpisahan
Bukankah kamu juga merasa
Dingin mulai menjalari percakapan kita
Pertanyaan kamu sedang apa
Terkesan hanya sebuah formalitas saja
Ada apa dengan Kak Rendy? pertanyaan itu terlintas dibenakku. Apakah ada masalah dengan Cek Ana tunangannya? aku selalu berdoa agar mereka baik-baik saja.
Coba tanyakan lagi pada hatimu
Apakah sebaiknya kita putus atau terus
Kita sedang mempertahankan hubungan
Atau hanya sekedar menunda perpisahan, wo-oo
Bila kamu tanya, aku maunya apa
Aku mau kita t'rus bersama
Coba tanyakan lagi pada hatimu
Kita sedang mempertahankan hubungan
Atau hanya sekedar, oh-wo-wo
Hanya sekedar menunda perpisahan
Kak Rendy diam tampak melamun. Dia masih belum menyadari kehadiranku sampai aku harus menyenggol lengannya.
"Apa yang terjadi kak?" tanyaku. Kak Rendy berdiri dan langsung memelukku.
Bahunya berguncang, dia menangis. Aku mengusap bahunya mencoba menenangkannya. Dalam hatiku hanya bisa bertanya ada apa dengan kedua kakakku saat ini? Mereka berdua sama-sama membutuhkanku.
"Ceritakan pada Al, apa yang terjadi?" pintaku. Setelah merasakan tangisan Kak Rendy berkurang.
Kak Rendy melepaskan pelukannya, dia melihat benda yang kubawa lalu berpindah pada rambutku. Kak Rendy menyuruhku duduk dimeja kerjanya, lalu menyolokkan alat pengering rambut milikku dan tangannya mulai mengarahkan alat itu kerambutku.
Aku tidak perlu memberitahu baik Kak Rendra maupun Kak Rendy kalau aku sudah membawa alat ini dengan rambut yang basah, mereka akan segera melakukan apa yang aku minta. Terlebih lagi ini adalah pesan mereka, kalau aku tidak boleh tidur dengan rambut yang basah.
Aku berpindah ke sofa bed yang ada dikamar Kak Rendy. Kamar ini memiliki ukuran yang lebih besar dari kamar yang lain. Dulu Kak Rendra memilih kamar ini karena aku dan Kak Rendy pasti akan menginap disini bila ke Jakarta, butuh ruang yang besar kalau bertiga, Kak Rendy yang akan menempati sofa bed ini dan aku yang tidur ditempat tidur berdua Kak Rendra.
"Apa yang terjadi?" tanyaku setelah Kak Rendy duduk disampingku.
...Bila Aku Jatuh Cinta ...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...
__ADS_1