
Elisya merenung di dalam kamarnya, dia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri saat ini. Dulu dia sangat berharap menjadi kekasih Rendra, memuja pria itu dengan segala pesonanya dalam diam, sejak dia duduk dibangku sekolah tingkat pertama.
Saat itu saat-saat terburuk dalam hidupnya, dimana jiwanya sedang terguncang oleh prahara rumah tangga orang tuanya. Menyaksikan perselingkuhan papanya didepan mata, hingga membuat orang tuanya bercerai. Dia hidup sendiri sejak saat itu, walau akhirnya ada omanya yang mengalah menemani.
Rendra datang mengulurkan tangan, hadir sebagai sosok kakak yang menguatkan adiknya. Pria itu selalu ada untuknya, memberikan pelukan dan kekuatan dimasa-masa sulitnya. Pria pertama yang dekat dengannya setelah Papa Ahmad.
Namun sayang kebersamaan itu tidak bisa lebih lama karena Rendra melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Tapi walau jarak dan waktu terbentang diantara mereka, tidak menyurutkan rasa cinta yang Elisya miliki untuk kakak dari sahabatnya itu.
Tapi disaat dia sudah pada pase memiliki, dia merasakan hatinya hampa. Keinginan dan cinta itu hilang, lenyap entah kemana.
Ciumannnya dengan Rendrapun tidak bisa memberikan jawaban apapun tentang hatinya saat ini, walau jujur dia menikmati sentuhan itu.
"Huu" Elisya menghembuskan nafas kasar.
"Apa sebenarnya yang aku inginkan?" gumamnya.
Ingatan Elisya kembali disaat perjalan pulang dari panti. Dia kembali hanya diam dan menjawab singkat saat Rendra bertanya padanya. Elisya sadar Rendra sedikit kesal dengan kelakuannya itu, tapi dia sendiri tidak mengerti mengapa dia melakukan semua itu.
Sampai dia turun dari mobil tidak ada ucapan sayang yang dilontarkan Rendra padanya, begitupun sebaliknya layaknya dua insan yang baru jatuh cinta. Mereka berpisah seperti biasanya saja, hanya kecupan dipucuk kepala seperti yang biasa Rendra lakukan padanya.
Kemana rasa cinta yang dulu mengebu-gebu dia rasakan? Elisya tidak tahu, benar-benar tidak tahu sampai akhirnya dia lelah memikirkan semua itu dan terlelap dalam kegalauan hatinya.
Sementara Rendra baru saja sampai rumah kontrakannya yang tidak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja. Awalnya dia akan menginap di kamar Rendy dan ingin berbagi cerita dengan saudaranya itu tentang perasaannya. Sayangnya Rendy masih belum pulang dari pelatihan di Surabaya, kembarannya masih harus mengikuti pelatihan yang diadakan perusahaan untuk karyawan baru sampai hari selasa nanti.
Rendra kembali mengingat kejadian hari ini, dari tentang hubungannya dengan Elisya sampai kisah sedih Rangga dan Ayu.
"Elisya" gumam Rendra.
Dia tadi memberanikan diri untuk mencium Elisya, bukan tanpa sebab atau karena nafsu. Dia hanya ingin menyakinkan kearah mana hubungan mereka ini berlabuh, terus atau berhenti. Hasilnya Rendra yakin tidak dapat meneruskan hubungannya denga Elisya. Tidak ada cinta yang Rendra rasakan saat mencium adik kecilnya itu, yang dia rasakan kehampaaan. Tidak ada getar rasa yang masuk kerelung hatinya, sampai dia harus mengulangi untuk kedua kalinya demi meyakinkan.
Rendra juga merasa kalau Elisyapun sepertinya tidak memiliki rasa seperti yang Almaira dan Rangga katakan padanya. Walau ada rasa cemburu pada gadis itu, tapi itu bukan cinta.
Bahkan tingkah Elisya dinilainya bukan seperti gadis yang sedang jatuh cinta begitu dia mengatakan untuk meminta gadis itu agar selalu menemaninya. Elisya bahkan hanya diam tidak menjawab. Harusnya gadis itu bahagia kalau memang mencintainya seperti yang dia tuliskan di buku diarynya.
Rendra membuka pesan yang dikirimkan Papa Ahmad. Dia membuka foto yang merupakan tulis tangan Elisya tentang isi hati gadis itu padanya. Dibacanya lagi untuk meyakinkan.
__ADS_1
"Kemana rasa yang kamu tulis ini pergi El?" tanya Rendra dalam hatinya.
Mungkin saja terlalu lama gadis itu memendam rasa padanya dan akhirnya dia lelah menunggu, atau mungkin saja karena Elisya tidak merasakan cinta yang dia inginkan dari Rendra.
Sebenarnya Rendra sangat ingin langsung menyelesaikan masalah ini dengan Elisya secepatnya, sayangnya besok dia piket sehingga harus bertugas dirumah sakit.
Rendra membuka aplikasi hijau dan mencari kontak yang bisa menenagkannya malam ini.
"Al" panggil Rendra begitu wajah adiknya terlihat di layar pipih yang dipegangnya.
Senyum Almaira yang menyambutnya meruntuhkan semua pikiran kusutnya, sehingga mengalir semua apa yang ingin Rendra bicarakan pada sang adik. Benar saja pilihannya menghubungi Almaira tidak pernah salah, adik kesayangannya itu bisa membuatnya lebih baik. Lalu mereka menutup pembicaraan dengan saling memberi cium dipipi walau hanya lewat layar.
"Selamat tidur Al" ucap Rendra mengakhiri.
"Selamat tidur kak" balas Almaira.
Almaira keluar dari kamarnya dan turun untuk mecari buah-buahan di kulkas yang selalu disediakan oleh Bu Laras. Dia cukup terkejut saat menemukan Rangga tengah asik bermain dengan Aji dan Galang.
"Tidak biasanya" batin Almaira.
Rangga mengeluarkan playstation miliknya diruang tengah tempat kos, dia mengajak Galang dan Aji main bersama. Rangga butuh hiburan menghilangkan semua beban yang dia rasakan, terlebih lagi besok kedua orang tuanya akan datang dan ingin bicara dengannya dan Ayu.
Rangga melihat Almaira yang menuruni anak tangga sekilas lalu menyapa sahabatnya itu.
"Belum tidur Al?" tanyanya begitu Almaira mendekat. Alma menggeleng lalu duduk disamping Rangga yang masih sibuk menggerak-gerakkan stiknya.
"Ezra nggak cemburu Al kalau kamu nempel sama Rangga kayak gini?" tanya Aji sambil fokus pada permainannya.
Almaira dan Rangga kompak tertawa mendengar pertanyaan Aji, bagaimana Ezra cemburu kalau pria itu sendiri yang memberi tugas pada Rangga untuk selalu dekat dan menjaga Almaira.
"Kok ketawa?" Galang yang baru datang dari dapur bertanya.
Bukan menjawab Almaira malah meminta apa yang dibawa oleh Galang.
"Kak saladnya buat Al ya?" Galang menautkan kedua alisnya. Almaira tersenyum manis memohon, dia malas untuk kedapur sehingga meminta apa yang dibawa Galang.
__ADS_1
"Nih" Galang langsung memberikan apa yang diminta Almaira.
"Terima kasih, kakak memang kakak satu-satunya yang paling baik sama Al" ucap Almaira. Galang menggelengkan kepalanya.
"Kalau saja kamu bukan pacarnya Ezra, sudah pasti aku tikung Al karena mendengar pujianmu" ucap Galang terkekeh.
"Kenapa memangnya sama Kak Reza?" Rangga yang bertanya.
"Pake nanya, sudah jelas mana bisa saingan sama dia yang memiliki segalanya"
"Ternyata lo tahu diri juga ya Lang" ujar Aji sambil terkekeh.
"Ya iyalah siapa gue, hanya remahan rengginang" sahut Galang.
"Remahan rengginangpun memiliki nilai lebih bagi orang yang menyukainya. Jangan menganggap diri kita rendah dari pada orang lain, tapi jangan juga menganggap diri kita tinggi dari orang lain. Jalani dengan bersyukur maka kita akan bahagia, dengan bahagia aura baik akan terlihat dari diri kita yang menjadikan nilai lebih orang yang melihat kita"
"Subhanallah, luar biasa ustazah Almaira ini" puji Wibi yang baru saja ikut bergabung bersama mereka. Dia datang bersam Raisa dan Winda.
"Mas Wibi jangan gitu, jadi malu nih. Al juga masih belajar untuk bayak berbenah diri"
"Tapi itu kata-kata yang luar biasa Al, bisa membuat orang seperti Galang percaya diri" sahut Aji.
"Habis" Almaira menunjukkan tempat salad yang sudah kosong,
"Al pamit ya, mau tidur" Dia berdiri sambil membawa tempat kosong bekas salad kedapur.
"Sekali lagi terima kasih ya Kak Galang, semoga cepat bertemu dengan pencinta remahan rengginang" ucap Almaira yang membuat semua orang disana tertawa begitupun Rangga.
Keputusannya untuk mengajak Galang dan Aji bermain bersama diluar kamar seperti ini bisa lebih mengakrabkan mereka semua serta mampu mengusir sepi dan menghilangkan segala beban pikiran dari masalah yang tak kunjung usai.
Begitu sampai dapur, Almaira mencuci tempat salad itu, dia berpikir mungkin saja diperluakan Bu Laras untuk menyimpan sesuatu dikulkas. Itu lebih bermanfaat dari pada dia buang ketempat sampah.
Begitu selesai dia berbalik, alangkah terkejutnya Almairah begitu berbalik, Raisa sudah ada berdiri dihadapannya.
"Al, bisa kita bicara?"
__ADS_1
...Bila Aku Jatuh Cinta...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...