
Aku berangkat menuju kota yang yang ditunjuk Mamah. Aku berangkat menggunakan mobil yang biasa ku naiki dengan disopiri oleh sopir pribadiku. Menurut kabar yang beredar, perjalanan dari kota-ku menuju desa itu bisa memakan waktu berjam-jam. Aku tak membawa banyak barang atau-pun baju, kupikir akan repot jika terlalu banyak membawa barang. Nanti saja aku akan membeli pakaian setibanya di sana.
Ku rebahkan punggungku di kepala jok mobil, lagu one more night dari penyanyi terkenal yang tengah hits itu menemani perjalananku kali ini, ku pejamkan mataku erat, rasanya begitu lelah, hingga tanpa sadar kesadaranku mulai mengambang, lalu aku tidak mengingat apapun lagi mungkin aku tertidur.
Duk ... duk ... duk ...
Aku mengerjap, ku buka mataku lalu ku tatap kaca mobil yang tembus pada jalanan yang dilewati. Benar kata Mamah, yang mengatakan tempat ini masih asri, baru melewati jalannya saja aku sudah mencium udara yang sangat sejuk, mungkin karena pepohonan yang berderet yang memberikan pasokan oksigen lebih banyak.
Mobil masih melaju, aku masih menatap jalanan. Perlahan, kubuka jendela kaca mobilku, kuhirup udara dengan perlahan, sejuk dan menyegarkan, itu yang tubuhku rasakan, suasananya begitu menentramkan, cocok jika daerah ini digunakan untuk liburan, atau lebih tepatnya menyepi.
Sepanjang jalan aku menatap pemandangan yang sangat indah, gunung yang menjulang tinggi seolah sangat dekat dari jangkauanku, lalu persawahan yang berderet sejauh mata memandang membuat mataku merasa tak berdaya untuk terus menikmati pemandangan alam ini. Sungai yang memiliki air yang sangat jernih, suaranya mengalun merdu di telinga.
Para petani yang baru pulang dari ladang atau sawah pun, terlihat saling bertegur sapa, dan saling tersenyum ketika bertemu dengan teman-temannya. Menandakan jika orang-orang di daerah ini sangat ramah satu sama lainnya.
Rumah-rumah yang terlewati ‘pun cukup unik, di Desa ini meskipun disebut sebagai Desa, tapi rumahnya cukup mewah-mewah untuk seukuran rumah di pedesaan, namun tetap saja khas Desa dari rumah-rumah itu masih ketara, terlihat dari rumah-rumah itu tidak menggunakan pagar tinggi-tinggi, di halaman rumah banyak ditanami buah-buahan atau bumbu-bumbu dapur yang banyak sekali manfaatnya.
Sebelumnya, aku juga mendapat info jika di Desa ini juga ada klinik yang lumayan besar, tapi untuk perlengkapannya tentu saja tidak selengkap di Kota, juga ada pula minimarket yang cukup komplit, meski tidak sebesar mall-mall di Kota. Ada juga masjid besar, mereka menyebutnya dengan sebutan kaum. Biasanya kalau sore hari tiba, para remaja akan menghabiskan waktunya di sana untuk sekedar nongkrong.
Tempat ini jika di bilang Kota, eeemmhhh ... belum seramai itu, tapi jika di sebut Desa juga terlalu maju, jika hanya disebut sebagai Desa biasa.
“Pak, berapa lama lagi kita akan sampai??” tanyaku pada sopirku yang masih fokus pada jalanan.
__ADS_1
“Mungkin sekitar lima belas menit lagi Pak” jawabnya sambil memanggutkan kepala, penuh hormat. Aku mengangguk, kembali menatap pemandangan seluas mata memandang dari jendela kaca mobil.
Tiba di sebuah lampu merah, yang tak jauh dari alamat yayasan yang Mamah berikan padaku, Aku berdiri menantang teriknya matahari, sinarnya begitu menusuk kulitku yang baru saja turun dari mobil.
“Di sana masih sangat alami Raga, kamu bisa naik delman kalau mau kemana-mana” ucap Mamah sebelum aku pergi.
“Ckckck, aku?? Hidup alami?? Kita lihat, seberapa lama aku akan bertahan di Desa ini??” gumamku dalam hati sambil mengipasi wajah dengan tangan. Rasanya panasnya nampol banget hari ini. Untung saja masih ada pepohonan yang menjadi pelindung, coba kalau tidak?? Bisa gosong kulit ini.
Aku berdiri di dekat lampu merah, berniat untuk menyebrang setelah lampu merah berganti dengan lampu hijau dan langsung menghampiri yayasan tersebut. Sementara itu, sopirku sudah kembali pulang ke Kota atas perintahku.
Dari jauh aku bisa melihat para murid SMA yang keluar dari Yayasan milik Mamah tengah membubarkan dirinya, sungguh ini adalah pemandangan langka bagiku.
Pandanganku kini terpaku pada dua murid sekolah yang tengah menyebrang menghampiriku, keduanya terlihat cantik alami, hanya saja yang satu terkesan cengengesan dan yang satunya lagi terlihat galak. Haha ... lucu sekali wajahnya. Menantang.
Aku masih menyeka keringat sementara itu, dari tadi para Ibu-Ibu yang lewat terus memperhatikan aku, lalu saling dorong dan kemudian tersenyum mesem-mesem, kenapa mereka?? Apa penampilanku begitu aneh?? Segera aku menelisik penampilanku, tapi ah ... rasanya biasa saja.
Hingga tanpa kusadari, ada yang mau merampas barang-barangku, tidak banyak, hanya tas kecil juga ponsel, tapi ... tahukah kalian?? Di dalam dompet itu, ada banyak sekali barang-barang penting dan sangat berharga.
Untung saja, aku tidak direpotkan harus membawa koper, keputusanku untuk tidak membawa barang banyak memang tepat sepertinya.
Jantungku berdebar kencang, seumur hidupku aku hanya terus dilayani jika untuk urusan sesepele ini, mana pernah aku berdiri di pinggir jalan? Aku tidak pernah mengenal debu ataupun solar yang menempel di bajuku sekarang.
__ADS_1
Spontan aku berteriak kala mereka mencoba merebut barang-barangku, tapi lagi-lagi aku di buat terpana kala melihat perempuan itu berlari dengan gagah berani untuk menolongku.
Dia melakukan berbagai gerakan yang menurutku sangat lucu, jika tidak sedang panik, aku pastikan aku akan tertawa terpingkal-pingkal dengan gerakan yang gadis itu lakukan, ya Allah ... ku pikir riwayatku akan tamat sampai disini, mengingat para preman itu badannya sangat kekar, penampilannya tidak jauh dari preman. Ternyata di Sunda, ada juga orang dengan bentuk seperti ini.
“Aku anaknya Lurah!!”
Mataku membelalak, gadis ini sungguh berbeda, biasanya perempuan di kota itu sangat manja, dan tidak mampu berhadapan dengan preman seperti ini. Mereka hanya akan gemetar ketakutan, dan mengandalkan orang lain untuk menolong mereka jika dalam tengah bahaya, namun gadis di hadapanku ini dengan beraninya menghadapi dua pria beringas yang kini tengah menantangnya.
Aku masih gemetaran, sementara itu hatiku masih penasaran pada gadis yang masih menggunakan seragamnya tersebut.
“Siapa namamu??” tanyaku setelah dia melakukan pertolongan padaku.
“Cinta!”
Haha ... aku tahu persis ekspresi wajah alami dan polosnya, aku tahu dia bohong. Tapi, pura-pura mempercayainya mungkin akan lebih menyenangkan sekarang.
Baiklah Cinta ... aku akan mengikuti permainanmu ...
Bersambung ...
.
__ADS_1