
Pagi menyapa, pagi ini Andin sudah berada di kantornya, berjalan dengan penuh percaya diri, lalu memanggutkan kepala, saat ada beberapa pegawai lain yang menyapanya.
“Pagi Bu Andin ...” sapa Rey saat Andin tengah melewati meja Rey untuk menuju ruangannya.
“Pagi ...” balas Andin santai.
“Bu, pagi ini Ibu ada meeting menemani Pak Raga ya, kebetulan client dari pusat yang datang kali ini” jelas Rey sambil menggaruk pelipisnya pelan.
“Oke” Andin mengangguk mengerti.
“Semenjak Pak Raga pindah kesini, semua orang pusat juga jadi semakin sering kesini, pekerjaanku semakin bertumpuk tak terkendalikan” gumam Rey yang masih bisa di dengar Andin, Andin hanya menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
Andin duduk di kursi kerjanya, menyalakan komputer, lalu mencoba membuka beberapa file yang ditinggalkannya kemarin.
Kkrriieettt ...
Pintu terbuka, Andin mendongakan kepalanya, menatap siapa yang datang sepagi ini ke ruangannya.
“Pagi Cinta ...” sapa seorang pria tampan, dengan beberapa papper bag di tangannya.
“Pagi ...” Andin tersenyum, ingat pepatah panjang lebar dari Siti tadi malam, Andin harus mulai membuka hatinya untuk orang lain.
“Sudah sarapan?? Ini makanan untukmu, dan ini untuk penyemangat harimu” Raga meletakan papper bag di atas meja Andin.
“Terimakasih” Andin menganggukan kepalanya, lalu meraih satu papper bag.
“Ooowwww ... Bapak tahu saya suka apel??” mata Andin berbinar.
“Tahu, di makan ya, apalagi kalau apelin kamu, saya tahu banget gimana caranya” Raga tersenyum, lalu memutar tubuhnya berniat meninggalkan Andin yang tengah tersenyum.
“Makasih,” Andin tersenyum, Raga mengibaskan tangannya di udara,
“Bunganya cantik banget, wangi lagi” Andin mencium bunga hidup yang berada di pot kecil tersebut, menyimpannya di atas meja, dekat dengan foto dirinya bersama Abah dan Ambu ketika berada di kampung.
***
“Rey ... tadi Kakak durhaka masuk kedalam ruangan Andin, mau apa dia??” bisik Ronald tepat di telinga Rey yang tengah mengerjakan tugasnya.
“Hah?? Eh? Gak tahu pak, tapi sekilas saya lihat, kayaknya Pak Raga bawain bu Andin apel sama bunga deh” ucap Rey gelagapan.
“Hah?? Aku tidak percaya, seorang Raga yang perkasa bisa hanya memberikan apel sama bunga murahan buat orang yang dicintainya” Ronald menggeleng tak percaya.
“Bapak tahu dari mana kalau Pak Raga mencintai Bu Andin??” tanya Rey kepo.
“Nih ...” Ronald menyodorkan ponselnya, memperlihatkan foto-foto Andin dengan Raga saat Andin SMA dulu, Ronald mendapatkan foto tersebut dari pamannya, tidak sia-sia Ronald mengizinkan pamannya untuk menginap di apartemennya, Ronald mendapatkan banyak informasi mengenai Raga dan Andin.
“Woooaaahhh ... ternyata Pak Raga dan Bu Andin sudah saling mengenal dari dulu ya Pak, pantesan Pak Raga suka manggil Bu Andin dengan sebutan Cinta” Rey manggut-manggut.
“Kampungan banget, panggilannya Cinta” Ronald berdecak tidak suka.
“Pak Ronald juga suka ya sama Bu Andin??” tanya Rey setengah berbisik.
“Hah??? Eh?? Bukan urusanmu!” Ronald kembali ngacir memasuki ruangannya.
“Sungguh, sungguh, sungguh akan terjadi peperangan saudara di kantor ini, mungkin juga akan terjadi pertumpahan darah, saat semua itu terjadi, kubu mana yang akan aku pilih?? Ya Allah ... kenapa semuanya jadi rumit begini?? Aku bertaruh di sini, pasti Pak Raga pemenangnya” gumam Rey sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
***
Jam makan siang telah tiba,
Brugh ...
__ADS_1
Rey terlonjak kaget, saat melihat Ronald terengah dengan sebuah kantong kresek berbentuk bulat juga besar di tangannya.
“Pak? Bapak kenapa?? Itu apa??” Rey menunjuk barang yang dibawa Ronald.
“Berat banget Rey, ini sungguh perjuangan yang luar biasa” Ronald berdecak, sambil ngos-ngosan.
“Perjuangan?? Perjuangan untuk apa Pak??” tanya Rey mengerutkan keningnya dalam.
“Perjuangan untuk mendapatkan hati seorang gadis mafia aarrrggghhh ...” Ronald memperagakan suara kucing garong.
“Ih ... terus itu Bapak bawa apa??” rasa penasaran Rey masih juga belum hilang.
“Ini semangka Rey” jelas Ronald membuat Rey semakin bingung. Kenapa juga seorang Ronald mau membawa semangka dengan bobot lebih dari lima kilo??. Ini ajaib!.
“Kenapa Bapak mau memberikan semangka ini buat Bu Andin??” tanya Rey semakin Ronald menjawab maka semakin pertanyaan Rey seolah tak ada habisnya.
“Kalau Kakak durhakaku itu hanya memberikan sebuah apel kecil, maka aku akan memberikan sebuah semangka yang berukuran besar, haha ... yang kecil aja diterima, apalagi yang besar, begitu bukan Rey?? Hahahahaha ...” Ronald terbahak, menertawakan kemenangannya yang belum terjadi.
“Hah?? Ya Allah ... “ Rey tertawa kikuk, dalam hati merutuki kebodohan atasannya tersebut.
“Ya sudah, aku mau memberikan ini dulu pada Andin” Ronald berlalu dengan semangka besar di tangannya.
Tok ... tok ... tok ...
Ronald mengetuk pintu ruangan Andin.
“Bu Andin??” Ronald menyembulkan kepalanya di pintu,
“Oh, Pak Ronald? Ada apa??” Andin yang tengah bersiap untuk menunaikan shalat, memalingkan wajahnya menatap Ronald yang tengah tersenyum jenaka padanya.
“Ini buat Bu Andin” ucap Ronald meletakan semangka berukuran besar itu di atas meja, menggeser papper bag yang dia yakini berisi buah apel pemberian Raga dengan kejamnya. Hingga papper bag itu jatuh ke bawah meja. Andin mengerutkan keningnya dalam.
“Kenapa repot-repot Pak?? Kalau Bapak ada perlu sama saya, Bapak tinggal bilang sama Rey seperti biasanya” ucap Andin tersenyum.
Ronald? Sayang pada bawahan? Sejak kapan? Andin hanya bisa tertawa geli di dalam hati.
“Oh, terimakasih banyak Pak Ronald” Andin menganggukan kepala.
“Kalau begitu, mari kita makan siang bersama” ajak Ronald kemudian.
“Maaf Pak, saya belum lapar, saya mau shalat dulu” tolak Andin.
“Kalau begitu saya tunggu” Ronald memaksa.
“Tidak perlu Pak” Andin menggeleng.
“Kalau begitu saya pesan makanan, nanti kita makan sama-sama di sini” seolah tak habis akal, Ronald tetap punya ide untuk merayu Andin.
“Maaf Pak saya tidak bisa, nanti kalau saya lapar, saya bisa makan sendiri” Andin masih menolak.
“Kalau begitu, kita beli minuman, kita minum saja berdua di sini”
‘Bener-bener ide nya sekebon ini orang’ bantin Andin menggerutu.
“Saya juga sedang tidak haus Pak” Andin menggeleng lagi.
“Kalau begitu, kita makan saja semangkanya di sini bagaimana??” jurus terakhir dari Ronald.
“Semangkanya, nanti saya makan Pak, saya mau shalat dulu, Pak Ronald boleh keluar ruangan saya” Andin sudah memasang wajah judes bin juteknya.
“Apa?? Emmmhh ... ya udah deh, tapi beneran di makan yaaa semangkanya” Ronald masih saja kukuh dengan keinginannya.
__ADS_1
“Iya Pak” Andin mengangguk, hingga pada akhirnya, Ronald keluar ruangan Andin dengan kecewa,
“Ckckck ... bener-bener, Kakak beradik ini selalu saja memaksakan kehendaknya” Andin menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Reeeeeyyyyy!!” suara Andin melengking, memanggil pria yang tengah terbengong di depan layar komputernya.
“Iya Bu??” dengan tergesa, dalam hitungan menit Rey sudah berdiri di ambang pintu.
“Bawa semangkanya keluar ruangan saya,” Andin menunjuk semangka yang teronggok di atas mejanya.
“Hah?? Dibuang maksudnya Bu??” tanya Rey bingung.
“Jangan, mubadzir, makan aja sama kamu dan yang lainnya, suruh OB buat kupasin” perintah Andin kemudian.
“Baik Bu” Rey mengangkat semangkanya dengan menggunakan tenaga full.
“Bu ...”
Andin kembali menoleh dengan kesal ke arah Rey.
“Apa lagi??”
“Ini pitanya juga mau di buang??”
Rey menunjuk pita cantik yang mengelilingi buah semangka tersebut.
“REY!!” Andin memelototkan matanya tidak suka.
“Baik Bu, saya keluar sekarang”
Dengan tergopoh-gopoh akhirnya Rey membopong buah semangka itu dengan susah payah.
***
“Woooaaahhh ... ada acara apa ini Pak Rey?? Tumben dibagi semangka??” hampir seluruh karyawan yang ada di lantai tiga kebagian jatah semangka yang dibagikan oleh Rey.
“Manis banget semangkanya, enak” seru yang lain.
“Pak Rey ulang tahun ya??”
“Ada apa ini??” tiba-tiba suara berat itu mengagetkan semuanya.
“Eh?? Pak Ronald?? Ini Pak kita lagi pesta semangka, Pak Rey ulang tahun” jelas salah satu karyawan.
Ronald menatap semangka, dan juga pita pink cantik yang teronggok begitu saja di lantai. Seketika Ronald mengepalkan tangannya kuat, rahangnya mengetat, dan wajahnya memerah, giginya gemeretak menahan amarah.
“Kurrrrraaaannnggg ajaaaarrr!!! Perempuan terkutuk!! Awas saja kamu Andin Andiniiiiii!!!!”
Bersambung ....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ...
Like
Komentar
Bintang lima
Vote
Juga share cerita ini yaaa ...
__ADS_1
Hatur nuhun.