
“Ya Allah ... lindungilah aku” dalam hati, sudah kulafalkan banyak do’a sedari tadi.
Jegleg ...
Akhirnya wahana ini mulai berputar, satu menit, dua menit ... tiga menit ... putarannya semakin kencang, semakin tinggi ... tunggu ... kenapa kepalaku terasa berputar-putar, perlahan aku melihat Andin dan Siti tengah tertawa sambil menunjuk-nunjuk sesuatu, apa mereka sedang menunjuk tubuhku dan menertawakanku?? Duh ... kok makin pusing saja ya??.
Apa aku akan pingsan sekarang?? Kenapa gerakannya semakin kuat?? Seiring dengan suara jeritan mereka. Duh ... berkali aku mengerjapkan mata dan kepalaku, jangan sampai aku pingsan sekarang! Memalukan!.
Lima belas menit, aku hanya memejamkan mataku, tanpa membuka mata. Kubiarkan saja semua berjalan semestinya, meski aku tidak menikmatinya sama sekali.
“Pak?? Pak Raga??” terasa tubuhku di guncangkan, seiring dengan berhentinya pergerakan dari permainan ini.
Perlahan aku membuka mata, menatap dua gadis yang tengah mengerutkan keningnya.
“Bapak gak apa-apa??” tanyanya terlihat khawatir.
Kenapa perutku terasa bergejolak?? Dan ...
Hhoooeeekkk ... hhhoooeeekkk ...
Aku berlari ke pinggir, agak jauh dari wahana tadi dekat tepat di tempat sampah yang ada di sana, rasanya perutku seperti dikocok, ampppuuunnn memalukan!!!.
“Hah?? Bapak teh, mabuk udara?? Bapak pasti belum pernah naik pesawat ya?? Sama seperti saya, hehe” terdengar Siti yang bertanya, naik pesawat?? Itu adalah kegiatan sehari-hariku, mana mungkin aku tidak pernah melakukannya, tapi aku tidak peduli dengan celotehan Siti, mengeluarkan gejolak perutku lebih penting sekarang.
“Duuuuhhh ... gimana ini?? Siti, ambil minyak kayu putih di tasku” perintah Andin menunjuk tas kecil yang sedari tadi di selempangnya.
“Pak, maaf ya, Bapak gosok sendiri aja ya” ucapnya sambil menyodorkan sebotol minyak kayu putih padaku. Ih ... bukannya di gosokin.
“Terimakasih” ucapku sambil memijat kening dengan kayu putih yang terasa masih berputar.
“Pak, duduk di sana dulu yuk” Andin memapah tubuhku perlahan, aku mengikutinya dengan pasrah.
Aku duduk disebuah kursi, kemudian memijat keningku dengan diolesi minyak kayu putih. Selang berapa lama, kepalaku sudah tidak berdenyut lagi, gejolak perutku juga sudah berangsur membaik.
“Eh, Din, kamu denger orang minta tolong gak sih??” tanya Siti sambil menajamkan pendengarannya.
“Masa sih?? Gak kayaknya” Andin ikut-ikutan menajamkan pendengarannya.
“Ih, masa gak denger sih??” Siti mengerucutkan bibirnya,
“Tuh kan ... dengerin deh, tollloooonnnggg ... toloooonnnggg ...” Siti memperagakan orang minta tolong.
__ADS_1
“Aku tolongin dulu ya Din” siti bersiap bergegas.
“Mang! Berhenti Mang!” Siti melambaikan tangannya pada pedagang yang lewat di hadapan kami.
“Ish ... Siti!! Itu mah lontong, bukan tolong!” Andin berdecak sebal melihat tingkah sahabatnya.
“Maaf ya Pak” Andin tersenyum kikuk menatapku, yang kini sudah bisa tersenyum lagi.
“Gak apa-apa, saya suka, kalian lucu” ucapku tulus, sementara Siti, sudah berpindah tempat duduk, menghadap pedagang lontong, sambil menikmati seporsi lontong sayur pesanannya.
“Oh iya, Bapak kan mau beli baju, yuk saya antar sekarang, keburu malam banget, nanti pedagangnya keburu tutup” Andin berdiri, lalu berjalan di depanku, sementara aku hanya mengikutinya dari belakang.
Hingga tiba di sebuah jongko yang menjajakan beberapa pakaian pria, kami berhenti dan langsung memilih baju yang aku perlukan.
“Yang ini bagus gak??” aku mengacungkan sebuah kaos polo yang menggantung di sebuah gantungan besi.
“Bagus” dia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Lucunyaaaa ... andai ...
Andai apa coba??
“Kalau ini??” aku kembali mengacungkan kaos oblong dengan tulisan khas daerah sana.
Lah?? Kenapa semuanya jadi bagus-bagus aja sih??.
“Andin??” tiba-tiba saja suara itu membuyarkan konsentrasiku yang sedang sibuk memilih baju-baju di hadapanku.
“Aa Nasar?? Ngapain di sini??” terdengar Andin balik bertanya.
“Kamu yang ngapain disini?? Kamu teh calon istri Aa, kamu gak pantes keluar malem-malem” suaranya yang cempreng terdengar agak meninggi, terdorong rasa penasaran aku menghampiri mereka.
“Ekhem!” aku berdehem membuat pria yang tengah menggunakan syal merah muda itu menatapku, haha ... kenapa aku merasa kalau pria itu bukan pria seutuhnya ya?? Jika melihat dari penampilannya. Celana cutbray dengan warna kuning menyala, kemeja panjang dengan motif bunga-bunga berwarna merah muda, syal serasi dengan kemeja yang digunakannya setia melilit di lehernya.
“Saha maneh?? Nyaho teu?? Andin teh calon istri saya” ucapnya sambil menepuk dada.
“Iiiihhh ... gelo!!” Andin berdecak, lalu membuang muka tidak suka.
Aku mengernyit, kurang paham dengan bahasanya, hanya saja yang aku paham ketika dia mengatakan istri. Mungkin maksudnya Andin itu calon istrinya.
“Bener? Kamu calon istrinya??” setengah berbisik aku bertanya pada Andin.
“Bukan Pak, Aa Nassar nya aja yang suka ngaku-ngaku” jawabnya sambil bergidik ngeri.
__ADS_1
Hhuuuhhh .... legaaaa ... hati ini terasa plong, mendengar pengakuan Andin.
“Kamu gak tahu?? Saya ini, anak juragan di Desa ini” ucapnya lagi bangga, dengan gaya yang agak melambai, hampir saja aku tak mampu menahan tawa.
“O ya??” tanyaku sambil menjulurkan lidah, mencoba meledeknya.
“Iya! Awas siah! Kamu ku urang di bejakeun ka Bapak!!” ucapnya sambil berlalu begitu saja.
“Ih ... dasar!!” Andin kembali berdecak tidak suka.
“Penggemar kamu??” tanyaku sambil terkekeh.
“Hehe ... bukan Pak, dia itu masih saudaranya Dino, dulu waktu kecil kita pernah main bareng, cuman saya gak nyaman sama dia, soalnya dia cengeng, apa-apa suka ngadu sama Bapaknya” Andin seperti sedang mengenang sesuatu di masa kecilnya, sementara aku hanya menyimak, memperhatikan ekspresi wajahnya yang berubah-ubah.
“Oh, begitu” aku memanggutkan kepala, mengerti.
“Bapak sudah belanjanya??” Andin menatap tanganku yang sudah menjinjing kantong kresek hitam, tadi aku sempat membayar beberapa potong baju, sebelum ada pengganggu datang.
“Sudah, kamu mau pulang?? Kita cari Siti dulu ya” aku menarik tangannya semangat, tapi tidak ada pergerakan, kusadari ternyata gadis itu sedang mematung sambil menatap tangannya. Sadar akan kelancanganku, aku segera melepaskan tanganku.
“Maaf” ucapku kaku, apaan sih?? Sebelumnya mana ada perempuan yang takut dipegang olehku?? Mereka justru berlomba ingin aku memegang tangan mereka atau mungkin lebih dari sekedar dari itu, tapi gadis ini berbeda, dia sungguh menantang.
“Pak! Din! Dari mana aja sih?? Aku cariin, sampe muter-muter tujuh kali putaran, sampe aku bacain jampi-jampi bolak-balik, tapi kalian tetep gak ketemu juga” Siti datang lagi dengan napas tersenggal.
“Kamu sih keasikan nolongin orang jualan, mentang-mentang ada yang traktir” Andin mencebikkan bibirnya, apa sih?? Bikin gemes aja ekspresinya.
“Aku tadi papasan sama si Nassar, kamu ketemu dia gak??” tanya Siti menatap Andin.
“Iya” jawab perempuan yang menggunakan kaos motif bunga itu singkat, juga malas.
“Hah??? Haha ... terus dia bilang mau lamar kamu gak??” Siti menyenggol bahu Andin menggodanya.
“Apaan sih?? Udah ah, yuk pulang” Andin berjalan mendahului kami. Mungkin dia masih kesal.
“Ciieee Andin cieeee ... cieee mau dilamar Aa Nassar anak juragan ciiieee .... hahaha” Siti semakin tergelak, dan Andin semakin manyun.
Sementara aku?? Bolehkah jika aku meminta waktu berhenti berputar?? Aku ingin menikmati waktu semanis ini lebih lama lagi.
Cinta ... tunggu aku.
Bersambung ....
__ADS_1