BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Pembunuhan


__ADS_3

Raga POV


Apa kamu pernah merasa kehilangan?? Kehilangan sesuatu yang belum sempat dimiliki? Tapi ... aku yakin, belum sempat dimiliki, bukan berarti tidak bisa dimiliki, jauh didalam lubuk hatiku, aku selalu berharap dia akan kembali.


Ya, jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku selalu berharap, akan ada masa di mana aku dan gadis itu bisa hidup bersama, dulu, sebelum aku kehilangan sosoknya, aku sempat lemah tak berdaya, tapi kehilangan mengajarkanku sesuatu yang berarti, bahwasannya, aku sungguh harus mempertahankan dan memperjuangkan apa yang ingin aku miliki, terlebih lagi ini adalah urusan hati.


Selama kehilangannya, aku sungguh merindukannya, rindu tawanya, candanya, senyumnya, keceriaannya, juga kepolosannya. Kini, setelah pertemuan itu kembali datang, maka tak ada hal lain yang ada di dalam pikiranku selain mengungkungnya dengan segenap perhatian, cinta dan kasih sayangku, meskipun aku sadar, dia tetaplah dia, dengan segala kekerasan hatinya, juga keteguhan prinsipnya.


“Pak! Bapak duluan pergi ke restoran nya! Nanti saya nyusul! Ada barang yang ketinggalan!” teriaknya kala kami sudah berada di lobby kantor, dengan susah payah aku mendekatkan diriku kembali padanya, tapi nyatanya, fokusnya tetap pada hal lain. Aku kecewa, tapi sekali lagi ... aku bisa apa???.


“Eh! Bu Andin!”teriakku sambil merentangkan tangan, gadis itu sungguh keras kepala.


“Pak Raga, maaf bisa tanda tangan di sini?? Mari kita duduk dulu di sebelah sana Pak” pekerjaan selalu saja membelengguku dengan berbagai cara, bahkan di saat seperti ini sekalipun.


Sepuluh menit berlalu, Andin tidak juga turun, padahal aku sudah menunggunya di depan lift. Sesungguhnya kemana dia?? Apa yang terjadi??.


Dengan hati cemas, aku kembali menekan lift untuk menuju lantai tiga, sesampainya di sana aku segera berlari memeriksa ruangannya, tapi kosong. Hatiku tak karuan, jantungku berdebar kencang.


Bbbrrraaakkk!!!


Aku menajamkan pendengaranku, segera berlari menuju arah sumber suara, tepatnya di ruangan Ronald, apa yang terjadi???.


Bumiku runtuh!! Itu yang kurasakan kala melihat Cinta-ku tengah terlentang ditindih dua pria yaitu Ronald dan seorang pria asing, tapi bukan itu yang menjadi atensi ku sekarang.


Darah! Ada darah yang mengalir di antara mereka, seketika lututku kian lemas, tubuhku hampir limbung, ada apa ini?? Kenapa?? Apa cinta-ku sungguh terluka?? Apa yang harus ku lakukan?? Shock, aku hanya bisa menganga, sambil menutupi mulutku, perlahan pertahananku runtuh, aku terjatuh ke lantai, apa aku akan kehilangan cinta-ku lagi??.


“Pppp Pak Rah Gah ... aaaahhhh ...” rintihnya, seketika air mataku menggenang, mataku berkaca-kaca, dan sedetik kemudian, air mataku lolos begitu saja, darah terus mengalir di lantai, dari antara mereka.


“AAAARRRGGGHHH!!!” aku berteriak frustasi,


“Uhuk ... uhuk ... uhuk ... pppp pak Raga, to tolooonnnggg, bantu aku, ang khath meh rekah, be raaaatttt ... uhuk ... uhuk ...” ucapnya terbata, seperti sedang ditimpa batu besar.


Sebentar ... aku segera menjernihkan akal sehatku kembali, Andin tidak apa-apa?? Dia sedang berusaha mengangkat dua pria yang berada di atasnya.

__ADS_1


“Kamu tidak apa-apa??” tanyaku tergesa menghampirinya.


“Aku gak apa-apa pak” dia menggeleng, lalu berusaha bangkit, setelah tubuh kedua pria itu hampir bisa disingkirkan dari atas tubuhnya.


“AAAAAAHHHH!!! Ya Allah ... aku hampir mati karena serangan jantung! Jangan begini lagi!!” refleks, aku segera menarik dirinya, membimbingnya untuk berdiri tegak, kulihat kemeja putih yang digunakannya, kini sudah di penuhi darah.


Darah?? Jadi siapa sesungguhnya yang terluka???.


Aku menatap kedua pria yang masih tergeletak di lantai, tidak ada pergerakan dari keduanya.


“Ronald!!” teriakku baru menyadari, adik tiriku sama sekali tidak bergerak, kini bajunya juga sudah banyak noda darah.


“Ronald tidak terluka Pak, dia hanya pingsan karena shock” jawab Andin menenangkan.


“AAAAAHHHH!!! Kenapa kalian membuatku jantungan??” aku menjambak rambutku frustasi, nyaris saja jantung ini keluar dari tempatnya, saking kagetnya.


“Siapa pria itu??” tanyaku menelisik pria yang masih menggunakan topi itu.


“Dia bilang, dia sakit hati karena adiknya meninggal dunia karena bunuh diri, dan penyebabnya adalah Pak Ronald” jelas Andin, sambil menatap nanar kedua pria yang kini masih berada di bawahnya.


“Telpon ambulance, juga polisi, bereskan segala kekacauan ini!!” ucapku sambil membuka jas yang masih kugunakan.


“Baik pak” jawab mereka kompak sambil mengamankan pria bertopi juga Ronald.


“Gunakan ini” aku menyelimutkan jas itu di bahu Andin, aku tahu persis, meskipun Andin perempuan kuat, tapi dia tetaplah perempuan biasa, hatinya bisa saja lemah dengan kejadian yang telah terjadi hari ini.


“Terimakasih Pak” kali ini tidak ada penolakan, dia hanya meremas jemarinya, lalu menunduk.


“Aku antar pulang” ucapku tegas, sambil menuntun tangannya, membimbingnya berjalan,


“Ti tidak perlu Pak, saya bisa pulang sendiri” tolaknya, dengan bibir bergetar.


“Tidak ada penolakan” jawabku datar.

__ADS_1


Hening.


Selama perjalanan kami terdiam, aku masih mengatur detak jantungku, dan dia ... entah apa yang dipikirkannya, dia hanya terdiam.


“Jika ada orang yang melihat kita dalam keadaan seperti ini, aku yakin, mereka pasti akan mengira, bahwa kekasihku adalah seorang mafia berdarah dingin” aku terkekeh, sambil melirik baju Andin yang terkena bercakan darah, hanya untuk mencairkan suasana canggung ini.


“Maksud Bapak??” dia menatapku, lalu mengerutkan dahinya.


“Ah, tidak, bukan apa-apa” aku menggeleng, sadar apa yang aku ucapkan terlalu spontan.


“Bapak mengantar saya pulang, apa istri Bapak tidak akan marah??” tanyanya tampak ragu-ragu.


“Kenapa kamu selalu beranggapan jika saya sudah menikah?? Saya belum menikah Andin” jawabku tegas, dia menunduk dalam, sambil meremas jarinya yang kini saling bertautan.


“Maaf ... mereka bilang ...” ucapannya menggantung.


“Jangan dengarkan mereka! Sekali ini, dengarkan aku!” entahlah ... kenapa juga emosiku tiba-tiba saja naik.


“Maaf Pak, saya tidak bermaksud ...”


“Apa kabar Abah dan Ambu??” aku segera mengalihkan topik pembicaraan, tak ingin membahas hal serupa, yang membuatku merasa tak nyaman.


“Mereka baik, semuanya baik” jawabnya gugup.


“Apa kabar hatimu??”


“Hah??”


Bersambung ........


Hayati sudah sangat lelah untuk mengingatkan readers, agar mau meninggalkan jejaknya di karya ini.


Tahu kan?? Apa yang harus kalian lakukan setelah membaca cerita ini???

__ADS_1


Ya! Silahkan lakukan ...


Terimakasiiihhhh ...


__ADS_2