
Andin POV
Waktu berlalu ... beberapa bulan setelah kejadian Dino mengumumkan pilihan hatinya, akhirnya aku sudah mulai bisa menjalani hariku kembali dengan baik, meski tidak seceria biasanya, tapi aku berusaha untuk tidak terlalu menunjukkan rasa kecewaku. Mungkin, bagi remaja lainnya mudah sekali memutuskan untuk jatuh cinta dan patah hati. Tapi, tidak bagiku, aku manusia yang sangat sulit untuk memulai hubungan apalagi sampai jatuh cinta, butuh waktu delapan belas tahun untukku bisa sadar bahwa aku mencintai Dino. Pun dengan kehilangan dan patah hati, aku butuh waktu yang cukup panjang untuk menyembuhkannya.
Pernah dengar pepatah yang bilang ‘Sesuatu yang didapat dengan mudah, akan mudah hilangnya, dan sebaliknya, sesuatu yang susah didapatkan, akan susah pula dihilangkannya’.
Detik-detik menuju ujian sebentar lagi akan terlaksana, seluruh siswa kelas tiga saat ini sedang gencar-gencarnya belajar, beberapa dari kami mengalami stress yang berlebihan, mungkin juga termasuk aku, setelah beberapa bulan aku melupakan pelajaran sekolah, hingga beberapa nilaiku anjlok, tapi sekarang aku sadar hidup terus berjalan, Dino sudah menemukan jalan hidupnya dan akupun mungkin harus begitu, berusaha menentukan jalan hidupku dari sekarang. Aku masih ingat seluruh dukungan yang diberikan orang-orang yang aku cintai, kedua orangtuaku Abah dan Ambu, sahabatku Siti, ah dan satu lagi, akhir-akhir ini ada pak Raga yang selalu membantuku, menyemangatiku, dan menyelesaikan tugas-tugasku di saat aku hanya bisa menangis mengenang kebersamaanku bersama Dino.
Hari-hari sebelum aku bangkit, aku mengalami susah makan, jika biasa semua makanan selalu terasa enak di lidahku, maka kali ini aku benci semua makanan, rasanya begitu tidak enak. Jika biasanya aku semangat mengerjakan PR, maka ketika patah hati aku enggan melihatnya, benar apa kata orang, jika tengah jatuh cinta ‘tai kotok pun terasa coklat’ dan coba kalau lagi patah hati ‘coklat aja rasa sianida’. Bawaannya pengen mati aja.
“Din, jangan lupa tugas akhir matematika di kerjain ya” peringat Siti kala kami tengah berjalan bersisian sepulang sekolah. Ah ... kala aku mengalami patah hati separah ini, rupanya hanya Siti, sahabatku satu-satunya yang masih setia di sampingku, jika kalian memiliki sahabat seperti Siti, jangan lupa untuk terus memeluknya, jangan sampai sahabat seperti itu jatuh pada pelukan sahabat lain. Hhee ...
“Huhhh ... rasanya otakku blank banget Siti” keluhku, kalau lagi patah hati pikiran suka mendadak mampet, seperti ingus kala flu melanda.
“Cinta ... mau saya bantuin ngerjain PR matematikanya?” langkahku terhenti, seketika kepalaku mendongak ke arah sumber suara, terlihat Pak Raga tengah tersenyum menatapku dari atas sepeda barunya. Katanya sih itu model sepeda mahal, tapi aku gak peduli, sepeda ya tetap sepeda, mau harga murah, mau harga muahaall, sama aja cara menggunakannya ya di goes. Akhir-akhir ini, Pak Raga jadi hobi naik sepeda ketika berangkat ke sekolah, katanya sih sambil olahraga juga.
“Eh? Eeemmmhhh ...” aku masih menimang tawaran dari Pak Raga, namun tiba-tiba saja ...
“Mau Pak!!” tiba-tiba Siti menyerobot, di saat ucapanku masih menggantung.
__ADS_1
“Ok, nanti sore saya bantuin ngerjain tugas-tugas kalian ya” Pak Raga tersenyum, senyumannya masih sama, terlihat manis namun tidak mengurangi wibawanya.
“I ya ...” aku mengangguk ragu, pandanganku tertuju pada sosok di seberangku, Dino dan Maira tengah berboncengan sambil tertawa. Kenapa mereka terlihat selalu bahagia gitu sih?.
“Din!” aku mengerjap kaget, tersadar dari lamunanku, kala merasakan Siti tengah menepuk pundakku.
“Apa Siti??!!” aku mendelik kesal pada Siti.
“Eh? Eemmhh ... kita foto dulu yuk” Siti mendorong tubuhku agar lebih dekat dengan Pak Raga, yang masih saja berdiri tegak di atas sepedanya tepat di sampingku.
“Ta tapi ...” aku masih bingung, malas saja sebenarnya harus di foto dengan orang yang belum terlalu kita kenal lebih dalam lagi.
Aku melirik ke arah Pak Raga, pria itu hanya tersenyum lebar, tidak melakukan penolakan, atau pun persetujuan.
“Satu ... dua ... tiga ...” cekrek, cekrek, cekrek.
Siti membidik kami dengan kameranya, beberapa saat kemudian Siti mengacungkan jempolnya, tanda hasilnya jepretannya bagus. Aku tidak perduli, aku tidak ingin tahu dengan hasil jepretan foto Siti, aku lebih memilih untuk melanjutkan perjalananku. Sementara itu, hatiku masih saja sulit mengikhlaskan Dino dan Maira.
***
__ADS_1
“Masa sih? Kalian gak paham sama materi ini??” samar terdengar Pak raga menjelaskan materi Matematika, yang kata Siti teramat sulit itu. Pelajaran matematika adalah musuh bebuyutan bagi Siti.
Sesuai perjanjian, sore ini kami tengah berkumpul di depan teras rumahku, untuk mengerjakan tugas sekolahku, makanan kecil dan minuman sudah tersaji di tengah-tengah kami, sementara itu, Ambu sedang memasak di dapur, dan Abah sedang ngobrol dengan si Jago, sambil menyuapinya makan. Sesekali, mata Abah memperhatikan kami.
“Hehe ... kayaknya kalau Bapak yang jelasin, Titi bisa langsung paham deh” Siti mengedipkan matanya berulang kali, membuat aku ikut tersenyum, berusaha menyembunyikan lukaku.
“Oke, saya jelaskan lagi ya ...”
Lambat, suara Pak Raga terdengar samar di telingaku. Meskipun aku sedang berusaha fokus pada pelajaran, tetap saja sekelebat bayangan Dino selalu hadir di kepalaku. Iya, jadi sesulit itulah aku melupakan cinta pertamaku.
Ketika patah hati, aku bisa membiarkan diriku berduka, meskipun seringnya aku bersembunyi di balik senyum palsu hanya untuk menunjukan betapa hatiku sekuat baja, yah ... aku manusia biasa.
Ketika patah hati, aku tak akan segan mengurung diriku di kamar, menangis seharian, seakan dunia ini hanya berisi tentang kegelapan, aku lupa jika siang hari ada mentari, jika malam hari ada bintang dan bulan, bahkan aku lupa jika ada pelangi setelah hujan, yang aku tahu kala aku patah hati adalah hanya ada aku dan rasa sakitku.
Ketika patah hati, aku sering berdiri dekat jendela kaca, memandang rintik hujan melebat, lalu aku menyamakan air mataku sebanyak rintik hujan di hadapanku, tak lama aku ikut terisak hingga dada tak lagi terasa sesak.
Ketika patah hati, aku lupa jika kebahagiaan dan kesedihan bukanlah hal yang abadi, aku selalu menikmati moment itu berlebihan, seringkali aku lupa, akan hangatnya pelukan sahabatku, mengikuti langkah mereka, menjalani relasi baru, bermain, mengobrol hingga lupa waktu, aku lupa bahwa orang yang selalu tertawa lepas bersama ku adalah mereka yang masih setia di sampingku, mereka yang tak mengizinkan aku menangis, dan tak membebankan luka di hatiku. Aku lupa, jika terlepas dari rasa luka, aku berhak bahagia.
Bersambung .........
__ADS_1