BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Calon Mertua


__ADS_3

Terlalu banyak mendengar gosip dari banyak orang tentang kejamnya mertua, membuat Andin sedikit ketar-ketir ketika berjalan menuju lantai dasar untuk menemui Ayah Raga.


Belum sepenuhnya Andin mencintai Raga, namun ketika tahu dirinya tengah di panggil Ayah Raga, jelas membuat Andin sangat gugup, bayangan ketika dirinya akan di usir, akan memaki, atau mungkin akan disuruh untuk menjauhi Raga terus berkeliaran dalam benaknya.


“Ekheeemmm ... Bu Andin??”


Andin mengerjap kala mendengar orang yang menyapanya.


“Pak Ronald??” Andin menatap pria yang tengah berdiri di sampingnya, tengah tersenyum menyeringai sambil menunggu pintu lift terbuka, sama seperti dirinya.


“Mau bertemu Ayahku ya??” Ronald mendengus, lalu memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


“I iya ...” Andin mengangguk.


“Tumben Bu Andin terlihat kurang percaya diri??” pertanyaan Ronald, terdengar seperti sebuah ledekan bagi Andin, membuat Andin menegakkan tubuhnya dengan segera, mengangkat wajahnya, seolah ingin membuktikan, jika dia baik-baik saja.


“Saya biasa saja” ujar Andin tidak terima.


“Mukulin orang berani, mau ketemu Ayah kok jadi gugup gitu sih??” kembali ocehan Ronald terdengar seperti ledekan bagi Andin, membuat Andin menjadi kesal dibuatnya.


“Mau tahu kelemahan Ayahku??” Ronald melirik Andin, tersenyum menyeringai.


“Apa?” tiba-tiba saja Andin menjadi sumringah, perubahan ekspresi wajahnya sangat ketara.


“Makan malam lah denganku, baru akan aku beritahu apa yang di sukai, dan apa yang tidak disukai Ayahku” Ronald tersenyum penuh kemenangan.


“Tidak usah terimakasih”


Ting!


Pintu lift terbuka, Andin segera masuk kedalam lift, di ikuti Ronald.


“Ayahku itu, pria kejam, seleranya begitu tinggi” Ronald membuka suara lagi saat Lift sudah terasa melaju.


‘Seleranya tinggi?? Apa maksudnya?? Apa Ronald mau bilang kalau aku ini rendahan??’ batin Andin sudah dipenuhi amarah, karena kesal akan ucapan Ronald.


“Mungkin Bu Andin juga pernah mendengar, jika Ayahku sering berganti wanita, itu semua karena Ayahku sering merasa tidak nyaman dengan satu orang, mungkin akan begitu pula dengan calon menantunya” ucap Ronald kemudian.


“Maaf, maksudnya apa ya??” Andin menaikkan suaranya.

__ADS_1


“Tidak ada, aku hanya mengingatkan” Ronald menarik kedua bahunya ke atas,


Ting!


Pintu lift terbuka, dengan santainya Ronald melenggang keluar, sambil bersiul, tersenyum penuh kemenangan. Sementara Andin sempat terdiam mematung, terpikirkan ucapan Ronald, apa jangan-jangan Ayah Raga akan memilih menantu lebih dari satu juga?? Seperti istrinya yang lebih dari satu, atau jangan-jangan Raga akan memiliki sifat turunan dari Ayahnya? Sering berganti wanita??.


Seketika, keyakinan Andin yang sudah susah payah di bangunnya, kini keyakinannya kembali menurun.


Berulang Kali menarik napas, sambil berjalan menuju kantin perusahaan, terlihat kantin begitu lenggang, tidak terlalu banyak karyawan yang hilir mudik, apa ini karena ada big boss sedang duduk di kursi tepat di tengah-tengah kantin???.


“Huuuhhh ...” Andin menarik napas, lalu mengeluarkannya perlahan, seolah sedang melakukan terapi paru-paru.


Berjalan mendekati seorang pria yang tengah terduduk membelakanginya, jantungnya semakin bertalu-talu, langkahnya kian gontai, seiring dengan lututnya yang semakin bergetar kuat.


“Se selamat siang Pak?” Andin membungkukkan tubuhnya, memberikan hormat pada pria yang tengah mendongakkan kepalanya, menatapnya intens dari atas hingga bawah.


“Bu Andin?? Silahkan duduk” ucapnya tegas, tak ayal, Andin semakin cemas.


Andin duduk di sebuah kursi, yang tepat menghadap ke arah Ayah Raga.


Seorang pria, dengan postur tubuh tinggi besar, perutnya membuncit khas om-om, rambutnya di tata rapi khas orangtua, namun agak sedikit pitak di bagian depannya, lalu kumisnya terpelintir ke kiri dan ke kanan layaknya Pak Raden.


Andin tersenyum kikuk, mencoba menetralkan pikirannya, dari adegan yang sering ada di film-film.


“Namamu Andin??” tanyanya menatap Andin lekat, dengan tatapan menilai.


“Betul Pak” Andin mengangguk.


“Saya dengar-dengar untuk saat ini, kamu memiliki kedekatan khusus dengan putra pertama saya Raga, betul begitu??” suaranya sangat tidak bersahabat, nyali Andin seketika menciut, menyesal tadi tidak menerima tawaran Ronald saja, agar Andin tahu apa saja kelemahan pria di hadapannya. Nasi sudah menjadi bubur, kini Ronald entah sudah pergi kemana, yang tersisa hanya dirinya, yang harus berani menaklukan pria tua di hadapannya kini.


“Betul Pak” Andin mengangguk lagi.


“Orang yang dekat dengan putra saya itu, pasti sangat istimewa dan sempurna, layaknya putraku, sekarang saya ingin tahu, se-istimewa apa dirimu??” ucapnya lagi, suaranya yang berat, membuat Andin kini saling menautkan kedua tangannya, saling meremas satu sama lain.


“Darimana asalmu??” tanyanya, mulai mengintrogasi, Andin mulai menarik napas lagi untuk menetralkan perasaannya sendiri, dia berharap bisa menguasai emosinya kini.


“Dari desa Suka Kaya Pak” jawab Andin lugas.


“Suka Kaya?? Di mana itu??” kini mata Ayah Raga sudah berada di atas, seperti sedang berusaha mengingat.

__ADS_1


“Jadi kamu gadis Desa?? Bukan dari luar negri?? Atau minimal bukan dari kampung, tak kusangka, selera putraku rendahan! Tidak seperti Ayahnya! Hmh!” pria itu langsung melengos dengan gaya arrogant. Membuat Andin kini mengepalkan tangannya erat, tapi berusaha sabar, mengingat orang di hadapannya adalah orangtua.


“Orang kampung itu, biasanya punya banyak aset, seperti tanah, perkebunan, atau sawah, atau peternakan mungkin, berapa banyak tanah yang keluargamu miliki??” tanyanya lagi, melanjutkan sesi Q&A nya.


“Abah memiliki sebidang tanah, sawah, dan perkebunan teh, warisan dari Eyang, Abah juga memiliki seekor Bebek, seekor Ayam jago, dan seekor Kucing Pak, tapi Bebeknya sudah mati beberapa tahun yang lalu” jawab Andin kemudian.


“Hahahaha ... hanya sebidang??? Warisan pula. Dan ... apa katamu?? Ayahmu hanya memiliki seekor Ayam?? Sesungguhnya ada apa dengan mata putraku itu?? Kurasa matanya sudah bermasalah, karena mau menikah dengan gadis seperti ini” ucapnya lagi sarkis, tak dipungkiri, hati Andin begitu tersinggung.


“Eh? Tadi kamu panggil Bapakmu apa?? Abah?? Sudah seperti Aki-Aki saja!” lagi-lagi dengan wajah melengos, enggan.


“O ya, apa pekerjaan Bapakmu??” lanjut lagi Q&A.


“Dulu, Abah menjabat sebagai Lurah, tapi sekarang sudah lengser, karena masa jabatannya sudah habis” kini, jawaban Andin sudah tidak segemetar tadi.


“Apa?? Hahaha ... hanya Lurah?? Bukan presiden? Atau pengusaha kaya?? Sungguh terlalu Raga!!” kini pria tua itu semakin menggeram tidak suka.


Andin yang mendengar nama Abah di hina dina, membuat jiwa adrenalinnya muncul, seketika bayangan jurus pencak silat yang sudah dikuasainya saling berkelebat, menatap lekat pria tua di hadapannya, untuk mencari titik lemahnya, kira-kira bagian mana dulu yang akan Andin hajar.


“Cukup!!” Andin berdiri, memasang kuda-kuda, hingga membuat Ayah Raga terperanjat kaget, menatap gadis di hadapannya, dengan kening mengkerut.


“Apa maksudmu??” Ayah Raga kembali menggeram, merasa tidak diperlakukan dengan baik.


“Cinta! Sudah!” tiba-tiba tangan Andin yang sudah mengepal diraih seseorang.


“Raga!! bukankah tadi kau bilang mau keluar kota?? Kenapa masih disini??” Ayah Raga berdiri, menatap putranya lekat, penuh kemarahan.


“Cukup Papah! Jangan membuat kekacauan di sini!” bentak Raga, membuat pria tua itu sedikit terjingkat kaget.


“Apa maksudmu?? Jadi perempuan ini yang sudah mengubahmu?? Kamu meninggalkan kantor pusat, lalu tinggal di kantor yang hampir bangkrut ini! Apa kamu sadar? Berapa banyak kerugian yang telah dialami perusahaan semenjak kamu pindah kesini?? Aku memintamu memimpin perusahaan bukan untuk bersenang-senang mengejar perempuan!” ucap Ayah raga lantang, seketika Andin menganga, jadi, demi mengejarnya Raga meninggalkan semuanya??.


“Aku akan memperbaikinya Pah” Raga melunak.


“Jika kamu tak mampu memimpin perusahaan dengan baik, maka aku akan memberikan kesempatan pada Ronald! Dia putraku juga!!” geramnya, memundurkan langkah, lalu melaju pergi meninggalkan Raga dan Andin yang tengah mematung, di perhatikan banyak orang, dengan bisikan yang sudah pasti tidak akan enak di dengar.


“Maaf ...” ucap Raga lirih.


Andin hanya mematung, masih mencerna apa yang sudah terjadi barusan.


Sepertinya, adegan betapa kejamnya calon mertua yang ada di film-film itu terinspirasi dari kisah nyata.

__ADS_1


Bersambung .....


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa ...


__ADS_2