BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Harapan Andin


__ADS_3

Kalian pernah patah hati?? Jika pernah seperti apa rasanya?? Aku yakin sih, rasanya pasti nyesek banget, sakit banget. Begitu pula hal yang dirasakan Andin. Gadis itu kini tengah sesenggukan di dalam selimut yang menggulungnya, merasa telah dikhianati oleh sahabatnya sendiri, harapannya terlalu besar, hingga membuat gadis itu menjadi sangat kecewa.


“Neng ...” Abah mengelus tubuh putrinya yang tengah bergetar hebat karena menahan tangis.


“Kamu kenapa?? Kamu dilamar orang kok sedih begitu sih?? Harusnya kamu senang dong, yang melamar orang kaya lhoooo ... kamu nangis apa karena kamu kecewa?? Abah langsung nolak lamaran Nassar??” bujuk Abah dengan suara lembutnya, tangannya mengelus bahu sang anak yang masih digulung selimut. Bibirnya tetap menyungging meski hatinya merasa pilu melihat anak semata wayangnya kini tengah menangis pilu.


“Andin gak suka sama Nassar Abah!! Dia itu cewek setengah cowok!! Cowok jadi-jadian! Andin gak sukaaa!!” teriak Andin masih di dalam selimut sesenggukan, sementara itu matanya sudah membengkak karena terlalu lama menangis.


“Hush ... gak baik atuh Neng! Ngomong kayak gitu, kamu boleh gak suka sama Nassar, tapi jangan bicara begitu, nanti Allah marah denger kamu ngatain orang kayak begitu, Nassar itu jenis kelaminnya tetep pria atuh Neng, makanya dia mau lamar kamu, anak Abah yang cantik jelita ini” masih dengan suara lembutnya, Abah membelai kepala putrinya dengan sayang, berusaha memberikan ketenangan, meski sejujurnya hati Abah juga sedikit kecewa.


“Andin mau mati aja!!” teriak Andin mengeraskan suaranya, sambil memukul-mukul bantal dalam pelukannya.


“Jika Allah sudah menghendaki, Abah ikhlas kalau kamu mati duluan” ucap Abah yang membuat tangis Andin berhenti seketika, gadis itu terjingkat lalu perlahan membuka selimutnya, perlahan tubuhnya bangkit untuk bagun dan duduk bersila di hadapan Abah.


“Kok Abah ngomongnya begitu? Abah udah gak sayang lagi sama Andin??” gadis itu menatap sang Ayah dengan mata yang masih berkaca-kaca, isakan kecil masih terdengar.


“Abah sayang sama kamu, sangat sayang malah, tapi ... apa Andin pernah berfikir?? Di dunia ini, memangnya ada orang yang meninggal sebelum waktunya?? Memangnya ada orang yang menikah bukan dengan jodohnya?? Memangnya ada orang yang berbicara, bergerak, dan melakukan sesuatu tanpa Allah yang menggerakan anggota tubuhnya??” tanya Abah menatap putrinya dengan tatapan teduh, begitu menenangkan.


“Gak ada Bah ...” Andin menggeleng, tubuhnya mulai melemah sudah tidak seemosi tadi lagi.


“Abah tahu sebetulnya Andin suka sama Dino kan??” tanya Abah tiba-tiba, membuat Andin menggelengkan kepalanya berulang kali.


“E nggak Bah” Andin masih mengelak.


“Gak perlu ada yang di tutupin dari Abah atuh Neng, meski kamu gak ngomong Abah sudah tahu hati kamu,” ucap Abah sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


Andin menunduk, merasa tertangkap basah.


“Gini-gini Abah juga pernah muda atuh, ya meskipun sekarang juga Abah masih terlihat muda sih” Abah terkekeh, membuat Andin ikut tersenyum.


“Maafin Andin ya Bah” Andin memeluk tubuh Abah, Abah menerimanya dengan lapang, Abah memeluk tubuh putrinya, lalu mengelus bahunya dengan sayang.


“Gak apa-apa namanya juga anak muda, wajar seperti itu, lain kali jangan bicara sembarangan lagi ya” Abah masih memperingati Andin, dan Andin hanya mengangguk, menikmati setiap sentuhan Abah yang membuatnya tenang, hingga perlahan Andin mulai mengantuk, dan tertidur dengan sendirinya, dalam pelukan Abah.


***


Tiba pada hari yang di tunggu-tunggu, hari ini adalah hari pertandingan pencak silat antar kelurahan yang diikuti oleh Andin dan yang lainnya.


Pagi ini, semua orang terlihat sibuk, Ambu sibuk menata makanan, Abah sibuk memanaskan motor di halaman depan, bersiap mengantar Andin ke gor yang ada di balai desa Suka Kaya. Setelah sebelumnya, Abah tidak lupa untuk memberi makan si Jago ayam jantan kesayangan Abah, dan si Cantik bebek betina kesayangan Ambu.


“Din! Udah siap belum??” tanya Siti sambil duduk di tepi ranjang Andin.


“Siap! Dan harus siap!” Andin membulatkan kepalan tangannya, memberi semangat pada diri sendiri.


“Din, kamu harus menang ya, lupain semua masalah yang ada saat ini” Siti tersenyum, terlihat dari pantulan cermin di hadapan Andin.


“Kamu tenang aja, aku pasti menang kok” ucap Andin yakin.


“Emmhhh ... Siti, menurutmu Dino bakalan ikut gak?” Andin menatap siti yang sudah memutar kedua bola matanya dengan malas.


“Udahlah ... lupain Dino,” Siti mengibaskan tangannya di udara.

__ADS_1


“Tapi Dino sahabat kita, seharusnya dia datang Ti” Andin menundukan kepalanya, masih berharap Dino bisa datang ke acara pentingnya.


“Katanya mau lupain dulu semua masalah, mau fokus ke pertandingan” Siti menyindir.


“Iya, iya” Andin kembali menatap dirinya di cermin, sambil tersenyum getir di depan cermin.


***


Gor tempat pertandingan Andin berlangsung sudah terlihat meriah, sudah banyak orang yang hadir, hanya sekedar ingin menonton dan memberikan semangat untuk perwakilan desanya masing-masing. Termasuk perwakilan dari Desa Suka Kaya, terlihat ada Ceu Kokom, Ceu Odah, Mang Imut dan istrinya juga hadir, Mang Imut rela cuti jualan sayur hanya untuk mendukung Andin. Tapi, mata Andin masih tetap saja mengedar, mencari sosok sahabat yang diharapkan akan datang menyaksikan pertandingannya.


“Cinta! Semangat ya!” semua mata menuju pada suara yang tiba-tiba saja terdengar di antara riuhnya suara lain.


“Pak Raga??” Siti sudah melongo duluan, Pak Raga tersenyum, hari ini dia menggunakan setelan baju olahraganya, terlihat elegan, berbeda dengan yang lain, yang hanya menggunakan baju ngasal. Tapi, kok Pak Raga bisa ada di sini juga sih??.


“Iya Pak, terima kasih” Andin mengangguk, tersenyum tipis, terlihat begitu manis di mata orang yang melihatnya.


Pertandingan sudah dimulai, kini pertandingan diawali oleh Desa lain, Andin semakin deg-degan melihat pertandingan itu, hatinya bergejolak tak menentu, matanya masih mengedar, berharap Dino bisa datang kali ini.


“Sekarang giliran perwakilan dari Desa Suka Kaya yang akan diwakilkan oleh Andin!! Melawan Desa Suka Miskin yang akan diwakili oleh Agneeesss!!!” terdengar teriakan MC, membuat seluruh pendukung kedua belah pihak bersorak gembira, nama mereka pun langsung di teriakan, sebagai bentuk pemberian semangat.


Abah dan Ambu langsung berdiri dan bertepuk tangan, Siti langsung mengibarkan bendera yang bertuliskan nama Andin. Semua orang histeris saat Andin sudah memasuki arena. Sebelum pertandingan dimulai, mata Andin masih menelisik ke segala sisi ruangan.


“Aku harap, kamu datang No ...”


Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2