
“Yeeeaaahhh ... hheemmm ... hheeemmm ... hhheeemmm ... lalalala ... yyiihhhaaaa!!”
Aku menatap aneh pada Siti yang tengah jingkrak-jingkrak di atas ranjang kecilnya, dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Siti tengah berteriak sembari terus menggerakan tubuhnya tanpa henti, memang adaaa saja kelakuan Siti, yang menurutku kadang terlihat sangat absurd itu.
“Siti?? Kamu baik-baik saja kan??” aku berjalan dengan langkah lambat, karena ada banyak sekali pikiran yang ada di dalam kepalaku.
“Eh?? Aku baik atuh, memangnya kamu pikir aku sudah gendeng apa??” Siti mendelik, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, duduk bersila, bersiap mewawancarai ku yang baru saja pulang dari rumah calon mertua.
“Ya kali aja, kamu jingkrak-jingkrak gak jelas” Aku menarik napas panjang, lalu memanyunkan bibirku, rasanya hatiku masih belum lega, dengan sikap Mamah Pak Raga yang tiba-tiba saja berubah tadi, setelah disinggung masalah Abah. Apa mungkin selama ini mereka saling kenal??.
“Din?? Gimana tadi ketemu sama camer?? Sukses-kan??” tanya Siti antusias.
“Sukses kok” jawabku seadanya.
“Kalau sukses kenapa wajahnya di tekuk begitu??” tanya Siti mengerutkan alisnya dalam.
“Gak apa-apa, cuman capek aja, rumahnya jauh” kilahku berdusta.
“Ohhh, gimana – gimana?? Tadi gimana?? Jahat gak calon mertua kamu??” Siti mulai antusias, dengan semangat empat lima nya dia mewawancaraku.
“Baik, baik banget malah”
“Pak Raga rumahnya bagus gak Din??”
“Bagus”
“Mamanya cantik gak??”
“Cantik”
__ADS_1
“Ahhhh ... aku jadi iri sama kamu Din, punya calon suami ganteng, setia, kaya raya, mertua baik-baik semua, Din ... Din ... hidupmuuuuu, kok menyenangkan banget sih??” Siti menggumam sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang, lalu tatapannya menjadi lurus ke langit-langit, aku tersenyum, mengikuti gaya Siti, menopang kepalaku dengan kedua tanganku.
“Kamu tahu persis perjuanganku Siti” Aku menatap langit-langit kamar Siti, seketika khayalanku kembali pada masa lalu, masa di mana aku berjuang untuk bisa melupakan cinta pertamaku.
“Iya juga yaaa, tapi percaya deh akan ada pelangi setelah hujan, cinta akan tetap kembali pada pemiliknya, cinta gak pernah salah Din, jika kita mau menempatkannya di tempat yang tepat” Siti masih menatap langit-langit kamarnya, kini kami tengah saling berbaring, sambil mengobrol dari hati ke hati.
“Ngomong-ngomong tadi kenapa kamu jingkrak-jingkrak gak jelas??” tanyaku mulai kepo.
“Aku mau ketemuan sama penulis favorit aku Din, kalau istilah gaulnya aku mau meet up, sama penulis kesayanganku, hihi ... aku senneeeennggg banget Din” Siti memeluk tubuhku erat secara tiba-tiba, hingga membuat aku hampir sesak napas karenanya.
“Hah?? Serius??” aku mengerutkan keningku.
“Katanya dia itu cowok Din, aku harap dia itu seperti Pak Raga, dewasa, setia plus kaya raya, hihi” Siti cekikikan sendiri dengan khayalannya.
“Siti! Kamu gila ya?? Kamu mau nyari jodoh lewat dunia maya?? Kamu tau gak sih?? Dunia maya itu palsu, gimana kalau kamu kena tipu?? Orang yang dari kecil udah sama kita, tahu rumah sama pribadinya aja bisa nipu kita, gimana yang ketemu di dunia maya??” Aku melirik Siti dengan kesal.
“Eh?? Si Udin! Jodoh mah gak ada yang tahu, kamu lupa?? Kamu pertama ketemu Pak Raga kayak gimana?? Menurutku pertemuan kalian dulu tuh gak kalah absurd tahu!” Siti mengerucutkan bibirnya tidak mau kalah.
“Kamu lupa dengan bagaimana canggihnya dunia maya sekarang?? Contoh ni yaaa, kamu di dunia nyata kulitmu warna kuning, kenapa foto yang kamu unggah di medsos warna kulitmu jadi putih mengkilap?? Udah kayak mandi minyak??” lanjutku gemas.
“Kamu mah suudzon terus Din, gak santuy, ya di coba aja dulu, siapa tahu aku malah ketemuan sama Om-Om kece kayak Pak Raga” Siti masih kukuh dengan pendapatnya.
“Kamu fikir jodoh itu coba-coba berhadiah apa?? Lagian gimana kalau kamu itu malah ketemu sama brondong??” aku menatap Siti yang mulai kesal dengan segala ucapanku.
“Ya gak akan aku terima lah, aku itu suka pria dewasa dan mapan, gak suka sama brondong, apalagi kalau brondongnya manja, iiiieeewwww ... jauh-jauh lah dari hidup aku” Siti bergidik ngeri sendiri.
“Jodoh?? Siapa yang tahu??” aku mengedikkan kedua bahuku, membalikkan ucapan Siti tadi, hingga Siti mendengus kesal, memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Aku terkekeh geli melihat tingkah Siti kali ini.
***
__ADS_1
Klontang
Klontang
Aku mengerjap, kala mendengar suara berisik dari arah dapur, kulirik jam yang menempel di dinding, ternyata sudah pukul lima pagi, dengan segera aku bergegas menuju kamar mandi, membersihkan diri untuk melaksanakan shalat shubuh.
Selesai shalat, aku langsung turun ke lantai bawah, ingin melihat apa yang tengah terjadi di bawah sana, karena pendengaranku menangkap suara-suara gaib, yang pelakunya pastilah Siti.
“Siti? Kamu ngapain jam segini udah heboh??” aku berjalan membuka pintu showcase, lalu meraih minuman dingin dari sana, udara sedikit panas di pagi ini, tiba-tiba saja aku merasa sangat haus.
“Kamu lupa?? Aku kan mau ketemuan sama penulis idolaku, yang semalam aku ceritain” Siti masih tetap fokus pada wajan di hadapannya.
“Iya, aku inget, tapi ngapain masak segala?? Banyak banget lagi” aku mengedarkan pandangan, menatap masakan Siti yang sebagian sudah jadi, dan sepertinya siap di bungkus.
“Ya buat bekal ‘lah” Siti masih belum menghadap ke arahku.
“Hah?? Kalian mau ketemuan di hutan?? Ngapain bawa bekal dari rumah?? Kamu gak mampu jajan di caffe Siti??” aku membulatkan mataku sempurna, entah apalagi yang ada di pikiran sahabat sejatiku ini.
“Ish ... biar hemat atuh Udin, biar gak jajan, udah ah sana! Jangan ganggu!” Siti mengibaskan tangannya di udara, mengusirku secara nyata.
“Ih ... kamu mah gitu, jahat banget!” aku malah mendekat, lalu bersiap mencomot makanan yang sedang Siti tata dengan rapi ke dalam tupperware.
“Hush! Jangan di sentuh!” Siti menepis tanganku kuat, aku mendelik.
“Kamu kok jahat banget sih?? Pelit!!”
“Nanti kamu aku kasih, kalau ada makanan yang gagal!” ucapnya tanpa dosa.
“Siti!! Kamu ya! Mentang-mentang mau ketemuan sama penulis idola, segitunya banget, aku sumpahin! Kamu ketemu sama brondooonnnggg!!!!” teriakku sambil ngacir menuju lantai dua, bersiap untuk mandi, karena hari ini aku harus berangkat kerja pagi-pagi, karena Rey kemarin sudah izin tidak akan masuk kerja, dengan alasan ada pertemuan keluarga.
__ADS_1
“UDDDIIIIIIIINNNNN!!! Aku benci brondooooonnnggg!!” terdengar lengkingan suara Siti menggema memenuhi ruko kecil ini.
Aku tersenyum sendiri dengan tingkah dan pemikiran Siti. Siti sahabat sejatiku, dan selamanya aku mau tetap seperti itu, apapun pilihan Siti aku akan tetap membantu dan mendukungnya, semoga Siti selamanya selalu bahagia dengan setiap pilihannya.