
“Andin!”
Aku menoleh ke asal sumber suara, aku memaksakan diri untuk tersenyum meskipun sesungguhnya amat malas. Jika sedang patah hati, tiba-tiba saja rasa malas itu menjalari hati, jangankan untuk bertegur sapa, bahkan untuk sekedar mandi atau makan saja, rasanya begitu beraaattt, seberat rasa rindu Dillan pada Milea.
“Siti” aku memalingkan wajah, malas rasanya Siti melihat mataku yang membengkak akibat terlalu lama menangis.
“Kamu teh mau kemana??” tanya Siti, tumben Siti gak kepo sama mata aku, biasanya dia selalu peka, dan selalu nanya,
kenapa?
Ada apa?
Apa yang sakit?
Apa yang salah?
Siapa yang harus dihajar karena sudah menyakiti aku?
Dan lain sebagainya.
“Aku mau jalan-jalan sama Abah, sama Ambu juga” jawabku jujur, saat ini aku sedang berdiri di depan pagar rumah, menunggu Abah memanaskan motor, dan Ambu mengunci pintu rumah.
“Wah? Asik dong, jalan-jalan kemana?” tanya Siti lagi, dia mulai heboh kepo dengan kegiatanku.
“Mau ke pasar malam” jawabku sedikit acuh, tapi Siti pasti paham, kalau mood ku saat ini sungguh sedang hancur, karena kenyataan pahit kemarin yang aku dengar dari Dino, hatiku teramat sakit, kala tahu Dino ternyata sudah menemukan tambatan hatinya, dan itu bukan aku, melainkan Maira, murid baru yang baru dikenalnya beberapa bulan yang lalu.
“Aku ikut yah ...” Siti merajuk, menatapku penuh harap.
“Gak! Ini acara kencanku sama Abah dan Ambu” jawabku ketus, ngintil melulu deh Siti mah.
“Yah ...” Siti mengerucutkan bibirnya kecewa.
“Lagian kalau kamu ikut, kamu mau sama siapa? Kalau aku mau bonceng tiga sama Abah, sama Ambu” aku jadi merasa tidak enak karena menolak Siti untuk ikut denganku.
__ADS_1
“Emmmhhh ...” nah, Siti jadi bingung sendiri ‘kan.
Aku mengedarkan pandangan, dari tempatku berdiri aku melihat Dino sedang mengeluarkan sepeda motornya dari dalam rumahnya, dia terlihat lebih tampan dari biasanya, tapi tunggu ... dia tidak sendiri, dia bersama ... Maira. Ish ...
“Din??” Siti menyadari arah pandanganku, aku masih menatap Dino lekat, mereka tengah tertawa, lalu Dino memakaikan helm pada kepala Humaira. Panas!. Ingin rasanya aku menjambak Dino sekarang juga, memaki Humaira, dan membakar mereka hidup-hidup, eh? Jahatnya otakkuuuu.
“Cinta perginya sama saya aja gimana??” tiba-tiba sosok tinggi itu menghalangi pandanganku pada Dino yang tengah romantis-romantisan di seberang sana.
“Eh? Pak Raga??” aku gelagapan kaget, Pak Raga datang tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
“Nah, aku setuju!” Siti langsung bersorak senang.
“Tapi, nanti Bapak mabok lagi gimana??” tanyaku teringat kejadian kala itu.
“Haha ... enggak, saya sudah bawa kresek buat persediaan” canda Pak Raga tergelak, akupun tersenyum. Lupa dengan apa yang baru saja aku lihat, pandanganku tertuju pada tempat Dino dan Maira mengumbar kemesraan.
Eh? Dino udah gak ada ternyata, kapan perginya? Kok cepet banget sih?. Aku terus menggerutu dalam hati.
“Malah pada ngobrol, hayu atuh keburu kemaleman” Abah keluar dengan sepeda motor maticnya, dengan Ambu di belakangnya.
“Iya Pak Lurah, kalau boleh, saya mau bonceng Andin ke pasar malamnya, boleh Pak Lurah??” tanya Pak Raga dengan kata-kata menekan, tersenyum khas orang yang meminta paksa.
“Hah?? Eh? Emmmhhh ...” nah, Abah jadi bingung sendiri, gelagapan bingung dengan permintaan Pak Raga.
“Boleh atuh Nak Raga, atau Nak Raga mau bonceng saya juga boleh atuh” kini Ambu yang menjawab, disertai kekehannya.
“Hah?? Hehe ...” Pak Raga menggaruk keningnya, sambil mesem.
“Terus aku gimana??” lah, lupa. Siti kini tengah memberenggut kesal, mengerucutkan bibirnya hingga lima centi.
“Siti, sini sama Abah aja” Abah tersenyum, menggeser duduknya, memberi Siti ruang untuk duduk di depan Abah.
“Ah, kalau kayak gitu malah jadi kayak cabe-cabean” Siti mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
“Eeeehhh ... kamu mah gede badannya juga, masa iya mau di samain sama cabe, cabe mah kecil atuh Neng” Ambu menimpali, dengan raut wajah geli.
“Eh? Bukan cabe yang itu atuh Ambu” Siti makin mengerucutkan bibirnya, mungkin kini sudah jadi sepuluh senti.
“Sini duduk di tengah, kalau duduk di depan nanti masuk angin” Ambu yang sudah sayang sama Siti, selalu memperlakukan Siti dan Dino sama seperti Ambu memperlakukan aku. Aku tersenyum, Siti menurut, akhirnya yang bonceng bertiga jadinya Siti, Abah, dan Ambu. Sementara Aku?? Aku dibonceng Pak Raga, dengan diawasi Abah dari belakang. Ck. Apa yang terjadi sore ini, sungguh di luar rencanaku.
Hiruk pikuk pasar malam sudah mulai terasa, sekarang malam minggu, jadinya pasar malam didominasi oleh anak sekolahan, di jadikan tempat tongkrongan gratis, hanya untuk sekedar ngobrol biasa atau kumpul-kumpul bareng.
“Pak Raga, mau naik itu lagi gak?” Siti menunjuk bianglala sambil mesem, berniat menggoda Pak Raga mungkin, pak Raga membuang muka mungkin dia malu.
“Siti, kamu gak mau nolongin lagi para pedagang??” tanyaku menyenggol bahu Siti.
“Gak ah, aku mau nemenin kamu aja Din” Siti tersenyum ke arahku, aku tahu, Siti sudah tahu semuanya, keikutsertaannya hanya ingin menghiburku yang tengah patah hati, padahal aku juga tahu sore-sore begini di kedai mie ayam Siti sedang ramai-ramainya, apalagi ini malam minggu. Seharusnya Siti membantu Bapaknya di kedai mie ayamnya. Siti memang sahabat terbaikku.
“Andin mau ini?” tiba-tiba Pak Raga menyodorkan sebuah permen kapas berwarna merah muda, berbentuk bantal guling ukuran mini ke hadapanku.
“Terimakasih Pak” lama ngelamun jadinya gak sadar, kalau dari tadi kami bertiga berdiri dekat tukang permen kapas.
“Ini buat Titi” Pak Raga kembali menyodorkan permen kapas berwarna putih buat Siti, Siti sumringah menerimanya.
“Ngomong-ngomong Abah sama Ambu mana?” aku celingukan mencari kedua orangtuaku, tadi Abah ngajakin aku nostalgia masa kecil, kenapa sekarang jadi hilang?.
“Tuh” jari telunjuk Siti menunjuk ke atas, aku mengernyit bingung, maksud Siti apa?.
“Maksud kamu apa Siti? Masa iya Abah sama Ambu ada di atas?” aku mendelik.
“Iya, Abah sama Ambu kamu lagi ada di atas, ituh” Siti kembali menunjuk ke atas, aku mengikuti gerak tangan Siti,
“Hah? Abah? Ambu? Ck!” aku menepuk keningku, kala kulihat Ambu dan Abah tengah berteriak di atas salah satu wahana yang ada di pasar malam ini.
“Ini sebenernya yang mau nostalgia siapa sih?” aku berdecak sebal, Abah sama Ambu ada-ada saja, aku tersenyum menatap Abah dan Ambu yang tengah berteriak ketakutan, sesekali mereka saling berpelukan, lalu berteriak lagi, kala netra mereka menatapku, mereka melambaikan tangannya, sambil tertawa riang. Aku bahagia menatap mereka, aku ingin suatu hari nanti aku memiliki pasangan seperti Abah.
Abah itu ... cinta pertamaku.
__ADS_1
Bersambung .........