BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Ajakan Dino


__ADS_3

“Mah, please ... izinin Raga untuk tetap tinggal di sini ya, minimal sampai anak-anak kelas tiga selesai ujian lah ...” terdengar Raga memohon pada sang Ibu agar bisa memperpanjang jatah liburannya via telepon.


“Mamah gak salah denger Raga?? Bukannya waktu mau berangkat kamu nolak ya untuk Mamah kirim ke sana???” dari seberang sana sang Ibu mengerutkan keningnya dalam, merasa curiga dengan apa yang terjadi pada putranya di Desa sana.


“Aku di sini kan jadi guru bahasa Inggris Mah, susah disini nyari guru Bahasa Inggris, makanya sebelum guru penggantinya datang, untuk sementara biar Raga di sini dulu aja ya Mah” Raga kembali merayu Ibunya, berharap keinginannya untuk terus berdekatan dengan sang pujaan hati bisa terwujud.


“Terus, perusahaan di sini apa kabar Raga??” Mamah mulai jengah, bingung sekaligus heran melihat tingkah putranya yang jauh dari kata wajar itu, karena tidak seperti biasanya Raga bersikap demikian. Raga yang penurut, Raga yang lebih suka bekerja di kantor, Raga yang lebih suka di sibukkan dengan urusan meeting dan memeriksa setumpuk berkas, berangkat pagi pulang malam, kini meminta untuk tinggal di sebuah Desa hanya menjadi seorang pengajar? Sungguh ini adalah sebuah keajaiban.


“Kabarnya pasti baik Mah, kan ada Om yang ngurusin pekerjaan di sana, Om bisa di percaya kok Mah, buktinya selama Raga di sini, perusahaan aman terkendali kan? Lagipula Raga di sini palingan hanya beberapa bulan lagi, nunggu murid kelas tiga ujian aja Mah” sanggah Raga cepat.


“Mamah jadi curiga nih, jangan-jangan kamu di sana udah punya pacar ya??” tebakan Mamah kali ini membuat pria yang tengah berdiri di atas balkon itu tersenyum malu-malu, mengusap bagian belakang kepalanya, seperti orang yang tengah jatuh cinta.


“Hah?? Pa pacar?? Enggak kok Mah, Mamah tenang aja, Raga bertahan di sini, cuman karena kasihan sama Yayasan Mamah, guru-gurunya gak ada yang sepintar Raga” kini pria itu menggembungkan dadanya, merasa sombong dengan prestasinya sendiri.


“Halah ... alasan aja kamu, ya sudah, Mamah izinkan kamu untuk tinggal disana, tapi ingat! Hanya sampai anak kelas tiga selesai ujian aja ya,” Mamah memperingatkan.


“Iya Mah, sip!” Raga mulai terkekeh senang.


“O ya, Raga ada berkas yang harus kamu tanda tangani, ini urgent, dan tidak bisa di wakilkan oleh pamanmu, nanti Mamah biar kirim Susan ke sana ya, buat nganterin berkasnya” ucap Mamah sebelum telpon benar-benar ditutup.


“Siap Mah” pria itu tersenyum senang, sesaat setelah telpon ditutup pun, pria itu masih senyum-senyum gak jelas. Saking senangnya, tanpa sadar dia jingkrak-jingkrak sendiri, memperagakan gaya boyband asal negeri ginseng yang lagi hit.


“Bapak lagi apa??” seketika gerakannya terhenti, pria itu memundurkan langkahnya, sambil menggigit bibir bagian bawahnya, menunduk malu-malu, khas anak remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.


“Ci Cinta??” pria itu mendadak gagap, saking malunya.


“Bapak gak apa-apa kan??” gadis di hadapannya menatap manik matanya dengan tatapan polos, membuat Raga semakin salah tingkah.


“Eh? Gak apa-apa Cinta” Raga menggeleng, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Cinta membuatnya gila, hingga dia harus ketahuan tengah melakukan sebuah gerakan rahasia, sebagai bukti nyata dari sisi lain dari dirinya.


***

__ADS_1


Bel istirahat telah berbunyi, seluruh siswa berhamburan menuju kantin, termasuk Siti dan Andin, dua gadis itu berjalan bersisian sambil bercanda,


“Din, kamu sempet nonton sinetron gak malam tadi? Aku gak sempet soalnya keburu ngantuk,” tanya Siti, menyenggol bahu Andin, menanyakan sinetron yang selalu tayang setiap hari dengan durasi berjam-jam, sinetron yang mengisahkan tentang anak remaja pria yang jatuh cinta, namun tidak bisa mengungkapkannya, hingga sinetron tersebut berjumlah episode lebih dari tiga ratus, namun masalahnya tetap sama, sang perempuan tidak bisa membalas cinta sang pria, karena tidak memahami perasaan pria tersebut, yang hanya mengkode tanpa mengungkapkannya, hingga membuat Siti gemas sendiri, dan selalu menantikan tayangnya sinetron tersebut.


“Aku juga enggak Siti, soalnya aku ngerjain PR tadi malam, tapi kayaknya Ambu nonton deh, soalnya semalam Ambu teriak-teriak gituh nontonnya, katanya pelakornya gak ketahuan melulu, cerdik banget, padahal Ambu udah teriak-teriak ngasih petunjuk, eh si pemeran utamanya gak peduli dong sama ucapan Ambu” Andin mencebik kesal.


“Heleh ... gelo, ya gak bakalan tahu atuh, kan Ambu nonton di rumah, di depan tipi, gimana sih??” Siti memutar kedua bola matanya.


“Haha ... pinter Siti” Andin mencubit perut Siti, tertawa lepas lalu berlari melewati koridor sekolah menuju kantin.


Bbrrrruuukkk!!


“Awwww!!” Andin tersungkur, sesaat setelah dia merasa telah menubruk sesosok makhluk.


“Andin! Kamu gak apa-apa??” Siti datang menghampiri, berjongkok membantu Andin berdiri, sementara itu, kepalanya mendongak ke atas, melihat sosok yang ditabrak Andin.


“Hah?? Geulis pisan ... saha eta??” Siti menganga menatap sesosok makhluk yang berdiri menjulang di hadapannya.


“Bukan, saya mau mencari seseorang di sini, bisa tunjukkan ruangan Pak Raga di mana ya??” perempuan dengan body sempurna itu menatap Siti. Sementara itu, para siswa yang kebetulan melewati mereka hanya bisa bisik-bisik sambil saling menyenggol bahu satu sama lain.


“Hah?? Pak Raga??” Siti masih cengo.


“Ruangan Pak Raga di sebelah sana” Andin menunjuk sebuah ruangan yang tidak jauh dari sana.


“Oh, terimakasih” perempuan itu menganggukan kepala tanda mengerti, kemudian berlalu pergi, menuju ruangan yang ditunjuk Andin.


Tuk ... tuk ... tuk ...


Bunyi high heels setinggi sepuluh senti yang digunakannya terdengar merdu, rok kerja selutut, menambah kesan seksi pada tubuhnya, lipstik warna merah menyala, membuat Siti susah melupakan penampilan perempuan itu, berulang kali Siti mengerjapkan matanya.


“Hah ... Din ... saha eta?? Pacar Pak Raga bukan ya?? Mani geulis pisan, kayak model-model di tipi, kulitna mani bersinar, kayak porselen” Siti masih menatap punggung wanita itu.


Tak lama, terlihat perempuan itu mengetuk pintu, tidak lama pintu dibuka, terlihat Pak Raga menyambut perempuan itu dengan senyuman khasnya, lalu perempuan itu masuk kedalam ruangan Pak Raga, dan setelahnya entah apa yang terjadi, Andin dan Siti hanya bisa mengira-ngira, sepanjang perjalanan ke kantin, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


***


“Din!” Andin mengerjap, kala menyadari Dino telah menarik salah satu kursi di sampingnya, lalu duduk di sana.


“Ngapain kamu ke sini?? Baru inget aku kamu No??” tanya Andin ketus, seketika bayangan Dino yang tidak hadir di acara pentingnya terngiang kembali. Andin kembali merasa kesal.


“Yah ... kamu kok jutek gitu sih??” Dino mencebikkan bibirnya.


“Ya salah kamu Dino! Kamu kok gak dateng ke acara Andin sih??” kini Siti yang menimpali.


“Ya maaf, waktu itu, Maira lagi ada keperluan” Dino terlihat santai.


“Sekarang mana Maira??” tanya Andin masih ketus.


“Gak masuk, sakit” ucap Dino, dengan wajah yang sudah murung.


“Halah ... gak ada temen aja, kamu baru ingat kita No” Siti mencebik kesal.


“Udah jangan marah, Din kamu nanti pulang sekolah ada acara gak?? Aku mau ngajak kamu ke tempat kita, ada yang mau aku omongin, ini tentang kita” ucap Dino dengan wajah serius, namun di wajahnya terselip raut bahagia.


“O ya?? Tentang apa??” seketika wajah Andin langsung berubah antusias.


“Ya nanti aku omongi nya, pokoknya kamu datang ya, aku punya kabar special buat kamu” Dino berdiri lalu merapikan kursi bekas duduknya.


“Oke deh, pulang sekolah aku langsung kesana” tiba-tiba Andin lupa dengan amarahnya pada Dino.


“Sip, aku tunggu Din, ini penting banget soalnya, tentang masa depan aku” Dino tersenyum, kemudian berlalu meninggalkan Andin yang tengah tersenyum lebar, dan Siti yang memutar kedua bola matanya malas.


“Siti ... menurut kamu Dino mau bilang apa ya?? Aku seneng banget, dia bilang tentang kita, jangan-jangan Dino mau nembak aku Siti, dia sudah sadar dari amnesianya” Andin mengguncang tubuh Siti dengan keras, hingga membuat Siti terlonjak-lonjak.


“Apa sih Din ... jangan senang dulu kamu, patah hati baru nyaho kamu” Siti memperingatkan, tapi Andin yang sudah terlalu bahagia tidak peduli, bahkan gadis itu tak lagi peduli dengan makanan yang sudah di pesannya sejak tadi.


Bersambung .........

__ADS_1


__ADS_2