
Raga POV.
Rasanya begitu mudah, menjatuhkan hatiku padamu, cinta itu tidak pernah berhenti untukmu, cinta itu tidak bisa lenyap begitu saja, meski aku sudah berusaha menghapusnya, aku sungguh tak menyangka, jika cintaku akan berlabuh tepat pada dirimu, gadis lugu, polos, alami, namun ... sulit diraih.
Bagimu, mungkin cinta hanyalah sebuah kebohongan, sebuah kekerasan, dan sebuah lara yang sampai kapanpun tidak akan sirna. Baiklah ... tetaplah begitu, biarkan aku saja yang jatuh cinta padamu, sementara kau masih sibuk menata hatimu.
Aku menatap perempuan cantik yang selama enam tahun terakhir ini tidak bisa aku hubungi, ingatanku kembali menerawang pada masa lalu, enam tahun bukan waktu yang sebentar, tapi tetap saja, ingatan itu masih lekat dalam kepala.
Dia pergi, tidak memilih opsi yang aku berikan, dia tidak mengindahkan ungkapan hatiku saat itu. Hatiku sakit, tapi ... jika cintanya lebih berat pada dia? Aku bisa apa??.
“Andin ... sudah lama bekerja disini?” sapaku basa-basi, saat menatapnya yang tengah berdiri di hadapanku, sambil menyodorkan beberapa berkas yang aku periksa.
“Sudah” jawabnya singkat, suaranya bergetar, sesekali dia memalingkan pandangannya.
“Apa kabar??” tanyaku tanpa menatapnya, tanganku masih asyik menari di atas kertas yang aku contreng.
“Baik, Bapak apa kabar??” tanyanya, aku menghentikan gerakan tanganku, ada rasa menggelitik hati, saat kembali mendengar suaranya.
“Baik” aku menganggukan kepala.
“Susan apa kabar??” tanyanya, suaranya begitu dingin, membuat hatiku membeku.
‘Loh?? Susan?? Kenapa dia bertanya tentang Susan??’
“Susan?? Mungkin, Susan baik” jawabku seadanya.
“Oh ...” hanya kata itu yang terucap.
“Kenapa bertanya tentang Susan??” tanyaku, tak ingin mengenyam rasa bingung sendirian lagi.
“Susan istri Bapak kan??” tanyanya datar.
__ADS_1
“Istri?? Kapan aku menikah??” tanyaku mengerutkan kening, kenapa Andin menganggap aku sudah menikah??.
“Bukankah Bapak sudah menikah??” tanyanya dengan raut wajah bingung.
“Kenapa kamu membuatku menjadi pria yang sudah menikah?? Tadi, Siti juga bertanya demikian” ucapku, sedikit kesal, aku ini masih perjaka, aku tidak menikah, hanya karena aku terus menunggu gadis dihadapanku, meski aku tidak yakin, apa dia mau menerimaku??.
“Hah??”
“Kakak!! Ini berkas laporan tahunannya ...”
Bbrruuukkk!!
Tiba-tiba saja adik tiriku tiba dengan setumpuk berkas di tangannya, dengan sengaja pria itu langsung menumpuknya di hadapanku, hingga aku hampir terjingkat kaget.
“Apa yang kau lakukan??” seketika nada bicaraku meninggi. Tidak suka dengan segala tingkah tidak sopannya.
Ronald itu adik seayah tapi beda Ibu denganku, Ronald anak dari istri ke empat Ayah, yang kebetulan harus aku urusi juga hidupnya, beberapa tahun belakangan, aku mempercayakan padanya sebuah perusahaan yang kini di tempatinya, tapi Ronald sungguh mengecewakan aku, perusahaan yang di pegangnya terus mengalami penurunan di setiap tahunnya.
“Kalau begitu, saya undur diri dulu pak, saya mau mengerjakan tugas saya, di ruangan saya saja” Andin memundurkan langkahnya, padahal aku masih ingin terus berdekatan dengannya, rasa rindu ini begitu memuncak, ingin rasanya aku memeluknya, tapi itu mustahil, ingin rasanya aku berbicara banyak hal bersamanya, tapi dia terkesan menutup dirinya padaku, aku ingin menemuinya, tapi ... Aha!!!.
Seketika sebuah ide terbersit di kepalaku, Siti, dia sahabat Andin sedari dulu, kenapa aku tidak minta saja alamat rumah Andin sekarang?. Tidak sia-sia aku tadi sempat meminta nomor ponsel Siti, lebih tepatnya Siti yang memberikan nomor ponselnya padaku. Ah ... rasanya semua begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin, aku melihat kedua gadis itu tengah bergandengan tangan di sepulang sekolah dengan menggunakan seragam SMA nya.
***
Andin POV.
“Huuuhhh ... hhuuuhhh ... hhuuuhhh ...” nafasku kian tersenggal, kala aku telah melakukan serangkaian olahraga, oh ... bukan olahraga, tapi lebih tepatnya menyiksa diri sendiri,
Sepulang kerja, di sebuah lapangan, yang terletak tidak jauh dari tempat kosanku, aku tengah melakukan push up seratus kali, sit up seratus kali, squat jump seratus kali, berlari sepuluh kilometer, dari enam tahun silam aku selalu melakukan hal itu, berniat hanya untuk menghilangkan segala rasa sakit yang tengah hatiku derita.
Mungkin, bagi mereka yang mudah jatuh cinta dan patah hati, sikapku ini terkesan aneh dan agak lebay, tapi tidak bagiku, aku manusia yang sangat sulit jatuh cinta, apalagi harus patah hati, semua yang berhubungan dengan perasaan, adalah hal tersulit untuk hidupku.
__ADS_1
“Huh! Huh! Huh!” Aku melakukan gerakan meninju kedepan, membayangkan jika yang ada di hadapanku adalah masa lalu, yang bisa aku pukul, lalu bisa aku kubur dalam-dalam, nyatanya semuanya tidak semudah itu.
“Cinta, kamu tidak berubah ...” sebuah tepukan di punggung aku rasakan, refleks, aku segera meraih tangan yang terjulur itu, dengan gerakan cepat, aku segera menarik tubuh orang itu dengan kuat, membantingnya ke tanah, lalu menindihnya di bagian perutnya, berusaha untuk mencekiknya dengan kuat. Siapa orang yang telah berani melakukan hal itu padaku?.
“Hah? Pak Raga? Kenapa di sini??” aku membulatkan mataku sempurna, ternyata Pak raga, yang kini tengah menjadi korban gerakan refleksku. Ini seperti dejavu bagiku.
“Huh, uhuk ... uhuk ... lepas! Lepaskan ini Cinta! Ini sakit!!” teriaknya dengan nafas tersenggal, karena kaget, aku lupa melepaskan cekalan tanganku pada leher pak Raga.
“Ah! Maaf!!” aku segera melepaskan tanganku. Tapi ...
Hupt!!
Dengan gerakan cepat, dan tanpa aku duga, Pak Raga kini telah menarik tanganku, lalu dengan mudah, dia membalikan tubuhku, dan menindih betisku kuat, kedua tangannya mencekal kedua tanganku, hingga aku merasa kaget, dan tak mampu melawannya.
“Haha ... kamu mungkin tidak banyak berubah Cinta, tapi aku sudah melakukan banyak perubahan pada diriku, bagaimana?? Apa aku sekarang sudah bisa menjadi tandinganmu??” tanyanya, tersenyum menyeringai, dengan nafas tersenggal, tepat di atas tubuhku. Aku mendelik, hal mudah bagiku menjatuhkan lawan dalam posisi seperti ini.
Dengan cepat, aku memelintir tangan Pak Raga, otomatis dia terjingkat kaget, dan bokongnya terangkat, dengan gerakan cepat, kakiku yang sudah longgar, segera menendang bagian tubuh Pak Raga yang lain, kini, aku bisa menguasai kembali permainan ini.
Pak Raga sudah terhuyung di tanah, dengan memegangi anggota tubuhnya yang sempat aku tendang tadi. Aku tersenyum menyeringai.
“Maaf ... tapi sampai kapanpun, Bapak bukanlah tandingan saya ...” ucapku sambil beranjak, mengelap keringatku yang bercucuran dengan handuk kecil yang berada di leherku, lalu mengusap punggung dan rambutku yang terkena tanah.
Tersenyum penuh kemenangan, aku meninggalkan Pak Raga yang masih kejer di tanah.
Maaf ... tapi aku masih belum menyukaimu ... Pak Raga.
Bersambung .....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya atuuuhhh ...
Hatur nuhun!.
__ADS_1