BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Lamaran


__ADS_3

“Abah dan Ambu yang paling Andin cintai, yang paling Andin kasihi, tidak Andin sangka, ternyata waktu terasa begitu singkat membersamai kita, dan dalam waktu yang sangat singkat ini, Andin dengan sadar, Andin belum bisa menjadi anak yang berbakti, Andin belum bisa menjadi anak Abah dan Ambu yang baik, mohon maafkan semua kesalahan Andin selama ini Abah ... Ambu ...”


Suasana hening, kala aku sedang meminta restu dengan terisak pada Abah dan Ambu yang kini sudah duduk di salah satu kursi yang disediakan, cahaya blitz dari kamera tidak berhenti menyoroti setiap kegiatan yang terjadi, sementara hadirin termasuk Pak Raga kini tengah menyimak dengan khidmat, dengan mata yang berkaca-kaca, mendengar setiap untaian kalimat yang aku keluarkan.


“Seiring tumbuh dewasanya Andin, Andin telah melewati banyak hal, yang mungkin Abah dan Ambu menjadi saksi bagi sebagian kisah hidup Andin, dan hal-hal yang hanya Andin tahu, dan Andin rasa, kala berjauhan dari Abah dan Ambu, insya Allah semuanya tidak akan lepas dari norma-norma yang berlaku”


“Abah ... Ambu, terimakasih banyak sudah sudi melahirkan Andin, merawat dengan penuh kasih sayang Andin yang terkadang sering membuat Abah dan Ambu kecewa atau kesal karenanya”


“Abah ... Ambu, kini Andin sudah dewasa, dalam perjalanan hidup Andin, Andin bertemu dengan seorang pria yang insya Allah baik, pria yang selalu takut akan Allah, mencintai Rasulnya, taat pada agamanya, dan juga insya Allah akan mampu membimbing hidup Andin hingga surganya nanti, Abah ... Ambu, izinkan Andin untuk mengikat hubungan Andin dengan pertunangan dengan pria pilihan hati Andin, yaitu Raga Dirgantara. Andin mohon, Abah dan Ambu bisa merestui hubungan kami”


Suaraku bergetar, kala mengucapkan kalimat demi kalimat yang begitu syahdu, hatiku terasa di remas, saat menyadari, tinggal beberapa waktu lagi, aku akan membina rumah tanggaku sendiri, dan mungkin akan segera berjauhan dengan kedua orang tua nantinya.


MC memberikan mikrofon pada Abah, dengan tangan gemetar pria yang sudah membuatku ada di dunia ini, mulai menyeka air matanya, lalu mulai mendekatkan mikrofon di bibirnya.


“Andin putriku satu-satunya” terdiam sejenak, menarik napas menetralkan nada suaranya yang hampir terisak.


“Andin putri Abah dan Ambu, memilikimu adalah hal terindah di sepanjang perjalanan hidup kami, mengurusmu, mendidikmu, di kala kami berusia muda, adalah hal yang paling membanggakan bagi kami, tangan ini pernah memangkumu di kala kamu masih bayi, tangan ini pernah menuntunmu ketika pertama kali kamu masuk sekolah, tangan ini selalu mengelusmu kala kamu terlelap dalam tidurmu Nak, dan kedua tangan ini selalu terangkat sempurna, kala Abah dan Ambu memanjatkan do’a kebaikan untukmu, baik ketika kamu dekat dengan kami, maupun kamu tengah berada jauh dari jangkauan kami, dan hari ini, tangan ini pun siap untuk menuntunmu, membawamu pada pria pilihanmu, Abah dan Ambu merestui hubungan kalian, Abah ridha Nak ...”


Abah dan Ambu menangis sesenggukan mereka saling berpelukan, seolah sedang saling menguatkan, aku pun tak kalah, aku juga menangis sesenggukan.


MC memberikan mikrofon pada Pak Raga, lalu Pak Raga mulai bicara dengan lantang, gagah, dan berani, aura pemimpinnya sungguh ketara, Pak Raga terlihat begitu berwibawa, membuat hadirin terpana.


“Abah dan Ambu yang paling saya hormati dan saya sayangi, nama saya Raga Dirgantara, saya adalah pria biasa Abah, Ambu. Saya hanya seorang pemuda yang insha Allah memiliki niatan baik untuk melamar putri Abah dan Ambu yang begitu berharga, saya tidak bisa berjanji muluk-muluk untuk setiap saat bisa membahagiakan putri Abah dan Ambu, namun selama nyawa masih menyatu dengan raga, maka selama itu pula saya akan tetap berusaha untuk terus mencintai, menyayangi sepenuh hati, menjaganya, dan juga membimbingnya hingga maut memisahkan kami, saya mohon restu pada orangtua gadis yang selama bertahun-tahun telah mencuri perhatian saya, lalu membuat saya jatuh cinta, lagi, lagi, dan lagi untuk kesekian kalinya, Abah ... Ambu ... tolong restui niat baik saya” Pak Raga kembali duduk di kursinya setelah mengucapkan untaian kata sebagai permohonan restu pada Abah dan Ambu.

__ADS_1


Lalu MC kembali memberikan mikrofon pada Ambu, kali ini Ambu yang bicara.


“Nak Raga, calon mantu Ambu, yang paling Ambu sayangi, dari awal Ambu sudah tahu niatan baik Nak Raga, kami tahu, Nak Raga adalah pemuda yang baik, Nak Raga sangat pantas untuk mendampingi putri kami Andin, Abah dan Ambu sepakat untuk menerima Nak Raga dengan tangan terbuka, tapi ... Ambu titipkan satu hal pada Nak Raga, tolong jaga putri kami satu-satunya seperti kami selalu menjaganya, tolong sayangi, kasihi, juga jangan pernah sakiti Andin, seperti apa yang selama ini sudah kami lakukan, Andin bagi Ambu bukan hanya sekedar anak, tapi juga langit dan bumi, bintang dan bulan yang selamanya akan selalu berharga untuk hidup kami, tolong Nak Raga, ingat baik-baik pesan kami, jangan sakiti Andin putri kesayangan kami, kami merestui hubungan kalian berdua, semoga kalian mendapatkan kebahagiaan dalam hubungan kalian yang insya Allah secepatnya akan segera dihalalkan”


Semua hadirin menyeka air mata, dengan acara se-syahdu dan se-khidmat ini, termasuk aku, entah sudah berapa banyak tissue yang aku buang, bekas air mataku yang terus mengalir menganak sungai.


Acara selanjutnya dilanjutkan pada acara tukar cincin, Pak Raga dan aku berdiri, lalu kami saling menyematkan cincin cantik pilihan Pak Raga di jari manis kami masing-masing, setelah cincin terpasang, lalu kami mengabadikan setiap moment yang berlangsung ini.


Acara demi acara di lewati, hingga pada akhirnya kami sudah tiba di penghujung acara, hadirin dipersilahkan untuk menikmati makanan yang sudah disediakan.


Kami mulai mencicipi makanan, termasuk aku yang sudah terasa lapar, karena tadi tidak sempat sarapan, saking groginya.


“Ciieeee ... yang bentar lagi mau mengahiri masa jomblonya” Siti menggodaku, kala aku dan mereka tengah duduk berhadapan, menikmati es cendol yang terasa menyegarkan.


“Kita cuman temen tahu, iya kan yang??” Siti menatap Rey tajam.


“I iya ...” Rey mengangguk bingung.


“Mana ada teman yang manggil Yang?? Yang? Palamu peYang??” aku mencebikkan bibirku.


“Ih, sumpah ya, aku merinding banget lho, waktu kamu tadi minta restu sama Abah, belum nanti pas acara siraman sama pengajian, belum pas acara akadnya, ya ampuuuunnn” Siti menepuk keningnya berulang kali.


“Jangan di bahas ih, aku geumpeur dari sekarang nih” aku mengusap tengkukku berulang kali.

__ADS_1


“Cinta, kesana sebentar yuk, keluarga saya ada yang mau kenalan sama kamu” tiba-tiba Pak Raga datang menghampiri.


“Aku ke sana ya Ti” aku berdiri lalu melangkah mengikuti Pak Raga.


“Ciiieeee prikitiiwwww” terdengar Siti kembali menggoda, tapi aku tidak peduli.


“Selamat ya!” Ronald menyalami tanganku, lalu segera menghempaskannya, memalingkan wajahnya dengan bibir mengerucut.


“Terimakasih” aku tersenyum lembut, melirik Pak Raga yang juga tengah tersenyum.


“Pak saya ke toilet sebentar ya” izinku saat ku rasakan ada alarm tanda bahaya, yang terus mendorongku untuk segera menunaikan hajat di kamar mandi, dari tadi saking grogi aku harus bolak-balik kamar mandi dengan pakaian ribet ini.


“Mau saya antar??” tanyanya mengerlingkan mata, tersenyum manis, hingga ketampanannya bertambah seribu persen.


“Ah, Bapak ini kan di rumah saya, masa di anter, lagian deket kok, ngesot juga nyampe” aku tergelak meninggalkan Pak Raga yang juga terkekeh bersama beberapa keluarga dan beberapa koleganya yang baru berdatangan.


Aku berjalan dengan terburu-buru menuju toilet yang terletak dekat dapur, namun ... saat aku melewati taman belakang yang bertepatan ada di pinggir dapur, aku menghentikan langkah, saat mendengar suara yang sangat familiar. Perlahan kudekati daun pintu yang sedikit terbuka, lalu aku berusaha mendengarkan pembicaraan mereka.


“Herman, akhirnya putraku akan menikah dengan putrimu, rasanya keadaan ini mengingatkanku pada hubungan kita di puluhan tahun silam” suara seorang perempuan, aku mengintipnya lagi dan aku menganga melihat Mamah Ayu yang tengah berdiri di samping Abah.


“Ayu, aku tidak menyangka jika masa lalu kita bisa terulang oleh anak-anak kita, aku harap hubungan mereka bisa langgeng, tidak seperti hubungan kita yang harus kandas tanpa bisa berlanjut lama”


Abah ... apa yang sedang mereka bicarakan?? Hubungan apa yang pernah mereka miliki???.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2