BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Obat Sakit Perut


__ADS_3

Pagi menyambut, suara lantunan adzan subuh terdengar jelas dari masjid yang berada tak jauh dari rumahku, perlahan aku membuka mataku pelan, terasa berat aku masih terlalu mengantuk, jadi malas bangun kan jadinya.


“Andin, sayang ... bangun, di tunggu Abah di bawah” terdengar Ambu memanggil dengan nada yang sangat lembut.


“Iyaaaa ...” jawabku sambil meregangkan tubuh, lalu memutarnya ke kiri dan ke kanan, rasanya tubuhku kurang fit hari ini, setelah kemarin aku kehujanan, aku agak sedikit flu, ditambah perut yang terasa diaduk-aduk, karena mabok nasi goreng kemarin. Hhuuuhhh ...


“Cepetan Andin!” terdengar lagi suara panggilan Ambu, tapi sekarang nadanya sudah naik satu oktaf.


“Iya Ambuuuu ...” aku segera beranjak, memasuki kamar mandi, lalu berwudhu, turun ke lantai bawah, menuju mushola kecil yang ada di dalam rumah yang terletak di dekat ruang tamu sebelum dapur, terlihat Abah sedang duduk bersila sambil berdzikir menggunakan tasbih yang berada dalam genggaman tangannya, Abah menggunakan baju koko dan sarung, sementara itu kepalanya tertutup peci berwarna putih, Abah terlihat berwibawa jika seperti itu. Suatu hari nanti, jika aku memiliki pendamping aku ingin pendampingku seperti Abah.


Di belakangnya ada Ambu yang sudah lengkap menggunakan mukena warna putihnya. Aku langsung menghampiri, menggunakan kain mukena yang sama seperti Ambu lalu duduk di samping Ambu, tak lama berselang Abah langsung berdiri untuk melaksanakan shalat, lalu diikuti oleh aku dan Ambu sebagai makmum.


Selesai shalat kami bersalaman, tak lupa rutinitas kami setelah selesai shalat dan berdo’a, adalah Abah dan Ambu selalu menciumi puncuk kepalaku, mendoakan banyak hal kebaikan untukku. Moment ini adalah salah satu momen yang tidak ingin aku tinggalkan sampai kapanpun, karena momen ini Aku semakin sayang Abah dan Ambu.


Abah beranjak menuju ruang tengah lalu duduk di kursi, sebelum Abah melakukan rutinitas paginya yakni berjalan-jalan untuk melihat keadaan sekitar Desa atau sekedar menyiram tanaman di samping rumah, sementara Ambu langsung ke dapur untuk memasak dan aku?? Tentu saja aku langsung beres-beres kamar dan mandi setelah sebelumnya Ambu menyiapkan air panas untukku, lalu aku bersiap untuk berangkat sekolah.


Jam tujuh, setelah aku selesai bersiap dan hendak berangkat sekolah, aku segera menghampiri Ambu yang sedang asik menata makanan di meja makan.


“Andin, lihat ini, Ambu bikin makanan ringan buat kamu nanti ikutan lomba pencak silat” ucap Ambu sambil memperlihatkan beberapa camilan.


“Hah?? Kenapa banyak banget Ambu??” tanyaku bingung, aku ini mau lomba pencak silat bukan mau ikutan lomba dagang, kenapa Ambu bikinin makanan segini banyaknya??.


“Eeehhh ... gak apa-apa, nanti biar di makan rame-rame” Ambu masih asik menata makanan, memasukkannya ke dalam toples. Sebagian lagi di bungkus rapi ke dalam plastik, katanya biar aku mudah bawanya.


“Ambu bikin sendiri??” tanyaku sambil duduk menuangkan sup ayam yang Ambu buat pagi ini.


“Nggak, Ambu di bantu sama Ibu-Ibu PKK temennya Ambu” ucap Ambu, sementara aku hanya bisa ber OH ria saja. Sudah biasa seperti itu, aku yang akan bepergian, tapi Ambu yang selalu paling riweuh.


“Sayyyyuuuuurrrr ...”


“Sayuuuuurrrr ...”


Terdengar samar suara Mang Imut, pedagang sayur keliling tengah memanggil Ibu-Ibu penghuni komplek rumah kami.


“Eh, Mang Imut sudah kesini, kamu terusin aja makannya, Ambu mau kedepan dulu” ucap Ambu sambil berlari menuju pintu depan. Kenapa harus lari-lari sih?? Kan gak akan di tinggal juga sama Mang Imut.


“Sabaraha cabe ayeuna Mang??” terdengar suara Ceu Kokom Komariah, tetangga sebelah yang sedang mengerubuti Mang Imut bertanya, memang sudah biasa sih, Mang Imut bakalan ngetem di depan rumahku. Makanya Ibu-Ibu juga jadi sering berkumpul di depan rumah.


“Lima puluh rebu Ceu” jawab Mang Imut sambil menyeka keringat yang menjalar di dahinya, mentari pagi yang cerah membuat tubuh Mang Imut yang gempal menjadi semakin kegerahan, di tambah segerombolan Ibu-Ibu ini, tidak mau jauh-jauh dari Mang Imut.

__ADS_1


“Kalo setengah kilo sabaraha Mang??” tanyanya lagi, sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang dipenuhi perhiasan emas di depan cabe merah yang ada di hadapannya, Ibu-Ibu yang lain menatapnya dengan malas, sudah tak asing lagi, Ceu Kokom memang seperti itu.


“Tiga puluh ribu Ceu” jawab Mang Imut dengan sabar, sementara aku yang tengah menggunakan sepatu hanya bisa memperhatikan mereka.


“Kalo seperempat??” tanyanya lagi, tetap dengan tangan yang mengibas-ngibas, pamer.


“Dua puluh ribu Ceu” Mang Imut mulai malas, dengan menjawab memberikan harga yang asal.


“Kalo gitu saya beli seons aja” ucapnya tanpa berdosa.


“Hah??” Mang Imut langsung mangap. Lelah gaeeessss.


“Bu Lurah, cuaca panas yaaaaa ...” ucap Ibu-Ibu yang lain sambi mengipasi wajahnya dengan tangan. Sementara Ambu hanya tergelak.


“Ambu, Andin berangkat dulu ya” Aku menjulurkan tangan pada ambu yang tengah asyik memilih seikat kangkung, berniat mencium punggung tangannya.


“Iya” Ambu menyodorkan tangannya, dan aku langsung menciumnya.


“Andiiinnn, sekarang jadi jarang bareng sama Dino yaaa, kenapa?? Putus??” tanya Ceu Kokom tiba-tiba, membuatku mengerutkan kening.


“Putus?? Saya gak pacaran atuh Ceu, saya sama Dino cuman sahabatan aja” ucapku kesal.


“Beneran atuh Ceu” aku semakin malas, jika tidak mengingat Ceu Kokom ini orangtua, mungkin sudah ku cakar wajahnya, menggunakan jurus andalanku, jurus kucing ngamat.


“Din!! Ayo berangkat!”


Alhamdulillah ... ada yang menyelamatkan aku dari tuduhan Ceu Kokom, Siti sudah berdiri di seberang rumahku, sambil melambaikan tangan.


“Ayo!” aku segera bergegas, males banget harus terus menanggapi ocehan mereka.


“Din, Dino udah berangkat sekolah duluan ya?? Motornya udah gak ada” Siti memecah keheningan di antara kami.


“Hmmhhh ...” aku malas menanggapi.


“Sekarang Dino gitu yah, jadi jarang sama kita lagi, berangkat sekolah bawa motor mulu, katanya jemput Humaira, apa mereka pacaran ya??” Siti menatapku, sementara aku masih diam. Pikiranku berkecamuk, aku belum rela jika harus kehilangan sahabat masa kecilku sekarang. Akhir-akhir ini, hubunganku dan Dino memang merenggang semenjak ada Humaira.


“Gak tahu” jawabku sekenanya.


“Din, sepi yah ... gak ada Dino” Siti mengoceh lagi.

__ADS_1


“Etapi, nanti kalau pas kamu tanding Dino pasti hadir deh, soalnya setiap hari dia selalu nganterin kamu latihan, sekarang kamu mau tanding masa gak hadir ya kan??” aku masih diam, tak ingin menanggapi.


“Din, akhir-akhir ini kamu jadi pendiam juga, kamu kenapa sih??” tanya Siti semakin cerewet.


“Gak apa-apa Siti” aku menggeleng.


‘No ... aku harap kamu bisa datang di acara pertandinganku lusa’ monologku dalam hati. Aku harap, aku tidak kehilangan sahabatku sepenuhnya.


“Cinta!!”


Aku mengerjap, menoleh kebelakang.


“Pak Raga?? Duuuhh ... makin hari makin kasep aja sih?” Siti membelalakan matanya.


“Apa sih??” aku menyenggol lengan Siti.


“Cinta, ini obat buat kamu” Pak Raga menyodorkan sebuah kantong plastik berwarna hitam.


“Apa ini Pak??” tanyaku bingung.


“Obat sakit perut, di minum ya” jawabnya sambil tersenyum.


“Hah?? Bapak tahu dari mana kalau perut saya gak enak??” tanyaku mengernyitkan kening merasa heran.


“Tahu dari Mang Maman pedagang nasi goreng di kantin, katanya kemarin kamu makan lima piring nasi goreng ya??” tanyanya tanpa menghilangkan senyumnya.


Pak Raga perhatian banget, biasanya Dino yang suka seperhatian ini sama aku.


“Pak, saya juga minta obat boleh??” tanya Siti dengan mulut masih menganga ketika melihat wajah Pak Raga.


“Kamu sakit juga??” tanya Pak Raga mengalihkan tatapannya pada Siti.


“Iya Pak,” Siti menganggukan kepalanya berulang kali dengan mata mengerjap-ngerjap.


“Sakit apa??” tanya Pak Raga.


“Sakit kepala karena mikirin Bapak"


Hah???

__ADS_1


Bersambung ................


__ADS_2