
“Hay No ...” sapa Andin dan Siti bersamaan, menarik salah satu kursi di kantin kala mereka tengah beristirahat. Rupanya Andin ingin mempraktekan usulan Siti.
“Hay ...” Dino mendongakkan kepalanya, menatap Andin dengan tersenyum seperti biasa.
“Makan apa No??” tanya Andin menatap piring yang ada di hadapan Dino, padahal tidak perlu dijawab Dino, Andin sudah melihat isi piring Dino, namun demi sebuah basa-basi yang bisa mencairkan suasana Andin rela menjadi orang paling bodoh di dunia demi Dino.
“Siomay, kamu bawa bekal apa??” tanya Dino, matanya menatap toples yang di bawa Andin.
“Aku di bekelin nasi sama ayam No, kamu mau??” Andin menyodorkan toples makanannya, biasanya remaja itu seringkali memakan bekal yang dibawa Andin, makan bersama dalam wadah yang sama, ah ... jika mengingat masa itu, tiba-tiba saja rindu itu semakin menyeruak di dada.
“Gak perlu, aku juga sebenernya udah dibawain makanan sama Maira, ini Maira sendiri yang bikin lho” Dino menunjukan sebuah kresek yang berisi bungkusan beberapa camilan. Dino menatap Maira dan yang di tatap hanya tersenyum lalu menunduk malu-malu.
“Masa sih kamu sendiri yang bikin??” Andin menatap Maira dengan tidak percaya, lebih tepatnya tidak suka, tapi Maira hanya mengangguk sambil tersenyum lembut, membuat hati Andin semakin dongkol.
“Kamu belajar masak dari mana??” tanya Andin kemudian, kini tatapannya fokus pada Maira. Rasanya begitu tidak rela Maira bisa melakukan banyak hal untuk Dino.
“Dari Ibuku, dulu Ibuku punya kios tempat jualan makanan ringan dan kue basah, tapi semenjak pindah ke kampung ini, jadi nggak lagi” jawab Maira menjelaskan.
“Enak gak?” tanya Andin lagi memastikan, bertanya dengan nada yang kurang bersahabat, rasa cemburu membuatnya menjadi memiliki sikap yang kurang ramah.
“Hush ...kamu tuh ya, ya pasti enak lah, yang bikinnya orang cantik, ya pasti enak lah” Dino mengibaskan tangannya, membela Maira, membuat Andin semakin jengah dibuatnya.
“Jadi, maksud kamu kalau Siti yang bikin, bakalan gak enak gitu??” Andien memonyongkan bibirnya.
“Ih ... maksudmu apa?? Maksudmu aku gak cantik gitu??” kini Siti melipat kedua tangannya, menatap Andin dengan tatapan tidak sukanya.
“Emang kamu ngerasa cantik??” tanya Andin dengan mode kesal.
“Ya masih cantikan Agnes Monikah sih kalau di banding aku” Siti melengos, menyadari kadar kecantikan wajahnya yang kalah telak jika dibandingkan dengan kecantikan artis go internasional yang tengah naik daun itu.
“Ya makanya, nilai cita rasa masakan itu, gak bisa dinilai dari wajah cantik atau gak” ucap Andin sarkis, berkali-kali menatap Maira, dengan tatapan tidak sukanya.
__ADS_1
“Iya, iya, kalau ngomong sama kamu, aku kalah deh” Dino menyerah, tahu betul jika adu mulut dengan sahabatnya ini jelas akan kalah.
“O ya No, lusa aku mau pertandingan pencak silat, kamu datang dong??” tanya Andin semangat, harusnya dia tak perlu bertanya lagi, karena tanpa ditanya pun, Dino pasti bakalan ikut hadir dalam acara pentingnya, memberinya semangat, meneriakan namanya, dan membuat yel-yel dadakan yang sebetulnya sangat tidak nyambung dan tidak enak di dengar.
“Gak tahu, gimana Maira aja” jawaban Dino di luar dugaan Andin.
“Kok gimana Maira sih??” Andin mendelik lagi, semakin tidak suka dengan keberadaan Maira.
“Aku sepertinya tidak bisa datang, aku mau bantu Ibuku, ada yang harus dibersihkan di rumah” ucapan Maira membuat Andin semakin memelototkan matanya.
“Kalau Maira gak pergi, aku juga gak bakalan pergi” ucap Dino kemudian, menyuapkan siomay terakhir ke dalam mulutnya.
“Kamu bercanda kan No??” Andin menggeleng tak percaya.
“Enggak Din, o ya Din?? Nanti malam kamu ada acara gak??” tanya Dino mengalihkan perhatian.
“Enggak emang kenapa??”
“Nanti malam aku sekeluarga mau datang ke rumah kamu, mau ada yang di omongin” ucap Dino menyeka mulutnya dengan tisu, setelah minum. Maira masih tersenyum dan terlihat tenang.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan Dino, Andin sudah menjulurkan lidahnya pada Maira, seolah meledeknya, jika Andin-lah pemenang hati Dino. Maira terkekeh sendiri, menutup mulutnya dengan tangan, seperti menahan tawa.
“Din! Gak nyangka si Dino mau langsung lamar kamu!!” Siti berbisik, menyenggol lengan Andin.
“Hah?? Masa iya sih??” Andin kembali menyenggol lengan Siti.
“Iya, habis mau ngapain si Dino bawa keluarganya ke rumah kamu, kalau bukan buat lamaran?? Kamu harus traktir aku Din, kamu bisa gini berkat saran aku” ucap Siti berbisik kembali, sambil tersenyum girang.
“Kalian kenapa bisik-bisik sih??” Dino menatap Andin dan Siti bergantian.
“Enggak” jawab mereka kompak.
__ADS_1
“Yyyyeeesss!!” Andin dan Siti bertos ria, setelah kepergian Maira dan Dino.
“Makasih ya Siti!” ucap Andin sambil memeluk sahabatnya sedari kecil itu dengan erat.
“Sama-sama, Andin tuh Siti, Siti tuh Andin, aku pasti bantu kamu Din” Siti membalas pelukan Andin.
“Eh, naon ieu?? Awewe jeung awewe pelukan di siang bolong, kalian lesbi nya??” tiba-tiba saja acara berpelukan layaknya teletubbies mereka terganggu karena suara Otong yang tengah meledek mereka.
“Naon maneh?? Sembarangan pisan!” Andin mendelik tidak suka, bersiap dengan kuda-kuda, untuk melancarkan jurus andalannya, membuat Otong lari tunggang langgang karena ketakutan.
***
Pulang sekolah, Andin segera pulang kerumah, langsung berlarian menuju lantai dua rumahnya untuk menuju kamarnya.
“Din?? Kamu sudah pulang Neng??” tanya Ambu yang dilewati begitu saja oleh putrinya.
“Iya Ambu, o ya Ambu nanti malam bakalan ada tamu special datang kerumah ini, Ambu siapin makanan yang special juga ya??” ucap Andin di tangga terakhir menuju kamarnya.
“Tamu spesial?? Siapa atuh Neng?? Bukan Siti atau Dino kan??” tanya Ambu mulai berteriak.
“Iya, salah satu dari mereka Ambu” teriak Andin, kini tubuhnya sudah berada di ambang pintu kamarnya.
“Alah ... mereka mah bukan orang spesial atuh Neng biasa aja, kan udah sering mondar-mandi rumah ini” Ambu mencebikkan bibirnya.
“Ambu! Percayalah, ini acara paling spesial bagi hidup Andin!” ujar Andin kini setengah tubuhnya sudah masuk kedalam kamar.
“Terus kamu sekarang mau ngapain??” tanya Ambu mulai berteriak, karena tubuh Andin sudah tak kelihatan.
“Mau Mandi Ambu!” teriak Andin menjawab sambil melempar semua barang yang menempel pada tubuhnya.
“Mandi?? Tumben pisan itu anak mandi pulang sekolah? Ada apa sih sebetulnya??” Ambu yang kebingungan akhirnya memutuskan untuk berlalu menuju dapur.
__ADS_1
Bersambung ...