
“Din, nanti sore kamu mau latihan pencak silat lagi??” tanya Dino saat kami akan berangkat ke sekolah.
“Iya, sekarang aku harus banyak ikutin latihan, soalnya sebentar lagi kan ada lomba pencak silat antar kelurahan dan aku mau daftar jadi pesertanya, kamu mau nganterin aku kan No? Kamu udah lama banget gak pernah liatin aku latihan” aku mengerucutkan bibirku, biasanya Dino dengan setianya akan mengantarkan aku latihan pencak silat, menungguiku, menyemangatiku, lalu mengantarku kembali pulang ke rumah, tapi akhir-akhir ini Dino sibuk, alasannya mau bantuin Ibunya, gak tahu mau bantuin apa.
“Iya, nanti aku antar kamu, tapi bantuin ngerjain PR matematika lagi ya?” dia menaik turunkan alisnya.
“Ish ... selalu aja kayak gitu” aku memutar kedua bola mataku malas.
“Hey!! Kalian kok ninggalin aku sih??” tiba-tiba saja Siti datang dan langsung masuk ke tengah antara tubuhku dan tubuh Dino yang sedang berjalan.
“Siti!! Kamu ih main serobot aja” ucapku kesal, karena hampir saja aku tersungkur, sementara Dino hanya diam.
“Maaf aku telat, soalnya harus bantuin Bapak dulu, cuciin piring kotor” Siti menjulurkan lidahnya, mungkin dia kelelahan.
“Emh ... emh ... Din, kamu mandi dulu gak sih?? Kok agak asem ya??” Siti mengendus-endus.
“Ya mandi atuh Siti, aku gak mandi kalau pulang sekolah aja, masa iya kecium sampe sekarang, tadi pagi mandi kok, kan di siapin air anget sama Ambu” ujarku tak terima, tapi penasaran, aku pun langsung menghirup aroma tubuhku sendiri, aman kok, aku wangi.
“Ish ... jorok banget deh” Siti bergidik jijik.
“Masa iya cewek mandinya sehari sekali, kayak aku dong sehari tiga kali” lanjutnya membanggakan diri.
“Tau ah, gimana kamu aja, mandi kok kayak minum obat aja sih?? Sehari tiga kali” aku mendengus kesal, kemudian berjalan mendahului mereka.
“Iiiiih, Din tungguiiiinnn!! Udiiiinnn!!!” Siti berteriak memanggilku, lalu berlari mengejarku, sementara Dino dia tetap berjalan santai mengikuti langkah kami.
***
“Hari ini pelajaran bahasa Inggris ya??” Siti menyenggol bahuku.
“Iya” jawabku dengan mata masih fokus pada lembaran LKS yang tengah aku baca.
“Udah ngerjain tugas yang disuruh pak Budi belum??” Siti menatapku lekat, biasanya aku gak akan pernah melewatkan tugas apapun yang ditugaskan dari sekolah, sementara Siti dan Dino biasanya seringkali mengabaikan tugas-tugas mereka, hingga kebiasaan Siti ketika ada PR adalah ...
“Aku lupa belum ngerjain, nyontek ya” lanjut Siti dengan sigapnya mencari buku tugas milikku tanpa menunggu izin dariku.
“Gurunya juga gak ada, udah santai aja” tiba-tiba Syafitri yang duduknya di bangku di depanku menoleh sambil tersenyum penuh keyakinan.
“Emang guru penggantinya belum ada ya??” tanya Siti mengerutkan keningnya curiga.
“Belum, jadi tenang aja kalau sama Pak Budi, nilai bahasa Inggris kita pasti bakalan bagus semua, hhiii ... Pak Budi kan cinta Bahasa Indonesia, makanya dia ngajar bahasa Indonesia” Syafitri cekikikan sendiri.
__ADS_1
“Apa hubungannya?? Cinta bahasa Indonesia, tapi yang bagus nilai bahasa Inggris?? Dasar Sapi!!” Siti mendelik kesal.
“Eh! Namaku Syafitri!! Bukan Sapi! Emang aku binatang apa??” Syafitri mendelik tidak suka.
“Iyaaaa ... Fitri, minal aidzin wal faidzin yaaa” Siti kembali berceloteh sambil terkikik, merasa senang karena sudah saling mengejek dengan Syafitri.
“Eh?? Emang ini mau lebaran??” Syafitri kembali mendelik.
“Lah?? Terus panggil apa atuh??” Siti mengerutkan keningnya.
“Panggil Syasya” Syafitri mengulurkan tangannya berniat menyalami Siti, khas orang yang baru berkenalan.
“Heeelllleeeehhh!! Orang kampung, kok namanya pengen so soan jadi nama orang kota” Siti mencibir tidak suka.
“Ya biarin! Nama kamu juga gak kalah kampungan kok” Syafitri menjulurkan lidahnya. Sementara Siti bersiap menoyor kepala Syafitri.
“Selamat pagi anak-anak ...” perdebatan mereka berakhir, saat Pak Budi datang, sementara itu aku masih asyik dengan buku LKS di hadapanku, hanya menjawab sapaannya, tanpa memalingkan wajah ke depan.
“Pagiiiiii ...” kami menjawab kompak.
“Hah?? Mampus aku!! Belum ngerjain tugas, gurunya malah datang” terdengar bisikan Syafitri dari depan dengan teman sebangkunya.
“Ya Allah ... nikmat Tuhan mana lagi yang akan aku dustakan??” terdengar Siti bergumam dengan pandangan lurus ke depan. Aku penasaran kemudian ikut mendongakkan kepala.
“Kamu pernah dengar kan?? Kalau jodoh tak akan kemana??” ucap Siti sambil menyenggol-nyenggol lenganku dengan bahunya dengan tatapan masih fokus ke depan.
“Apaan sih?? Kamu lupa?? Gimana kejadian kemarin?? Aku harus gimana?? Malu banget ...” aku segera menutupi wajahku dengan LKS yang dari tadi aku pegang. Merasa malu, kenapa Pak Raga jadi salah satu pengajar di sekolahku?? Apa ini yang dia bilang kemarin mau ada beberapa pekerjaan??.
“Perkenalkan anak-anak, ini Pak Raga, Pak Raga ini yang akan menggantikan posisi pak Gunawan sebagai guru Bahasa Inggris di sini, tolong bantu Pak Raga ya” ujar Pak Budi, kemudian Pak Budi segera melangkah keluar kelas setelah sedikit berbasa-basi.
“Assalamu’alaikum warahmatullah ... “ suaranya begitu halus, lembut, namun tetap berwibawa, membuat Siti kembali menyeka air liurnya.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh...” jawab kami kompak.
“Iiiihhh mani ganteng pisaaaann” terdengar bisikan absurd dari seisi kelas, sementara aku masih tetap menutupi wajahku, malu tiada tara saat mengingat kejadian kemarin, aku sempat memelintir tangan Pak Raga hingga beliau kesakitan. Duh ...
“Perkenalkan sebelumnya ... nama saya Raga, saya guru baru disini, mohon kerjasamanya, sekarang kalian bisa memperkenalkan diri kalian terlebih dahulu?” tanyanya dengan suara lembutnya, membuat kami para perempuan terpana akan pesonanya.
‘Terpesona ... aku terpesonaaaa’
“Boleh banget, sekalian sama nomor teleponnya gak pak?” Syasya angkat bicara.
__ADS_1
“Tidak perlu, kalau saya ada perlu dengan kalian, saya sudah memiliki nomor kontak orangtua kalian masing-masing” ucapnya datar namun tetap terdengar merdu.
“Ya ampuuunnn ... sudah mah ganteng, gentleman lagi, mau langsung melamar ke rumah, maunya langsung ngomong sama orangtua, emang bener-bener calon suami idaman” Siti semakin menganga mengerjapkan matanya berulang kali.
Gustiiiiiii!!! Ini kenapa satu kelas jadi pada ileran semua ya?? Kayaknya Pak Raga dalam pandangan mataku biasa aja deh.
“Perkenalkan nama saya Syasya Pak” Syafitri berdiri, sementara Pak Raga melihat daftar absensi sambil mengerutkan keningnya.
“Tidak ada yang namanya Syasya di sini” Pak Raga menatap Syafitri dengan tatapan bingung.
“Namanya Syafitri Pak, biasa di panggil Fitri, Syasya itu bohong Pak” Asrul berdiri menjelaskan dengan nada mengejek.
“Hhhhuuuhhhuuuu ...” seketika sorakan dari teman-teman lain menggema.
“Ya bagusan dipanggil Syasya atuh, daripada dipanggil Sapi!!” Syafitri memelototkan matanya pada Asrul.
Pak Raga hanya tertawa, kemudian acara perkenalan dilanjutkan, hingga tiba giliranku. Dengan malu-malu meong, aku berusaha memperkenalkan namaku yang sesungguhnya pada Pak Raga.
“Perkenalkan nama saya Andin Andini Pak” ucapku sambil menundukkan kepala, menahan malu.
“Oh baik, lanjutkan” Pak Raga hanya tersenyum kecil.
“Na na nama sa sayaaa ...” Siti masih menganga, mendadak jadi Siti gagap, dia tidak mampu mengatakan kata apapun. Ckckck ... Sitiiii, Sitiii.
“Nama saya, Titi Pak”
Hah??? Seketika aku menatap Siti, sejak kapan Siti, jadi Titi??.
“Hhhuuuhhhuuu ...”
“Hahahaha ...”
“Nama kampung kok so soan mau jadi nama kota” terdengar Syafitri bergumam dari arah depan.
Seketika kegaduhan terdengar dari seluruh siswa, Pak Raga hanya tersenyum simpul, lalu dia melanjutkan acara perkenalannya, setelah acara perkenalan selesai, pelajaran pun dimulai.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....