
Siti beranjak turun menuju lantai satu, gadis itu berjalan tergesa menuju dapur sambil bersenandung ringan.
“Pelangi, pelangi, alangkah indahmuuuuu, yyeeeaaahhh ... yyeeaaahhh ...” dengan gaya seriosa, Siti melantunkan lagu Pelangi, sambil mengangkat sebuah gelas dari dalam rak piring yang ada di hadapannya. Melempar gelas ke udara, lalu menangkapnya kembali, layaknya chef profesional, yang akan mengeksekusi masakannya.
“Aku buatkan minuman apa ya buat Pak Raga?? Ada juice jeruk, ada juice alpukat, ada juice sirsak, ngomong-ngomong Pak raga suka juice apa ya??” tanyanya pada diri sendiri.
“Ah, aku buatkan saja teh manis, malam-malam begini, enaknya minum teh manis hangat” ucapnya lagi, seolah ada orang yang mendengarkan pertanyaannya.
“Eh? Tapi, sepertinya gak cocok, aku buatkan saja koffee ah, biar Pak Raga melek terus, hihi” sambil terkikik sendiri, Siti mengeluarkan coffee sachetan, membuka bungkusnya, lalu menuangkannya ke dalam sebuah gelas, menyiramnya dengan air panas, lalu mengaduknya perlahan.
Sementara teh manis yang sudah terlanjur dibuatnya, langsung diteguknya perlahan, dengan gaya ala-ala tukang iklan minuman marjan yang selalu hadir jika bulan puasa akan tiba.
“Srrruuuppuuttttt ... aaaaahhhh ... bersihkan diri, sucikan hati, jangan lupa minum yang manis” ucapnya sambil meletakan gelas yang sudah tandas.
Kembali bersenandung, Siti berjalan menuju lantai dua, dengan nampan berisi koffee yang berhasil di buatnya, dan beberapa camilan. Tapi, tiba di ujung tangga Siti malah melongo, bingung entah apa yang harus dilakukannya.
“Lakadalah, malah pada curhat, gimana sih?? Aku mau maju takut ganggu, mau mundur udah tanggung, mereka kan baru ketemu lagi setelah peristiwa mengerikan itu, bagaimana mungkin aku tega mengganggu mereka??” Siti bergumam dalam hati.
“Enam tahun sudah berlalu ...”
__ADS_1
Siti membulatkan matanya, kala mendengar ucapan Raga.
“Gustiiiii!!! Mereka mau nostalgia dari enam tahun yang lalu?? Gilaaaaa ini mah, pasti bakalan lama banget nih, mending kalau ceritanya disingkat, coba kalau enggak, ya aku pasti harus nunggu enam tahun lagi di sini” Siti berdecak, lalu menggelengkan kepalanya berulang kali. Siti duduk di antara tangga, dengan nampan di pahanya, dia bergumam sambil sesekali menyeruput koffee yang ada di atas nampan tersebut.
“Sabar Titi, kamu harus sabar, kasihan Andin, enam tahun dia gak pernah tersenyum, hidupnya penuh dengan air mata, semoga aja hidup Andin sekarang berubah, semoga Andin perlahan bisa menerima Pak Raga, dan melupakan masa lalunya” Andin memanggutkan kepalanya.
Ssrruuuppuutttt ...
Dia kembali meneguk koffee nya.
“Kasihan banget kamu Din”
Kkrriiiuuukkk ...
“Huuuhhh ... kalau aku jadi kamu, pasti gak akan kuat Din”
Sssrrruupppuutttt ...
Kkrriiiuuukkk ...
__ADS_1
“Hah ... apa yang harus aku lakukan, biar kamu gak tenggelam dalam masa lalu lagi Din??”
Ssrruuuppuuttt ...
Kkrriiuukkk ... kkrriiuuukkk ...
“Aku turut sedih Din”
Tangan Siti kembali menodongkan gelas coffee ke dalam mulutnya.
“Loh??? Kok habis?? Ini koffee nya pergi kemana?? Apa bocor ya gelasnya??” mengangkat gelas tinggi-tinggi, memeriksanya, siapa tahu gelasnya bocor, makanya koffee nya hilang.
“Ish ... kok perutku jadi melendung gini sih?? Kenyang, gustiiiii ... apa yang telah aku lakukan?? Aku meminumnya?? Ckckck ... Titi ... mulutmu itu lhoooo”
Siti akhirnya kembali berjingkat, berjalan menuju dapur kembali, untuk membuatkan minuman baru untuk Pak Raga, tanpa dia sadari, di lantai atas, Pak raga sudah batuk berulang kali, karena menahan haus.
.
.
__ADS_1