BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Misi Sukses


__ADS_3

“AAAAAARRRGGGHHH!!!!”


“AAARRRGGHHH!!!”


Bbbuuukkkk!!!


Bbbuuukkkk!!!


Di sebuah ruangan Direktur, Raga tengah berteriak sambil menendang-nendang brankas besi yang ada di hadapannya.


“Tidak apa-apa Raga!! Gadis itu hanya sedang mengujimu!! Sabaaarrr!! Sabbaarrr!!”


Raga menghembuskan napasnya dengan kasar, lalu menghirup udara sebanyak mungkin, berharap gerakan inhale dan ekshale bisa mengurangi sesak di dadanya.


“Tidak apa-apa!! Dia gadis perkasa, mampu mengalahkan beberapa preman sekaligus! Jadi dia tidak akan apa-apa jika hanya terjatuh seperti itu!!” Raga mengacak rambutnya frustasi.


“Tenaannnggg!! Tenangggg!!” Raga kembali menendang lemari besi tersebut, dengan kekuatan penuh, hingga dia meringis sendiri, karena terasa ngilu di kakinya.


“Dia sedang mengujiku!! AAARRRGGGHHH!! Beraninya dia tersenyum pada pria tadi!! AAAAARRRGGHH!!” Raga kembali berteriak tidak jelas, sambil memegangi dadanya yang terasa amat sesak.


***


Jam pulang kerja sudah tiba waktunya, Andin membereskan mejanya, lalu bergegas membereskan barang-barangnya, setelah selesai, gadis itu berjalan menutup pintu ruangannya, lalu berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar.


Setibanya di depan lift, Andin sedikit kaku, pasalnya kini Raga pun tengah berdiri di sana, menunggu pintu lift terbuka, tanpa menoleh ke arahnya, Raga yang tengah menyimpan kedua tangannya di antara saku celananya, terlihat sangat berwibawa, dan sulit tersentuh.


“Bapak mau pulang juga??” sapa Andin memberanikan diri.


“Kelihatannya??” tanya Raga ketus, padahal percayalah, hati Raga kini tengah berdebar-debar karena di sapa oleh Andin, dan mereka akan satu lift bersama.


Ting!


Pintu lift terbuka, Raga segera memasuki lift tersebut, diikuti Andin.


Hening!


Tidak ada yang memulai percakapan, keduanya terlihat kikuk.


“Bapak masih marah sama saya??” Andin memberanikan diri bertanya.


Raga masih terdiam, tidak mau merespon ucapan Andin.


“Harusnya, Bapak dengarkan dulu penjelasan saya” Andin menghela napas dalam.


“Semua yang Bapak lihat itu, belum tentu kebenarannya” ucapnya lagi, berusaha meyakinkan, tapi Raga masih tidak bergeming.


“Saya sedih melihat Bapak diemin saya kayak gini” Andin menundukkan kepalanya, gadis tegar itu, kini tengah dilanda kegalauan yang teramat sangat.

__ADS_1


‘Saya lebih dari itu Cinta'


“Yang saya tahu, kamu pergi dengan cinta pertama kamu, tanpa mengabari saya, kamu tidak tahu kan?? Saya nunggu kamu sampai sore!” ucap Raga ketus.


“Saya akui, saya salah dan saya mau ...”


Ting!


Pintu lift terbuka, dengan gerakan cepat, Raga langsung keluar dari dalam kotak yang telah membawanya turun tersebut.


“Pak! Bapak! Saya belum selesai bicara Pak!” Andin mengejar Raga yang tengah berjalan dengan langkah cepatnya, sementara itu, karyawan yang berpapasan dengan mereka, kembali berbisik-bisik, tapi Andin tidak memperdulikan semua itu.


“Pak! Saya mau jelasin dulu semuanya, setelah saya jelasin, terserah Bapak mau bersikap seperti apa sama saya!” Andin masih mengejar Raga menuju parkiran, sementara Raga masih tidak memperdulikannya.


“Pak!”


“Pak awas Pak!!!”


Andin berteriak, sambil menarik baju Raga, kala dilihatnya ada motor dari arah samping, hampir saja menyerempet mereka. Hingga Andin terduduk di tanah, sementara Raga terdorong, dan membentur mobil yang baru saja akan dibukanya.


“Apa yang kamu lakukan??!!” Raga dengan nada tingginya, menatap Andin dengan tatapan tidak percaya.


“Bapak hampir saja terserempet tadi, jadi saya nolongin Bapak” ucap Andin sambil berdiri, mengusap bokongnya yang kotor, karena sempat terduduk di tanah.


“Kamu tidak apa-apa??” tanya Raga khawatir, menatap perempuan yang sangat dicintainya, dengan perasaan yang sulit dijabarkan dengan kata-kata.


“Ya sudah” Raga kembali memutar tubuhnya, berniat kembali membuka pintu mobilnya.


“Saya tahu saya salah! Tapi Bapak tidak seharusnya memperlakukan saya seperti ini!” teriak Andin frustasi, sudah bingung, entah dengan cara apalagi, dia harus menjelaskan semuanya pada Raga.


Raga menghentikan gerakannya, pria itu berdiri mematung, membelakangi Andin, yang tengah mengungkapkan isi hatinya.


“Saya tahu, saya memilih pergi bersama Dino, tanpa mengabari Bapak! Saya salah! Saya akui itu, dan saya minta maaf karena sudah membuat Bapak menunggu!!”


“Tapi, saya pergi bersama Dino itu bukan untuk apa-apa, tapi untuk menjelaskan, bahwa perasaan saya sudah berubah pada Dino! Saya sudah tidak mencintai dia lagi!!”


Andin semakin frustasi, menjelaskan semuanya, membuat Raga menjadi tidak tega dan ingin segera membalikkan tubuhnya, memeluk gadisnya, lalu menenangkannya, tapi Raga pikir itu mustahil, memeluk Andin sebelum ada kata halal di antara mereka, jelas itu sangat tidak mungkin bagi Raga, jadi Raga memutuskan untuk tetap diam saja, mendengarkan segala unek-unek Andin.


“Kenapa Bapak gak mau mengerti saya??!!”


“Saya mungkin bukan orang yang peka akan perasaan seseorang, saya juga bukan perempuan yang mudah paham jika mengenai hati, Bapak tahu betul! Seumur hidup saya, saya tidak pernah berpacaran sekalipun, saya hanya pernah sekali jatuh cinta, dan sekali patah hati, Bapak tahu itu, jadi saya sungguh tidak tahu bagaimana cara membuat Bapak tahu, membuat Bapak sadar, kalau saya sudah menerima Bapak!”


“Saya bukan orang yang mudah jatuh cinta, jadi saya tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan cinta dengan benar!”


Raga tersenyum, sebisa mungkin pria itu menahan tawa bahagianya, akhirnya gadis itu kini mengungkapkan isi hatinya dengan gamblang. Rasanya jutaan kupu-kupu kini tengah beterbangan di sekitar Raga saking senangnya.


“Kenapa Bapak berubah?? Bapak tidak menghargai setiap usaha saya??!! Kalau Bapak masih akan terus bersikap kekanakkan, lebih baik kita batalkan saja acara tunangan kita!” ucap Andin tegas, padahal hatinya kini sudah runtuh, luluh lantah, gadis itu sungguh tidak siap jika harus kembali patah hati, sebelumnya dia butuh beberapa tahun untuk bisa menyembuhkan luka di hatinya, saat dirinya memutuskan untuk berkata demikian, sungguh hatinya menjerit, dia tidak akan mampu patah hati untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Raga memutar tubuhnya, menatap gadis di hadapannya, yang kini wajahnya sudah memerah, matanya berkaca-kaca, tatapannya tajam, tangannya bergetar hebat.


Raga tersenyum, berjalan mendekat, lalu menatap gadisnya dengan intens.


“Sudah mengungkapkan isi hatinya?? Gimana?? Sudah lega??” tanya Raga dengan senyuman lebarnya.


Andin mengerjapkan matanya berulang kali, lalu menatap Raga tidak percaya.


“Saya bahagia, kamu sudah mengungkapkan perasaan kamu terhadap saya, saya percaya, kamu gadis baik yang akan selalu menjaga kehormatan juga prinsip kamu sebagai wanita, saya tahu kamu tidak akan mengkhianati saya” ucap Raga kemudian.


“A apa?? Jadi Bapak bohongin saya?? Sikap Bapak selama ini bohong?? Kok Bapak tega sih??” Andin menyeka air matanya yang baru saja turun tanpa disadarinya.


“Maaf sudah membuatmu bersedih, saya tidak bermaksud demikian” Raga menggeleng, masih dengan senyuman lebarnya.


“Bapak jahat!! Hiks ...” gadis tegar ini, kini tengah meluapkan segala rasa yang bersarang di hatinya beberapa hari terakhir ini dengan menangis, sambil diperhatikan oleh Raga yang tengah tersenyum, ingin rasanya Raga mengelus wajah perempuan di hadapannya, tapi Raga berusaha sekuat tenaga untuk menahannya, semua ada waktunya ... .


***


Sementara itu, di antara deretan mobil yang berbaris rapi di parkiran tersebut, seorang pria dan wanita tengah duduk berjongkok, sambil sesekali mengintip kegiatan Andin dan Raga.


“Misi sukses!!” teriak keduanya kompak lalu melakukan toss, sebagai tanda dari keberhasilan mereka.


“Terimakasih banyak Rey sudah membantuku mempersatukan mereka kembali, sekarang aku udah lega banget, gak akan lihat Andin sedih lagi” ucap perempuan dengan kepang dua tersebut.


“Sama-sama Titi, sekarang aku juga gak akan lihat lagi Pak Raga marah-marah tiap hari” pria itu tersenyum lebar menatap perempuan di sampingnya.


“Rey ... kamu gelitikin kaki aku ya??”


“Hah?? Enggak ... kenapa??”


“Kok gatel ya??”


“Masa sih??”


“Hah?? Semut!! Semuuuttt!! Adduuuhhh ... aku tahu, aku memang manis, tapi gak usah sampe dikerubutin semut juga kaliii!! Dduuuhhh ...”


“Hush! Hush! Kamu gak apa-apa?? Sini aku bantu bersihin”


“Aaaaahhh ... romantis banget sih, kamu Rey ...”


“Hihi ... Rey gituuuhhh ...”


“Siti??”


“Reeeyyy???”


“Kalian ngapain di sini??”

__ADS_1


“Eh?? Andin? Pak Raga?? Hehehehe ....”


__ADS_2