BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Pertarungan


__ADS_3

Kabut pagi yang memburamkan pandangan, seketika lenyap di gempur sinar mentari pagi, seakan tahu kesakitan mendera hati, ingin memusnahkan, semua lenyap dalam pandangan sungguh sangat menyesakkan dada.


Seorang gadis dengan postur tubuh hampir sempurna, tengah berjalan dengan penuh percaya diri dari tempat parkir menuju kantor tempatnya bekerja. Hari ini, adalah hari pertamanya bekerja, setelah kemarin sempat masuk kantor tapi hanya untuk registrasi pegawai baru, dia kembali lagi hari ini, hari yang berbeda, namun masih dengan rasa yang sama.


Berjalan, menenteng sebuah tas, dengan pakaian yang cukup tertutup, celana bahan, kemeja panjang, rambut panjang bergelombangnya di gerai, cukup sederhana, namun tetap menawan.


“Pegawai baru yah??” sapa salah seorang karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya.


“Iya” jawabnya sambil menganggukan kepala penuh hormat.


“Cih ...” karyawan tersebut menatap tubuh gadis itu dari atas hingga bawah, kemudian berdecih dengan gaya arogan.


Tapi gadis itu hanya tersenyum sinis, memutarkan kedua bola matanya, lalu memalingkan wajah, menuju lift yang akan membawanya ke lantai tiga, ruangan tempatnya bekerja.


“Kalau sama senior itu yang sopan dong” tiba-tiba saja pria itu menghampirinya, lalu kembali menekan tombol lift berlawanan, hingga gadis itu berdecak sebal, karena merasa aktivitasnya terganggu.


“Sesama karyawan, mungkin ada baiknya jika kita saling menghargai” ucapnya sarkis, kembali menekan tombol lift, dengan memijit angka tiga.


“Haha ... anak baru kok songong” pria itu tergelak.


“Siapa namamu??” tanyanya, mengedikkan bahu, seolah menghina.


“An-Din!!” ucapnya mengeja namanya sendiri.


“Haha ... kampungan!” dia tergelak, kemudian menatapnya sinis.


Seketika amarah langsung menyelimuti jiwa Andin, setengah mati dia menahan diri dengan mengepalkan tangannya, jurus-jurus ilmu bela diri yang sudah dikuasainya dari belasan tahun yang lalu, langsung berkelebat. Bagaimana jika dia memukul orang ini sekali saja?? Tapi, tidak! Andin harus bertahan, menahan amarahnya yang membuncah di hari pertamanya bekerja, dia harus terlihat manis.


“Wooooyyyy!!!” seketika teriakan kembali terdengar dari arah belakang mereka, sontak Andin dan pria songong yang ada di sampingnya menoleh.


“Waduuhhh!! Mampus Gue!!” pria di samping Andin menepuk kepalanya berkali-kali, meringis, lalu gemetaran, ketakutan.


Andin hanya mengerutkan keningnya, kurang paham, lalu kembali acuh, menunggu lift yang tak kunjung terbuka, karena dari tadi terus dimainkan oleh si pria songong di sampingnya.

__ADS_1


“Kapan lu mau bayar hutang-hutang lo??” tiga orang pria dengan seragam yang sama mendekati mereka, Andin masih acuh, tidak peduli sama sekali.


“A ampun boss, ta tapi saya belum gajian” ucapnya merentangkan kedua tangannya ketakutan.


“Haha ... alasan lu tiap hari kayak gitu ya” pria dengan tubuh gempal menyeringai.


“Bos ini kantor bos, kenapa boss bisa masuk ke sini??” pria itu celingukan menatap lobi yang ternyata banyak karyawan lain sedang berlalu lalang, tapi anehnya mereka hanya menatap kegiatan mereka lalu kembali acuh, tak berniat mendekati, ataupun kepo.


“Tentu kami bisa masuk, kami adalah tamu terhormat” pria berseragam hitam itu menatap ikat pinggangnya, seolah ingin menunjukkan bahwa di ikat pinggangnya terselip pisau lipat, yang kapan saja bisa menusuknya.


“A aamppuunn boss” pria itu semakin merentangkan kedua tangannya.


“Bayar sekarang, atau Lo bakalan kena masalah, karena Gue bakalan ngacauin tempat kerja Lu!!” bentaknya dengan suara tertahan.


“Ja jangan Boss, ampun” pria itu semakin ketakutan, lututnya sudah bergetar hebat. Andin, masih acuh di tempatnya.


“Kalau Lo gak mau bayar juga ...” pria itu menggantungkan kata-katanya, seketika matanya menatap Andin yang masih dengan tenangnya menunggu lift terbuka.


Ting!


“Perempuan ini, gue bunuh!” ancam lelaki itu, sambil menarik tangan Andin, hingga Andin kembali harus memundurkan langkahnya ke belakang, Andin memutar kedua bola matanya, malas, lagi-lagi kegiatannya terganggu, gara-gara laki-laki yang tadi so arogan ini.


Andin masih santai, kala laki-laki itu mulai mengeluarkan pisau lipatnya, dan di simpan di antara leher Andin.


“Ja jangan!!” karyawan arogan itu semakin ketakutan, membuat para preman yang menyandera Andin terbahak.


Sadar akan adanya keributan, beberapa karyawan mulai melirik, dan berkerumun, beberapa karyawan perempuan mulai histeris ketakutan, beberapa security mendekat, tapi tak ada yang berani menolong, karena sedikit saja mereka bicara, maka pisau itu akan menancap di leher Andin.


“BAYARRR HUTANG LU!!!” gertaknya lagi dengan keras.


Andin masih tenang dan santai, sesekali dia mengedikkan bibirnya tanda jengah, tiga orang preman dengan tubuh yang kekar, tentu saja bukan lawan yang mudah bagi perempuan tanpa memiliki dasar ilmu bela diri, tapi tidak bagi Andin, gadis itu masih setangguh dulu.


“Kalau gak, maka leher cewek ini, bakalan putus sekarang juga!!” ancamnya lagi, penuh penekanan.

__ADS_1


“Bos, ampun bos, saya kan sudah bayar semua pokoknya, tapi sekarang kenapa bunganya jadi melebihi pokoknya sih bos?? Hutang saya jadi gak lunas-lunas” pria itu mengiba, selain gemetaran, kini air matanya sudah merembes, lupa jika dia tadi sudah bersikap songong pada Andin.


Grreekkkk!!


“AAAAA!!!” tiba-tiba saja pria yang mengarahkan pisau di leher Andin terpelanting, kala tangannya kini tengah dipelintir oleh Andin, pisau yang di pegangnya terlempar cukup jauh darinya, seketika teriakan dari para karyawan yang menonton kejadian tersebut menggema.


Bbbrrruuukkk!!


Pria bertubuh kurus, kini sudah di kalahkan Andin, pria itu terhuyung ke belakang, sambil meringis, menutupi ***********, yang sudah di tendang Andin.


Beberapa orang, sibuk mengabadikan momen ini, beberapa lagi, hanya bisa menutup mulutnya tak percaya, perempuan bertubuh ramping, dan berparas cantik ini, ternyata jago berkelahi, bahkan dia bisa mengalahkan tiga preman bertubuh kekar sekaligus.


“Jangan membuat keributan lagi di tempat ini!! Pergi!!” Andin menunjukkan jari telunjuknya ke arah pintu keluar, membuat tiga preman itu lari terbirit-birit, sambil menahan sakit.


“Awas!! Tunggu pembalasan dari Gue Lu!!” ancam salah satu dari mereka, sebelum benar-benar pergi. Andin hanya memalingkan wajahnya acuh, kembali menekan tombol lift, melanjutkan niat awalnya, untuk menyambangi lantai tiga, di hari pertamanya bekerja malah mendapat kejadian seperti ini, ini sungguh memuakkan bagi seorang Andin.


“Hhuuuuuuuuu ...” segala teriakan, tepuk tangan, kata terimakasih, langsung menggema di lobby perusahaan itu, meneriakan karyawan baru yang belum mereka kenal namanya.


“Te te terriii ma maka kasihhh ...” ucap pria arogan yang masih ketakutan itu, kini tubuhnya sudah ambruk lemah di lantai, matanya berkaca-kaca.


Andin tersenyum malas, lalu memalingkan wajahnya sebal.


“Kalau mau pipis ke toilet sanah, jangan di sini! Pak Senior!”


“Apa???”


Ting!


Pintu lift terbuka, Andin segera memasuki lift, tak berapa lama pintu lift tertutup, Andin kini bisa menuju tempat kerjanya dengan aman.


Bersambung .......


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, like, komentar, bintang lima, vote, juga share cerita ini yaaa ... hatur nuhun!.

__ADS_1


__ADS_2