BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Cinta?


__ADS_3

“Siti! Centil banget sih, ayo buruan jalan! Ngapain kamu terus lihatin orang asing? Kata Abah gak boleh gegabah kalo ada orang asing, nanti kamu di culik, mau??” ocehku sambil menarik lengan Siti.


“Kalau sama pria setampan dia, aku mau di culik kok Din, aku rela” ujarnya, sambil terkekeh, dengan pandangan masih ke belakang.


Jedug!


“Aduuuhhh ... Awwwwwhhh!!”


“Duhhh ... Din, kamu kok jahat banget sih?? Sakit tahu” Siti meraba dahinya, yang tidak sengaja terbentur tihang listrik saat aku geret tadi.


“Kamu sih jalannya gak fokus, jadi nabrak kan?” aku tak mau mengalah. Masih kewsal dengan tingkah Siti yang kadang suka gagal fokus jika melihat pria bening sedikit.


“Copeeetttt!!! Tolooonnggg!!”


Fokusku dari Siti segera terbagi, setelah mendengar orang berteriak minta tolong. Aku segera menatap ke belakang, ternyata pria tadi tengah gelagapan, karena tas dan ponselnya di jambret orang.


Syukurin! So kecakepan sih, di pinggir jalan, masih aja main ponsel, jadi gak fokus kan??.


“Toooolloooonngg!!!” teriaknya lagi meminta pertolongan, ya elah, laki kok gitu amat ya?? Masa iya, di copet bukannya di lawan, malah teriak minta tolong. Ck! Gak gentleman banget!.


“Pangeran ... aku akan menolongmu” ucap Siti sambil berjalan so berani, dengan gerakan slow motion.


“Tapi bohong, aku takut! Itu copet badannya gede banget” Siti kembali memundurkan langkahnya, lalu memeluk tiang listrik yang tadi sempat di tabraknya, berniat menyembunyikan diri, dengan mata masih mengintip. Padahal gedean badan siti di banding tihang listrik!.


“Ck! Gitu aja pada takut! Awas biar Andin yang hadang! Pada cemen banget sih??” ucapku sambil berjalan menuju pria tadi dengan langkah percaya diri, aku melihat tasnya sedang di tarik sang pencopet, sementara itu jalanan sepi oleh orang yang berlalu lalang.


Syut ... syut ... syuuuttt ... aku segera menyingsingkan lengan baju seragamku.


“Pawang preman kok mau di lawan!”


“Woooooyyyyy!!!” teriakku keras, seketika orang yang tengah tarik-tarikan tas itu melirik ke arahku. Aku mengedikkan wajahku untuk menantangnya.


“Haha ... aya budak leutik” ucap salah satu dari mereka. Aku mengedikkan bibir, tidak suka di panggil anak kecil. Aku sudah tujuh belas tahun! Aku sudah dewasa, mana bisa aku masih di panggil anak kecil!.


“Maju sini! Kalau berani lawan aku!” ucapku semakin menantang dua copet berbadan kekar tersebut.


“Haha ... memangnya maneh teh anak Sultan ti mana?? So berani” ucapnya lagi, dengan senyum sinis, tangannya mengibaskan rambut gimbal yang atasnya tertutup oleh sehelai kain yang dilipat bergambar tengkorak berwarna hitam putih.


Aku?? Takut?? Gak mungkinlah ... secara aku ini bisa pencak silat, ya walaupun masih ilmu dasar sih, tapi setidaknya gerakan ini akan berguna jika dalam waktu kepepet seperti ini. Sementara itu, kulihat pria tadi masih gemeteran, sambil terduduk lesu.


“Gak penting aku anak Sultan dari mana? Asal kalian tahu ya! Aku ini anaknya Lurah!!” teriakku mengancam mereka, siapa tahu kalau mereka tahu aku anak pejabat Desa, mereka bakalan langsung ngacir, tanpa aku harus mengeluarkan segala jurus andalanku. Iya kan??.


“Hahaha ... anak lurah ... haha” mereka tertawa semakin terbahak.


“Sini maju!” aku sudah berancang-ancang akan mengeluarkan jurus kucing ngamat, kebetulan kuku-ku belum sempat di potong kemarin.

__ADS_1


“Hahaha ... HUAAHHH!!!” mereka mencoba menggebrakku, menghentakkan kaki dengan tangan mengamang berniat menyakarku, mungkin maksudnya mau menakutiku.


Cuih! Jangan panggil aku Andin Andini, jika aku takut oleh gebrakan mereka.


Hiiiiaaaaattttt!!!


Buk ... bak ... buk ...!


Aku segera mengeluarkan jurus andalan yang sudah kupersiapkan dari tadi, mencakar mereka dengan membabi buta, membuat mereka kelimpungan sendiri.


“Hahaha ... dasar ucing gering!!”


Eh?? Kok mereka malah ketawa ya?? Apa jurus kucing ngamat tak mempan ya??.


Dengan sigap segera aku menyiapkan jurus kedua!!


Hiaaaattttttt!


Buk! Bak! Buk!


Aku memutarkan tas yang sedari tadi aku gendong ke udara, berharap salah satu gerakanku mengenai titik lemah mereka. Dengan kekuatan penuh, aku masih memutarkan tas berisi buku tebal itu sembarang arah.


Aduh!


Terdengar sebuah teriakan, hingga aku membuka mata, dan melihat salah satu dari mereka memegangi kepalanya. Haha … aku yakin, jika salah satu buku paket berukuran tebal yang berada di alam tasku pasti mengenai kepalanya.


BUK!


AAAWWWHHHSSSS!!!


Berhasil!


Dengan gerakan kancil mencuri timun, aku berhasil menendang alat vital mereka satu persatu, alhasil mereka langsung memegangi masa depannya dengan wajah meringis, aku terbahak senang.


“Masih berani???” aku kembali mengamangkan kepalan tanganku ke arah mereka.


Mereka terlihat masih meringis, namun mau berlaripun kelihatannya masih sulit bergerak. mereka masih memegangi masa depannya dengan erat.


Melihat jurusku berhasil, aku segera meraih ponsel dari dalam tas, lalu memijit nomor ponsel, dan menempelkan di telinga.


“Halo?? Kantor polisi?? Ini ada copet pak”


“...........”


“Di lampu merah pak, dua orang”

__ADS_1


Melihatku yang tengah menelpon polisi, dengan segera kedua copet itu saling menatap, lalu berancang-ancang untuk lari, dalam hitungan detik, kedua copet dengan dandanan preman itu sudah raib entah kemana. Mereka lari tunggang langgang dengan masa depan yang sudah cedera. Haha.


“Tapi boong, haha ...” aku tergelak saat melihat mereka lari tunggang langgang, aku nelpon polisi?? Tahu nomornya aja enggak, gimana mau nelpon coba??. Tapi setidaknya trikku ini berhasil, membuat mereka kabuuurr.


“Om gak apa-apa??” tanyaku sembari menghampiri pria yang dari tadi berjongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia terlihat sangat gemetaran.


“Sa saya gak apa-apa” jawabnya mencoba berdiri.


Gustiiiii!! Ternyata benar kata Siti, pria ini memang tampan, nah begini nih, seringnya aku tidak peka dengan keadaan sekitar.


“Te terimakasih” ucapnya masih terbata.


“Sama-sama Om, eh Kak, eh Aa, eh Akang ... eh?? Apa sih??” aku memukul mulutku sendiri, karena sudah gagap, efek terlalu fokus sama wajah pria di hadapanku.


“Ka kalau gak ada kamu, saya gak tahu bakalan gimana” ucapnya lagi, kini pria itu mengusap wajahnya yang sudah memerah, mungkin karena trik matahari yang menyengat.


“Santai aja, kalau gitu aku permisi” pamitku sambil berlalu, meninggalkan dia yang masih mematung.


“Eh, tunggu!” aku memutar tubuh kembali menatapnya.


“Nama kamu siapa??” tanyanya.


“Cinta!!” jawabku terbahak sambil berlari, menghampiri Siti, yang tengah menutup matanya sambil meluk tihang listrik.


“Siti ngapain meluk tihang listrik segala sih?? Kalau kesetrum gimana coba??” aku ngedumel sambil terus berjalan.


“Kasihan yah ... masih muda otaknya udah geser, masa tihang listrik di peluk-peluk sih??”


Aku menahan tawa, kala mendengar ucapan Ibu-Ibu yang tengah melewati Siti.


“Siti!! Woooyyyy!!” aku menepuk pundak Siti pelan.


“Hah?? Ya Allah ... Andiiinnnn!! Kamu kok nekat banget sih?? Kalau kamu kenapa-kenapa gimana coba??” Siti segera menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala.


“Kamu gak apa-apa kan?? Jurus andalan kamu manjur kan??” tanyanya terlihat khawatir.


“Aku gak apa-apa kok” aku menggeleng, kasihan juga melihat Siti yang terlihat sangat syok.


“Ya udah, pulang yuk” aku kembali menuntun lengan Siti.


“Hati-hati! Jalannya fokus! Jangan sampe nubruk tiang listrik lagi” aku tergelak, sementara Siti hanya mendelik.


“Cinta!!!! Rumah kamu di mana??” tiba-tiba saja terdengar teriakan dari belakang sana, tapi aku tidak perduli lagi, kami terus berjalan menuju arah pulang, meski Siti terus menarik-narik tanganku, meminta penjelasan.


Bersambung ....

__ADS_1


Readers ... pernah gak sih?? Ketemu sama orang asing, di tanya nama, tapi jawabnya ngasal??.


Saya pernah dong, di tanya nama, sama orang asing, cowok, saya jawab aja nama saya Santi, padahal bohong. Dan tahu?? Ternyata cowok itu pacarnya teteh akuuu, yang mau apel untuk pertama kalinya ke rumah, pas sampe rumah ketemu lagi. Hhuuuaaa sumpah aku malu banget, karena ketahuan bohong. Makanya readers jangan suka pada bohong yaaa, hhihihi ...


__ADS_2