BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Tidak Ingin Merusak


__ADS_3

“Selamat pagi Cintaaa ...” Raga tersenyum mesem, saat melihat wajah Andin yang memerah karena menahan malu, sesekali dia menutupi wajahnya dengan tas yang di tentengnya.


“Gak usah malu, saya sudah tahu isi hati kamu” Raga tersenyum jenaka, tak hentinya pria itu menggoda Andin yang tengah memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


“Pak!” Andin mengerucutkan bibirnya, merasa kesal karena terus digoda.


“Haha ... jadi ... bolehkah saya menganggap jika hari ini adalah hari jadian kita??” Raga menatap Andin yang duduk di sampingnya yang tengah mengemudi.


“Paaaakkk!!” Andin kembali menutupi wajahnya dengan tasnya, gadis itu terlihat malu-malu.


“Jadi, bolehkah saya beranggapan jika kamu sudah membalas cinta saya??” Raga kembali bertanya kepada Andin dengan senyuman menggodanya.


“Paaaaakkkk ...” Andin kembali merajuk, Raga semakin tergelak, untuk pertama kalinya dia melihat gadis keras kepala itu tengah bermanja ria kepadanya. Eh? Bolehkah Raga beranggapan seperti itu?? Mengingat hati Andin yang sangat keras, bisa saja gadis itu hanya sedang bingung akan perasaannya sendiri.


“Ayo turun, mau sampai kapan kamu menutupi wajahmu itu??” Raga menarik tas yang menutupi wajah Andin, sesaat setelah dia berhasil memarkirkan mobilnya.


“Eh?? Sudah sampai ya??” Andin menurunkan tasnya, lalu membuka pintu mobilnya.


“Tunggu” Raga menahan tangan Andin, seketika Andin terkesiap, tubuhnya selalu merespon berlebihan, kala bersentuhan dengan orang yang harus di waspadainya.


“Jangan melakukan gerakan refleks, ingat apa yang pernah saya katakan ‘harus mau menerima perlindungan dari saya’” ucap Raga sambil membuka pintu mobilnya, lalu berjalan memutar, membukakan pintu mobil untuk Andin,


“Silahkan Cinta ...” ucap Raga sambil tersenyum, wajah Andin yang sudah memerah, semakin memerah saja, dengan gerakan malu-malu, Andin menuruti instruksi Raga.

__ADS_1


“Terimakasih ...” Andin turun dari dalam mobil, lalu berjalan di belakang Raga.


“Jangan berjalan di belakangku, tapi berjalanlah di sampingku” Raga menarik tangan Andin, mencengkram erat jemarinya, lalu berjalan bergandengan tangan.


“Pak ... jangan begini, malu di lihatin banyak orang” Andin berusaha melepaskan tautan tangannya.


Raga segera menyadari tingkahnya yang berlebihan sedari tadi, ada puluhan pasang mata yang memperhatikannya sedari dia keluar dari dalam mobilnya, Raga hanya tersenyum gemas, lalu melepaskan tangannya dari jemari Andin.


“Maaf, saya terlalu bahagia” ucapnya sambil berjalan menuju lift.


Raga menekan tombol tiga, lalu Andin mengikutinya, saling tersenyum malu-malu, mereka memasuki lift.


“Tunggu!!”


Tiba-tiba saja pintu lift yang hampir tertutup itu, ditahan oleh tangan seseorang, pintu lift kembali terbuka,


“Bu Andin, hari ini ada meeting di luar kantor, Bu Andin temani saya ya?” Ronald bersuara, tapi Andin hanya menatap Raga malu-malu,


Merasa tak ada jawaban, Ronald menatap ke belakang,


“Ekkhheeemmm ... Bu Andin??” Ronald berdehem, lalu melengos, setelah melihat Raga tengah mengedipkan sebelah matanya pada Andin, sementara itu Andin tengah menunduk dengan wajah yang sudah bersemu.


“Ya ... ya ... ya ... terus saja tebar madu di mana-mana” Ronald berdecak, lalu berkacak pinggang.

__ADS_1


“Bu Andin akan menemani saya untuk rapat ke luar kota” tiba-tiba suara Raga yang terdengar.


“Apaaa??” kini bukan hanya suara Ronald yang terdengar, tapi juga suara Andin.


Ting


Pintu lift terbuka.


“Mari Bu Andin” suara berat Raga mengintruksi Andin, agar gadis itu mengikuti langkahnya.


“Cih!” Ronald berdecih tidak suka, lalu segera menghentakan langkahnya, mendahului Andin dan Raga.


“Pak, saya tidak bisa ikut keluar kota” Andin masih mengira jika ucapan Raga serius.


“Saya hanya bercanda Cinta, jika saya harus keluar kota, saya tidak akan mengajak kamu untuk pergi” ucap Raga di antara langkah kakinya.


“Kenapa??” kini Andin mengerutkan keningnya dalam.


“Saya takut tergoda oleh syetan, iman saya tidak sekuat itu Cinta ...” Raga menggeleng.


“Maksud Bapak??” Andin semakin mengerutkan keningnya.


“Saya mencintai kamu, dan saya tidak ingin merusak kamu, kamu paham kan maksud saya??” Raga tersenyum lembut.

__ADS_1


Hheemmm ... hheeemmm ... hheeemmm ...


Bersambung ....


__ADS_2