
“Ceu Kokom, kata anak saya si Andin, mau ada tamu spesial datang kerumah saya, karena siang ini saya sibuk mau nganterin si Juminten lahiran ke klinik, saya boleh minta tolong sama Ceu Kokom?” tanya Ambu ketika beliau berpapasan dengan Ceu Kokom yang kebetulan melewati rumahnya. Ceu Kokom rupanya baru saja pulang jalan-jalan berkeliling kampung, memamerkan aksesorisnya seperti biasa, sembari bergosip ria dengan tetangga.
Sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang dipenuhi aksesoris berwarna kuning Ceu Kokom menanggapi ucapan Ambu.
“Boleh atuh Bu lurah, mau minta tolong apa sama saya??” tanya Ceu Kokom, tangannya kini aktif menyentuh wajah, telinga, hingga lehernya sendiri, dan tangan kanannya menggaruk-garuk kepalanya dengan gerakan aneh.
Ambu yang sudah biasa dengan tingkah Ceu Kokom hanya bisa mendelikkan matanya, merasa tidak suka namun Ambu juga tidak bisa berbuat apa-apa, sudah menjadi hak paten Ceu Kokom untuk pamer ke seluruh warga kampung Suka Kaya.
“Ini, saya mau pesan makanan tapi yang spesial ya Ceu, ini uangnya saya kasih lima ratus ribu, kata Andin tamunya bakalan banyak ya bikin ajalah buat dua puluh porsi” ucap Ambu mewanti-wanti.
“Oh, siap atuh Bu lurah, kan Bu Lurah tahu kalau masalah makanan di kampung ini, Ceu Kokom juaranya kan, hahaha ... mana uangnya??” Ceu Kokom tertawa menunjukkan deretan giginya yang juga berwarna kuning keemasan, membuat Ambu merasa silau, lalu tangannya yang sudah terdengar gemerincing, menengadah pada Ambu.
“Ini uangnya pas lima ratus ribu, jangan lupa Ceu harus yang spesial ya, soalnya ini acara anak saya, katanya sih special” Ambu masih mewanti-wanti, takut acaranya tidak berjalan dengan lancar, hanya karena kekurangan makanan. Alamat Ambu akan melihat wajah putrinya merenggut seharian jika acaranya gagal, dan Ambu sangat tidak ingin jika melihat putrinya berwajah lesu.
“Siap Bu Lurah, serahin aja semuanya sama Kokom Komariah” Ceu Kokom menepuk-nepuk dadanya bangga, hingga suara gemerincing yang berasal dari aksesorisnya kembali terdengar.
“Ngomong-ngomong ini buat acara apa ya Bu Lurah??” tanya Ceu Kokom memastikan. Mendadak kepo dengan acara Bu Lurah, siapa tahu bisa dijadikan bahan ghibah terbaru.
“Saya kurang tahu, tapi katanya teman-temannya Andin mau datang ke rumah, udah gitu aja, jangan lupa anterin nanti malam sehabis maghrib ya Ceu” Ambu berlalu setelah mengucapkan salam, dan di balas anggukan oleh Ceu Kokom. Tak ingin meladeni Ceu kokom yang masih kepo setengah mati.
“Sebentar, habis maghrib?? Loh?? Bukannya itu hanya beberapa jam lagi ya?? Apa bakalan keburu ya?? Saya masak dalam waktu beberapa jam? Mana masaknya banyak banget lagi, adududuh ... gimana nih?? Kok tadi aku gak ngitung dulu waktunya sih?? Gimana nih??” Ceu Kokom mulai kelimpungan sendiri, jemarinya terangkat ke udara menghitung jam yang akan dia lewati jika memasak sebanyak itu. Matanya memutar ke atas khas orang berpikir keras.
__ADS_1
“Mana pasar jam segini udah tutup lagi, duuuhhh!! Sial!! Sial!!” Ceu Kokom menghentakkan kakinya berulang kali, hingga kembali terdengar bunyi gemerincing dari aksesoris yang berada di kakinya.
“Aha!! Kokom punya ide” Ceu Kokom tersenyum menyeringai, tiba-tiba ada lampu pijar yang menyala terang benderang di atas kepalanya, merasa mendapatkan ide cantik Ceu Kokom berjalan menuju warung nasi langganannya, yang berada di ujung gang.
“Ceu Odah?? Makanannya masih ada??” tanya Ceu Kokom sambil celingukan, mengedarkan pandangan pada etalase yang biasanya berjejer makanan mencari menu yang pas untuk pesanan Ambu.
“Duuuhh kalo udah siang gini makanan sudah habis semua atuh Ceu” Ceu Odah menyembulkan kepalanya dari balik tirai, yang digunakan untuk menutupi etalase makanannya, membuat Ceu Kokom sedikit terjingkat kaget dengan kedatangan Ceu odah yang tiba-tiba nongol.
“Kalau saya pesan bisa gak? Buat nanti maghrib, ada acara di rumah Bu Lurah” tanya Ceu Kokom, sambil memegang lehernya, menunjukkan aksesorisnya pada Ceu Odah, membuat Ceu Odah mendelik tidak suka.
“Buat berapa porsi Ceu??” tanya Ceu Odah kemudian.
“Hah?? Tiga ratus rebu?? Muat buat apa atuh Ceu?? Gak akan cukup kalau buat porsi dua puluh lima orang, apalagi sekarang apa-apa mahal” ujar Ceu Odah memonyongkan bibirnya.
“Eeehhh ya sama apa aja lah, yang penting makanan dan harus ada nanti ba’da maghrib” Ceu Kokom masih ngotot, menyumpalkan uang tiga ratus ribu ke tangan Ceu Odah.
“Ya sudahlah, nanti saya pikirkan” Ceu Odah akhirnya menerima uangnya, sementara Ceu Kokom segera berlalu sambil bernyanyi riang.
“Uang segini cukup buat apa sih??” Ceu Odah kembali berpikir keras, memijat keningnya perlahan.
“Sayyyyuuuurrr!!! Salalayuuuurrr!!” tiba-tiba terdengar suara Mang Imut yang baru pulang jualan sayur keliling semakin mendekat. Dengan sigap Ceu Odah segera keluar rumahnya, menghentikan Mang Imut dengan melambaikan tangannya.
__ADS_1
“Mang Imut!!” seru Ceu Odah, dengan tangan yang terus melambai agar terlihat oleh Mang Imut.
“Iya Ceu, ini sayurannya cuman tinggal kangkung sama jengkol aja, selainnya sudah habis” ucap Mang Imut sambil menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang sedari tadi melingkar di pundaknya.
“Eeeehhh saya bukan mau beli sayuran Mang Imut, saya mau minta tolong” ucap Ceu Odah sembari mendekat.
“Minta tolong apa atuh Ceu??” tanya Mang Imut sambil mengerutkan keningnya dalam.
“Mang Imut, istrinya masakannya enak kan??” tanya Ceu Odah antusias.
“Kalau masakan istri saya tidak enak, mana mungkin badan saya bisa sebesar ini??” Mang Imut terkekeh, membalikan topinya ke depan.
“Nah, bagus kalau begitu, saya minta tolong, tolong buatin makanan buat acara di rumah Bu Lurah, untuk tiga puluh porsi Mang Imut, tapi yang lima porsinya antar ke rumah saya ya, yang lima porsinya lagi antar ke rumah Ceu Kokom, dan yang dua puluh porsinya antar ke rumah Bu Lurah, nih uangnya seratus lima puluh ribu” Ceu Odah menjejalkan uang seratus lima puluh ribu ke tangan Mang Imut.
“Hah?? Seratus lima puluh rebu, buat tiga puluh porsi, makannya sama apa Ceu??” tanya Mang Imut bingung, sambil menggaruk pelipisnya.
“Aduuhhh, sama apa aja gimana kamu, udah dulu ah saya sibuk mau dagang lagi” Ceu Odah ngacir masuk kedalam rumah, meninggalkan mang Imut yang kebingungan.
“Aha!! Ini kan ada sayuran sisa, kangkung, jengkol sama terasi, sudah itu saja ah, lagian porsi banyak, uangnya kok ngirit bener” Mang Imut menggelengkan kepalanya, kemudian berlalu.
Bersambung ...
__ADS_1