
“Haha ... oh yyeesss ... oh noooo ... haha, yes! Jadi penulis memang harus bisa menempatkan dirinya sendiri pada karakter yang dibuatnya, baiklah ... sekarang kita buat adegan, di mana si pemeran utama perempuan menjadi lebih galak dari pemeran utama pria”
Terdengar celotehan dari Rey yang tengah duduk di meja kerjanya, sambil menatap lekat layar komputernya, waktu baru menunjukan pukul tujuh kurang lima belas menit, pria itu masih memiliki waktu beberapa menit lagi, untuk menuju jam kerjanya tiba, hingga pria itu memutuskan untuk merampungkan chapter baru yang akan di updatenya hari ini, untuk novel online terbaru yang sudah dia publish beberapa minggu yang lalu.
Selain bekerja di kantor sebagai seorang karyawan, Rey juga menulis novel online genre romance, memang aneh, jika kebanyakan pria lebih suka menulis genre fantasi, horor atau sebagainya yang menantang, maka Rey lebih memilih menulis novel genre romance, dia pikir genre romance sangat related dengan kehidupan jomblonya, dia bisa mengarang bebas agar sesuai dengan apa yang dia inginkan dan dia rasakan.
“Rey??!” terdengar sapaan tegas dari sampingnya.
“Hah? I iya, Bu Andin?” Rey gelagapan, lalu meng-close draft yang tengah di ketiknya sembarangan, saking kagetnya. Hingga draft tersebut bernasib naas, karena tidak sempat tersimpan di komputer Rey.
“Apa yang kamu lakukan??” tanya Andin menatapnya tajam.
“A aku? Aku sedang melakukan reset untuk penjualan produk terbaru kita” ucap Rey gugup, seperti pencuri daleman gadis yang ketahuan warga.
“O ya?? Penjualan? Produk baru?? Kapan kita mengagendakan akan meluncurkan produk baru??” tanya Andin, mendekati Rey, mencoba menatap komputer di hadapan Rey. Sementara Rey, segera menutupi komputernya dengan tubuhnya.
“I ini inisiatif saya sendiri Bu, haha ... saya karyawan teladan bukan?? Tanpa disuruh pun, saya sudah melakukannya sendiri, haha ...” Rey tertawa kikuk, sementara itu, tubuhnya sudah sangat bergetar. Berusaha sebisa mungkin untuk menutupi komputernya agar tidak tertangkap oleh pengawasan mata Andin yang begitu tajam, setajam silet!.
“Oooohhh ... aku sangat bangga bisa bekerja sama denganmu Rey, tapi ... sejak kapan perusahaan kita akan meluncurkan produk fashion??” tanya Andin, tersenyum tipis, lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan kerjanya. Masuk ke dalam ruangannya, dan kembali menutup pintunya. Terdengar jika Andin mengunci pintu ruangannya dari dalam, pertanda gadis itu tidak ingin diganggu oleh siapapun jika tengah bekerja dan berkonsentrasi tinggi.
“Huuuhhh ... kenapa perempuan itu, selalu datang lebih awal??” Rey mengurut dada, sambil menghembuskan napas beratnya, Rey kembali duduk di kursinya, dan menghadapkan tubuhnya ke hadapan komputernya.
“Ngomong apa Bu Andin tadi?? Kenapa dia bilang fashion segala sih??” gumam Rey, sambil menatap layar komputernya.
“Astagfirullah!! Apa ini?? Kenapa ada gambar BH sama ****** *****?? Hhhuuuaaa!! Malu banget sumpah!! Ini pasti iklan spam deh” Rey menepuk jidatnya berulang kali, sambil menghentakan kakinya di lantai saking gemesnya. Bagaimana mungkin gambar dalaman wanita itu sudah terpampang jelas di hadapannya, Rey yakin jika Andin kini sudah berpikiran macam-macam terhadapnya, meskipun sungguh, pikiran Rey juga tidak sesuci itu.
“Lah? Terus draft naskahku mana?? Hhhuuaaa!! Ini pasti belum sempat ke save tadi, siaaallll!!” Rey berteriak, sambil menjambak rambutnya frustasi. Sudah malu, naskah hilang pula. Nyesek banget pastinya.
__ADS_1
***
Sementara itu, di kantor pusat ...
“Pak, maaf ini jadwal Bapak hari ini” seorang perempuan cantik, berjalan mendekati meja direktur perusahaan lalu menyodorkan beberapa file di meja kerjanya.
“Bacakan” sambutnya datar.
“Pukul delapan Bapak ada meeting dengan perusahaan A, pukul sepuluh meeting dengan perusahaan B, pukul dua belas ada makan siang dengan perwakilan perusahaan C, lalu pukul satu Bapak ada pertemuan dengan perwakilan perusahaan D, lalu pukul tiga sore Bapak ada ...” sang sekretaris masih terus membacakan sederet kegiatan yang akan dilakukan sang direktur perusahaan, hingga suaranya terpaksa harus terhenti kala mendengar interupsi dari pria gagah di hadapannya.
“Cukup!” pria itu mengamangkan sebelah tangannya di udara, hingga membuat perempuan di sampingnya menghentikan katanya.
“Tolong, hari ini, jadwalkan keberangkatan saya untuk mengunjungi kantor cabang A, saya akan mengadakan sidak hari ini” ucapnya enteng, membuat perempuan dengan rambut sebahu itu mengernyitkan keningnya dalam.
“Loh? Kenapa mendadak pak? Lalu bagaimana dengan jadwal Bapak yang sudah saya agendakan??” tanya perempuan itu bingung sendiri.
“Hah?? Ba baik pak!” mengangguk, meski dengan berat hati, akhirnya perempuan yang memiliki jabatan sebagai sekretaris direktur itu menyetujuinya.
“Jangan lupa, saya mau berangkat pagi ini juga!” titahnya sekali lagi.
“Baik Pak ...” sekretaris itu mengangguk, lalu memutar tubuhnya, menuju ruang kerjanya kembali.
“Syifa! Tunggu!” teriaknya, setelah tubuh sekretarisnya hampir hilang ditelan pintu.
“Iya pak??” gadis itu kembali memutar tubuhnya,
“Tolong belikan saya bunga” sang Direktur menundukan wajahnya, pura-pura menatap sebuah map yang berada di tangannya, sementara itu, sang sekretaris mengernyit bingung, lebih bingung lagi daripada harus membatalkan jadwal kerja si Direktur.
__ADS_1
“Bunga apa pak??” tanyanya, meski bingung, tetap harus bertanya.
“Bunga untuk perempuan” ucapnya datar.
“Iya, maksud saya untuk acara apa??” tanya sang sekretaris, memperjelas pertanyaannya.
“Emmhhh ... pokoknya untuk perempuan saja, bunga yang cantik, dan kalau bisa harus warna abu-abu” perintahnya lagi, tanpa menatap lawan bicaranya.
“Hah?? Mana ada bunga warna abu-abu Pak, warna putih saja bagaimana?” tawar perempuan itu semakin linglung di buatnya.
“Putih??” mengerutkan keningnya, merasa kesal karena perkataannya telah di bantah.
“Iya, bunga warna putih itu, melambangkan kesucian pak” tawar sang sekretaris, yang sudah tak ingin direpotkan lagi, bagaimana mungkin, seharian ini dia harus mengurus jadwal kerja sang boss yang sudah kacau, di tambah harus mencari jenis bunga yang aneh pula.
“Baiklah, belikan bunga warna putih, tapi ingat! Harus yang cantik!” tegasnya, tak ingin dibantah lagi.
“Baik Pak” sang sekretaris, benar-benar memundurkan langkahnya, lalu keluar dari ruangan sang Direktur, dan kembali menutup pintunya.
Sementara itu, sang Direktur kini tengah menggoyangkan kursi kebesarannya, tersenyum lembut, lalu perlahan, dia membuka laci meja kerjanya, yang terletak di paling bawah, mengambil sesuatu dari dalamnya, lalu menatap benda itu dengan teliti.
“Cinta ... apa kabar??” gumamnya, sambil menatap sebuah gelang sederhana yang terbuat dari sebuah bambu, dengan inisial huruf R. Lalu meraih ponselnya, membuka galerinya, lalu menatap beberapa foto lawas yang masih saja di simpannya. Terlihat disana sebuah foto seorang pria yang tengah menuntun sepeda, bersama seorang gadis, yang masih menggunakan seragam sekolahnya.
“Kita, akan segera bertemu kembali ... Cin-Ta”
Bersambung ........
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ...
__ADS_1