
“Satu bulan lagi, acara pertunangan kita akan segera digelar, ada baiknya jika kamu pulang saja ke kampung, untuk mempersiapkan segala sesuatunya, kasihan Abah dan Ambu, jika mereka harus turun tangan untuk menghandle acara kita, beliau sudah tua, tidak sepantasnya kita repotkan terus”
Ucapan Pak Raga terus terngiang di telingaku, Pak Raga terus memaksaku untuk pulang kampung, demi berlangsungnya sebuah acara yang diimpikan Pak Raga sedari dulu, acara harus berlangsung sesuai dengan keinginannya, sesuai dengan seleranya, ketika aku menyanggah atau menolak, Pak Raga selalu saja bilang "Acara ini hanya sekali dalam seumur hidup, saya tidak mau semuanya terkesan biasa saja”.
Hhuuhhh ... ada-ada saja tingkahnya, tapi sebagai calon istri yang baik, aku hanya bisa manut saja untuk urusan yang satu itu. Toh tidak ada salahnya juga mengikuti semua keinginannya, meski hati meronta tidak terlalu menginginkan semuanya.
“Din! Barang-barangku udah masuk semua kedalam bagasi mobil kamu!” aku mengerjap kala suara Siti membuyarkan lamunanku, aku menoleh, sedikit tersenyum lalu menganggukkan kepala. Sedari tadi Siti adalah orang yang paling heboh dengan kepulangan kali ini. Lari sana lari sini, memasukan segala benda yang menurutku tidak penting untuk dibawa ke kampung halaman.
“Barang-barang kamu mana yang mau di bawa??” Siti nyelonong masuk kedalam kamarku, lalu celingukan.
“Eh? Apa ini? Cuman segini aja?” tanyanya mengerutkan kening, saat melihat barang bawaanku tidak ada seperempatnya dari barang bawaan Siti.
“Iya, memangnya mau bawa apalagi? Bawa saja yang sekiranya penting” ucapku acuh, kala menatap wajah Siti yang sudah mendelik.
“Yah ... iya sih, kamu kan nanti bakalan ada Yayang Raga yang bawain barang-barang kamu, kalo ada yang ketinggalan” Siti mengerucutkan bibirnya sempurna. Aku terkekeh geli, bukan karena aku akan mengandalkan Pak Raga, tapi karena memang tidak ada hal penting yang harus aku bawa lagi, selain baju ganti secukupnya selama aku pulang kampung. Toh setelah semua urusan di kampung selesai aku berencana akan kembali ke kota ini dengan segudang rencana yang telah kami sepakati bersama.
“Haha, memangnya kamu, segala kamu bawa, baju sekoper, makeup sekantong, sepatu, sandal, makanan, oleh-oleh, selimut, boneka, sampe segala alat mandi kamu bawa, di kira di kampung gak ada alat mandi apa?? Apa gak sekalian lemari sama kasur kamu bawa juga?? Buat nunjukin ke orang kampung, kalo kamu udah sukses di kota??” Aku tergelak sendiri, kini mobil yang akan kami gunakan sudah berubah layaknya rumah kedua karena Siti mengangkut semua perabotannya.
“Eleh, si Udin! Di kampung tuh gak ada yang jualan skin care yang biasa aku pakai, jadi untuk menghemat aku bawa saja yang ada, untuk mempersingkat waktu dan tempat” ucapnya tak mau kalah, tangannya dilipat di dada, bibirnya mengerucut, aku hanya bisa geleng-geleng kepala sembari berdecak kagum dengan segala pemikiran absurd sahabatku ini.
__ADS_1
“Alah ... di kampung biasa mandi di sungai juga, ngapain bawa skin care dan teman-temannya segala sih?? Berat tahu, nanti kalau kamu balik ke sini lagi, bakalan repot lagi ngangkutinnya” ucapku memberengut, membayangkan bawaan Siti.
“Ya gampanglah ...” Siti tersenyum menyeringai, seperti dia memiliki segudang akal bulus di kepala kecilnya.
“Ups ... aku lupa, kan ada Yayang Rey, gkgk ...” aku tergelak, kala mengingat cerita Siti yang katanya sudah bertemu dengan penulis idolanya, yang ternyata dia adalah Rey, benar apa yang dikatakan orang jika dunia ini hanya selebar daun kelor, begitu sempit, bahkan terlalu sempit untuk aku dan Siti, hingga harus berpasangan dengan orang yang tanpa kita sadari, dari dulu sudah ada di sekeliling kita.
“Udin! Apaan sih?” tiba-tiba saja pipi Siti merona, menahan malu, menunduk dengan tangan meremas ujung rok yang dia kenakan, apaan sih Si Siti? Haha ...
“Udah gak usah malu, aku paham kok, kamu malu karena sempet nolak berjodoh dengan brondong, tapi sekarang kamu malah berjodoh sama brondong” lagi-lagi aku tergelak, jika mengingat ucapan Siti yang lalu-lalu.
“Udin! Apaan sih?? Kita cuman temen tahu!” Siti melipat kedua tangannya di dada karena kesal.
“Au ah, gelap!” Siti beranjak turun ke lantai bawah, membereskan kedai yang sengaja di titipkan pada pegawainya, selama kami pulang kampung.
“Belum bayar listrik yaaaa, pake gelap segala??” teriakku pada Siti yang sudah ada di lantai bawah, menggoda Siti adalah sebuah kesenangan tersendiri bagiku.
***
Berkumpul bersama keluarga adalah hal yang paling di rindukan oleh seorang anak, di manapun kita berada, kasih sayang, canda, tawa, suka, duka, nasihat, dan omelan orangtua adalah hal yang paling di rindukan seorang anak saat kita berjauhan dari mereka.
__ADS_1
Sekian lama tidak pulang kampung, akhirnya laju mobil ini sudah mulai mendekati arah Desa Suka Kaya, bertahun-tahun tidak pulang rasanya ada banyak hal yang berubah bahkan ketika aku mulai memasuki gapura Desa Suka Kaya.
Kembali segala kenangan indah itu menyeruak dalam ingatanku, ku pelankan laju mobilku, lalu aku melirik Siti yang tengah terlelap sambil memeluk boneka beruang berwarna pink ukuran kecil, aku tersenyum, Siti adalah sahabat sejatiku.
Ada rasa sesal di hati, dulu kenapa aku tidak pulang saja setiap tahunnya, untuk sekedar bertemu Abah dan Ambu? Kenapa setiap tahunnya, harus selalu mereka yang datang menemuiku?. Ah ... jarum jam tidak akan pernah melaju ke sebelah kiri, tidak ada gunanya aku sesali.
Hanya saja, aku baru menyadari betapa bodohnya aku, yang mau mengorbankan kebahagiaan kedua orang tuaku hanya demi Dino, cinta pertamaku, tapi bukan cinta terakhirku.
Sekelebat bayangan kami di masa kecil kembali terlintas, kala aku melewati sebuah sungai yang lumayan deras airnya, dulu kami sering mandi bersama di sana.
“Din ... kita nyampe mana??” Siti menggisik matanya, lalu mengedarkan pandangannya, kala aku tengah melewati sebuah jalan yang tidak rata.
“Udah masuk gapura, sekitar dua puluh menit lagi nyampe” jawabku dengan masih fokus pada jalanan.
“Ya ampuuunnn ... banyak banget yang berubah yaa, padahal tahun kemarin pohon yang itu belum segede itu lho Din” Siti menunjuk pohon yang berjejer di pinggir jalan, Siti setiap tahunnya dia selalu memaksakan diri untuk pulang, meski hanya dua atau tiga hari saja di rumahnya.
“O ya??” Aku masih fokus pada jalanan.
“Iya, eh Din, Din! Siapa itu?? Kayak kenal??” Siti menunjuk orang yang berada di pinggir jalan tengah berkacak pinggang, sementara di hadapannya ada beberapa orang pria, dengan pongahnya pria tersebut berkacak pinggang sambil menunjuk-nunjuk pria tua di hadapannya.
__ADS_1