BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Nikahkan Mereka!


__ADS_3

Kami masih asyik mengerjakan soal demi soal, setelah sebelumnya kami sempat mengerjakan shalat ashar, sesekali Siti menyeruput teh manis buatan Ambu, lalu mencomot gorengan yang ada di hadapannya. Kata Siti kalau kebanyakan belajar perutnya suka langsung lapar. Aneh banget memang.


Dengan segenap pengertiannya, Ambu mendukung kegiatan belajar kelompokku di rumah, dengan sigap Ambu menyiapkan makanan ringan untuk menemani kami belajar, beberapa gelas teh manis, berbagai macam gorengan, juga beberapa snack yang sudah di buat oleh tangan Ambu sendiri sebagai stok cemilan di rumah.


Aku masih menyimak penjelasan Pak Raga, meski otakku terus berkelana pada Dino dan Maira. Rasanya isi kepala ini sungguh ingin berkhianat pada pemiliknya, meski berulang kali kepalaku menggeleng guna berusaha melupakan setiap pikiran tentang mereka, tapi tetap saja kepala bertanya-tanya.


Dino lagi apa ya?


Dino udah makan belum?


Dino bisa ngerjain PR nya gak ya?


Dino, Dino, Dino ... ish ... enyahlah kau Dinoooooo!!!.


“Pak Lurah!!!”


Seketika mataku mengerjap kala ku dengar seseorang memanggil Abah, setelah aku sadar, ternyata bukan hanya aku yang kaget, tapi juga Siti dan Pak Raga terlihat mengerjap kaget, bahkan Abah dan si Jago yang tengah dipeluk Abah pun ikut mengerjap, saking kencangnya orang tadi berteriak.


“Kenapa Mang Somad? Teriak-teriak??” tanya Abah sambil berdiri, memasukan si Jago ke dalam kandangnya kembali, menghampiri Mang Somad yang masih berdiri di depan pagar rumah. Napas Mang Somad terlihat masih terengah-engah, keringat juga mengalir di dahinya.


“I itu Pak Lurah ada yang gawaaattt” Mang Somad menghentakan kakinya, dengan telunjuk mengarah ke arah seberang, Abah mengerutkan keningnya tidak paham.


“Apanya yang gawat Mang??” tanya Abah mencoba tenang. Menatap Mang Somad dengan tatapan bingungnya.

__ADS_1


“Itu Pak! Di kampung kita, ada yang ketahuan lagi berzina di dekat kebun singkong milik Pak Rusli!” teriak Mang Somad setelah mampu menguasai dirinya.


“Apa??? Ah, mana mungkin begitu Mang Somad! Kan kamu tahu sendiri, desa Suka Kaya ini, desa yang aman dari hal-hal seperti itu, jadi mana mungkin ada yang melakukan maksiat, seperti berzina??” Abah berdecak tak percaya, dahinya mengkerut tidak suka. Kepalanya membayangkan ada orang berzina di kebun singkong Pak Rusli, kebun singkong yang cukup luas dan begitu sepi, karena jarang orang yang berlalu-lalang di daerah sana. Siapa gerangan yang telah berani menodai kampungnya dengan cara seperti demikian? Pikiran Abah menerka-nerka.


“Eeeehhh ... ini beneran Pak Lurah! Tadi ada beberapa warga yang sudah berhasil memergokinya, sudah jelas ada bukti dan saksinya!” Mang Somad kembali menjelaskan, sementara Abah masih terlihat shock, untuk pertama kalinya, di desa kami ada kasus yang seperti itu. Bagaimana mungkin?.


Desa Suka Kaya itu terkenal akan Desa yang penduduknya ramah dan menganut kuat adat istiadat, meskipun sebagian penduduk masih ada yang belum berhijab seperti aku, tapi di desa ini semuanya menganut agama islam yang meskipun tidak begitu kental, tapi ya minimal kejadian zina atau selainnya yang bertentangan dengan agama, belum pernah terjadi di desa-ku. Mungkin untuk sekedar jalan beriringan, saling sapa, saling bercanda, antara laki-laki dan perempuan itu biasa terjadi setiap harinya. Makanya, ada kabar dari Mang Somad seperti ini, seketika otakku berkelana, siapa juga orang mesum yang mau mengotori desaku dengan hal memalukan seperti itu?. Aku menatap Siti, yang ditatap malah mengedikkan bahunya menandakan dia juga sama tidak tahunya denganku.


“Lebih baik Pak Lurah langsung saja datang ke tempat kejadian! Sebelum si Dino sama pacarnya di gebukin warga!!” Mang Somad akhirnya mengusulkan, mengajak Abah yang masih mematung bingung.


“Apa??? DINOOOOO???!!!!” teriakku bersamaan dengan Siti,


Abah dan Pak Raga menatapku khawatir, aku segera berdiri, lututku gemetar, hingga tanpa sadar gerakanku menendang gelas teh manis milik Pak Raga, hingga airnya berhamburan di lantai.


“Nggak mungkin, di desa kita nama Dino itu cuman ada satu, yaitu Dino Aldino” mataku panas, masih memungkiri kenyataan yang ada.


“Ayo atuh Pak Lurah, lihat dulu!” Mang Somad menarik lengan Abah, hingga mau tidak mau, Abah mengikuti langkah Mang Somad dengan setengah berlari.


Tanpa ku sadari, kakiku pun sudah menginjak tanah, tanpa alas kaki, aku langsung berlari mengikuti Mang Somad dan Abah, tidak memperdulikan teriakan Siti dan Pak Raga yang tertinggal di belakang sana.


Lima belas menit berlari, aku tak merasakan kelelahan sama sekali, tiba di tempat aku sudah melihat orang yang tengah berkerumun, di tengahnya tampak dua orang berbeda jenis tengah menundukkan wajahnya. Aku menganga menatap mereka tak percaya, setelah sebelumnya aku sudah menyusup di antara puluhan warga yang siap menghakiminya.


“No ...” air mataku berjatuhan tanpa kusadari,

__ADS_1


Dino mendongakan kepalanya, dia menatapku nanar, aku menggelengkan kepalaku berulang kali, masih belum percaya dan tidak ingin percaya.


“No ... kenapa kamu jadi kayak gini No??” tanyaku hampir berbisik, Dino menatapku dengan tatapan yang ... entahlah ...


Sementara itu, kulihat Humaira tengah terisak di samping Dino, aku menelisik penampilan mereka.


Baju Dino dan Humaira tengah acak-acakan, bahkan kancing baju Humaira terlihat sudah tidak lengkap lagi, rambut panjang lurus Humaira sudah penuh dengan tanah dan juga ada beberapa daun singkong yang menempel di sana, baju mereka juga sudah kotor, sebenarnya mereka sedang apa? Dan kenapa mereka sampai tertangkap basah sedang berzina?.


“No ...” aku mendekat, tanganku terulur, ingin rasanya memberi bantuan pada Dino yang akan segera di hakimi warga, tapi apa yang harus aku lakukan sekarang?. Aku menatap Abah yang masih terlihat tidak percaya akan apa yang tengah dia lihat.


“Andin! Jangan mendekat!” tiba-tiba Siti menarik tanganku, memandang Dino dengan pandangan yang jijik.


“Dino sahabat kita Ti, gak mungkin Dino kayak gitu kan??” isakku akhirnya.


“Hati manusia itu mudah berubah-ubah Din, begitu juga dengan hati Dino” ucap Siti, lalu menarikku kedalam pelukannya, seluruh warga yang tahu betapa dekatnya aku dan Dino hanya menatapku iba, namun ada juga yang bergumam, bagus aku tidak berjodoh dengan Dino, karena pada kenyataannya, Dino bukan remaja baik yang selama ini sering di lihat mereka.


“Pak Lurah bagaimana ini??” teriak salah satu warga, sementara itu, di samping sebelah kiri Dino, sudah ada Ibunya Dino yang tengah sesenggukan, dan dipandang sinis oleh Ibu-Ibu lainnya. Hatiku semakin sakit melihat pemandangan ini.


“Nikahkan saja mereka!” usul salah seorang warga.


Deg!


Nikah? Dino mau nikah dengan Maira? Bagaimana mungkin? Lalu bagaimana dengan aku??.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2