BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Mabok NasGor


__ADS_3

“Kamu gak usah ikut-ikutan! Cewek jelek kayak kamu gak pantes ngomong sama aku!” Clara menoyor bahu Siti.


Seketika aku memelototkan kedua mataku, dia kurang ajar! Dia sudah menghina sahabatku! Aku harus memberinya pelajaran!.


“Heh! Kamu kalau berani jangan main fisik! Tuman banget jadi orang!” aku berkacak pinggang menatap Clara yang tengah tersenyum sinis.


“Kenapa?? Bukannya kamu itu suka main fisik ya??” tanyanya semakin menantang, membuatku semakin meradang.


Aku mungkin bisa pencak silat, tapi tidak berarti semua masalah bisa diselesaikan dengan kekerasan, kadang, ada kalanya kita bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang lain. Cara yang lembut yang bisa membungkam mulut Clara yang selalu merasa paling cantik ini.


“Pulang sekolah, aku tantang kamu makan nasi goreng lima piring, di kantin sekolah! Kalau kamu menang kamu boleh minta apa aja sama aku! Tapi kalau aku yang menang kamu gak boleh lagi ngatain aku sama Siti sahabatku!” tantangku kemudian. Clara terbahak, meremehkanku.


“Nasi goreng?? Cuma lima piring?? Haha ... siapa takut??” Clara masih terbahak.


“Aku tunggu kamu sepulang sekolah!” ucapnya sambil berlalu meninggalkan kami yang masih mematung.


“Din ... kamu yakin Din? Lima piring itu banyak lho ...” Siti menyenggol bahuku.


“Yakin! Udah gak usah remehin perutku” ucapku yakin, lalu kami meneruskan perjalanan menuju kelas, jam masuk sekolah hampir saja tiba, ini semua gara-gara Clara yang memancingku tadi. Huh ...


“Din ... emang aku jelek ya??” tanya Siti, sambil menatap cermin berbentuk bulat kecil, yang selalu ada di saku seragamnya.


“Hah?? Kata siapa??” tanyaku menatapnya, sambil mengerutkan kening.


“Kata Clara tadi” Siti masih menilik wajahnya di cermin kecil itu.


“Kamu cantik Siti, semua perempuan yang terlahir ke dunia ini cantik, udah deh gak usah ngerasa insecure gitu” ucap ku, mencoba menghibur Siti.


“Tapi Clara bener sih, Clara hidungnya mancung, kulitnya putih, badannya ramping, tinggi, sama kayak kamu Din, lah aku?? Tinggi aja cuman seratus lima puluh kurang tiga” Siti mengerucutkan bibirnya.


“Ti, cantik itu tidak diukur dari bentuk fisik, cantik itu dilihat dari sini” aku menunjuk dadaku.


“Cantik itu terpancar dari hati, bukan dari make up, kamu cantik dengan cara kamu sendiri Ti, udah deh, gak usah ngerasa gak PD gitu” Aku memutar kedua bola mataku, paling gak suka kalau lihat Siti udah kayak gitu.


“Good morning Class” suara merdu dari seorang pria, membuyarkan lamunan kami, terlihat Pak Raga tengah tersenyum ke arah kami, ah iya ... hari ini jam pelajaran pertama bahasa Inggris.


“Mornnniiiiinnnggg Sir ...!!” terdengar teriakan Siti yang paling nyaring. Tadi aja sedih-sedihan, setelah lihat Pak Raga jadi semangat empat lima lagi.


“Pangeranku makin ganteng ya Din??” bisiknya, sambil menyenggol lenganku.

__ADS_1


“Bucin terooooooossss!” balasku sambil tergelak.


***


“Din, kamu bawa bekal apa?” tanya Siti ketika jam istirahat sudah tiba.


“Haduuuhhh ...” aku menepuk jidat.


“Kenapa??” tanya Siti.


“Aku bawa Nasi goreng ...” jawabku.


“Hah?? Duuuhh ... ya sudah, sinih nasi gorengnya aku makan aja, kasihan kamu, nanti kalau kamu mabok Nasi goreng gimana?? Aku baik bukan, mau meringankan beban kamu??” Siti meraih buperware tempat makananku, lalu membukanya.


“Waahhh ... enak kayaknya ini, ada sosisnya lagi, kamu pantesan pinter Din, tiap hari makanannya enak terus” ujar Siti sambil memasukkan sesendok nasi goreng bekalku kedalam mulutnya.


“Apa hubungannya Siti, pinter itu karena aku belajar mati-matian, waktu guru jelasin di depan kelas aku perhatiin tanpa berkedip, makanya aku bisa ngerjain soal-soalnya” ucapku, sambil menelan air liur, di jam istirahat ini, perut seolah berdemo, rasanya lapar, tapi kalau membayangkan aku makan lima piring nasi goreng nanti sepulang sekolah, duhhh ... udah kenyang duluan. Aku memutuskan untuk tidak makan di jam istirahat ini.


*****


Sepulang sekolah, sesuai perjanjian aku dan Siti berjalan menuju kantin sekolah yang sudah sepi, si Mamang pedagang nasi goreng, sengaja di tahan biar tidak pulang, sengaja juga Clara memesan sepuluh piring nasi goreng pada pedagangnya. 


Aku dan Siti duduk di sebuah kursi yang sudah di sediakan, dengan lima piring nasi goreng di hadapanku, kalau kayak gini, aku sudah seperti peserta lomba makan di acara tujuh belasan yang di adakan oleh Abah. 


“Siap?? Satu ... dua ... tiga!! Mulai!!!” aba-aba dari sang juri, yang tak lain dan tak bukan adalah Siti.


Aku menarik napas pelan, lalu menghembusakannya kasar, bersiap untuk melahap nasi goreng di hadapanku. 


Aku mulai meraih satu buah piring, lalu mulai memakannya perlahan, sementara Clara dengan semangat empat lima, dia buru-buru memakan nasi gorengnya, hingga dia tersedak dan harus minum beberapa gelas. Sementara aku masih santai, memakannya dengan perlahan tapi pasti. 


Abah bilang, segala sesuatu itu harus di sikapi dengan santai, dan tenang, karena dengan pikiran tenang kita akan mudah mengambil keputusan dengan tepat, jangan terburu-buru, karena buru-buru itu berasal dari setan. 


Saat baru makan di piring kedua, Clara sudah menghabiskan tiga piring nasi goreng, namun semangatnya seolah sudah menurun, berkali-kali dia mengusap perutnya. Clara ratu diet, makan lima piring nasi goreng, kita lihat akan seperti apa wajahnya besok. 


“Ayo Din! Semangat!” koar Siti di sampingku, sambil mengelus bahuku, memberiku semangat sepenuhnya. Sesekali tangannya memijit punakku memberi kekuatan penuh padaku.


Piring ke empat, skor menjadi seri, kekuatan Clara semakin melemah, suapannya semakin tak berdaya. Sementara aku masih berusaha menjejalkan nasi ke dalam perutku, meskipun tak kupungkiri, akupun sudah merasa kenyang. Rasanya perutku hendak meledak.


Piring ke lima, dari jauh aku menatap sekelebat bayangan orang yang sangat ku kenal, Dino bersama seorang perempuan dia Humairah ... mereka tengah berjalan bergandengan menuju arah pulang. Sementara itu, gerimis mulai turun, tapi hatiku kian panas, masa iya Dino gak nungguin aku buat pulang bareng lagi sih??.

__ADS_1


“Yyeeeaaayyyy .... menaaaaannnggg!!! Kita menang Din!!” teriakan Siti membuyarkan lamunanku.


“Hah??” aku menatap piring terakhir di tanganku, ternyata sudah ludes tanpa aku sadari. Ya ampuuunnn ... perut rasanya mau pecah!.


“Yang kalah, bayar!” ucapku sambil berlalu di ikuti Siti yang tersenyum penuh kemenangan, sementara Clara hanya terdengar berdecak kecewa, sambil menangisi nasi yang masuk kedalam perutnya, karena dia gagal diet. 


***


“Hujan Din” Siti merentangkan tangannya ke udara, hujan gerimis, kami masih menunggu di gerbang sekolah.


“Iya,” jawabku sambil celingukan, Dino mana ya??


“No!” teriak Siti, kala Dino tengah melajukan sepeda motornya, dengan membonceng Humairah.


“Pinjemin Andin jas hujan No, hujannya makin gede” pinta Siti, sambil menatap Dino. 


“Jasnya di pake Humairah” ucap Dino, sambil melirik kebelakang, terlihat jas hujan yang biasanya sering di pakai olehku, kini tengah di gunakan oleh Maira. Tak bisa dipungkiri Aku kecewa. 


“Gak apa-apa, kalian duluan aja, hujannya makin gede” ucapku sambil menyeka air hujan yang mengenai wajahku.


“Kita duluan ya” Dino melajukan motornya, sementara itu, Maira memeluk Dino dari belakang. 


melihat pemanangan tersebut, jujurnya membuat hatiku tidak nyaman, lalu dengan lirih hatiku bergumam,


Aku gak suka No ...


***


“Ya ampuuunnn!!! Anak Ambu kenapa hujan-hujanan?? Apa ambu bilang tadi? Kamu bawa jas hujan aja, hujannya makin gede” Ambu berdecak, sambil meraih tas sekolahku, sementara aku berjongkok membuka sepatu. 


“Hujan air ini” ucapku acuh, sambil membuang daun pisang yang tadi aku gunakan untuk menutupi kepalaku. Terpaksa aku menggunakan daun pisang, nebeng payung Siti, meskipun besar, tetep aja basah. Tapi pakai daun pisang juga sama-sama basah ding, tapi seru aja pakai daun pisang ketika hujan.


“Anak ini, kalau di bilangin susahnya minta ampun” Ambu menggelengkan kepalanya berkali-kali. 


“O ya, makan siangnya ada nasi goreng di meja makan yaaa ... tadi Ambu beli di tempat langganan Abah, Ambu gak sempet masak, males!” teriak Ambu kala aku sudah menaiki tangga. 


Lakadalah ... nasi goreng lagi??? Bener kata Siti, hari ini aku mabok nasi goreng. 


Ampun deh ...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2