
Aku hanyalah manusia biasa, tidak selamanya aku memiliki kekuatan untuk menghindari rasa kecewa. Lambat rasa kecewa itu hadir dengan ditimbulkan dari berbagai pihak, entah dari keluarga, sahabat, pekerjaan atau bahkan orang yang paling aku cintai. Sungguh aku tidak kuasa untuk memilih bagaimana aku harus bereaksi terhadap rasa kecewaku sendiri.
“AAAAAAAAAAARRRGGGHHHH!!!” aku hanya bisa berteriak sekuat tenaga.
BBBUUUKKK!!!
BBBRRUUUUKKK!!!
Menendang apa saja yang ada di dekatku, membanting lalu menghancurkan semua benda yang ada di hadapanku, tapi nyatanya kecewa yang bersarang di dalam dada tidak kunjung sirna.
Aku terlalu sering membiarkan pikiranku dipenuhi oleh rasa kecewa, hingga pada akhirnya rasa kecewa itu melukai hatiku semakin dalam, rasa kecewaku menciptakan pengaruh baru dalam hidupku yaitu putus asa.
Aku benci, ketika melihatnya pergi bersama orang yang sangat dicintainya, aku terluka kala dia menolakku, lalu memutuskan untuk pergi bersamanya yang sudah jelas pernah menyakitinya.
Tapi, jika cintanya lebih berat pada dia?? Lantas aku bisa apa??.
Waktu yang akan mendewasakan kita, kemarahan dan kekecewaan adalah guru terbaik yang ikut andil dalam membentuk karakter di dalam hidupku, mungkin tidak semua orang mampu melewati rasa kecewanya dengan baik, sementara itu bagiku kekecewaan yang bersarang dalam hatiku sekarang adalah ujian hidup yang sulit aku taklukan. Rasanya sakit dan begitu sesak.
Aku menatap wanitaku dengan intens di kejauhan, dia tengah terpaku menatap pria yang bertahun-tahun lalu dan mungkin sampai hari ini masih selalu ada di dalam hatinya.
Aku marah, aku cemburu, tapi tidak ada hal yang bisa ku lakukan, selain menatapnya nanar, aku terlalu mencintainya, hingga aku takut, sedikit saja gerakan yang aku lakukan, bisa membuatnya marah atau terluka.
Aku butuh meluapkan emosiku, akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan mereka, dan berlalu untuk menuju tempat terdamai menurutku. Semoga dengan datang ke tempat itu, hatiku bisa jauh lebih tenang.
***
“Dino?? Kamu ngapain di sini??” tanya Andin pada pria di hadapannya, tubuhnya masih bergetar, dadanya masih bertalu-talu, tidak menyangka akan bertemu sahabat sekaligus cinta pertamanya di sini.
“Andin?? Apa kabar??” Dino mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum lembut, kini ... senyumannya telah berubah, tidak seringan dulu lagi, matanya sayu, wajahnya terlihat banyak garis-garis halus, padahal usianya masih sangat muda.
“Ba baik ...” Andin mengangguk, masih sedikit shock gadis itu masih belum bisa menguasai dirinya sendiri.
“Kamu banyak berubah sekarang yaaa” ucapnya kaku, tersenyum miris, lalu memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
__ADS_1
“Ka kamu juga” Andin masih gugup.
“Kamu tahu dari mana kantorku di sini??” tanya Andin setelah mendaratkan bokongnya di samping Dino, dengan hanya berjarak dua kursi.
“Ini ...” Dino menyodorkan sebuah kartu nama, Andin menerimanya lalu mengerutkan keningnya dalam.
“Kamu mendapatkan kartu nama ini dari siapa??” tanya Andin bingung.
“Dari Pak Raga, waktu Pak Raga mengunjungi kedua orangtuamu, kami sempat bertemu, dan Pak Raga memberikan kartu namanya, waktu aku bertanya tentang dirimu” jelas Dino, masih sambil menundukkan kepalanya, pandangannya tertahan pada lantai di bawah kakinya.
“Oh ... lalu kamu mau ada perlu apa, ingin bertemu denganku??” tanya Andin setelah bisa menguasai dirinya sendiri.
“Bisa kita bicara di tempat yang lebih tenang?? Aku tidak nyaman di sini, banyak orang yang melihat kita Din” Dino mengedarkan pandangannya, memang terlihat beberapa karyawan yang berlalu lalang tengah menatap mereka, banyak di antara mereka kemudian berbisik-bisik dengan temannya yang lain, entah apa yang mereka bisikkan.
“Oh, oke” Andin memanggutkan kepalanya, berjalan mendahului Dino, lalu Dino mengekorinya dari belakang.
***
“Din?? Kamu sebenernya eling apa enggak sih??” Siti menangkup nampan bekas air minum yang disuguhkan pada Dino, sambil menyenggol-nyenggol bahu Andin dengan bahunya.
“Kadang aku bingung sama kamu, kamu itu sebenernya punya hati atau enggak sih??” lagi-lagi Siti memberikan pertanyaan yang membuat Andin bingung.
“Gimana kalau Pak Raga lihat kamu malah jalan sama Dino?? Pak Raga pasti kecewa sama kamu” Siti mendengus kesal.
“Dino itu sahabat kita Siti, Pak Raga pasti ngerti kok” Andin ngeloyor pergi, berjalan menemui Dino, yang kini sudah duduk di salah satu kursi pelanggan di kedai mie ayam Siti.
“Gustiiiiii, semoga gak akan ada pertumpahan darah lagi” Siti bergidik ngeri, lalu pergi menuju dapur, bersiap menyiapkan mie ayam yang tengah dipesan pelanggan.
***
“Sejak saat itu, sudah lama kita gak berjumpa” ucap Dino kala Andin sudah mendaratkan bokongnya di salah satu kursi di hadapan Dino, hari ini pengunjung belum terlalu ramai, waktu baru menunjukkan pukul dua siang. Andin sengaja memaksa Rey untuk segera ke kantornya, agar Rey bisa menghandle pekerjaannya, selama Andin masih di luar kantor.
“Ah, ... iya” Andin menganggukkan kepalanya, tidak bisa di pungkiri, hatinya masih berdebar kala matanya beradu tatap dengan Dino, segera gadis itu memalingkan wajahnya.
__ADS_1
“Kamu ada perlu apa datang kesini No??” tanya Andin akhirnya, setelah beberapa saat, hanya terdengar helaan napas berat dari mereka.
“Aku mau membeli obat Din, kebetulan di desa kita gak ada obat yang aku cari, jadi aku mencarinya di kota, dan aku menyempatkan diri untuk ketemu kamu”
“Aku rindu kamu Din, rindu kebersamaan kita di waktu kita remaja”
Deg
Deg
Deg
“O obat buat siapa?? Siapa yang sakit??” tanya Andin gelagapan, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Maira ... dia sakit” ucapnya lesu.
“Sakit?? Sakit apa No??” Andin membulatkan matanya, tangannya semakin bergetar hebat, entah kenapa.
“Hipertensi” jawab Dino sambil menunduk, raut wajahnya kembali terlihat lemah dan lesu.
“Bukannya Maira sekarang sedang hamil lagi ya??” di antara rasa terkejutnya Andin kembali bertanya.
“Tujuh bulan” jawab Dino masih dengan nada lesu.
“Bukankah hipertensi adalah penyakit yang sangat berbahaya jika dialami oleh perempuan hamil No??” Andin terlihat cemas.
“Iya Din, sekarang Maira sering sakit-sakitan, ditambah dia sedang hamil lagi, hasil kerjaku di kampung tidak memadai untuk membiayai perawatan Maira, belum lagi anak pertama kami, kini biaya hidupnya di bantu Ibu” jelas Dino panjang lebar.
“Kamu gak nyoba buat cari pekerjaan di tempat lain No?? Di kota mungkin ada banyak peluang kerja buat kamu” saran Andin.
“Kamu tahu kan?? Ijazah sekolahku hanya sampai SMP, karena aku tidak sempat mengikuti ujian SMA ku”
“Gak usah dilanjutkan, kita semua tahu itu” Andin memotong ucapan Dino, entah kenapa jika mengingat semua itu, rasanya hati Andin kembali tercabik-cabik.
__ADS_1
“Din ... maafin aku yaaa ...” Dino menatap Andin intens.
“Maaf buat apa No???”