
Ting!
Mata Siti terbelalak, kala dia mendengar suara notifikasi ponselnya, dengan gerakan berlari kecil, Siti meninggalkan pekerjaannya, yang tengah membereskan kedainya, sapu dia lempar ke sembarang arah, serbet yang sedari tadi ada di tangannya kini sudah berpindah ke pundaknya, sesaat setelah ditutup, waktu sudah sangat sore. Siti segera meraih ponselnya, lalu menatap layarnya, seketika mata Siti membola, kala melihat nama si pengirim chat.
R.N.D.id
Kak, terimakasih banyak tipsnya sudah saya terima.
Seketika Siti senyum-senyum sendiri, hampir setiap hari, Siti memberikan tips tak seberapa untuk penulis favoritnya.
ChiChi_tralalatrilili
Sama-sama Kak, semangat menulisnya, aku tunggu chapter selanjutnya yaaa ...
Siti cengengesan, saat chatnya mulai terkirim, lama tidak ada balasan lagi, membuat Siti mendengus karena kecewa.
“Sombong banget sih? Kok gak di bales lagi?? Sebel deh ...” Siti mengerucutkan bibirnya, matanya terus memindai ponselnya, berharap banyak, tiba-tiba sang idola membalas pesannya.
ChiChi_tralalatrilili
Kalau boleh tahu, Kakak itu laki-laki atau perempuan ya?? Hheee ...
Akhirnya Siti bertanya, untuk suatu hal yang sudah lama sangat ingin dia tanyakan, lama tak ada balasan, hampir saja Siti kembali meninggalkan ponselnya, untuk melanjutkan pekerjaannya, namun terdengar kembali suara notifikasi dari ponselnya.
R.N.D.id
Terimakasih banyak untuk supportnya Kak,
Ngomong-ngomong, saya itu laki-laki lhooo, (emot ketawa ngakak.)
“Gustiiiiii!!! Ternyata dia laki-laki?? Apa dia jomblo juga ya?? Apa aku tanyain aja?? Tapi gengsi atuh, sayang banget harga diri aku” Siti kembali kebingungan, mempertimbangkan, haruskah dia sevulgar itu untuk bertanya pada idolanya? Bagaimana jika idolanya merasa tidak nyaman, lantas tidak mau lagi membalas chat dari Siti, seketika gadis itu menjadi dilema.
Ceklek ...
Atensi Siti teralih pada pintu yang terbuka, dan tampaklah Andin yang tengah berjalan dengan tatapan mata yang kosong, pandangannya lurus kedepan, dia berjalan, tanpa melihat jalanan yang dilaluinya.
“Ku naon si Udin?? Apa dia kasurupan?? Wajahnya pucat begitu?” Siti kembali menaruh ponselnya di atas meja, mengabaikan hatinya yang tengah gundah gulana karena chatnya belum dibalas lagi oleh sang idola, Siti berjalan mendekati Andin, dengan sapu masih di tangannya.
__ADS_1
“Udin?? Kamu teh kenapa??” tanya Siti dengan tatapan menelisik, tapi yang ditanya tidak menyahut, Andin terus berjalan tanpa merespon Siti sama sekali.
“Udin?? Kamu kesurupan ya?? Gustiiii ... kenapa sih? Jurig kok gak pilih-pilih ya kalau mau merasuki jiwa manusia? Udah tahu si Udin jarang mandi, badannya bau, malah di masukin tubuhnya” Siti berdecak berkali-kali, kepalanya menggeleng-geleng heran.
“Hush! Hush! Hush! Keluar kamu juriiiigggg dari tubuh si Udin!! Dia bau!! Gak mandi udah dua hariiii!!!” Siti melambai-lambaikan tangannya di hadapan wajah Andin, namun Andin tetap terdiam dengan tatapan kosongnya.
“Din?? Kamu jangan gini dong, aku sieun Din” Siti memelas,
“Ini jurig kayaknya harus di siram, biar dia keluar dari tubuh kamu!” Siti segera berlari, meraih ember yang berisi air bekas pel-an.
“Maaf banget ini mah Din, aku harus ngelakuin ini, biar jurig yang ada di tubuh kamu hilang” mulut Siti komat-kamit seperti sedang membaca mantra. Tangan yang memegang ember berisi air pel-an sudah terangkat.
“Siti ...” ucap Andin dengan tatapan masih kosong.
Seketika Siti mengerjap kaget, jika keseimbangan tubuhnya kurang, maka bisa dipastikan, air pel-an yang berada di tangannya, akan tumpah menyiram badannya sendiri.
“Udiiiinnnn ... kamu teh kenapa? Bikin aku kaget aja?” Siti meletakan ember di bawah kakinya.
“Aku ...” suara Andin menggantung.
“Kamu teh kenapa?? Kamu berantem lagi sama Yayang Raga?? Iya??” terka Siti, menajamkan penglihatannya pada raut wajah Andin.
“Hah?? Lebih dari berantem teh apaan atuh?? Gak mungkin kan kalau kalian jambak-jambakan??? Sini jelasin sama Titi, biar Titi bantu” Siti menuntun tubuh Andin menuju salah satu kursi pelanggan yang ada di dekat mereka.
“Sok, mulai ceritanya” Siti bersiap mendengarkan, sementara Andin kini sedang menarik napasnya kasar.
“Cinta!!!”
Siti kembali mengerjap, saat suara berat itu terdengar berasal dari pintu masuk, Siti mengerutkan keningnya, menatap Pak Raga yang datang dengan penampilan acak-acakan.
“Ada apa lagi iniiii??” Siti mulai frustasi, rupanya dia mencium bau-bau tidak enak atas hubungan sahabatnya tersebut.
“Titi, maaf boleh saya bicara sebentar dengan Andin?” ucap Raga memohon, sambil mendaratkan bokongnya di salah satu kursi yang bertepatan berada di hadapan Andin. Andin masih diam membisu.
“Boleh atuh Pak, apa sih yang gak boleh buat Bapak??” Siti tergelak, sambil undur diri menuju lantai atas, berjalan melalui tangga.
Setelah dirasa aman dari pendengaran orang lain, Raga mulai berkata,
__ADS_1
“Cinta ... tolong maafkan ucapan Papah” Raga mulai memohon, berusaha memegang tangan Andin, namun segera di tepisnya.
“Saya gak apa-apa” Andin menggeleng.
Dan sikap Andin yang seperti itu, terang saja membuat Raga frustasi, baginya lebih baik Andin marah, mengungkapkan kekesalannya, karena sudah dihina oleh Ayahnya, dari pada harus mendiamkannya begitu saja.
“Cinta ... please, saya mohon, jangan diam saja, lebih baik kamu ungkapkan kekesalan kamu, dari pada kamu harus diamkan saya” Raga kembali memohon.
“Saya gak apa-apa Pak” Andin kembali menggeleng.
“Bagi saya, ucapan tidak apa-apa dari kamu artinya kamu sangat kenapa-napa” Raga mulai mengiba.
“Saya sudah memaafkan ucapan Papah Bapak” ucap Andin, berusaha menampilkan senyuman tipis, diantara kekesalannya.
“Terimakasih” Raga menatap Andin dengan tatapan lega.
“Boleh saya bertanya sesuatu??” tanya Andin kemudian, memalingkan wajahnya menatap Raga.
“Apapun itu, silahkan tanyakan” ucap Raga dengan senyuman lembutnya, meski tak dipungkiri, hatinya sangat berkecamuk akan banyak hal.
“Kenapa Bapak meninggalkan semuanya hanya demi saya??” tanya Andin, menatap Raga, menanti jawaban yang ingin dia dengar.
“Karena saya sangat mencintai kamu, bisa dipertemukan kembali dengan kamu, adalah suatu hal yang sangat membahagiakan bagi saya, jadi please Cinta, jangan buat hati saya patah lagi” Raga kembali memohon.
“Saya tidak akan membuat hati Bapak patah lagi, saya akan menganggap ini adalah ujian untuk hubungan awal kita” Andin berusaha tersenyum, meski hatinya enggan.
“Terima Kasih Cinta ... mencintaimu, seperti sebuah konspirasi bagiku, seperti orang yang mau bernapas tapi tidak ada udara” sekali lagi, Raga menampilkan senyuman termanisnya, jika saja yang melihat senyuman Pak Raga bukan Andin, si perempuan keras kepala, mungkin saja mereka akan tergila-gila dengan senyuman milik Raga.
“Paaakkk, jangan gombal” Andin menunduk tersipu.
“Apa tidak sebaiknya Bapak kembali pindah ke kantor pusat??” tanya Andin kemudian.
“Jika udaranya hanya ada di sini, maka paru-paru tidak akan pergi”
Eeeeeaaaaakkkkk ...
Bersambung .....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa ...