BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Ujian Sebelum Pernikahan


__ADS_3

“Cobaan orang yang mau menikah itu bukan main-main Neng, banyak orang yang gagal menikah, padahal waktu pernikahannya tinggal menghitung hari” terdengar suara Abah mengalun merdu, kala Andin menangis sesenggukan akibat rasa galaunya, kini tidak ada hal lain yang Andin butuhkan, selain petuah dari Abah. Mendengar suara Abah membuat Andin seketika menjadi tenang, beban yang menumpuk seolah hilang.


“Andin bingung Abah ...” Andin masih terisak, menggenggam ponsel yang menempel pada telinganya. Sesekali terdengar suara sengaunya sesenggukan.


“Kenapa harus bingung?? Sebelumnya, Andin sudah memutuskan menikah dengan Nak Raga, kenapa sekarang jadi bingung?? Abah harap, Neng anak Abah bisa tetap jadi perempuan kuat yang berprinsip, jangan oleng hanya karena angin semilir Neng” suara Abah kembali mengingatkan putrinya, Andin yakin jika sekarang mereka bersama, pasti Abah kini tengah mengusap kepala Andin dengan sayang.


“Sekarang, Pak Raga berubah ...” Andin masih dengan isakannya, dihadapan Abah yang sangat dicintainya, gadis itu menumpahkan perasaan sedihnya, menunjukkan sisi lemah dari dirinya, yang selama ini tidak pernah Ia perlihatkan pada siapapun.


“Neng ... kamu tahu tidak?? Ujian ibadah paling sulit dan paling lama itu, bukan ujian ketika kamu shalat, karena shalat hanya lima waktu dengan durasi waktu sebentar, bukan pula ketika kita berpuasa, karena puasa ramadhan hanya tiga puluh hari, bukan pula ketika kita berzakat, karena menyerahkan zakat hanya sesaat, dan juga bukan ketika kita berangkat haji, karena menjalankan ibadah haji hanya beberapa hari, tapi ... ujian ibadah paling lama itu ketika kita berumah tangga, rumah tangga itu seumur hidup, kamu bayangkan, dalam kurun waktu yang sangat panjang itu, kita akan menemukan beragam ujian dengan tingkat kesulitan yang luar biasa” ucap Abah panjang lebar, suaranya terdengar lembut khas seorang ayah yang bijaksana.


“Abah ... Andin ingin pulang, Andin mau peluk Abah ... hiks ...” gadis itu masih sesenggukan, tanpa dia tahu, Abah dan Ambu di seberang sana juga tengah menyeka air matanya. Hati Abah dan Ambu juga merasa sedih kala mendengar anak semata wayangnya menangis terisak, kisah cinta anak mereka memang tidak semulus itu, hingga Andin harus mengalami jungkir balik dalam menata perasaannya.


“Kamu harus sabar Neng, wajar saja jika Nak Raga marah, atau cemburu, dia menunggu dan memperjuangkan kamu begitu lama, Abah yakin, jika yang di lakukan Nak Raga hanya emosi sesaat, selama Nak Raga masih bersikap wajar sebagai orang yang tengah cemburu, mungkin ada baiknya jika Andin berusaha sabar menghadapinya” ucap Abah lagi, berusaha menasehati anak semata wayangnya.


“Hiks ... hiks ... hiks ...” Andin hanya menjawab dengan isakan, tak mampu mengucapkan kata apapun, maka tangisan sudah mewakili perasaannya yang tengah bersedih.


“Neng ... perjuangkan apa yang sudah menjadi milik kamu, jangan sampai kamu kecewa nantinya, cobalah untuk menjelaskan semuanya pada Nak Raga, bicaralah dari hati ke hati, meminta maaflah, karena di sini kamu juga salah, bicara dengan lembut, tapi nanti, mungkin setelah suasana mereda, bicaralah dengan kepala dingin, jangan sampai setan menguasai nafsu kalian” Abah kembali memberikan nasihat terbaiknya, berharap putrinya bisa menemukan tambatan hatinya, imam yang baik untuk keluarganya di masa depan nanti.


“Abah ... hiks ... Andin gak kuaaattt” Andin semakin mengencangkan tangisannya, tangannya kini memukul-mukul dadanya yang terasa begitu sesak.


“Gak kuat karena sikap Nak Raga?? padahal Nak Raga baru marah sekali ini lho, itupun dengan alasan yang jelas, kalau di banding dengan pengorbanannya, mungkin itu tidak seberapa” Abah mencoba mengingatkan, bibirnya sedikit tersungging mengingat betapa tingkah putrinya begitu labil selama ini, keras kepala juga berpendirian kuat.


“Hiks ... hiks ... hiks ...”


“Udah Neng, kamu sekarang kenapa jadi cengeng banget sih?? Biasanya juga kamu gak peduli kan kalau Nak Raga bersikap seperti apapun?” kini Ambu yang bicara.

__ADS_1


“Tapi, gak tahu kenapa, hati Andin sakit Ambu, waktu Pak Raga bersikap begitu, hiks ...” Andin menyeka air matanya yang terus mengalir hebat.


“Duh ... kamu tuh yaaa, jurus kucing ngamat bisa, tapi kenapa jurus menaklukan pria marah gak bisa??” Ambu malah terdengar terkekeh di ujung sana. Mencoba mencairkan suasana duka yang tengah menyelimuti hati putrinya.


“Ambuuuuu ...” Andin merajuk, tangannya menyeka ingus dengan ujung bajunya.


“Sudah, sudah ... sekarang kamu wudhu, shalat, terus minta petunjuk sama Allah, biar hati kamu tenang, biarkan Allah andil dalam setiap keputusanmu” Abah menengahi.


“Iya Abah, Ambu, kalau gitu Andin mau wudhu dulu, Assalamu’alaikum ...”


“Waalaikumsalam warahmatullah ...”


Telpon ditutup, Andin menyeka air matanya, lalu berlalu menuju kamar mandi.


“Aku tuh harus gimana Siti??” kini selepas melaksanakan shalat dan berdoa, dengan masih menggunakan mukenanya, Andin tengah menangis di pelukan Siti, kini pelukan sahabatnya itu, menjadi terasa sangat hangat dan menenangkan.


“Din, sabar kamu teh, jangan nangis terus” Siti mengusap punggung Andin yang tengah bergetar hebat.


“Sebenarnya, apa yang kamu takuti??” Siti melepas pelukannya, menatap Andin lekat.


“Aku gak tahu, hati aku sakit, gak tenang, aku takut kalau Pak Raga lama marah sama aku, aku gak pernah lihat Pak Raga semarah itu, mana kabar lamaran Pak Raga sudah beredar lagi di kampung, gimana kalau lamarannya gak jadi Ti???” Andin kembali terisak.


“Hhhhhh ... “ Siti menghela napas berat.


“Kamu sudah jatuh cinta sama Pak Raga Din ...” ucap Siti kemudian, membuat Andin menghentikan tangisnya.

__ADS_1


“Waktu kamu merasa dikhianati Dino, kamu juga bersikap seperti ini kan? Hanya saja, dulu tangisanmu adalah tangisan kecewa, dan sekarang tangisanmu, tangisan rasa takut, kamu takut kalau Pak Raga gak cinta kamu lagi kan??” ucapan Siti langsung mengena di hati Andin, gadis itu terdiam dalam isakan kecilnya.


“Din ... bener kata Abah, kamu harus perjuangin cinta kamu ke Pak Raga, dulu Pak Raga yang ngejar kamu mati-matian, sekarang kamu yang harus ngejar dia”


“Malu-maluin banget sih, ngejar-ngejar cowok” Andin memberengut kesal.


“Eh, si Udin dibilangin juga, ngejarnya dengan cara elegan dong, jangan bar-bar” Siti tersenyum penuh arti.


“Gimana caranya Ti??” Andin langsung semangat.


“Sini, Titi bisikin ...”


“wswswswswwwwswsss ...”


“Eh?? Masa sih?? Yakin kamu??”


“Yakin lah ... kalau gagal, tenang ada opsi kedua, tiga, dan selanjutnya, kalau buat Pak Raga, kamu tenang aja, Titi punya ide sekebon buat naklukin hati yayang Raga”


“Sitiiiii, makasih yaaa, kamu sahabat aku yang paling baik” Andin memeluk tubuh Siti erat, Siti tersenyum dan membalas pelukan Andin.


“Besok kita lancarkan aksi kita Din”


“Asssiiiaaaapppp! Bos Titi!!”


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2