
Aku menoleh ke arahnya, tersenyum, lalu mengangguk. “Masih” jawabku singkat.
“Baiklah” dia mengangguk sambil tersenyum lembut, seperti biasanya, benar apa yang dikatakan Siti, pria di sampingku ini sangat mapan juga matang.
“O ya?? Kamu sudah berapa lama tinggal di kota ini??” tanyanya kembali terdengar seperti basa-basi mungkin untuk menghilangkan rasa canggung saja.
“Enam tahun” jawabku singkat, semakin kuat aku menghindari masa lalu, maka semakin kuat pula, orang-orang terus mengoreknya tanpa rasa malu.
“Enam tahun??” ucapannya terdengar seperti gumaman. Kami kembali terdiam, suasana kembali hening.
Ting!
Pintu lift terbuka, kami keluar dari dalam ruangan persegi empat ini, berjalan menuju lobby, sepanjang perjalanan, kami berpapasan dengan karyawan lain yang juga tengah menuju luar kantor, sekarang memang waktunya jam pulang kerja, perlahan kantor menjadi sepi, seiring dengan para karyawan yang beranjak undur diri.
“Pak Raga??? Mau pulang kerja ya??” sapa salah seorang karyawan yang memiliki jabatan sebagai manager keuangan di kantor ini.
Raga mengangguk, lalu mereka saling menjabat tangan, sejenak mereka terlibat obrolan masalah pekerjaan.
“Oh, begitu ya?? Its oke, saya bisa tanda tangani sekarang, jika itu mendesak” aku mendengar suara Raga samar, karena pandanganku berputar pada orang-orang di sekitarku yang sedang lalu lalang.
Brruukkk ...
“Awwww!!!” aku memegang bahuku, kala kurasakan seorang pria bertubuh tinggi dengan pakaian serba hitam menubruk sebagian tubuhku, dia menggunakan topi, juga masker, aku menatapnya tajam, tapi pria itu segera berlari menuju lift. Siapa dia??. Aku menatap tombol lift, ternyata lift mengangkut orang itu, menuju lantai atas. Aku mengerutkan keningku, siapa orang yang mau menuju lantai atas di jam pulang kerja seperti ini??.
Sebentar ... kenapa penampilan pria itu, seperti penampilan preman yang kemarin menyerangku di kantor ini ya??. Kenapa dia menuju lantai atas?? Bukankah karyawan yang terlibat hutang dengannya, ada di ruangan lantai satu?? Apa dia rampog juga??.
Lantai atas?? Di lantai atas terdapat ruanganku, ruangan Ronald, juga ruangan Direktur.
“Pak! Bapak duluan pergi ke restoran nya! Nanti saya nyusul! Ada barang yang ketinggalan!” ucapku setengah berteriak, berlari tergesa menuju lift, lalu menekan tombol tiga.
“Eh! Bu Andin!” terdengar teriakan Pak Raga, tapi aku tidak peduli, yang ingin kupastikan saat ini, adalah pria tadi, apakah orang jahat yang akan merampok file-file perusahaan atau bukan?? Terlebih di dalam ruanganku terdapat banyak sekali file-file berharga, karena pekerjaan Ronald sebagian telah dilimpahkan padaku.
Tiba di lantai tiga, keadaan hening, semuanya sepi, hanya ada deretan meja dan kursi karyawan yang sudah kosong, kemana perginya orang tadi?? Aku berjalan perlahan sambil mengedarkan pandangan.
Berjalan mengendap-endap, menuju ruanganku sendiri, mengintipnya dari celah kecil jendela kaca, yang kebetulan gorden tipisnya sedikit tersingkap, tidak terlihat ada pergerakan, itu artinya ruanganku kosong, lalu aku mengendap berjalan menuju ruangan Direktur, yang berada di antara ruanganku dan Ronald, juga kosong.
Bbrraaakkk!!!
Aku mengerjap, kala ku dengar ada suara benda jatuh, tepat dari ruangan Ronald. Ah, iya Ronald belum pulang, apa penjahat itu sedang mengancam Ronald sekarang?? Tak bisa di pungkiri, dadaku bertalu cukup kuat.
Aku berjalan mengendap, menuju ruangan Ronald, tapi sayang ruangan Ronald sangat tertutup, hanya terlihat bayangan dari jendela kaca, seperti ada dua orang manusia di dalam sana. Tidak salah lagi, pasti penjahat tadi masuk kedalam ruangan Ronald.
__ADS_1
“Huuuhhhh ...” aku menghela nafas berat, mempersiapkan diriku, haruskah aku menolong Ronald?? Atau membiarkannya saja?? Bukankah selama ini, Ronald sering bersikap semena-mena terhadapku?? Jika aku menelpon security, pasti akan kembali terjadi keributan besar. Apa yang harus ku lakukan sekarang??.
“AAAAAAAAAAA!!!”
Aku kembali mengerjap, kala ku dengar teriakan memekakan telinga terdengar dari dalam sana, apa Ronald sudah dibunuh? Tidak! Aku harus menolongnya, sebagai sesama manusia.
Bbbrrraaakkk!!
Segera aku menendang pintu ruangan Ronald, pintu tidak dikunci, jika tahu begitu, aku tidak akan susah payah menendangnya. Ah ... sial!
Tak ayal, gerakanku, membuat mereka terjingkat kaget, ternyata benar, orang berpakaian serba hitam tadi, tengah menodongkan sebilah pisau tajam ke hadapan wajah Ronald, dan Ronald kini tengah gemetaran, sambil merentangkan kedua tangannya.
“Siapa kamu??!!” teriak orang itu, kini pisau itu diarahkan ke wajahku. Aku menatapnya tajam, mencari celah, titik kelemahan yang bisa kugunakan untuk menjatuhkannya.
“Aku?? Aku temannya Ronald” ucapku santai, kulirik Ronald dengan ekor mataku, kini dia menurunkan tangannya, sambil menyeka keringat yang sudah menjalar dari dahinya. Kaki dan tangannya terlihat bergetar kuat.
“Heh! Perempuan! Sebaiknya kamu jangan ikut campur dengan urusanku! Ini urusan para lelaki!!” teriaknya sinis. Menatapku dengan tatapan elang.
“Haha ... baiklah, silahkan selesaikan urusan kalian, tapi sebelumnya lawan dulu aku!!”
Pria tadi masih memindai tubuhku, sementara itu, dengan gerakan cepat aku segera menendang tangannya yang tengah memegang pisau, konsentrasinya menurun hanya karena melihat tubuhku sedikit meliuk saat hendak menendang tangannya.
“AAAAAAAAAAAA!!!” seketika pria berbaju hitam itu, memegang tangannya, segera dia memasang kuda-kuda untuk melawanku, oke, sekarang kedudukan imbang, kami bertarung tanpa senjata.
Aku melihat ekor mata pria itu, tengah menatap pisau yang tadi sempat terlempar di dekat kaki kursi, aku bisa membaca gerakannya dengan mudah.
“Hiiiiaaatttt!!!” dia kembali ancang-ancang, bersiap untuk menyerangku kembali, dengan sigap aku segera menendang kursi yang berada di sampingku untuk menghadangnya. Dia kelabakan, karena lututnya terbentur kursi lumayan keras.
Sementara itu, ku lihat Ronald kini tengah jongkok, melindungi dirinya di balik kolong meja, dasar pria manja!.
“Haha ... boleh juga rupanya kamu perempuan!!” hardiknya, sambil meludah.
Aku tersenyum sinis, lalu kembali memfokuskan diriku.
Pria itu, menggeser tubuhnya mendekati kursi. Aku langsung bersikap awas, apa dia akan menggunakan senjata?? Apa dia akan menggunakan kursi untuk melawanku???.
Ggrrreeppp ...
Ternyata pria itu meraih pisau yang tergeletak di dekat kursi itu, aku memicingkan mataku, tersenyum sinis, jadi secemen itulah pria yang menjadi lawanku kini. Berani melawanku dengan senjata.
“Sebaiknya kau tidak usah ikut campur dengan urusan kami!” gertaknya, memajukan pisau tersebut tepat di depan hidungku.
__ADS_1
Aku terkekeh geli “Baiklah, aku tidak akan ikut campur, jika kau melakukannya di luar kantor ini” ucapku lantang, seolah menantangnya.
“Cih! Kau! Bersiaplah kau untuk mati! Agar kau bisa merasakan apa yang adikku rasakan!! Bagaimana rasanya tersayat pisau, karena frustasi!!” teriaknya kalap, aku bingung, tapi aku tidak boleh terkecoh, aku masih dalam posisi awas.
“Jangan!!” tiba-tiba Ronald muncul dari balik kolong meja, memajukan langkah mendekatiku dengan tubuh sempoyongan. Lututnya kian bergetar, terlihat dari celana bahan yang dia gunakan tengah bergerak-gerak.
“Haha ... apa perempuan ini kekasihmu?? Apa dia yang membuat kau meninggalkan adikku, hingga adikku bunuh diri??” tanyanya mengarahkan pisau itu pada Ronald.
“Adikmu mati bukan karena ditinggalkan olehku! Tapi karena itu pilihannya! Dia yang terlalu lemah!!” teriak Ronald tak kalah frustasi.
Jawaban Ronald, ternyata malah semakin memperburuk suasana, terlihat pria itu semakin murka, dengan jurus membabi buta, pria itu mengarahkan pisaunya antara aku dan Ronald.
Ronald yang ketakutan, segera menutupi wajahnya dengan jas yang dia gunakan, sambil menundukan wajahnya, nafasnya tersenggal dan terdengar memburu, mungkin saking takutnya.
“KAU JUGA HARUS MATIIIII!!!”
“TIDAK!!”
BLEEESSSSS!!!
“ANDIIINNNN!!!”
“Pppp Pak Rah Gah ... aaaahhhh ...”
Aku menatap nanar pria yang tengah menutup mulutnya, yang kini tengah berdiri di ambang pintu dengan lutut lemasnya.
Ku amangkan tanganku ke udara, dan ku tatap tanganku, terasa darah segar mengalir di antara kami.
Bersambung ...
Hhhuuuhhh ... hhhaaaahhh ... tarik napaaassss ... keluarkaaannnn ...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ...
Like,
Komentar,
Bintang lima,
vote
__ADS_1
Juga share cerita ini ke temen-temen readers semua yaaa ...
Hatur nuhun!.