BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Yes i'will


__ADS_3

“Ayo turun” ucapan Raga membuat Andin sedikit kaget, tanpa dia sadari dia sudah berada di depan sebuah restoran mewah.


Ternyata, Raga sudah membukakan pintu mobil untuknya, tersenyum lembut, malam ini Raga terlihat begitu tampan.


Andin tersenyum, lalu turun dari dalam mobil, Raga bersiap mengulurkan tangan untuk Andin, tapi urung, karena Andin lebih memilih tidak berpegangan pada tangan Raga.


Mereka berjalan beriringan menuju ke dalam restoran tersebut, hingga tiba di salah satu meja pilihan Raga, mereka mendaratkan bokong di kursi masing-masing.


Raga melambaikan tangannya pada pelayan, pelayang datang kemudian mencatat makanan pesanan Raga.


“Cinta, malam ini kamu cantik sekali” Raga menopang wajahnya, dengan kedua tangannya, menatap lekat pada Andin, yang tengah tersipu dengan rona di wajahnya.


“Pak ... jangan panggil Cinta terus ih” Andin merajuk,


“Kalau tidak boleh panggil Cinta, sayang aja boleh ya” Raga tersenyum, semakin menggoda Andin yang semakin merona, saat bersama Raga gadis itu sejenak melupakan masa lalunya.


Sejenak mereka terlibat obrolan receh, sesekali mereka tertawa, tenggelam dalam cerita masing-masing.


“O ya, ini ada titipan dari Ambu” Raga menyodorkan beberapa paper bag ke hadapan Andin, saking asyik melamun tadi, Andin tidak sadar jika Raga tadi menenteng paper bag.


“Ambu? Maksudnya?” Andin mengerutkan keningnya dalam.


“Kemarin saya mendatangi kedua orangtua kamu” Raga mulai menjelaskan setelah suasana terasa kondusif.


“Untuk apa??” terlihat Andin menegang, dia tidak percaya akan apa yang dikatakan Raga. mungkinkah Raga sedang menggodanya?.


“Saya ingin meminta restu kepada beliau” ucap Raga setenang mungkin.

__ADS_1


“Restu untuk apa Pak??” nada Andin sudah kecewa.


“Restu untuk hubungan kita” jawab Raga santai.


‘jadi ini alasan Pak Raga hilang dua hari tanpa kabar??’ batin Andin bermonolog.


“Kenapa Bapak tidak bilang dulu sama saya??” Andin mulai menaikan nada suaranya, baginya hubungannya dengan Raga belum seserius itu, hingga Raga harus mendatangi kedua orangtuanya.


“Cinta ... saya pikir hubungan kita belakangan ini sudah ada kemajuan, saya pikir sikapmu beberapa hari terakhir adalah bukti jika kamu sudah mau membuka hatimu untuk saya” Raga masih dalam keadaan tenang, sementara Andin hanya menatap Raga dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Saya bukan lagi laki-laki dengan usia remaja, seperti yang kamu pernah bilang, saya adalah pria dewasa, yang sudah sangat mendambakan hangatnya keluarga, oleh karenanya ... menikahlah dengan saya Andin”


Seketika Raga berdiri, lalu bersimpuh di bawah kaki Andin yang tengah terduduk dengan mulut menganga, dengan sebuah kotak berwarna merah, yang disodorkan pada Andin, suasana restoran mewah itu menjadi riuh, banyak orang yang berbisik-bisik saat melihat adegan romantis di hadapan mereka, mereka menatap Andin, menanti jawabannya sama seperti Raga,


“Saya sangat mencintai kamu, dari awal kita bertemu, saat kita berpisah, hari ini, dan mungkin untuk selamanya” lanjut Raga, wajahnya menengadah, menatap Andin, memohon jawaban YES!.


Andin masih mematung, beberapa detik kesadarannya mengambang, bimbang, ragu, bingung, jawaban apa yang harus diberikannya pada Raga? Andin menatap sekitarnya, ada puluhan pasang mata yang tengah memperhatikannya, ada yang menatap dengan kagum, namun lebih banyak yang menatapnya dengan tatapan iri.


“Pak ... bangun, jangan begini” Andin berbisik.


“Saya akan bangun, kalau kamu mengatakan YES!” mohon Raga.


Andin menghela napas panjang, penantian Raga selama ini, mungkin membuat Raga menjadi tidak sabaran lagi.


Tapi sekilas, Andin tersenyum, meraih benda kotak yang ada di genggaman Raga.


“Yes, i will” Andin mengangguk.

__ADS_1


Seketika, tubuh Raga ambruk di lantai, mengusap wajahnya berulang kali,


“Saya pikir, kamu akan menolak lamaran saya lagi” Raga bangun dari duduknya, tatapan mereka saling bertemu, ada tatapan bahagia dari Raga, dan ada tatapan sulit diartikan dari Andin.


“Kamu juga mencintai saya kan?? Kamu tidak terpaksa harus menerima saya kan??” lanjut Raga dengan mata berbinar.


Andin terdiam sejenak, dia pikir siapapun akan menjadi serba salah jika dilamar dalam posisi seperti ini. Diterima masih belum cinta, ditolak malu sudah di lihat banyak orang.


“Cinta ...”


Andin mengerjap, “Hmmmhhh” ucap Andin sambil mengangguk.


“Terimakasih ...” ucap Raga dengan senyum jumawanya.


Raga menggenggam tangan Andin, genggamannya terasa hangat, untuk pertama kalinya Andin membiarkan orang lain menggenggam tangannya, tanpa gerakan refleks.


“Ciiieeee ... peluk! Peluk! Peluk!” seketika orang-orang yang dari tadi menatap mereka langsung menginstruksi, sambil bertepuk tangan, ikut baper akan apa yang terjadi di hadapan mereka.


“Belum muhrim ...” Raga mengibaskan tangannya, tersenyum lebar, sambil kembali menuntun Andin untuk kembali duduk di kursinya.


Penonton semakin kagum dengan tingkah Raga, tentu saja pria yang mau menjaga kehormatan perempuannya, adalah pria idaman seluruh wanita, di tambah penampilan Raga yang cool, calm, juga ketampanannya di atas rata, ditambah lagi, Raga itu adalah pria mapan yang memiliki harta kekayaan berlebih, jadi kurang apalagi Raga sebagai seorang pria???.


“Terimakasih ...” sekali lagi, Raga mengucapkan kata itu, dengan perasaan teramat bahagia.


Andin membalas ucapan Raga, dengan tersenyum simpul.


“Sama-sama”

__ADS_1


__ADS_2