BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Virus Cinta


__ADS_3

“Jadi kapan kamu mau nikah?? Ambu denger katanya ada yang udah di lamar, tapi kok Ambu gak di kasih tahu”


Terdengar suara Ambu di seberang sana begitu antusias, aku mendesah pelan, menggulingkan tubuhku di atas kasur empuk kesayanganku, kasur kecil yang hanya muat untuk diriku sendiri. Memejamkan mata merasai setiap perasaan aneh yang baru kali ini aku rasakan.


“Siapa yang bilang Ambu??” tanyaku lembut, rasanya rindu sekali pada Ambu, ingin segera memeluk, mencium, dan mencurahkan segala kemelut dalam hatiku, tapi ... karena keegoisan diriku, kami semua jadi harus saling menahan rindu, bagaimana caraku menebus semua keegoisanku di masa lalu itu? Ah ... rasanya aku begitu menyesal.


“Ya adalah pokoknya, sejenis angin yang semilir, yang ngasih tahu Ambu” Ambu terdengar terkikik di ujung sana.


“Loh?? Bukannya dari rumput yang bergoyang ya??” terdengar suara Abah yang menyahut, aku semakin tergelak, andai sekarang aku berada di antara mereka, sudah pasti aku sekarang sedang tiduran di pangkuan Ambu, sambil di jaili Abah, ah ... aku rindu!.


“Abaaaahhh ... bukan!” terdengar suara lengkingan Ambu, aku yakin jika kini Ambu sudah dalam mode siaga untuk menyerang Abah, haha.


“Loh?? Tadi kita sepakatnya kan begitu, waktu Siti ngabarin kita” nah kaaaannn, ketahuan sudah, Abah memang bukan tipikal orang yang mudah berbohong, Abah cenderung polos jika untuk hal semacam itu.


“Ah ... Abah mah gimana sih?? Gak jelas, jadi yang bener itu, angin semilir atau rumput bergoyang??” suara Ambu begitu melengking. Sekali lagi aku terpingkal akan kelakuan Abah dan Ambu, tanpa mereka sadari mereka telah jujur padaku, tentang orang yang mengabari mereka akan hubunganku dan Pak Raga. Tentu saja Siti, memang siapa lagi orang yang tahu keseharianku dan akan melapor pada keluarga di kampung selain Siti?.


“Oh, jadi Siti??” ucapku sambil membekap mulut, tidak tahan dengan candaan Abah pada Ambu, Abah itu cinta pertamaku, jelas aku sangat mencintainya dengan segenap hatiku, mimpiku adalah memiliki suami yang sama seperti Abah, penyayang, bijaksana, humoris, juga tegas. Abah is the best banget pokoknya.


“Eeeehhhh bukaaannnn!! Ini semua gara-gara Abah nih, jadi keceplosan” ujar Ambu dengan nada melengking, aku yakin sekarang Ambu lagi misuh-misuh, sambil menggigit dasternya, memukuli lengan Abah dan mengerucutkan bibirnya sepanjang lima senti, haha.


“Eeehhh, Ambu jangan marah-marah terus atuh, nanti Ambu gak mirip Raisa lagi” Abah dengan logat khas kampung Suka Kayaknya, mulai bergombal ria, salah satu jurus untuk merayu Ambu agar tidak kesal lagi.


“Pokoknya Neng, Ambu mau kamu secepatnya menikah, memang apalagi yang mau kamu tunggu?? Usia kamu sudah cukup untuk menikah, lagi pula Nak Raga itu anak yang baik menurut Ambu, kalau kamu sudah menerimanya, kami merestui Neng, kamu tahu tidak?? Si Fitri temen kamu anaknya udah dua, si Dino juga udah otewe dua, eh?” terdengar suara Ambu terjeda, aku yakin kini Abah tengah menyenggol-nyenggol bahu Ambu, aku hanya bisa tersenyum, hatiku sedikit bergetar, mendengar kabar tentang Dino.


“In sya Allah Ambu, nanti akan Andin bicarakan lagi dengan Pak Raga” ucapku akhirnya, tubuhku sedikit melemah kala bayangan itu kembali hadir dalam ingatanku, ah ... rasa ini, aku sungguh ingin mengutuknya.


“Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat ya, jangan lupa makan teratur, shalat harus tepat waktu, Ambu doain kamu bahagia terus, dan lagi ... pulang atuh geulis, Ambu dan Abah Rindu” Ambu terdengar mengiba. Hatiku Pun menjadi tidak baik-baik saja sekarang, terlalu banyak keegoisan di masa lalu yang aku turuti, hingga membuat kedua orang tuaku harus ikut menanggung rasa tidak nyaman ini. Aku memang jahat!.


“Baik Ambu, Andin akan pulang, tapi nanti, setelah waktunya kondusif” kuputuskan untuk menutup perbincanganku dengan Abah juga Ambu di seberang sana.

__ADS_1


Aku meletakkan ponselku di atas bantal, di samping kiriku, setelah selesai berbicara dengan Ambu dan Abah, sejenak aku terdiam, merenungi apa yang telah terjadi selama ini, dan apa yang akan ku lakukan di masa depan?.


Memilih Pak Raga sebagai pendampingku, apakah itu hal yang tepat?. Jujur, hatiku belum sepenuhnya yakin akan keputusanku sendiri.


Apalagi, setelah kemarin melihat sikap Pak Raden, Ayah nya Pak Raga, rasanya aku semakin tidak yakin akan pilihanku, akan bagaimana nasibku kedepan?? Jangan-jangan adegan di sinetron yang menampilkan mertua suka menyiksa menantu, akan terjadi padaku lagi, hhhiiiiyyy ... seketika aku bergidik ngeri.


Ting!


Aku menoleh pada ponsel yang kini sudah berkedip, menandakan ada notifikasi chat masuk ke ponselku.


Aku segera mengusap layar, lalu membaca pesannya, ternyata dari Pak Raga. Aku tersenyum membaca isi chat nya, yang membrondongku dengan banyak pertanyaan sekaligus.


Cinta, sudah makan?


Cinta, lagi apa?


Cinta, sudah tidur belum?


Cinta, besok saya jemput kamu ya?


Aku tersenyum geli, jadi pesan mana dulu yang harus aku balas?.


Dddrrrttt ... dddrrrttt ... ddrrrttt ...


Begitulah Pak Raga, jika pesannya tidak dibalas, maka dengan segera, dia akan langsung menelponku. Baiklah, mari kita bertelepon ria dengan pacar, biar seperti anak muda yang baru mengenal cinta, sesekali, tidak ada salahnya kan, bertelpon ria hingga tengah malam dengan pasangan?? Itu hanya modusku saja yang akhir-akhir ini perasaannya tengah tak menentu karna cinta Pak Raga hheee.


“Hallo ...”


“Cinta, kenapa pesan saya tidak dibalas??”

__ADS_1


“Maaf ...”


“Kamu sibuk??”


“Tidak ...”


“Tapi kok gak di balas??”


Duh ... Pak Raga tuh kenapa sih?? Belum aku selesai menjawab, tapi sudah langsung menodongku dengan pertanyaan lain, gak sabaran banget.


“Saya tadi menelpon Abah dan Ambu, jadi pesan Bapak belum dibaca”


“Oh ... saya pikir, kamu tidak mau lagi membalas chat saya”


“Enggak kok Pak”


“O ya, kamu besok mau pakai baju warna apa??”


Waitttt!!! Jangan bilang Pak Raga mau pakai baju samaan sama aku, tidaaaakkkk!!!.


“Kenapa gitu Pak??”


Duh ... Pak Raga kenapa banget sih?? Jadi kekanakan kayak gini?? Padahal kalau di kantor, Pak Raga tuh pimpinan yang tegas, datar, berwibawa, bijaksana, kadang juga bersikap dingin, namun juga loyal. Tapi sekarang kenapa Pak Raga jadi gini sih??.


“Emmmhhh ... gak apa-apa, hanya ingin tahu saja”


“Mungkin, warna pink” ucapku ngasal, aku?? Pakai warna pink?? Hahahaha ... ( ketawa gaya iklan shampoo).


“Ooohhh, gitu yah” terdengar bunyi krasak-krusuk di ujung sana, Pak Raga nelpon sambil ngapain sih??.

__ADS_1


Akhirnya aku sungguh terkena virus pacaran ala anak muda, aku bertelpon ria sama Pak Raga hingga tengah malam, hingga aku ketiduran tanpa sadar, bahkan aku lupa mematikan ponselku.


__ADS_2