
Hari telah berganti, di hari minggu yang cerah, sesuai dengan kesepakatannya Raga kini tengah menjemput Andin di rumahnya, Raga menunggu Andin selesai bersiap di ruko milik Siti, setelah Siti menyuguhkan minuman dan beberapa camilan, Siti langsung ngacir kembali ke kamar Andin, berusaha untuk membantu sahabatnya, yang sama sekali tidak bisa berdandan, apalagi ditambah dengan rasa gugup yang tengah menguasainya, Andin semakin tidak fokus ketika berdandan.
“Siti, aku takut banget, gimana kalau nanti ternyata Mamanya Pak Raga itu ternyata galak?” Andin mulai gemetaran sendiri, terlihat dari tangannya yang tengah memegang spon bedak yang digunakannya. Seketika ingatannya kembali kepada masa silam, dimana dirinya berdandan untuk pertama kalinya kala Ia tengah cemburu pada Maira, dia ingin menunjukkan pada Dino bahwa Andin juga bisa tampil cantik seperti Maira, namun kala itu usaha Andin gagal, Dino malah menertawakannya, dan mulai saat itu Andin semakin tidak suka berdandan menor ala perempuan kekinian.
“Udah, santuy aja, belum tentu juga beliau galak kan??” Siti membantu menata rambut Andin, agar terlihat lebih fresh. Siti terus mengucapkan kata-kata yang bisa membuat sahabatnya itu lebih percaya diri lagi.
“Duh ... aku deg-degan” Andin memegang dadanya, lalu beralih menyambar sebuah pensil alis, memutar-mutarnya di udara, seolah ingin tahu bagaimana cara menggunakannya, perlahan dengan rasa yang kurang yakin, Andin mulai menorehkan pensil alis, pada alisnya.
“Tapi ya Din, kalau menurut buku yang sudah aku baca, kebanyakan di ceritakan kalau mertua itu suka pada jahat, apalagi kalau mereka punya anak satu-satunya, mereka akan beranggapan, kalau menantu sudah mengambil kasih sayang anak darinya, gitu Din” Siti mengedikkan kedua bahunya, membuat Andin yang tengah fokus mengukir alis dengan napas tertahan, merasa semakin gugup saja.
“Teeee-nnnaaaaanngg, aaakkkuuuu adalaaahhh Andiiinnn, aaaaaawwww!! Siti! Gara-gara kamu! Lihat ini alisnya jadi miring ke kiri!” Andin berdecak sebal, karena dia jadi tidak fokus mengukir alis, akibat memikirkan perkataan Siti barusan.
“Lagian, kalau gak bisa dan-dan ngapain dan-dan segala sih?? Kamu tau gak?? Pak Raga udah lumutan nungguin kamu dan-dan dari tadi” Siti memutar kedua bola matanya.
“Aku harus cantik maksimal Siti, biar langsung direstui, biar gak kebanyakan drama” Andin kini sudah fokus menghapus alisnya yang gagal menggunakan micellar water.
“Heran deh, biasanya kamu apa adanya, sekarang kenapa jadi adanya apa??” Siti mulai kesal sendiri, merasa heran dengan sahabatnya, yang biasanya berdandan alakadarnya, bahkan ketika bertemu dengan pak Raden, dan kini Andin terlihat berusaha keras untuk bisa meluluhkan hati calon mertua perempuannya.
“Kamu gak akan paham, gimana berdebarnya dada aku sekarang Siti, aku takut banget, grogi” Andin mengipaskan jemarinya ke wajahnya, sebagai upaya menetralisir kegugupannya.
“Halah, lebay ... kalau gak di restuin, tinggal kasih aja jurus kucing ngamat, beres” kelakar Siti, lagi-lagi membuat Andin mendelik tidak suka, bagaimana mungkin Andin harus mengeluarkan jurus kucing ngamat pada calon mertuanya? Yang ada Andin akan langsung dipecat jadi kandidat calon menantu.
“Kemarin, Pak Raden dengan mudah bisa kamu taklukan, sekarang masa Ibunya gak bisa kamu bereskan” Siti menepukkan kedua tangannya, seolah meremehkan Andin.
“Bukannya kamu bilang, mertua perempuan lebih ganas dari pada mertua laki-laki??” Andin menatap Siti dari pantulan cermin.
“Iya sih, ya udahlah sini aku dandanin kamu, biar cepet!” akhirnya Siti memutuskan untuk ambil alih, tadi Andin begitu ngeyel ingin bertemu calon mertua dengan dandanan ala dirinya sendiri, tapi bukannya selesai, malah bikin tambah lama.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu, akhirnya Siti berhasil mengerjakan tugasnya.
“Nah, selesai, udah cantik kamu” Siti mengoleskan kuas terakhirnya, lalu tersenyum menatap Andin dari pantulan kaca. Andin ikut tersenyum, merasa puas dengan hasil karya Siti, Siti memang paling tahu apa yang diinginkan Andin.
“Pak, maaf lama nunggu” ucap Andin kala dia baru tiba di lantai bawah, menemui Raga.
“Tidak apa-apa, kamu cantik sekali hari ini” ucap Raga tulus.
“Terimakasih banyak Pak” Andin menunduk tersipu, dengan pipi meronanya. Gadis berhati karang tersebut, kini tengah mengalami fase jatuh cinta, hingga tingkahnya menjadi sangat menggemaskan di mata Raga.
“Yuk berangkat” Raga berjalan mendahului Andin, lalu Andin mengekorinya dari belakang.
“Selamat bersenang-senang!!” ucap Siti yang kini tengah di abaikan. Dan hanya mendapatkan lambaian tangan dan senyuman gugup dari Andin.
“Andin, semoga kamu bisa bahagia mulai sekarang” gumam Siti tulus, sejurus kemudian gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, bersiap-siap untuk membuka kedainya.
“Kamu gugup ya??” Raga terkekeh kala melihat Andin tengah meremas kedua tangannya yang saling bertautan.
“E enggak kok Pak” kelak Andin, berdusta.
“Saya gak nyangka, kalau perempuan sepemberani kamu, bisa grogi juga kalau mau bertemu calon mertua” Raga semakin tergelak, merasa puas karena berhasil menggoda Andin.
“Paaakkk” Andin merajuk, gadis itu melipat kedua tangannya di dada, sambil mengerucutkan bibirnya.
“Haha, santai saja, Mamah itu orangnya lembut banget kok” Pak Raga mencoba membesarkan hati Andin yang mulai menciut.
Sepanjang jalan, mereka hanya terdiam, tenggelam dengan pikiran masing-masing, meskipun Raga sudah mencoba membuat Andin rileks, tapi tetap saja hati Andin masih terasa dag-dig-dug-derrr.
__ADS_1
Perjalanan lumayan jauh, hampir dua jam mereka berkendara, tapi belum juga tiba di tempat tujuan.
Hingga pada akhirnya, mereka tiba di sebuah rumah yang sangat megah, dengan halaman yang sangat luas, mobil berhenti, lalu Andin mengedarkan pandangannya.
“Ini rumah Bapak??” tanya Andin tidak percaya.
“Ini rumah Mamah saya, saya selama ini tinggal di apartemen, karena jaraknya lebih dekat ke kantor” jawab Raga ketika membukakan pintu mobil untuk Andin.
Andin turun dari dalam mobil, lalu berjalan mengikuti langkah Raga, semakin dia mendekati rumah besar tersebut, semakin hatinya tidak karuan.
“Tenang yaaa, kamu kelihatan tegang banget” Raga tersenyum lembut, berusaha menenangkan. Andin mengangguk pelan, dengan senyuman dipaksakan.
“Assalamu’alaikum ...” Raga mengetuk pintu, setelah mengucapkan salam.
“Wa’alaikumsalam ...” terdengar jawaban salam dari dalam sana, suaranya merdu dan lembut.
Kkkrriiieeettt ...
Pintu dibuka, dan muncullah seorang wanita cantik dengan usia yang sudah tidak muda lagi, perempuan itu tersenyum lembut ke arah mereka. Terlihat betul penampilan rumahan khas orang kaya, meskipun dia memperlihatkan sisi sederhananya.
“Sayang, kenapa baru datang??” perempuan itu memeluk Raga erat.
“Maaf Mah” ucap Raga sambil membalas pelukan dari sang Ibunda tercinta, sementara Andin hanya menyimak.
“Oh iya Mah, kenalin ini Andin” setelah puas berpelukan, akhirnya Raga menyadari niat utama mendatangi Ibunya.
“Andin?? Andin siapa lagi?? Bukannya hari ini, kamu berjanji akan membawa gadis yang bernama Bunga???” terlihat Ibu Raga menatap Andin dengan tatapan bingungnya.
__ADS_1
“Apa??? Bapak bohongin saya???”