BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Trauma


__ADS_3

Matahari telah merambat naik, bahkan mungkin sebentar lagi matahari akan segera pergi ke peraduannya, cuaca cukup panas sore ini, waktu menunjukan pukul empat sore hari, sementara itu, di sebuah restoran yang cukup elit, sepasang manusia, masih betah berlama-lama di sana, menikmati makan siangnya dengan asyik. Sesekali, tawa mengguar seolah mereka lupa akan kesedihan di masa lalu yang sempat membelenggu.


Mereka adalah Andin dan Raga, mereka duduk saling berhadapan, setelah selesai meeting dengan client, mereka memutuskan untuk menikmati makanan penutup bersama, terlihat keduanya semakin akrab dan semakin dekat, sesekali Raga tertawa karena tingkah Andin yang menurutnya menggemaskan, dan sesekali Andin memberengut karena Raga selalu menggodanya.


“Cinta, sekarang usiamu berapa??” tanya Raga setelah tawa mereka reda.


“Emmmhhh ... dua puluh empat, sebentar lagi dua puluh lima” jawab Andin, tangannya masih aktif mengaduk minuman kesukaannya.


“Dua puluh lima ya?? Sudah kepikiran untuk menikah??” Raga menatap Andin dengan lekat, berharap kali ini usahanya tidak akan sia-sia lagi.


“Uhuk ... “ Andin terbatuk, lalu menghentikan kegiatannya, kini tangannya sibuk menyeka mulut juga matanya yang berair.


“Kenapa?? Hati-hati ...” kini tangan Raga siap membantu Andin, namun Andin segera menepisnya seolah tidak nyaman.


Raga menjauhkan tangannya, kecewa, karena pada kenyataannya gadis yang sangat dicintainya ini, selalu menolak bantuan juga perlindungannya. Dan hal ini selalu membuat Raga merasa tidak berguna ketika di hadapan Andin.


“Emmhh ... saya masih belum kepikiran untuk menikah Pak, saya masih ...” ucapan Andin menggantung, kala Raga langsung menyambar ucapan Andin.


“STOP!!” Raga menghentakan tangannya di udara.


“Jangan katakan apapun jika itu tentang penolakan lagi, saya akan terus bertanya sama kamu, hingga kamu mengatakan YES!!” ucap Raga dengan tegas.


“Tapi Pak ...” Andin kembali ingin menjelaskan sesuatu, tapi Raga segera menggelengkan kepalanya berulang kali.


“Tidak ada kata apapun selain YES!” ucap Raga semakin mempertegas kata-katanya.


Andin menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, hatinya sedikit tergugu melihat perjuangan Raga selama ini, menunggunya, membantunya, dan membiarkan dirinya memilih jalan yang diinginkannya. Raga buka orang yang egois, dia menunggu dalam waktu yang cukup lama, Andin sadar selama ini, dirinyalah yang sudah egois, meski Andin tidak pernah meminta Raga untuk menunggu, tapi Andin sadar perjuangan Raga tidaklah mudah.


Tentu saja, Raga ingin mendapatkan jawaban yang memuaskan dari hasil perjuangannya.


Namun, bukan Andin namanya, jika dia tidak keras kepala, Andin hanya sedang menata hatinya, untuk bisa mencintai Raga dengan tulus, karena Andin tidak ingin berpura-pura mencintai Raga, sementara Raga sudah menaruh harapan besar padanya.


“Maaf Pak ...” Andin menundukan kepalanya.


“Apa kamu masih menganggap saya sebagai guru yang sangat mencintai muridnya?? Apa kamu masih menganggap saya sebagai boss yang mencintai bawahannya?? Jauh dari itu Cinta, saya sangat mencintai kamu sebagai seorang pria kepada seorang wanita” kini suara Raga bergetar hebat, entah menahan malu, atau menahan amarah.


“Tidak” Andin menggelengkan kepalanya,

__ADS_1


“Maka hanya katakan YES untuk pertanyaan saya yang satu itu, jika jawaban kamu masih NO, saya akan kembali menunggu, hingga jawaban kamu menjadi YES!” ucap Raga tegas.


“Maaf ...” Andin semakin menundukan kepalanya.


“Its oke Cinta, saya bisa menunggu kamu selama enam tahun, saya yakin, saya juga bisa menunggu kamu lagi, selama yang kamu inginkan” Raga tersenyum. Miris.


“Terimakasih, beri saya sedikit waktu lagi” Andin mengangkat wajahnya perlahan.


“Tentu” Raga mengangguk, tersenyum hangat dan lembut seperti biasanya.


“Saya antar kamu pulang” ucap Raga saat Raga sudah selesai membayar makanan yang mereka pesan.


“Tidak usah Pak, saya bisa pulang sendiri” tolak Andin, membuat Raga agak jengkel.


“Sesekali, terima tawaran orang lain, sesekali terima perlindungan orang lain, sesekali andalkan orang lain” Raga menoleh ke arah Andin yang kini berdiri tepat di sampingnya.


“Saya tidak butuh perlindungan orang lain Pak, saya kuat, saya mampu melakukannya sendiri” ucap Andin sambil memeluk tubuhnya sendiri, hujan mulai turun, padahal tadi cuaca cukup trik. Kini mereka berdiri di luar kafe, mencoba berteduh sebelum sopir Raga menjemput.


“Kadang, sesekali bersikap lemah itu tidak apa-apa” Raga menggeleng, sambil menggumam.


“Saya tidak lemah Pak, saya kuat” Andin masih saja mempertahankan ego nya.


“Saya antar kamu pulang” lanjut Raga setelah mobil yang mereka tunggu sudah ada di hadapan mereka.


“Tapi ...”


“Sudah, ayo masuk” Raga menuntun tangan Andin, hingga gadis itu mau tidak mau mengikuti langkah Raga.


Raga membuka jas yang digunakannya, untuk melindungi tubuh Andin, membuka pintu mobil, lalu mempersilahkan Andin masuk kedalam mobilnya. Untuk pertama kalinya, Andin merasa tengah betul-betul dilindungi.


Tidak ada percakapan apapun di dalam mobil, semuanya hening, tidak ada yang berani memulai perkataan apapun.


“Terimakasih Pak “ ucap Andin, saat mereka sudah tiba di depan tempat tinggal Andin.


“Sama-sama Cinta, mulai besok, mari kita pulang bersama” ucap Raga sebelum mobil yang ditumpanginya benar-benar melaju. Andin hanya bisa terdiam, lalu tersenyum kikuk, menatap kepergian Raga.


“Hayo!!! Kamu udah pacaran sama Pak Raga ya??!!” Andin terlonjak, saat Siti mengagetkan dirinya yang masih mematung di luar.

__ADS_1


“Enggak kok” Andin melengos, lalu dia berjalan memasuki rumahnya.


“Bohong! Sudah sejauh mana hubungan kalian??” Siti mengintimidasi, mengikuti langkah Andin yang menaiki tangga.


“Siti, aku sama Pak Raga itu, belum memiliki hubungan apapun” Andin menghentikan langkahnya, menatap Siti dengan jengkel.


“Serius?? Ya Allah ... gustiiii, punya temen kok gini amat ya?? Aku pikir kalian itu sudah membicarakan hubungan kalian ke tahap selanjutnya” Siti melengos kecewa.


“Jangan kayak anak kecil deh, aku itu gak butuh pasangan” Andin kembali melanjutkan langkahnya.


“Eh?? Udin! Istighfar kamu! Manusia hidup itu butuh pasangan, kamu itu kok gak bersyukur banget sih jadi orang?? Ada Pak Raga yang punya segalanya naksir kamu, kamunya malah gak mau, teu ngarti aku mah sama kamu Din!” Siti menghentakan kakinya, berjalan melewati Andin yang tengah melongo.


“Kamu kayak anak kecil banget Siti! Kamu tahu aku! Aku itu masih trauma!” Andin berteriak, menyusul sahabatnya yang sudah berada di ambang pintu kamarnya.


“Kamu gak mau bangkit dari rasa trauma kamu Din! Kamu gak berusaha! Kamu gak mau membuka hati kamu buat orang lain! Kamu hanya terus tenggelam dengan perasaan sepihak kamu sama Dino, kamu sadar gak?? Gara-gara sikap egois kamu, ada banyak orang yang menderita!!” Siti mulai berapi-api.


“Maksud kamu apa Siti!!” Andin tak kalah berang.


“Fikirin hati Abah sama Ambu di kampung, mereka sedih lihat kamu kayak gini, fikirin hati Pak Raga yang sudah kamu sia-siain, sementara Dino! Dino Aldino yang sangat kamu cintai itu, sekarang sudah hidup bahagia bersama istrinya, dan juga anaknya! Mikir Din mikiiiirrr!!!” bentak Siti gemas sendiri.


“Bu bukan begitu maksudku Siti!”


“Eling Udiiiiinnnnn Elllliiiiiiinnnngggg!!!”


Bersambung ....


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ...


Like


Komentar


Bintang lima


Vote


Juga share cerita ini yaaaa,

__ADS_1


Hatur nuhun.


__ADS_2