
Pagi ini, di sebuah bangunan menjulang, tengah terjadi sebuah kehebohan, bagaimana tidak? Seorang perempuan yang berstatus karyawan baru, yang memiliki tubuh semampai, paras cantik alami, tapi dia mampu mengalahkan tiga preman dengan postur tubuh yang lumayan mengerikan.
Semua mata, menatap Andin ketika dia melewati koridor menuju ke ruangannya, ada yang seketika tubuhnya bergetar ketakutan, ada yang tersenyum kikuk, ada pula yang masih berdecak tak percaya. Beberapa mata masih saja tertuju pada sebuah video yang di jadikan status berbagai media sosial, video ketika Andin tengah adu jotos dengan tiga preman.
“Selamat pagi Bu ...” sapa salah seorang dari mereka, dengan tubuh gemetar, dan jari saling bertautan mungkin karena ketakutan.
“Pagi ... dimana ruangan saya??” tanya Andin, menatap pria muda di hadapannya dengan tatapan tajamnya.
“Di di sebelah sana Bu, mari saya antar” pria muda itu menunjukkan arah, berjalan mengendap di belakang Andin.
Hening ...
“Ekhem! Ibu sangat keren sekali tadi” ucap pria itu memberanikan diri.
“Siapa namamu??” tanya Andin memutar tubuhnya, kembali menatap pria yang mengekorinya.
“Na nama saya, Renaldi Bu, tapi panggil saja Rey, saya ditugaskan untuk membantu Ibu, jika Ibu masih bingung dengan pekerjaan di sini, karena Pak Ronald kebetulan belum datang pagi ini” jelasnya, masih dengan jari yang saling bertautan, keringat dingin mulai menjalari tubuhnya.
“Oh, ok Rey, saya minta jadwal kerja saya sebagai wakil pimpinan dari Pak Ronald” ucap Andin, nampak tak ingin berbasa-basi,
“Hah?? O oh, kalau masalah itu, sa saya harus konfirmasi dulu pada Pak Ronald Bu” Rey semakin ketakutan.
“Apa maksudmu?? Jadi maksudmu aku harus menunggu Pak Ronald, sementara client kita sedang menunggu? Begitu?” tanya Andin sarkis, sungguh perempuan itu kini sudah tumbuh menjadi perempuan yang lebih kuat, tangguh, dan sedikit garang. Jika untuk masalah pekerjaan, maka dia akan melakukannya mati-matian, mungkin itu juga yang membuatnya naik jabatan dan di mutasi ke cabang baru dengan prestasi yang yang sangat cemerlang, hanya dua tahun, waktu yang Andin habiskan untuk menjalani harinya menjadi seorang karyawan biasa.
“Emmhhh ... bu bukan begitu Bu” Rey menggeleng semakin ketakutan.
“Ayo berikan jadwalnya! Saya dengar, hari ini kita ada meeting dengan perwakilan dari perusahaan yang cukup sulit di temui” Andin menengadahkan tangannya, meminta jadwal pertemuannya dengan beberapa client hari ini.
“Ta tapi Bu, saya bisa mati di bunuh Pak Ronald, selama ini, tidak ada yang berani melanggar perintahnya” jelas Rey terbata.
“Oooohh ... jadi kamu mau melanggar perintah saya??” Andin semakin sewot.
“Bu bukan Bu” Rey menggeleng.
Kkrriinngg ... kkrriinngg ... kkrriiinngg ...
Telpon di samping Andin berdering, Andin segera mengangkatnya.
“Hallo ...”
“...........”
“Iya, saya sendiri”
“........”
__ADS_1
“Ohhh ... begitu ya?? Oh, baik kalau begitu, iya, saya bisa pergi sekarang, baik”
Truth ...
Telepon ditutup, Andin menatap Rey lekat, pria itu semakin gemetaran, jarinya mulai menyeka keringat yang turun di pelipisnya.
“Ayo kita berangkat! Meeting diadakan di cafe Mentari” Andin kembali menenteng tas dan beberapa berkas yang berada di atas mejanya.
“Ta tapi Buuuu ... aduuuhh ... tamatlah riwayatku!” Rey menggaruk kepalanya, mengacak rambutnya, lalu berjalan mengekori Andin di belakangnya.
Andin kembali berjalan dengan gaya elegant nya, melewati orang-orang yang menatapnya dengan wajah bingung, juga takut.
“Rey! Kenapa muka kamu pucat banget??” tanya salah seorang karyawan setengah berbisik, kala mereka tengah menunggu lift untuk turun ke lantai satu.
“Sepertinya, aku harus segera menyiapkan surat pengunduran diriku, lalu aku akan kembali melanjutkan cita-citaku, untuk menjadi seorang penulis novel terkenal,” Rey menggeleng pelan, lalu mengetuk keningnya berulang kali.
“Memangnya kenapa??” karyawan itu kembali berbisik.
“Karena di muka bumi ini, harusnya hanya ada satu matahari” Rey menggeleng, setengah ingin menangis, saking prustasinya.
“Ekkkhheeemmm!!!” terdengar deheman Andin, yang mendengar bisikan dua orang yang ada di sampingnya.
Ting!
Dua jam berlalu ...
“Waaahhh ... Ibu ternyata hebat banget! Ibu bisa mengambil hati Pak Wangsa, padahal beliau itu termasuk partner kerja yang repot lho Bu, proyeknya mendunia, biasanya dia tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan yang ada di indonesia, apalagi kalau perusahaannya masih belum berkembang” Rey berdecak kagum, berkali-kali dia memuji Andin, tapi Andin hanya terdiam, dia tetap berjalan, dengan penuh percaya diri, setelah dia selesai meeting, dan kini, mereka tengah di perjalanan menuju kantornya kembali.
“Kharisma Ibu melebihi kharismanya Pak Ronald lho, selama ini Pak Ronald bekerja dengan tegas dan sangat galak, tapi beliau tidak pernah mendapatkan client sebesar Pak Wangsa lho” Rey kembali berceloteh.
Andin menoleh ke belakang, menatap Rey yang juga tiba-tiba menghentikan langkahnya, lalu menundukkan kepalanya.
“Ma maaf ...” Rey menundukkan kepalanya berulang kali.
“Kamu sudah menyiapkan jadwalku selanjutnya Rey??” tanya Andin kembali berjalan, menuju parkiran.
“Su sudah Bu ... ta tapi ...” Rey menjeda ucapannya, dan kini, pandangan matanya tengah tertahan di tanah.
“Tapi apalagi??” Andin mulai gemas sendiri.
“Pak Ronald minta Ibu untuk segera kembali ke kantor, katanya Ibu di tunggu di ruangannya” ucap Rey takut-takut.
“Oh, begitu?” tanya Andin, mengerutkan keningnya.
“Sebutkan saja dulu, hari ini apalagi yang harus saya lakukan???” tanya Andin menatap Rey tajam.
__ADS_1
“Bu ... sumpah Bu, saya takut sama Ibu, tapi saya juga tidak mau di bunuh Pak Ronald, jadi saya mohon, Ibu temui dulu Pak Ronald yaaa, please” Rey mengatupkan kedua tangannya memohon, minta di kasihani.
“Katakan saja, apalagi yang harus saya lakukan?? Atau kamu mau? Saya yang mencari tahu sendiri lagi??” Andin menatap Rey kian lekat.
Drrrttt ... ddrrrttt ... ddrrrttt ...
Ponsel Andin bergetar, Andin menoleh pada tas yang tengah di tentengnya, membukanya, lalu meraih ponselnya, mengusap layarnya lalu mengerutkan keningnya, perlahan dia mengusap layar ponselnya.
“Hallo, Sit ...”
“ANDIIIINNNN!! Toloooooonnnggg!! Hhmmppttthhh!!”
Tut ... tut ... tut ...
Telpon dimatikan sepihak.
“Siti?? Kenapa dia??” gumam Andin bertanya pada diri sendiri.
“Rey! Antar aku ke kedai Mie Ayam Mang Jupri sekarang!” titah Andin, langsung menaiki mobilnya dengan kilat.
“Ta tapi Bu ...” Rey masih berniat membantah.
“Cepat!!!” bentak Andin tak sabaran.
Akhirnya, mau tidak mau Rey menuruti keinginan Andin, menginjak pedal gas dengan kecepatan maksimum.
Selama perjalanan, Andin terlihat gelisah, takut terjadi sesuatu pada sahabatnya Siti.
Tiba di tempat parkir kedai Mie Ayam Mang Jupri, Andin segera turun dari dalam mobilnya, berlari menuju ke dalam, terlihat ada beberapa pelanggan yang tengah menyantap mie ayam buatan Siti, lantas Siti ada di mana? Andin memutarkan pandangannya.
“Siti??” Andin berjalan menuju arah dapur, terlihat Siti tengah berjongkok di depan gas sambil meracau tidak jelas, sesekali dia menghentakan kakinya.
“Siti! Kamu kenapa??” Andin segera menghampiri sahabatnya, memeriksa tubuhnya dengan teliti.
“Aku gak apa-apa Din” Siti menggeleng sambil cengengesan.
“Terus?? Kenapa kamu nelpon aku kayak orang ketakutan??” Andin mulai mendelikkan matanya.
“Ini, aku gak bisa pasangin tabung gas Din, gasnya abis, takut meledak” ucap Siti tanpa dosa, sambil menunjuk tabung gas yang ada di bawahnya.
“Gustiiiiii!!! Sitiiiiiiii!!!!”
Bersambung ........
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ... like, komentar, bintang lima, dan juga vote sebanyak-banyaknya yaaa ... share juga cerita ini, biar teman-teman readers semua bisa baca karya aku yaa ... hatur nuhun!.
__ADS_1