
“Din! Lihat ini! Ciaaattt ... cciiiaaattt ...” aku menoleh, menatap Siti yang tengah mempraktekan gaya pencak silat, dengan golok panjang di tangannya. Untung saja golok boongan, coba kalau golok beneran, bisa langsung ke gorok dia.
“Apa sih kamu Siti” aku menahan senyum melihat tingkah Siti, yang malah jadi mempraktekkan berbagai gerakan lucu di hadapanku.
“Cinta! Lihat ini, HHUUAAAHHH”
“AAAHHH!!” teriakku kaget, kala melihat Pak Raga tengah menggunakan topeng nyi kunti yang menakutkan menurutku.
Yap ... kami tengah berada di stand pernak-pernik, kami melihat-lihat semua benda-benda unik yang berada di sini, bagiku dan Siti mungkin sudah biasa melihat semuanya, tapi bagi Pak Raga beda lagi, beliau terlihat sangat antusias melihat semuanya.
“Cinta, coba pakai ini” Pak Raga mengacungkan sebuah gelang unik, yang terbuat dari bambu kepadaku, di sana juga ada inisial nama dengan huruf-huruf tertentu. Aku mengerutkan keningku.
“Saya Pak?” aku menunjuk diriku sendiri.
“Iya, cobain deh” Pak Raga kembali menyodorkan gelang tersebut padaku, gelang berwarna coklat tua, berinisial A. Pas dengan inisial namaku. Aku menerimanya, lalu mencobanya, pas di tanganku ternyata, dan terlihat lucu, namun tidak meninggalkan kesan uniknya.
“Ini buat Bapak” aku menyodorkan jenis gelang yang sama, namun dengan inisial yang berbeda, inisial huruf R yang ku berikan pada Pak Raga, agar sama dengan inisial namanya.
“Terimakasih, ini pas di tangan saya” Pak Raga tersenyum, di antara lampu yang agak remang-remang yang ada di stand ini, pak Raga terlihat begitu tampan, apalagi jika tersenyum. Ah ... aku mikir apa sih? Jangan terlalu terbawa perasaan dengan sikap baik Pak Raga, Aku ini masih sakit hati sama Dino.
“Kok huruf S nya gak ada sih??” Siti menggerutu, rupanya Siti juga tengah mencari gelang yang sama dengan kami.
“Kita cari huruf T aja” usulku, sambil membantu Siti mencari gelang dengan inisial huruf T, pak Raga pun ikut membantu. Tapi nihil, kami tak menemukannya.
“Titi, gelangnya yang ini aja gimana?” tanya Pak Raga mengacungkan sebuah gelang berwarna pink berbahan kulit, lucu juga.
“Waaahhh ... ini juga bagus pisan” Siti tersenyum sumringah menerimanya, lalu langsung memakainya.
Kami tersenyum melihat tingkah Siti. Lalu, Pak Raga membayar barang yang telah kami pakai ini.
“Ke sana yuk” ajak Pak Raga tangannya menunjuk sebuah bangku panjang yang berada di pinggir jalan, kami mengangguk lalu mengikuti langkah Pak Raga.
“Din, ke WC dulu yuk, kebelet” Siti berdiri gelisah, mungkin dia sudah tidak tahan ingin membuang hajatnya.
__ADS_1
“Yuk” aku mengikuti langkah Siti yang tergesa, meninggalkan Pak Raga yang tersenyum menatap kami.
“Din, kayaknya Pak Raga suka sama kamu deh” ucap Siti kala kami berjalan menuju tempat tadi, dan Siti sudah selesai dari WC nya.
“Masa sih?? Ah, jangan berlebihan gitu Siti” aku mengibaskan tangan di udara.
“Iya, ya kalau menurutku begitu sih” Siti mengedikkan kedua bahunya.
“Bukannya kamu yang tergila-gila sama dia??” aku terkekeh, mengenang tingkah Siti selama ini pada Pak Raga.
“Haha ... kamu kayak gak tahu aku aja Din, aku suka, ya hanya sebatas suka saja, hanya kagum, lagian siapa yang tidak suka sama Pak Raga? Udah mah kasep, berwibawa, berkharisma, pintar bahasa inggris lagi, tanya sama perempuan satu kelas kita Din, mereka pasti suka juga sama Pak Raga, ya mungkin kecuali kamu, tapi inget ya Din, aku itu hanya suka, bukan BOGOH” ucap Siti, dengan menekankan kata bogoh (Cinta) di akhir kalimatnya.
“Bogoh juga gak apa-apa Ti” aku tertawa terbahak, senang sekali rasanya bisa menggoda Siti,
“Ih kamu mah,” Siti menyenggol bahuku, dengan bibir mengerucut.
“Kamu lupa apa cita-citaku Din??” Siti menatapku lekat.
“Iya, aku gak lupa” Aku mengangguk, membalas senyumannya. Dari dulu, Siti punya cita-cita ingin mengembangkan usaha mie ayam Bapaknya, Siti bilang dia akan membuka usaha mie ayam Bapaknya di kota, suatu hari nanti jika dia sudah memiliki cukup modal. Bahkan Siti sudah pesimis dari sekarang, katanya dia tidak akan melanjutkan kuliah, karena tersendat biaya, dia kukuh ingin mengembangkan usaha Bapaknya saja. Pernah sih, Siti berpacaran sekali dengan si Bahlul, tapi tidak lama, dan Siti sangat menyesali pernah pacaran dengan si Bahlul.
“Aku gak mau mikirin yang kayak gitu Siti, lagi pula aku masih ...” ku gantungkan kata-kataku, seketika dadaku terasa berdenyut nyeri, mengingat keputusan Dino kemarin. Siti menatapku seolah paham.
“Lagian, bukannya Pak Raga itu sudah punya pacar ya?? Yang waktu itu lho” lanjutku kemudian, aku mengingatkan Siti pada perempuan yang aku tabrak waktu di sekolah kemarin.
“Ah, selama janur kuning belum melengkung, kesempatan itu masih terbuka lebar Din” Siti mulai berkoar, padahal sungguh aku sedang tidak bersemangat membahas hal beginian.
“Ngaco kamu!” aku mendelik tidak suka.
“Nih ya, meskipun itu janur kuning sudah melengkung, kalau kamu suka ya kamu lurusin lagi aja Din, hehe” Siti terkekeh, sementara aku hanya memutar kedua bola mataku malas dengan candaan Siti kali ini.
“Maksudmu aku harus jadi pelakor gitu? Biar di timpukin emak-emak se-Indonesia?”
“Haha ...”
__ADS_1
“Eh Din! Itu kan perempuan yang kemarin, lagi duduk sama Pak Raga, kok dia bisa nyangkut di sini sih??” Siti menunjuk tempat duduk kami tadi, terlihat Pak Raga tengah berbincang dengan perempuan cantik dengan sebuah map berisi kertas di tangannya.
“Eh, mani geulis pisan ya Din” Siti menatap perempuan itu dengan penuh kekaguman.
Aku mengangguk, ku akui perempuan itu memang sangat cantik, mirip model iklan sabun yang ada di tipi.
“Cinta!” Pak Raga melambaikan tangannya ke arah kami, aku menggaruk tengkukku pelan, Pak Raga tuh kenapa sih?? Selalu memanggilku dengan nama palsuku, padahal sungguh, kala itu aku hanya berniat mengerjainya saja, sekarang malah aku yang malu sendiri. Apa ini yang disebut dengan senjata makan tuan?? Aku kan jadi malu kalau di panggil Cinta terus, kesannya jadi kayak aku itu pacaran sama dia. Iya kan?.
Aku menghampiri Pak Raga dan perempuan itu, perempuan itu menatapku dari atas hingga bawah, membuat aku risih di buatnya.
“Jadi ini??” perempuan itu menunjukku, sambil menahan senyumnya, aku mengernyitkan kening ku, bingung.
“Hush!” Pak Raga menepis tangan perempuan itu yang sedang menunjuk tubuhku, dengan segera perempuan itu tergelak, membuatnya terlihat tambah manis.
“Aku Susan” dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum, lipstik merah menyalanya masih sama dengan kemarin, menambah aura glamour.
“Aku Andin” ucapku menerima jabatan tangannya.
“Aku TITI” Siti nyerobot, meraih tangan Susan yang masih menggenggam tanganku.
“Oh, iya” Susan terlihat kaget, lalu menutup mulutnya menahan tawa.
“Kalau begitu aku pulang duluan ya Raga, kasihan Bram sudah menungguku dari tadi di dalam mobil” Susan menunjuk sebuah mobil mewah yang berada tak jauh dari tempat kami berdiri.
“Oh iya, terimakasih” Pak Raga berdiri, lalu menjabat tangan Susan, alih-alih menerima jabatan tangan Pak Raga, Susan malah mencium pipi kiri, lalu pipi kanan Pak Raga, membuatku dan Siti menganga, sebelumnya mana pernah kami melihat ada perempuan berani nyosor laki-laki duluan, kata Abah, perempuan seperti itu perempuan tidak baik. Hhiiyyy ...
“Susan!” Pak Raga melepaskan pelukan Susan, terlihat tidak suka.
“Haha ... maaf, kebiasaan” ucapnya sambil tergelak, lalu dia membenahi bajunya yang serba mini menurutku.
Kebiasaan? Jadi Pak Raga sudah biasa bersikap begitu pada perempuan?? Hhiiyyy ... kok aku jadi takut ya?. Aku bergidik ngeri sendiri, sementara Siti sudah menyenggol-nyenggol bahuku sedari tadi.
“Kalau begitu, saya pamit ya Andin dan Titi, titip Pak Raga” ucapnya lagi sebelum dia benar-benar pergi.
__ADS_1
“Hah??” aku bingung, titip?? Kenapa Pak Raga harus di titip padaku? Memangnya Pak raga itu barang apa?.
Bersambung ....