BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Permen Kapas


__ADS_3

Raga POV.


Dari sekian banyak malam yang telah aku lewati, aku rasa malam ini adalah malam terindah yang pernah aku lalui. Selama ini aku terlalu sibuk dengan dunia yang diciptakan Ayah dan Ibu-ku, meski penat, meski lelah, meski letih, tapi aku tetap memaksakan diri untuk terus bekerja dan bekerja mengikuti keinginan mereka.


Tadi siang waktu di sekolah aku mengajak Andin dan Siti untuk menemaniku berbelanja segala kebutuhanku selama di sini, siapa sangka kedua gadis unik itu malah mengajakku ke tempat seperti ini. Ku fikir mereka akan mengajakku pergi ke sebuah mall atau tempat-tempat nongkrong anak muda lainnya mungkin, tapi di tempat ini mana ada mall?? Jarak dari desa ini ke kota lumayan jauh, mungkin sekitar satu jam jika menaiki kendaraan pribadi.


Haha ... rasanya aku tidak ingin berhenti tertawa, kala kami berangkat menuju tempat ini, setelah sebelumnya aku susah payah meminta izin pada pak lurah untuk mengajak putrinya, agar bisa menemaniku jalan-jalan, sekaligus belanja.


Tuk ... tak ... tuk ... tak ...


Suara sepatu kuda mengiringi perjalanan kami kali ini, sungguh ini adalah pengalaman pertama bagiku, menaiki delman, menikmati angin semilir yang masih sangat sejuk dan menyegarkan, jauh dari polusi, di iringi canda tawa dari Andin dan Siti, sedari tadi mereka terus berceloteh, bercanda ria khas remaja Desa, namun entah apa yang mereka candakan, aku kurang memahaminya, apa aku memang terlalu kolot di usiaku yang masih terbilang muda ini?.


“Sudah sampai Pak” Siti bersorak senang, dengan lihai dia turun dari delman, begitupun dengan Andin. Tapi aku?? Dengan gerakan ragu aku mulai menapakkan kaki ke jalanan aspal. Rasanya begitu kaku dan takut, takut jika kudanya tiba-tiba saja berlari sebelum kakiku mendarat dengan sempurna.


“Gak apa-apa Pak, lompat aja!” teriak Siti sambil tertawa jenaka. Aku Pun ikut tersenyum. Malu dengan tingkahku sendiri. Masa aku kalah dengan dua gadis ini sih??.


“Nah ... kita sudah sampaiiii” Siti bertepuk tangan, menggandeng tubuh Andin, lalu berjalan perlahan, sambil menunjuk beberapa wahana yang ada di pasar malam ini.


Aku sedikit ternganga, untuk pertama kalinya aku datang ke tempat seperti ini, apa di tempat ini ada yang berjualan pakaian? Aku memutarkan pandangan meneliti satu persatu lapak yang berjejer, dan hatiku sedikit lega kala melihat beberapa tempat yang juga menjual baju-baju yang digantung namun ada juga yang dilipat dan di tata di depan jongko mereka. Di sini mereka tidak hanya menjual aneka jenis makanan, tapi juga beberapa jongko menjual baju-baju.


Aku terkekeh geli, bagaimana mungkin? Seorang Raga, sang pemimpin perusahaan membeli pakaian di tempat seperti ini?? Haha ... jika bawahan dan rekan kerjaku tahu, apa yang akan mereka bisikkan?? Mungkin mereka akan mengira jika aku sudah bangkrut.


“Pak, mau beli itu gak??” Siti menunjuk pedagang yang berada di pojokan, aku menoleh mengikuti arah telunjuk Siti.


“Permen kapas??” aku mengerutkan kening dalam, sungguh kekanakan, fikirku.


“Iya, rasanya enak lho, manis seperti aku” Siti tersenyum lagi, sementara Andin dia tetap diam sambil melirik beberapa permainan yang berada di dekatnya, suasana cukup ramai malam ini, ada banyak pengunjung yang mendatangi tempat ini dari berbagai kalangan, dari mulai kaula tua, kaula muda, hingga remaja dan juga anak-anak, namun kebanyakan dari mereka datang dengan berpasangan atau berkelompok.


“Boleh”akhirnya aku mengangguk sambil mengikuti langkah mereka.

__ADS_1


“Mang, beli ya tiga” Siti mengamangkan tiga jarinya pada pedagang permen kapas, kemudian pedagang itu mengangguk sambil tersenyum.


“Siti, kamu ih, malu-maluin banget” terdengar Andin berbisik, aku kembali tersenyum, gadis galak yang pintar gerakan pencak silat itu, kemana perginya? Kenapa malam ini dia jadi pemalu sekali?? Sungguh menggemaskan di pandangan mataku.


“Gak apa-apa Cinta, saya suka kok traktir kalian” ucapku sambil tersenyum, membuatnya semakin tersipu.


“Wah? Jadi kita mau di traktir nih Pak??” Siti bersorak senang.


“Ambil apapun yang kalian inginkan, anggap saja ini tanda terimakasih saya pada kalian, karena kalian sudah mau mengantar saya jalan-jalan malam ini” ucapku, Siti kembali bersorak kegirangan, sejurus kemudian, Siti sudah melesat entah kemana. Setelah sebelumnya menerima beberapa lembar uang dariku, untung saja aku sudah menyiapkan uang cash, coba kalau tidak?.


Sementara aku dan Andin duduk di sebuah kursi, sambil memegang permen kapas, berwarna merah muda itu, sembari menunggu Siti datang. Jika seperti ini, sungguh kami terlihat seperti orang-orang yang sedang berkencan. Eekkeehheemmm ... hheee.


“Ekhem ... kamu sudah sering ke tempat ini??” tanyaku mencoba memecah keheningan, sambil menyuapkan sedikit permen kapas kedalam mulut.


“Hehe ... ya pasti sering atuh Pak, kan saya orang sini” dia tersenyum, tapi bukan senyum biasa, terlihat seperti menertawakan pertanyaanku. Aiiihhh ... aku memang bodoh sih, pertanyaanku jelas membuatnya tertawa.


“Sering jalan-jalan sama siapa? Sama pacar??” tanyaku lagi.


“Tapi, kamu sudah pernah berpacaran??” tanyaku tiba-tiba pertanyaan itu terlintas di pikiranku begitu saja.


“Belum” dia menggeleng malu-malu, gemesnyaaaaa ...


“Ooohhh ... enak ya tinggal di sini, orangnya masih ramah-ramah, pemandangannya masih asri dan sangat alami, eeemmmhhh ... perempuannya juga cantik-cantik” aku tersenyum menatap perubahan ekspresi wajahnya, dia tersenyum kikuk, begitu polos, alami, tanpa di buat-buat.


“Oh iya, tidak jauh dari komplek tempat kita tinggal, ada air terjunnya juga lho Pak, Bapak mau ke sana??” tanyanya, nah ... sekarang jiwa promonya sudah mulai keluar.


“O ya?? Boleh, saya mau, kapan kira-kira??” tanyaku semangat. Siapa yang tidak semangat? Jika ditawari pergi dengan seorang gadis cantik yang belum pernah berpacaran?? Aku yakin, sensasinya pasti berbeda.


“Eeemmhh ... setelah selesai saya tanding pencak silat aja Pak” usulnya.

__ADS_1


“Boleh, kapan??” tanyaku, menatapnya yang tengah mencengkram ujung kursi dengan erat, terlihat grogi, tapi justru sikap alaminyalah yang membuatku semakin tertarik padanya.


“Minggu depan Pak” jawabnya semakin menunduk, sementara aku semakin tersenyum.


“Pak! Din! Maaf lama, huh ... huh ... huh ...” tiba-tiba Siti datang, sambil terengah-engah dengan beberapa kantong kresek di tangannya.


“Siti! Kamu beli apa aja sih?? Apa ini?? Segala golok kamu beli Siti ih ...” Andin terlihat berdecak kesal, menatap tajam pada sahabatnya, yang masih kembang kempis menahan sesak.


“Hehe ... lucu Din, kan lumayan buat Bapakku” Siti tergelak, sambil membawa benda tajam yang katanya bernama golok itu, memainkannya perlahan, membuatku ngeri, ternyata bukan hanya Andin yang pintar melindungi diri, kurasa Siti juga pandai memainkan benda tajam itu.


“Pak naik itu yuk” ajak Siti sambil menunjuk sebuah wahana putar.


“Hah?? Ta tapi ... kalau ...”


“Bapak takut jatuh?? Masa gitu aja takut sih??” Siti memberengut.


Akhirnya terpaksa aku menganggukan kepala dengan gerakan ragu, hanya untuk menghindari cap ‘penakut’ dari dua gadis yang malam ini menemaniku, bagaimana mungkin aku bisa menaiki wahana seperti itu? Sungguh, mengenal dua gadis ini membuatku mengalami banyak hal untuk pertama kalinya.


Bias wahana bianglala amat menggoda, turut ambil bagian dalam malam yang mempesona, binar bahagia terpancar dari sorot mata Siti, tapi tidak bagi Andin, gadis itu terlihat pendiam, seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Bapak berani naik sendiri??” tanya Andin menatapku ragu.


“Berani” aku mengangguk yakin, padahal keringat dingin sudah mengalir sedari tadi, tubuhku sedikit bergetar menahan rasa takut.


Akhirnya kami menaiki wahana ini, dengan lutut bergetar, aku memberanikan diri.


“Ya Allah ... lindungilah aku” dalam hati sudah kulafalkan banyak do’a sedari tadi.


Jegleg ...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2