
Berjalan mondar-mandir di depan cermin, Siti sudah seperti Dosen yang akan memberikan materi kepada mahasiswanya.
“Siti! Cicing atuh, kamu mondar-mandir terus udah kayak licinan, aku pusing lihat kamu” Andin memijat pelipisnya pelan.
“Ih ... kamu mau dapet ide yang bagus gak? Biar kita bisa deket lagi sama Dino??” Siti menatap Andin, sambil menaik turunkan alisnya.
“Ya mau atuh” ucap Andin sambil menganggukan kepalanya berulang kali.
“Kalau mau, kamu diem aja dulu” Siti kembali mondar-mandir, sambil memejamkan matanya, dengan bibir terus komat-kamit.
“Siti, kamu udah kayak dukun aja ih” Andin kembali protes, menatap geli pada tingkah Siti yang menurutnya selalu absurd.
“Aku punya ide!!!” tiba-tiba Siti membuka kedua matanya, menunjukkan jari telunjuknya di udara, dengan nada suara cukup tinggi, membuat Andin sedikit berjingkat mengusap dada karena kaget.
“Apa??” Andin bertanya dengan nada antusias.
“Pertama! Bunuh rasa cinta kamu terhadap Dino!” kali ini usulan Siti membuat Andin mengerutkan keningnya heran.
“Aku gak cinta sama Dino Siti! Kita ini sahabatan! Aku yakin, aku hanya merasa kehilangan, hanya karena kita sudah terlalu lama bersama” ucap Andin masih tak terima.
“Udah, ngaku aja deh, gak usah ada yang disembunyikan lagi dari aku” Siti masih memaksakan pendapatnya.
“Beneran Siti” Andin terus meyakinkan.
“Kamu sakit hati gak? Waktu Dino lebih milih ngasihin jas hujannya buat Maira, daripada buat kamu? Kamu sakit hati gak? Waktu tahu Dino udah jadian sama Maira??” tanya Siti beruntun.
“Emmmhhh ... ya karena udah jadi kebiasaan, aku selalu jadi prioritas Dino, dan sekarang enggak, makanya aku kecewa” jelas Andin, masih meyakinkan dirinya sendiri, jika jantung berdebar tiap kali mendengar nama Dino itu bukanlah perasaan cinta.
“Perasaan kecewa itu, terjadi karena sebuah harapan, coba kalau kamu gak berharap, kamu gak akan kecewa Din, dan harapan kamu itu adalah bibit-bibit cinta” Siti berhenti mondar-mandir, lalu menelisik ruangan kamar Andin, mengedarkan pandangannya dengan teliti.
Ruangan kamar yang jauh dari kata feminim, cat kamarnya berwarna abu-abu, lemari, meja belajar, meja rias, sampai seprei yang digunakan Andin berwarna abu-abu, di balik pintu menggantung seragam dan baju buat latihan pencak silat.
“Ckck ... ternyata kesukaan warna kamu itu melambangkan hati kamu Din, abu-abu” Siti berdecak, lalu mendekati sederet foto yang di tempel di dinding dekat meja belajar Andin. Di sana terdapat foto mereka bertiga sedari kecil.
“Din, besok di sekolah, kamu bisa gak bersikap biasa aja sama Dino?” tanya Siti, duduk di samping Andin yang tengah memeluk bantal bulu-bulu.
“Biasa aja gimana??” tanya Andin.
__ADS_1
“Ya kayak sebelumnya aja, kayak sebelum ada Maira, kita bisa makan bareng di kantin, terus kita ngobrol bareng lagi, siapa tahu dengan begitu, hubungan kita bisa mencair lagi” usul Siti kemudian.
“Tapi Dino selalu cuekin kita ‘kan kalau lagi ada Maira, fokus Dino seratus persen sama Maira, apalagi mereka sekarang udah jadian” Andin menunduk dalam.
“Siapa bilang mereka sudah jadian??” tanya Siti mengerutkan keningnya.
“Kata kamu kan tadi” Andin mulai memindai wajah Siti yang lagi cengengesan.
“Itu bohong, aku cuman mau ngetes kamu aja, kamu beneran suka atau gak sama Dino, ternyata respon kamu begitu, berarti kamu beneran suka sama Dino” Siti mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali.
“Apa??? Siiitttiiii!!! Kamu kok jahat banget sih??” histeris Andin dengan wajah frustasinya, ingin rasanya gadis itu memberikan jurus andalan kucing ngamat pada sahabat yang tengah cengengesan menatapnya.
“Kamu yang jahat! Kamu bohongin diri kamu sendiri, cuman karena gengsi, kalau suka itu ungkapin, biar jelas” saran Siti yang disambut dengan cebikan bibir Andin.
“Harga diri atuh Siti, masa iya aku harus bilang suka duluan sama cowok” tanpa sadar Andin telah mengakui perasaannya.
“Nah! Kamu ngaku juga akhirnya Din, kalau kamu suka sama Dino!” Andin mengerjap kaget kala Siti menaikkan suaranya, merasa telah berhasil menjebak Andin mengakui perasaannya.
“Nggak Siti!” Andin kembali menggeleng.
“Siti, kamu sadar gak?? Perasaanku muncul karena sebuah guyonan dan candaan semata, aku gak nyangka aja, rasa itu bisa hadir hanya karena ucapan orang-orang yang selama ini ngeliat kita selalu barengan” Andin menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, matanya menatap langit-langit kamarnya, menerawang sesuatu yang entah apa.
“Cie Andin pacar Dino, cie Andin barengan terus sama Dino, semua berawal dari kata itu Siti, hingga membuat rasa itu menjadi nyata di dalam hati ini, sementara Dino hanya menanggapi ucapan orang seperti angin lalu” Andin menunjuk dadanya.
“Din, kamu orang yang susah banget buat jatuh cinta, makanya sekalinya jatuh cinta, hidup kamu jadi parah gini, itu alasan kenapa aku nyaranin kamu buat bunuh rasa cinta kamu ke Dino, cobalah jadi Andin yang dulu, bersikap sewajarnya sebagai sahabat, jangan berlebihan kayak gini Din” Siti mendekati Andin, mengelus bahu sahabatnya dengan lembut, berusaha mengalirkan energi positif padanya.
“Aku tahu, aku salah” Andin menundukkan kepalanya.
“Gak ada yang salah dengan cinta jika itu sewajarnya Din, yang salah itu kalau cinta kamu ke Dino berlebihan, cinta itu sudah fitrah yang akan ada pada tiap jiwa manusia” ucap Siti dengan menirukan gaya bicara Mamah Gedeh.
“Siti, kamu kok bisa jadi sebijak ini sih? Kamu jadi mirip istrinya haji Sobri deh” Andin tergelak.
“Ah? Masa iya??” Siti menutup mulutnya yang sudah melongo, merasa heran dengan ucapannya sendiri.
“Apa ini pertanda kalau aku mau jadi istrinya kiai ya Din??” tanya Siti menatap Andin dengan mata berbinar.
“Haha ...” Andin tergelak, begitu juga dengan Siti, mereka berdua berpelukan, saling mengucapkan terimakasih, lalu saling memberikan kekuatan satu sama lain.
__ADS_1
***
Malam menyapa, Andin turun ke lantai bawah sebelum shalat isya, karena Ambu memintanya untuk makan malam bersama.
“Ambu coba lihat ini, Abah sudah ambilin buah mangga buat Ambu, dari mulai Kakaknya yang paling tua, Abah yakin ini sudah matang dari pohonnya” Abah menunjuk mangga yang berukuran lumayan besar dan sudah ranum.
“Sampai adiknya yang paling kecil, juga Abah ambilin buat Ambu seorang” lalu Abah menunjuk buah mangga yang paling kecil, yang masih terlihat sangat muda.
“Ah ... Abah, kenapa yang mudanya juga Abah ambil?? Kenapa gak di biarin matang di pohonnya aja sih??” Ambu mendelik tidak suka.
“Nanti, kalau cuman Kakaknya aja yang di ambil, nanti adiknya cemburu, makanya Abah ambil saja semuanya” Abah masih menunjuk-nunjuk mangga yang ada di dalam keranjang buah.
“Abah, Ambu” Andin menarik kursi, duduk di antara kedua orangtuanya.
“Din, beberapa hari ini, Ambu perhatiin kamu kok kayak lagi banyak masalah?? Kenapa Neng?” tanya Ambu membuka suara. Sementara Abah hanya menyimak.
“Gak apa-apa Ambu” Andin menggelengkan kepalanya, tidak ingin berbagi cerita mengenai isi hatinya pada kedua orangtuanya.
“Din jangan begitu, kalau kamu lagi ada masalah kamu bilang sama Ambu atau Abah, siapa tahu Ambu dan Abah bisa bantu” kini Ambu sudah menggunakan suara lembutnya.
“Gak apa-apa Ambu, Andin hanya tegang, lusa kan Andin ada kompetisi pencak silat se-kelurahan” ucap Andin masih berkelit, berusaha mencari alasan yang paling tepat yang bisa Ia gunakan.
“Ooohhh itu, ya jangan terlalu di pikirin atuh, nanti kalau kamu jadi tambah stres gimana??” kali ini Abah yang menimpali.
“Iya Bah” Andin mengangguk, lalu melanjutkan acara makan malamnya.
Setelah shalat isya berjamaah, Andin kembali masuk kedalam kamarnya, merasa pengap, Andin membuka jendela kamarnya, lalu berjalan menuju balkon, memegang pagar besi yang menjadi pembatas, Andin menatap kamar Dino yang sudah ditutupi gorden.
“No ... aku kangen kebersamaan kita” bisik Andin pelan, bahkan nyaris tak terdengar. Gadis itu seperti berharap, angin bisa membisikan rasa rindunya pada Dino.
“Cinta?? Lagi apa??”
Seketika Andin mengerjap, kala mendengar sapaan seorang pria, yang tepat berada di sampingnya.
Bersambung ......
.
__ADS_1